-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2003-teror-sigi-yang-menyakiti




 Rabu 02 Desember 2020, 05:00 WIB 

Teror Sigi yang Menyakiti 

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Teror Sigi yang Menyakiti MI/EBET . AKSI teror selalu menyergap kita secara 
acak dan tak terduga. Ia kerap memanfaatkan ‘kesibukan’ kita terhadap hal-hal 
lain sehingga kita lengah terhadapnya. Saat kita yakin terorisme sudah berhasil 
kita tekuk, ia tiba-tiba muncul kembali untuk meledek ‘kejemawaan’ kita. Begitu 
pula dengan aksi keji teroris dalam bentuk penyerangan dan pembakaran rumah 
tempat ibadah yang menewaskan empat orang sekeluarga di Dusun Tokelemo, Desa 
Lemba Tongoa, Palolo, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat 
(27/11). Polisi menduga pelaku teror merupakan kelompok Mujahidin Indonesia 
Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Teror yang sangat mengagetkan, di tengah kita 
sedang berjibaku melawan covid-19. Hampir saban memasuki Desember, sebagian 
orang merasa waswas. Bulan yang mestinya disambut sebagian kita sebagai bulan 
kegembiraan dan kedamaian, mesti dilalui dengan suasana menegangkan dan rasa 
waswas. Pemicunya ialah karena negeri ini kerap menoleransi aksi, sikap, dan 
pandangan intoleransi. Ketika aksi keji terorisme kembali meledak di tengah 
kita, seperti biasa, pemuka politik dan masyarakat muncul melancarkan kecaman 
untuk kemudian tak berkutik hingga teror kembali terjadi. Mungkin kita teramat 
reaktif saat api sudah membesar dan ‘bom’ sudah meledak. Kita masih 
tenang-tenang saja saat aksi-aksi intoleransi berlangsung secara telanjang di 
depan mata kita. Sikap-sikap intoleran banyak muncul dari benih yang disemai 
dalam konservatisme keagamaan. Terorisme itu mencerminkan kemiskinan kehidupan 
keagamaan. Dalam konservatisme keagamaan, semangat ketuhanan tidak terlalu 
mengembangkan keadaban nilai-nilai kasih sayang. Padahal, spirit rahman-rahim 
itu menjadi kaidah emas semua agama. Modus beragama yang berhenti sebagai 
pemujaan formalisme peribadatan, tanpa kesanggupan menggali nilai-nilai 
spiritualitas dan moralitas, sama seperti orang berselancar di permukaan 
gelombang bahaya. Tanpa menyelam di kedalaman pengalaman spiritual, 
keberaga­maan menjadi kering dan keras. Agama yang seharusnya membantu manusia 
untuk menyuburkan rasa kesucian, kasih sayang, dan perlin­dungan justru acap 
memantulkan rasa keputusasaan dan kekerasan dalam bentuk terorisme, permusuhan, 
dan intoleransi. Cara pandang seperti itu kian menemukan justifikasinya saat 
terjadi ‘pertemuan-pertemuan’ transnasionalisme melalui dunia maya. Maka, ruang 
toleransi kian menyempit digantikan klaim-klaim kebenaran sepihak. Kerelaan 
untuk menerima yang berbeda digerus hasrat menggebu memaksakan kebenaran 
tunggal versi orang per orang atau kelompok. Jika sikap itu sudah memuncak, 
bukan aksi intoleran lagi yang muncul, melainkan aksi kejam dan brutal 
terorisme. Politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) secara 
berlebihan di masa lalu membuat ekspresi dan wacana perbedaan menjadi tabu. 
Akibatnya, sebagian besar warga hidup dalam kepompong budaya SARA yang relatif 
seragam dengan mengembangkan sikap hidup monolit, monokultural. Padahal, bangsa 
Indonesia sebagai masyarakat plural mestinya mengembangkan sikap hidup 
multikultural, yang mengembangkan penyerbukan silang budaya dan pergaulan 
lintas budaya. Lalu, apa yang mesti negara dan kita lakukan agar aksi teror 
yang bersumbu pada intoleransi bisa dihentikan? Negara dan kita sudah saatnya 
menghambat perkembangan konservatisme agama yang menjadi bibit intoleransi. 
Penajaman semangat dan nilai-nilai Pancasila tidak boleh kendur, baik lewat 
media sosial, komunitas-komunitas, kelompok penggerak masyarakat, maupun 
melalui institusi pendidikan. Jangan beri ruang bagi konservatisme untuk 
berkembang. Jangan menoleransi sekecil apa pun aksi-aksi intoleransi. Jangan 
memberikan kesempatan kepada para demagog yang dengan klaim kebenaran dan 
janji-janji surga menguasai panggung publik. Negara harus hadir. Bentuk 
kehadiran negara dalam melindungi segenap tumpah darah Indonesia, salah satunya 
ialah memberi rasa aman bagi warganya. Kita menunggu aksi tegas negara untuk 
mematikan api saat api masih kecil agar tidak membesar dan membakar kita.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2003-teror-sigi-yang-menyakiti








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201202165756.e2e804c087abc83543dbdd0f%40upcmail.nl.

Reply via email to