-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://news.detik.com/kolom/d-5272136/tas-lv-dalam-pusaran-korupsi?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom


Tas LV dalam Pusaran Korupsi


Yudhi Hertanto - detikNews


Jumat, 27 Nov 2020 13:40 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
KPK memamerkan barang bukti dari kasus yang menjerat Menteri Kelautan dan 
Perikanan Edhy Prabowo. Terdapat barang-barang mewah yang disita KPK dalam 
kasus ini.
Potret barang mewah yang disita dalam kasus Men-KP Edhy Prabowo (Foto: 
Indrianto Eko Suwarso/Antara)
Jakarta -

Pandemi ternyata tidak bisa menghentikan korupsi. Wabah seolah tebang pilih. 
Sementara kegiatan publik terhenti dan dipaksa untuk berhenti, nafsu dan ambisi 
kekuasaan termasuk perilaku buruknya justru terus terjadi.

Rompi oranye itu seolah dipergilirkan, tinggal tunggu siapa lagi yang akan 
memakainya esok lusa. Sesuai akar kata corruptio yang bermakna rusak dan busuk, 
maka aktivitas yang ditujukan bagi upaya memperkaya diri sendiri tersebut 
memang berbau busuk dan menimbulkan dampak kerusakan turunan.

Indikator korupsi akan terkait dengan tingkat demokrasi. Pada negara dengan 
tingkat demokrasi yang rendah dicerminkan melalui indeks korupsi yang buruk. 
Ruang publik disesaki kepentingan sempit politik praktis, dan korupsi menjadi 
jalan bagi akumulasi modal konsolidasi kekuasaan.

Urat akar korupsi jelas menggerogoti sektor ekonomi dan pembangunan. Ekonomi 
berbiaya tinggi terjadi akibat bobot korupsi, menyebabkan inefisiensi. Publik 
yang harus menanggung biaya tambahan akibat ongkos kutip siluman. Belum lagi 
menyoal kualitas pembangunan yang tidak sesuai standar karena beban biaya tidak 
terduga.

Agregat kumulatif dampak korupsi menyebabkan tingkat kesejahteraan publik 
menjadi terabaikan. Padahal cita-cita dari kehidupan bersama dalam format 
bernegara adalah mewujudkan roh kesejahteraan sebagai kebaikan bersama --bonum 
commune. Korupsi berlaku sebaliknya, menempatkan kepentingan individu diatas 
segalanya.

Eksklusivitas Elite

Kemewahan dan ruang eksklusif seolah menjadi jarak pembeda elite dari publik 
yang menyerahkan legitimasinya. Para wakil publik itu dalam makna denotatif 
benar-benar mewakili ukuran kesejahteraan publik. Simak saja barang bukti yang 
ditampilkan, mulai dari tas hingga jam tangan bermerek yang mengukuhkan nilai 
identitas diri para elite.

Berkaca pada karya Baudrillad, Consumer Society (1970) maka dunia pada masa 
kapitalisme lanjut membalik konsep mode produksi menjadi era konsumsi. Dengan 
begitu secara filosofis proses komodifikasi yang mengubah nilai guna menjadi 
nilai tukar, bertransformasi menjadi nilai simbol alias merek.

Dalam kajian itu, Baudrillad menyebut hasrat memiliki lebih dari sekadar 
pemenuhan kebutuhan dasar; hal ini terjadi sebagai konsekuensi terbentuknya 
medan hiperrealitas --realitas berubah menjadi simulasi yang semu. Konsumsi 
merek barang dan produk yang terasosiasi pada kemewahan adalah hak prerogatif 
milik elite.

Jangan kaget bila tas jinjing dengan merek Louis Vuitton kemudian tersangkut 
dan menjadi alat bukti dari kasus korupsi. Barang mewah yang diproduksi 
terbatas ini menghadirkan kondisi kelangkaan, bersamaan dengan itu nilai simbol 
diproduksi sekaligus dikonsumsi. Tas berlogo huruf LV itu perlambang kemewahan.

Kelesuan ekonomi dan kehidupan yang serba sulit masa pandemi ternyata tidak 
membuat para pemangku kekuasaan memiliki sense of crisis. Memprihatikan.

Jual-Beli Pengaruh

Melalui kasus korupsi yang telah berulang-ulang kali terjadi, terlihat petinggi 
negeri memperjualbelikan pengaruh melalui kedudukan dan jabatannya. Simbolisasi 
para penyambung lidah publik yang kemudian berubah menjadi segelintir oligarki 
sesungguhnya teramat jauh dari mewakili kepentingan dan aspirasi publik.

Kekuasaan harus dipandang secara skeptikal. Ungkapan untuk melakukan perubahan 
dari dalam, sebagaimana idealisme para aktivis yang masuk lingkar kekuasaan, 
tampaknya menjadi hal yang muskil. Lagi-lagi kekuasaan itu sejatinya melenakan; 
segudang fasilitas dengan tawaran keistimewaan justru menciptakan perangkap.

Bahkan, pihak oposisi yang berubah posisi menjadi bagian dalam koalisi 
kekuasaan pun terbukti tidak sanggup lepas dari jerat budaya korupsi. Apa yang 
menjadi pelajaran mahapenting dalam konteks kejadian tangkap tangan kali ini?

Pertama, ternyata kita belum lepas dari perilaku koruptif pemangku kekuasaan di 
semua level. Dengan begitu mengubah medan perang korupsi dari lingkup 
pemberantasan menjadi sekadar format pencegahan dan edukasi jelas tidaklah 
mencukupi. Dibutuhkan tindakan langsung yang efektif.

Kedua, komitmen yang konsisten dibutuhkan untuk bisa menguak secara terbuka 
korupsi di ruang politik tanpa terkecuali bagi petahana. Celah korupsi tidak 
hanya berbentuk keuntungan material secara langsung, tetapi juga dalam 
kemudahan akses kebijakan yang dapat memberi keuntungan sepihak.

Ketiga, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dari institusi KPK untuk 
bisa memiliki daya gedor yang powerful, terutama dalam melacak dan mengejar 
kasus besar yang menyedot perhatian serta menyebabkan kerugian masif publik. 
Kasus korupsi yang tampak di permukaan merupakan fenomena gunung es.

Para pejabat dan petinggi negeri harus kembali pada dasar utama dalam memangku 
kekuasaan, yakni tidak lain untuk mengabdi bagi pemenuhan kepentingan publik, 
bukan justru mengambil kesempatan. Dekonstruksi simbol kekuasaan menjadi 
pelayan publik harus dibuktikan lebih dari sekedar lip service belaka.

Yudhi Hertanto Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

(mmu/mmu)







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201127184530.e7effa1011af4860ac11dace%40upcmail.nl.

Reply via email to