-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/opini/365848/kkp-butuh-pemimpin-profesional-berani-dan-dekat-dengan-nelayan




Rabu 02 Desember 2020, 21:55 WIB 

KKP Butuh Pemimpin Profesional, Berani, dan Dekat dengan Nelayan 

Bisman Nababan, Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, IPB dan Ketua 
Bidang Kerjasama Luar Negeri DPP HNSI | Opini 

  KKP Butuh Pemimpin Profesional, Berani, dan Dekat dengan Nelayan Dok 
pribadi Bisman Nababan BANYAKNYA permasalahan yang dihadapi nelayan dan 
kompleksitas dalam pembangunan dan pengelolaan sektor kelautan dan perikanan, 
mensyaratkan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikan (KKP) seyogianya dipimpin 
oleh seorang profesional. Selain itu tidak berasal dari partai atau simpatisan 
partai, memiliki integritas pribadi yang kuat, bermoral, berani, dan dekat 
dengan nelayan. Dia pun harus lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara 
di atas kepentingan pribadi atau golongan. Kementerian ini didirikan semenjak 
20 tahun lalu dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan nelayan dan meningkatkan 
devisa dari sektor kelautan dan perikanan. Namun demikian, kesejahteraan 
nelayan belum meningkat dan penghasilan devisa dari sektor kelautan dan 
perikanan masih sangat rendah yaitu baru sekitar 3,26% dari total devisa 
Indonesia. Nelayan semestinya sejahtera dan makmur mengingat mereka tidak 
melakukan upaya untuk membibitkan ikan dan memelihara perkembangan ikan, 
seperti petani melakukan upaya terhadap penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, 
pemeliharaan, panen, dan proses pascapanen. Nelayan hanya tinggal menangkap 
ikan dan menjualnya. Namun demikian, kenyataannya nelayan kita merupakan 
lapisan masyarakat paling miskin dalam lapisan masyarakat Indonesia. Mengelola 
laut dan perikanan tidaklah mudah mengingat laut Indonesia sangat luas, dan 
berada di antara puluhan ribu pulau serta garis pantai terpanjang kedua di 
dunia. Contoh, bilamana digunakan semua DIPA KKP untuk biaya pengawasan laut 
Indonesia dari pencurian ikan maka semua biaya DIP KKP tersebut tidaklah cukup. 
Jumlah nelayan Indonesia 90% merupakan nelayan kecil (pemilik perahu tanpa 
motor, perahu motor tempel, dan kapal motor < 5 GT). Indonesia hanya memiliki 
kapal ikan sebanyak 0,68% (3.671 buah) yang memiliki kapasitas >30 GT. Di 
samping itu, pendidikan para nelayan kita masih relatif sangat rendah. 
Peralatan para nelayan kecil ini juga umumnya masih menggunakan teknologi 
tradisional. Bahan bakar minyak untuk kapal motor nelayan kecil ini juga belum 
bisa disuplai oleh pemerintah. Baru sekitar 30% pelabuhan perikanan di 
Indonesia yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar minyak nelayan. Umumnya 
stok BBM bersubsidi yang disediakan pemerintah untuk nelayan hanya cukup selama 
10 hari setiap bulan. Jumlah anak buah kapal yang masih relatif banyak per 
kapal (karena menggunakan teknologi tradisional), mestinya dapat dikurangi 
dengan menggunakan teknologi terkini untuk efisiensi dan peningkatan upah 
mereka. Misalnya menggunakan teknologi sederhana untuk sortir ikan, teknologi 
sederhana untuk menarik dan menggulung alat tangkap, dan lain-lain. Seyogianya 
pemerintah memperbanyak kapal nelayan dengan kapasitas besar agar kapal-kapal 
nelayan kita yang menguasai perairan ZEE kita bukan kapal asing. Dengan 
demikian kapal-kapal nelayan kita akan menjadi mata telinga aparat penegak 
hukum di laut dan melaporkan setiap adanya kegiatan illegal fishing, illegal 
transshipment, dan tindakan ilegal lainnya di laut. Nelayan juga membantu 
menjaga keamanan negara dan garda terdepan dalam menegakkan dan menjaga 
kedaulatan negara di laut. Undang-undang dan peraturan terkait pengelolaan 
kelautan dan perikanan di Indonesia yang tergolong sangat banyak, namun tidak 
juga membawa dampak positif bagi kesejahteraan nelayan. Begitu juga belum 
adanya peningkatan devisa yang nyata dari sektor kelautan dan perikanan. Hal 
ini terjadi mungkin karena undang-undang dan peraturan itu tidak dijalankan 
dengan sesungguhnya oleh pihak terkait dan tidak ada pengawasan terhadap 
undang-undang dan peraturan-peraturan terkait tersebut. Aturan dan proses 
perizinan yang terlalu banyak dikeluarkan berbagai instansi pemerintah, membuat 
banyak nelayan habis waktu, tenaga, dan uang untuk mengurus perizinan sebuah 
kapal ikan agar bisa berangkat untuk menangkap ikan. Bahkan sering urusan izin 
baru selesai berbulan-bulan atau tahunan, dan kadang sebelum keluar surat izin 
terakhir masa berlaku, surat izin lainnya sudah kadaluarsa. Dalam beberapa 
periode sebelumnya, para pimpinan KKP banyak yang tersandung masalah hukum 
karena mungkin harus memikirkan pundi-pundi organisasi yang memberangkatkan 
atau mengutus pimpinan tersebut. Merujuk pada kompleksitas masalah nelayan dan 
perikanan kelautan di Indonesia seperti disebutkan di atas, Menteri KKP 
seyogianya berasal dari kalangan profesional yang paham tentang kompleksitas 
kelautan dan perikanan Indonesia. Dia juga harus mengerti betul tentang 
persoalan nelayan dan dekat dengan mereka. Pun harus memiliki visi kelautan dan 
perikanan nasional yang mendunia, menguasai aspek ekonomi, teknologi dan 
politik, memiliki karakter yang tegas, mengayomi, berintegritas, berwibawa, 
tidak otoriter, mampu bekerja sama dengan antar lintas departemen atau 
kementerian. Selain itu, memahami arah dan kebijakan pembangunan kelautan dan 
perikanan dari pemerintah (Presiden RI).   TAGS: # Kelautan # Maritim

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/opini/365848/kkp-butuh-pemimpin-profesional-berani-dan-dekat-dengan-nelayan







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201202170038.98bf0f380b6d9f0a44d0026a%40upcmail.nl.

Reply via email to