Benur - Benar
Benur - Bentur
Tidak benar mengurus benur, kebentur KPK.
KKP vs. KPK ? KPK tangkap KaKaP

Op vr 27 nov. 2020 om 18:48 schreef 'j.gedearka' via GELORA45 <
[email protected]>:

>
>
> --
> j.gedearka <[email protected]>
>
>
>
>
>
>
> https://news.detik.com/kolom/d-5271916/ekologi-politik-kebijakan-ekspor-benur?tag_from=wp_cb_kolom_list
>
>
>
> Kolom
>
> Ekologi Politik Kebijakan Ekspor Benur
>
> Anta Nasution - detikNews
>
> Jumat, 27 Nov 2020 11:11 WIB
> 2 komentar
> SHARE
> URL telah disalin
> Kolase Edhy Prabowo, menteri kelautan dan perikanan yang ditangkap KPK
> Menteri KKP Edhy Prabowo ditangkap KPK (Foto: dok. detikcom)
> Jakarta -
> Jagad nasional dihebohkan dengan terjaringnya Menteri dan beberapa Pejabat
> Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT)
> yang dilakukan oleh KPK pada Rabu (25/11) dini hari. OTT tersebut terkait
> dengan penetapan eksportir benih lobster atau benur di lingkungan KKP. Saat
> ini KPK telah menetapkan Menteri KKP Edhy Prabowo sebagai tersangka dalam
> kasus tersebut.
>
> Ekspor benih lobster kembali diizinkan melalui Peraturan Menteri Kelautan
> dan Perikanan No 12 tahun 2020. Sebelum Permen ini diteken, terlebih dahulu
> sudah menuai pro dan kontra. Hal ini disebabkan pada masa Menteri KP
> sebelumnya Susi Pudjiastuti, untuk ekspor benih lobster dilarang melalui
> Permen KP No.56 tahun 2016. Alasannya untuk menjaga dan memastikan
> keberadaan dan ketersediaan populasi sumber daya lobster.
>
> Menteri Edhy beralasan mengizinkan ekspor benih lobster untuk
> kesejahteraan nelayan. Karena menurutnya peraturan sebelumnya membuat para
> nelayan tidak bisa menangkap benih lobster. Terlepas dari alasan yang
> dikemukakan Menteri Edhy, tulisan ini akan membahas permasalahan kebijakan
> ekspor benih lobster melalui pendekatan ekologi politik.
>
> P akar ekologi politik Forsyth (2003)menjelaskan bahwa ekologi politik
> selama ini diartikan oleh para akademisi sebagai kondisi sosial dan politik
> yang meliputi penyebab, pengalaman, dan pengelolaan masalah lingkungan.
> Perlu dipahami bahwa makna permasalahan lingkungan di sini sangat luas.
> Selama ini pendekatan ekologi politik lebih banyak digunakan dalam
> menganalisis permasalahan lingkungan atau sumber daya alam yang ada di
> darat.
>
> Namun, bukan berarti pendekatan ekologi politik tidak bisa digunakan untuk
> menganalisis permasalahan yang ada di lingkungan laut termasuk sumber daya
> perikanan. Karena pada dasarnya pendekatan ekologi politik hadir sebagai
> alat analisis relasi kuasa sebelum sebuah kebijakan tentang pengelolaan
> lingkungan dan sumber daya alam disahkan.
>
> Masalah Struktural
>
> Benih lobster atau yang disebut benur merupakan bagian penting dalam
> keberlanjutan sumber daya perikanan. Banyak yang berpendapat bahwa
> permasalahan ekologi pada sumber daya perikanan disebabkan karena rendahnya
> kesadaran lingkungan, kurangnya teknologi, pengetahuan yang terbatas, dan
> masalah-masalah konvensional lainnya. Sudut pandang tersebut tidak
> selamanya benar --dan kalaupun itu benar, tetap ada hal lain yang lebih
> struktural di belakangnya.
>
> Pendekatan ekologi politik mencoba menawarkan sudut pandang dan solusi
> dari tataran struktural dan kebijakan dalam memotret permasalahan
> pengelolaan sumber daya perikanan. Tentunya kebijakan mengizinkan ekspor
> benur akan berdampak secara ekologis bagi keberlanjutan sumber daya
> perikanan dalam hal ini lobster.
>
> Kebijakan mengizinkan ekspor benur dalam pendekatan ekologi politik tidak
> bisa hanya dilihat sebagai suatu langkah KKP untuk meningkatkan
> kesejahteraan nelayan. Juga harus dilihat sebagai upaya dari aktor-aktor
> selain nelayan yang memiliki kepentingan secara ekonomi maupun politik
> untuk menguasai atau memonopoli bisnis ekspor benur dengan mengandalkan
> relasi kuasa politik.
>
> Aktor-Aktor Berkepentingan
>
> Secara sederhana ekologi politik menganalisis permasalahan dan perubahan
> yang terjadi dalam pengelolaan sumber daya perikanan, dalam hal ini sumber
> daya lobster dari proses politik yang melibatkan aktor-aktor
> berkepentingan. Setidaknya ada tiga aktor yang berkepentingan dalam
> kebijakan ekspor benur, yaitu pemerintah, eksportir, dan nelayan.
>
> Adiwibowo (2020) mengemukakan bahwa jantung kajian ekologi politik
> bertumpu pada relasi kuasa yang melandasi setiap fenomena perubahan sumber
> daya. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dalam setiap pengambilan
> kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan terdapat
> relasi kuasa yang mempengaruhi kebijakan tersebut.
>
> Sejak awal ketika ekspor benih lobster mulai diijinkan pada pertengahan
> tahun lalu, indikasi adanya monopoli sudah tercium. Pada saat itu santer
> diberitakan terdapat beberapa calon perusahaan eksportir benih lobster yang
> terafiliasi dengan Menteri Edhy, baik afiliasi secara partai maupun relasi.
> Walaupun kabar tersebut sempat dibantah oleh Menteri Edhy.
>
> Seharusnya KKP perlu melakukan analisis aktor-aktor yang berkepentingan
> sebelum mengeluarkan kebijakan ekspor benih lobster sebagai langkah
> preventif untuk mencegah terjadinya monopoli. Selain itu, KKP harusnya
> tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga harus menjadi aktor
> penengah yang memastikan bahwa kebijakan tersebut memberikan dampak yang
> seimbang bagi semua aktor, khususnya nelayan yang menjadi alasan utama
> Menteri Edhy mengeluarkan kebijakan ekspor benur.
>
> Namun tampaknya KKP belum melakukan analisis aktor-aktor berkepentingan
> secara mendalam. Terbukti beberapa hari yang lalu Komisi Pengawas
> Persaingan Usaha (KPPU) menyampaikan dugaan adanya monopoli jasa kargo
> dalam ekspor benih lobster.
>
> Berkaca pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 12 tahun 2020
> bahwa eksportir benur harus terdaftar terlebih dahulu di KKP sebelum dapat
> mengekspor benur. Pendaftaran ini diselenggarakan oleh Direktorat Jendral
> yang menyelenggarakan tugas dan fungsi di bidang Perikanan Tangkap.
>
> Aturan tersebut menegaskan bahwa KKP memiliki tanggung jawab sepenuhnya
> untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menjadi eksportir benih
> lobster. Hal ini dalam kaca mata ekologi politik dinilai sangat rawan
> karena walaupun pada pelaksanaannya terdapat proses dan persyaratan, namun
> tetap saja relasi kuasa politik mempunyai andil yang besar untuk menetapkan
> aktor yang bermain dalam bisnis ekspor benur. Hal ini terbukti dengan
> tertangkapnya Menteri Edhy karena diduga menerima gratifikasi dari
> perusahaan yang terkait eksportir benur.
>
> Langkah Selanjutnya
>
> Ekologi politik melihat sebuah fenomena perubahan sumber daya dari proses
> politik yang terjadi di belakangnya. Fenomena kebijakan ekspor benih
> lobster menunjukkan adanya indikasi oligarki yang kemungkinan selama masa
> Menteri Susi menjabat berusaha untuk "ditenggelamkan" melalui pelarangan
> ekspor Benur dan mencoba bangkit kembali pada masa Menteri Edhy.
>
> Penelitian Herdiansyah (2018) menjelaskan bahwa dibutuhkan keseimbangan
> hierarki pada masing-masing peran dalam pendekatan ekologi politik. Negara
> dalam hal ini KKP harus berperan melindungi dan mengayomi pihak swasta ;dan
> nelayan, pun sebaliknya pihak swasta dan nelayan patuh terhadap sistem yang
> dibuat KKP.
>
> Momentum ditangkapnya Menteri Edhy oleh KPK harus menjadi pendorong bagi
> KKP untuk mengambil langkah selanjutnya dalam menyikapi kebijakan ekspor
> benur. KKP dapat memulai langkahnya dengan mengkaji ulang dari awal apakah
> sebenarnya kebijakan ekspor benur merupakan solusi yang tepat dari
> permasalahan yang dihadapi nelayan. Atau jangan-jangan kebijakan ini hanya
> sekedar memfasilitasi para aktor jahat pemain ekspor benur.
>
> Karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa kebijakan ekspor benur
> ini lebih banyak terindikasi jahatnya dari pada kebermanfaatannya untuk
> ekologi dan nelayan. Jika kebijakan ekspor benur ini tetap dibiarkan tanpa
> dikaji ulang, maka dapat dipastikan akan berujung pada menguatnya oligarki
> yang menghasilkan monopoli perdagangan yang tidak sehat dan berujung pada
> maraknya tindak pidana korupsi.
>
> Anta Maulana Nasution peneliti Bidang Kemaritiman pada Pusat Penelitian
> Politik LIPI
>
> (mmu/mmu)
> ekspor benur lobster
> suap ekspor benur
> edhy prabowo ditangkap kpk
>
>
>
>
>
>
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari
> Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201127184843.628f9c3e7cbff438dec8494a%40upcmail.nl
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavjYxUg6JNCqA-z0%3Do%2B8hrYNhhdzGux7snYTTz4ej9hr5A%40mail.gmail.com.

Reply via email to