-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://bali.antaranews.com/berita/217576/undiksha-kembangkan-teknologi-pewarnaan-endek-dengan-fiksator-nanopasta



Undiksha kembangkan teknologi pewarnaan endek dengan fiksator nanopasta

Sabtu, 28 November 2020 0:22 WIB

Ilustrasi - Warga Kampung KEM (Kawasan Ekonomi Masyarakat) Kolok Bengkala 
merapikan benang untuk memproduksi tenun di Desa Bengkala, Buleleng, Bali, 
Kamis (26/9/2019). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hp.
Singaraja (ANTARA) - Tim akademisi Undiksha Singaraja, Bali, mengembangkan 
teknologi pewarnaan kain endek Buleleng dengan menggunakan fiksator nanopasta 
untuk membangkitkan kerajinan tenunan khas Bali Utara itu.

"Tim ini dipercaya Direktorat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat 
Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemristek/BRIN untuk menjalankan 
program pemberdayaan masyarakat UKM Indonesia Bangkit Tahun 2020," kata Ketua 
Tim Undiksha, Dr.rer.nat. I Wayan Karyasa, S.Pd., M.Sc., di Singaraja, Jumat.

Ia menjelaskan tim ini pada intinya membuat program dengan judul "Membangkitkan 
Kerajinan Tenun Khas Buleleng Melalui Revitalisasi Teknologi Pewarnaan 
Menggunakan Fiksator Nanopasta Anorganik dan Penguatan Branding Industri 
Kreatif Ramah Lingkungan".

"Program ini dibuat setelah menemukan sejumlah persoalan yang membelit industri 
tenun endek di Buleleng," katanya, didampingi anggota tim, yakni I Gede Putu 
Banu Astawa, S.T., M.Ak., I Made Ardwi Pradnyana, S.T., M.T dan Ni Made Vivi 
Oviantari, S.Si., M.Si.

Baca juga: Selama COVID-19, batik endek di Bali tetap digemari anak muda

Menurutnya, industri kreatif berupa tenun masih menjadi sektor unggulan 
Kabupaten Buleleng, namun akibat pandemi COVID-19, saat ini terbelit sejumlah 
masalah.

Ia mencontohkan, usaha pertenunan Artha Dharma yang berada di Desa Sinabun, 
Kecamatan Sawan, Buleleng juga menghadapi masalah dalam beberapa aspek.

Aspek pertama, kata Karyasa, berkaitan dengan produksi. Bahan baku benang, 
terutama benang sutera alam semakin mahal dan sulit diperoleh, namun di pasaran 
banyak beredar sutera sintetik dengan kualitas hasil tenunan yang kurang baik.

Selain itu, pewarnaan masih bergantung dengan warna sintetik. Di sisi lain, 
harga warna sintetik dan bahan-bahan kimia pendukungnya semakin mahal. "Limbah 
pencelupan yang dihasilkan industri ini juga belum mampu terolah secara 
maksimal, sehingga berpotensi mencemari lingkungan," ujarnya.

Aspek kedua, lanjut Karyasa, berkaitan dengan manajemen usaha. Omzet penjualan 
produk yang menurun drastis, menyebabkan cash-flow perusahaan memprihatinkan 
dan berimbas pada pengurangan tenaga kerja.

"Aspek ketiga, yakni aspek reorientasi dan pengembangan usaha pertenunan 
sebagai antisipasi penurunan daya beli masyarakat dan pola komsumsi masyarakat 
yang lebih fokus pada pangan dan kesehatan," ujarnya.

Baca juga: Dekranasda: Christian Dior harus penuhi syarat jika gunakan endek

Karyasa menjelaskan, setidaknya tiga aspek itulah yang menggerakkan tim 
Undiksha untuk melakukan program revitalisasi teknologi pewarnaan kain endek 
Buleleng dengan fiksator nanopasta.

"Teknologi fiksator nanopasta anorganik merupakan teknologi berwujud pasta 
dengan ukuran partikel nanometer yang terbuat dari campuran silika abu sekam 
padi, abu vulkanik Gunung Agung, dan bahan tambahan, yaitu bubuk terusi atau 
kupri sulfat dan bubuk tunjung atau ferrosulfat," katanya.

Nanopasta ini berperan meningkatkan kekuatan ikatan antara molekul zat warna 
dengan molekul serat dari benang baik katun maupun sutera pada saat proses 
pencelupan sehingga warna yang terikat pada benang tidak mudah luntur.

"Nanopasta ini telah berhasil dikembangkan sejak tahun 2019 meniru komposisi 
kimia dari lumpur Nunleu yang digunakan masyarakat NTT, lalu tahun ini 
dikembangkan dari lumpur abu vulkanik Gunung Agung ditambahkan nanosilika sekam 
padi untuk memperkuat serat sehingga tidak mudah putus saat benang ditenun 
nantinya," jelasnya.

Baca juga: Putri Koster: Jangan sampai perajin endek jadi penonton

Tim pengabdi Undiksha bersama perajin Ketut Rajin dari Sinabun sebagai mitra 
industri juga sepakat untuk mengambil langkah lanjutan, yakni mewujudkan 
gagasan untuk memproduksi sendiri benang sutera dengan bekerja sama dengan para 
peternak ulat sutera.

"Termasuk memintal sendiri benang itu, maupun membangun dan mengoperasikan 
instalasi pencelupan warna alam dengan teknologi fiksator nanopasta anorganik 
yang terpadu dengan instalasi pengolahan limbah pencelupan," katanya.

Selain itu, tim Undiksha juga melakukan pendampingan dalam upaya membangun 
sistem manajemen usaha terpadu dengan manajemen pemasaran berbasis data 
digital, mengintensifkan promosi daring  dan menguatkan branding produk tenun 
yang kembali ke alam dan ramah lingkungan.

"Inovasi produk ini juga didukung dengan perubahan dan reorientasi rencana 
bisnis dan pengembangan usaha serta pendampingan secara daring penyusunan 
paket-paket wisata edukasi kerajinan tenun dan paket-paket pendidikan dan 
pelatihan pertenunan," katanya.

Baca juga: Pakar busana: Tiga jenis kain Bali punah

Menurut Karyasa, tujuan program ini adalah membangkitkan usaha kerajinan tenun 
khas Buleleng di Desa Sinabun, khususnya Pertenunan Artha Dharma untuk menjadi 
daya ungkit peningkatan kesejahteraan para pengusaha dan pengrajin tenun.

"Melalui terobosan-terobosan itu, ditargetkan industri tenun Artha Dharma di 
Sinabun dapat terus bertahan dan produksinya berkelanjutan dan secara lebih 
luas berharap tenun khas Buleleng dapat terus lestari," katanya.

 
Pewarta : Made Adnyana
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201127183432.144a0b90a8e03f8ec0b87c16%40upcmail.nl.

Reply via email to