Sri Mulyani dan Perangkap Tsunami Finansial
Seri pemikiran Kishore Mahbubani #24
S13 - Wednesday, November 25, 2020 21:00 
https://www.pinterpolitik.com/sri-mulyani-dan-perangkap-tsunami-finansial
Jokowi dan Sri Mulyani (Foto: istimewa) 
7 min read

Ada dua kubu yang berdebat terkait penyebab krisis ekonomi yang terjadi dalam 
beberapa bulan terakhir. Kubu pertama melihat Covid-19 sebagai penyebab utama 
porak-porandanya ekonomi global. Sementara, kubu kedua menyebut sistem 
finansial global yang sudah ambruk sejak tahun 2008 adalah penyebab utamanya. 
Yang terjadi saat ini adalah tsunami finansial. Jika demikian, dengan melihat 
kebijakan-kebijakan ekonomi yang sudah diambil oleh Sri Mulyani, lalu kubu mana 
yang argumentasinya paling bisa dipertanggungjawabkan?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “The really good news is that few Asians have lost their optimism about the 
future. They have no illusions about the crisis but are confident that they 
remain on the right trajectory to deliver the Asian century”.

  ::Kishore Mahbubani, akademisi dan mantan diplomat Singapura::

Sekitar empat ribu tahun lalu, tsunami pertama yang tercatat dalam sejarah 
peradaban manusia terjadi di wilayah Suriah. Dua ribu tahun kemudian, tepatnya 
di awal tahun 426 SM, sejarawan Yunani Kuno, Thucydides menjadi orang pertama 
yang berargumentasi bahwa gempa di lautan sangat mungkin menjadi penyebab 
terjadinya tsunami.

Sementara sejarawan Romawi, Ammianus Marcellinus menggambarkan lebih spesifik 
terkait sequence atau urut-urutan dari terjadinya tsunami tersebut, yang 
dimulai dengan gempa besar, lalu air laut mulai surut, dan pada akhirnya sebuah 
gelombang besar akan menyapu daratan. Catatan Marcellinus itu dibuatnya pasca 
tsunami pada tahun 365 M menghancurkan kota Alexandria.

Tentu saja tulisan ini tidak akan membahas spesifik fenomena alam tersebut, 
namun hanya mengambil instisari dari sequence atau urut-urutan kejadian yang 
satu terhadap yang lain. Menariknya, konsepsi tentang tsunami ini oleh beberapa 
pihak digunakan untuk menganalisis persoalan ekonomi yang terjadi di seputaran 
penanganan Covid-19.

Istilah yang kemudian dimunculkan adalah tsunami finansial – seperti yang salah 
satunya dikemukakan oleh penulis asal Jerman, Ernst Wolff. Well, seperti yang 
diketahui bersama, ekonomi global memang tengah porak-poranda sepanjang pandemi 
Covid-19.

Di Indonesia sendiri misalnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat menyebutkan 
bahwa penanganan Covid-19 – baik dari sisi kesehatan maupun dalam konteks 
dampak ekonominya – hanya akan bisa diselesaikan jika vaksin Covid-19 bisa 
didapatkan oleh semua negara di dunia.

Menurut Sri Mulyani, dampak yang dirasakan terlihat dari penerimaan pajak yang 
menurun, kemudian angka pengangguran yang meningkat, dan lain-lain. Sebagai 
catatan, angka pengangguran di Indonesia sepanjang pandemi Covid-19 meningkat 
hingga 2,67 juta jiwa. Pada saat yang sama, ratusan ribu hingga jutaan lapangan 
pekerjaan pun menghilang.

Sri Mulyani dan para pemimpin dunia kemudian menjatuhkan Covid-19 sebagai 
kambing hitam. Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah benarkah demikian? 
Benarkah Covid-19 menjadi satu-satunya persoalan utama ekonomi dunia saat ini? 
Lalu, bagaimana fenomena ini dilihat dari kacamata akademisi dan mantan 
diplomat asal Singapura, Kishore Mahbubani?



Jebakan Tsunami Finansial
Memang harus diakui bahwa para ekonom, pengambil kebijakan, politisi dan 
scholar punya pandangan yang terpecah terkait kondisi perekonomian yang terjadi 
dalam beberapa bulan terakhir ini. Kubu pertama sepenuhnya menunjuk Covid-19 
sebagai persoalan utamanya. Sementara kubu kedua melihat persoalan ekonomi dan 
finansial hari ini tidak semata-mata terjadi akibat Covid-19, melainkan dampak 
beruntun yang merupakan sequence dari serangkaian peristiwa.

Untuk kubu yang percaya bahwa ekonomi runtuh karena Covid-19 memang melihatnya 
dari sudut pandang efek domino yang diakibatkan oleh virus yang satu ini 
terhadap aktivitas di dunia bisnis dan perekonomian itu sendiri.

Arus manusia dan barang yang terganggu, ketakutan yang awalnya muncul akan 
ketidakpastian massa depan, serta batasan-batasan yang harus diterapkan sebagai 
akibat pelaksanaan protokol kesehatan, memang secara langsung mempengaruhi 
perekonomian secara keseluruhan. Pasar saham misalnya sempat ambruk pada Maret 
2020 lalu sebagai awal dari krisis besar yang kemudian terjadi di bulan-bulan 
selanjutnya, di mana negara-negara di dunia terjerembab ke dalam jurang resesi 
ekonomi.

Sementara, untuk kubu kedua yang memandang Covid-19 bukanlah masalah utama, 
berargumentasi bahwa persoalan-persoalan ekonomi yang terjadi saat ini 
sebetulnya adalah efek lanjutan dari masalah-masalah ekonomi yang terjadi pada 
tahun 2008 lalu. Kala itu, dunia menghadapi krisis finansial akibat risiko 
besar yang diambil oleh banyak bank dan institusi dunia ketika berinvestasi di 
sektor properti di Amerika Serikat (AS).

Setelah kemudian ditemukan bahwa kondisi yang terjadi saat itu hanyalah housing 
bubble – di mana harga properti awalnya sangat mahal, namun kemudian anjlok 
secara drastis karena banyaknya kredit macet – dampaknya kemudian terasa di 
seluruh dunia.

Nah, beberapa pihak menyebutkan bahwa krisis di tahun tersebut masih 
meninggalkan dampak hingga saat ini. Instutusi keuangan besar macam Goldman 
Sachs bahkan diharuskan membayar hingga US$ 5 miliar pada tahun 2010 karena 
perannya di balik krisis di tahun tersebut. Dampak lanjutan krisis inilah yang 
oleh beberapa penulis dan analis seperti Ernst Wolff dianggap sebagai tsunami 
finansial tersebut.

Wolff menyebutkan bahwa persoalan ekonomi yang terjadi saat ini di sepanjang 
penanganan pandemi Covid-19, bukanlah terjadi semata-mata karena virus 
tersebut, melainkan karena warisan masalah ekonomi masa lalu tersebut. Apalagi, 
solusi atau jalan keluar untuk mengatasi masalah krisis di tahun tersebut 
justru ditempuh dengan metode yang cenderung “tambal sulam”.

Menurut Wolff, sistem finansial global telah hancur pada tahun 2007-2008. 
Padahal, sistem ini penting karena menunjang semua aspek kehidupan manusia di 
semua negara. Buat yang belum tahu, sistem finansial atau financial system ini 
adalah sebuah struktur tata kelola keuangan global yang di dalamnya berisikan 
bank-bank, perusahaan-perusahaan asuransi, pasar saham, dan institusi keuangan 
lainnya.

Wolff juga menyebutkan bahwa sistem finansial yang ada saat ini telah 
meletakkan terlalu banyak kekuasaan dan keuntungan ekonomi kepada orang-orang 
kaya. Pasalnya, di tengah krisis ekonomi yang terjadi, para orang kaya tersebut 
memperoleh peningkatan kekayaan yang sangat signifikan.

Apalagi, mulai muncul wacana bank-bank sentral dan institusi keuangan global 
seperti International Monetary Fund atau IMF, mendorong penerbitan mata uang 
digital resmi yang dikeluarkan secara global. Ini akan melahirkan kontrol yang 
sangat besar terhadap sistem perbankan dan masyarakat dunia secara keseluruhan.

Argumentasi bahwa krisis 2008 belum berakhir efeknya juga disepakati oleh 
sejarawan sekaligus Guru Besar di Columbia University, Adam Tooze – sekalipun 
solusi yang ditawarkan sedikit berbeda. Wolff menawarkan “revolusi damai”, 
sementara Tooze mensyaratkan keterbebasan dari kungkungan sistem mata uang 
dolar AS yang membuat ekonomi sangat mudah digoyah. Intinya, mereka sepakat 
bahwa sebelum ada perubahan yang substansial dalam tata kelola sistem finansial 
global, maka efek krisis tersebut masih.

Secara keseluruhan bisa dianggap bahwa tsunami finansial itu adalah yang sedang 
terjadi saat ini. Gempa ekonomi telah terjadi pada tahun 2008. “Air laut” 
sistem keuangan global kemudian surut, namun masalah yang dibawanya menjadi 
berlipat ganda, dan saat ini tengah dirasakan gelombangnya ketika Covid-19 
menjadi pengguncang utamanya.

Well, ketika sistem ekonomi dunia diikat dalam satu kekuasaan dolar AS, maka 
pandemi yang menyerang seluruh dunia sudah lebih dari cukup untuk 
memporak-porandakannya.



Akan Kemana Indonesia?
Tentu pertanyaannya adalah bagaimana dengan Indonesia?

Kishore Mahbubani dalam salah satu tulisannya untuk Financial Times pada 2008 
lalu, menyebutkan bahwa negara-negara Asia justru merasakan dampak yang relatif 
kecil dari krisis di tahun tersebut. Menurut Mahbubani, negara-negara di Asia 
telah belajar dari krisis di tahun 1998, sehingga melakukan resep yang 
sebaliknya ketimbang yang diminta oleh institusi keuangan global di periode 
sebelumnya.

Negara-negara Asia tersebut tak meliberalisasi sektor-sektor ekonomi secara 
terlalu cepat, kemudian tak melakukan pinjaman yang terlalu besar, berinvestasi 
pada produktivitas, dan berfokus pada peningkatan mutu pendidikan.

Namun, apakah pandangan Mahbubani ini masih bisa dianggap relevan untuk melihat 
kondisi Indonesia saat ini? Well, jika argumentasinya adalah krisis ekonomi 
yang terjadi saat ini merupakan efek tsunami finansial sejak tahun 2008, maka 
boleh jadi Indonesia merasakan dampaknya secara perlahan, sekalipun solusi yang 
sama tetap juga digunakan.

Menkeu Sri Mulyani misalnya, meskipun melakukan pinjaman dari luar negeri, 
namun jumlahnya tidak terakumulasi besar dari satu pihak saja. Dari Australia 
contohnya, Indonesia mendapatkan Rp 15 triliun, kemudian dari Jerman juga 
diajukan pinjaman sebesar Rp 9 triliun.

Selain itu, dengan makin kuatnya Tiongkok, maka negara-negara di Asia dan 
Indonesia secara khusus tentunya, masih bisa mencari pegangan ketika sistem 
finansial berbasis dolar AS terguncang. Artinya, Tiongkok bisa menjadi sentral 
kekuatan ekonomi penyeimbang – sekalipun dari sisi kekuatan mata uangnya masih 
sangat jauh dibandingkan dolar AS.

Pada akhirnya, catatan penting dari perdebatan tentang penyebab krisis ekonomi 
di sepanjang Covid-19 ini adalah bahwa separah apapun pandemi ini menyerang, 
jika sistem dan tata kelola keuangan negara sudah rapuh, maka bisa dipastikan 
negara seperti Indonesia bisa saja porak poranda.

Harapannya, Indonesia tidak terjebak dalam tata kelola yang salah. Semua pihak 
tentu tak akan membiarkan hal tersebut terjadi dan mengupayakan hal yang 
sebaliknya. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/930863A73D3B4F8A9AAE66C078D36AFD%40A10Live.

Reply via email to