Ini Kisah Saya yang Positif Covid
Oleh: Vinna Melwanti
(Jurnalis)

Saya teramat dingin. Pucat pasi. Tak berdarah lagi muka ini. Jalan sudah
goyang. Dada amatlah sesaknya. Napas satu-satu, berat sekali. Saya sangat
disiplin, ternyata kena juga. Saya positif corona di tengah kampanye
gelombang kedua yang besar. Ya Tuhan.

Ini kali pertama saya naik dan rebah dalam ambulance, menggigil. Ini
pertama kali, paru-paru saya bagai diremas. Makin lama kian kuat. Ini
pertama kali saya demam, yang membuat seluruh tubuh mandi keringat. Dua
kali per jam ganti baju.

Ketika naik ambulance, saya seperti dilarikan ke dunia lain, sirinenya
meraung panjang, membelah kota Jakarta yang sepi menjelang dinihari. Saya
yang lahir di Jakarta, tak pernah setakut ini di kota yang sama.

Malam telah memanjat jauh ke depan. Sebentar lagi dinihari. Paru-paru ini,
serasa pecah semenjak pagi tadi terbujur di IGD Rumah Sakit MMC Jakarta
Selatan.  Ya, rumah sakit inilah yang menyatakan saya positif corona.
Sebelumnya juga ditemukan bintik putih dari hasil CT Scan paru. Saya
divonis pneumonia. Jenis penyakit yang sedang hits meranggas landai di paru
saya yang tak punya riwayat perokok, jantung dan paru ini.

“Maaf bu Vinna. Kamar rawat khusus covid kami penuh. Lebih baik ibu mencari
rumah sakit lainnya saja,” kata suster sembari memperbaiki infus saya yang
mengeluarkan darah. Dalam keadaan terhenyak saya hubungi belasan rumah
sakit khusus covid atau pun tidak, hasilnya full over kapasitas. Sementara
waktu dengan kejam terus merangkak. Saya seperti disisihkan di lorong rumah
sakit.

Akhirnya, dalam kalut dengan suhu tubuh 39 derajat, saya gunakan link
jurnalistik. Saya hubungi narasumber yang berlatarbelakang BUMN. Dia segera
menyuruh saya ke Rumah Sakit Pusat Pemerintah (RSPP). Katanya, ini
merupakan rumah sakit pemerintah khusus covid yang dikebut 3 bulan lalu.

“Ada kamar, tapi tetap masuk list tunggu ya.  Diperiksa saja dulu di RSPP
Kyai Maja, baru nanti ke Simprug Modular Extension,” katanya yang saya
ikuti dengan ucapan terimakasih banyak.  Saya tak bisa bayangkan, privilege
jurnalis inilah yang bisa menyelamatkan. Lalu, kalau masyarakat biasa yang
tak punya jejaring, tak terbayangkan apa yang terjadi. Ironi.

Sambil menunggu jemputan ambulance, lamunan saya terbang. Saya kena covid
dimana ya? Padahal hidup di Jakarta dengan bekerja di digital platform
news, saya khatam dengan semua protokol kesehatan. Ya, sebagai penyebar
informasi berita, tentu harus paham sebelum sharing, harus praktikan
sebelum meminta pembaca melakukannya.  Tapi, nasib berkata lain, saya kena
juga. Entah dimana.

Tetiba ambulance yang membawa saya, berhenti. Saya tak tahu telah sampai
atau singgah menjemput pasien covid lainnya. Yang pasti, oksigen di hidung
ini membuat penglihatan saya terus memudar. Ini pertama kali saya pakai
oksigen. Pertama pula di atas ambulance. Baju ini makin basah karena demam.

Masuk IGD
Dua petugas di ambulance yang menggunakan baju layak astronot, menurunkan
saya di RSPP Modular Ekstension Simprug. Keduanya dengan hati-hati
mendorong saya masuk IGD yang sedingin kulkas. Inilah ruangan terdingin
yang pernah saya masuki. Tubuh memang meriang tapi ini dinginnya beda.
Saya benar-benar ringkih karenanya.

Saya diberi tempat sebuah dipan. Di sebelah sejarak 2 meter, ada seorang
bapak berkacamata, memakai levis. Sendirian. Di tangannya terpasang infus
dan batuknya mengganggu ruang IGD berukuran 8x5 meter. Ia kedinginan
meminta AC diturunkan, tapi tak bisa, sebab AC-nya sentral.
“Tak bisa pak, alat-alatnya harus dalam kondisi dingin,” jawab petugas
medis yang ternyata wanita, karena baju APD yang seragam susah
membedakannya jika mereka belum bersuara.

Saya ditidurkan di sini, langsung diinfus, diambil darah lalu disuruh
menunggu 3 jam, sebab kamar belum tersedia. Saat menunggu itulah batuk
berbusa putih, kini sudah berdarah. Tiap batuk, tiap berdarah. Tiap
berdarah berlembar-lembar tisu habis. Sehabis batuk, dada serasa mau pecah.
Sakitnya masih ada, batuk terjadi lagi, demikian seterusnya.

Walau sakit yang tak tertahankan, saya memperhatikan sekeliling. Hanya ada
dua petugas medis malam dini hari. Satu suster perempuan dan satunya dokter
jaga. Dia duduk di meja, di tengah-tengah 8 tempat tidur IGD. Semua
pandangan pasien IGD tanpa tirai itu tepat memandang keduanya yang duduk
memainkan laptop.

Dua jam berlalu. Saya menunggu dengan pasrah. Tak bisa tidur, batuk terus
saja bertalu. Dinginnya tak usah disebut.  Dua selimut yang melekat di
tubuh saja tak mampu meredam. Di sisi lain, walau dingin, anehnya baju ini
sudah basah lagi. Keringat demam mengucur tak henti. Sudah hampir hal
sepekan seperti ini saya alami.

Akhirnya sekitar pukul 03.00 WIB, kamar saya tersedia. Saya pasien terakhir
di ruangan IGD. Sejak tadi, satu persatu pasien sudah pergi. Mereka mungkin
sudah menunggu sejak pagi. Saya dibantu turun ranjang dan didorong dengan
kursi roda. Perawat IGD itu bernama Shinta, sebagaimana tertulis di
punggung baju APD nya. Dia meletakan botol infus dan tabung oksigen di
pangkuan saya dengan cekatan.

Sambil mendorong kursi roda, dia juga menggotong semua bawaan saya.
Sendirian. Padahal ransel saya dan dua tentengan besar yang isinya random
itu agak berat. Kok tidak ada petugas lain ya yang membantu, kata saya
dalam hati. Bukankah perawat IGD harus tetap standby di IGD. Atau
setidaknya begitu pengetahuan saya yang selalu langganan rawat di RS tiap
tahunnya. “Tidak kak, sudah SOP tim medis covid ya seperti ini. one person
multy duty,” kata Shinta yang terlihat kesusahan membuka pintu koridor
ruangan dengan semua bebannya. Luar biasa, bisik saya.

Sepanjang lorong Rumah Sakit, semuanya berwarna putih. Saya seperti masuk
labirin. Lurus, belok kiri, belok kanan, lurus, belok kiri. Kursi roda
berbunyi berderik dan bergoyang. Kala saya perhatikan lantai ini, ternyata
papan. Begitupula dengan semua pembatasnya, semua dari papan yang dicat
putih. Sama putihnya dengan baju hazmat tim medis yang berlalu lalang. Saya
seperti masuk ke sebuah laboratorium NASA.

Tiba-tiba dorongan kursi terhenti. Saya yang sesak nafas teramat dalam
berpikir sudah sampai di depan kamar rawat. Ternyata saya diserahterimakan
oleh petugas berseragam sama di tengah lorong. Sembari menunggu keduanya
berdiskusi, saya perhatikan labirin ini seperti pabrik yang terorganisir.
Banyak petugas medis yang bergerak cepat. Ada yang meletakan barang di
pinggir koridor. Sesaat dia berlalu, petugas lainnya dari lorong sebelah
mengambil barang tersebut. Persis seperti semut bekerja. Mereka bekerja
dalam diam. Sistematis.

Saya lihat ada tumpukan air mineral. Ada tumpukan kantong limbah medis dan
lainnya. Setiap mereka mempunyai HP tablet yang telah disarungi plastik.
Kadang mereka mengetik namun acap berkomunikasi dengan mode laudspeaker.
 “Ini ibu Vinna langsung masuk kamar wing dua. Atau digabung 3 pasien
lainnya pak?” sayup-sayup terdengar saat mereka berkoordinasi, tapi tubuh
ini sudah tak bisa diajak kompromi. Sebentar lagi masuk subuh. Dingin,
kantuk dan sesak. Saya terus didorong, pintunya susah dikuak. Saya makin
batuk, jalan kian jauh. Sepi.

Makin Memburuk
Saya dirawat dengan kapasitas untuk 3 pasien.  Di sini, di ruangan yang
sepi. Tak ada sesiapa. Yang ada mikrofon dan CCTV. Langit-langit putih,
kaca tembus pandang tanpa tirai sebagai pengganti dinding dipasang mati.
Seperti tahanan namun bak aquarium bisa dipandang dari luar.
AC kembali menusuk. Badan saya tetap basah. Kerongkongan kering, bibir
pecah. Batuk bertalu-talu. Dada perih, napas tersengal, amat sesak. Lalu
pengecap rasa hilang. Lengkap sudah ciri-ciri covid.

Oksigen yang terpasang statis di dinding harus 24 jam terpasang di hidung.
Karena itu, saya takkan bisa turun ranjang. Maka, kini saya pakai kateter
dan pampers. Pertama dalam sejarah hidup. Perawatan pasien covid ternyata
memang intensif, di luar dugaan.

Infus saya ditambah. Obat-obatan diberi tanpa jarak. Tensi diukur, detak
jantung, dikeker berulang-ulang. Suhu tubuh. Semua. Ditanyai, apa yang
terasa. Suster mencatat. Jika ada 3 orang berbaju hazmat datang, itu
dokter.  Dokter umum, atau dokter spesialis. Pasien diperhatikan sejak
pukul 06.00 sampai pukul 01.00. Bahkan menjelang subuh pun mereka datang ke
ruang perawatan kembali mencatat tensi, suhu dan saturasi darah.

Namun kadang Dokter masuk hanya lewat speaker pengeras suara kamar. “Pagi
Ibu Vinna, saya dokter Anda bagaimana kondisi ibu hari ini?” Suaranya
terdengar lantang dari intercom yang dipasang diatas dinding. Tapi, saya
agak susah menjawabnya sebab suara saya parau. Saya jawab saja sekuat yang
bisa.

Saya juga harus jeli membedakan, suster, pria, wanita, dokter, pemberi
makanan, tukang sampah atau pembersih kamar. Ini, karena pakaian mereka
sama. Putih dan menutupi sekujur tubuh, tak terlihat perbedaan profesi
karena seragam. Pandangan mereka pun terhalang karena kacamata tukang las
itu, berembun pula.

Hari berikutnya kondisi saya malah kian memburuk. Saturasi darah saya
menunjukkan, 80 persen, sehingga saya membutuhkan oksigen bukan di hidung
lagi tapi di mulut. Batuk kian berdarah padahal saya tak ada riwayat TBC,
jantung, paru. Saya pasrah, tak boleh menangis, tapi ambruk ketika dokter
menyebut saya harus masuk ICU. Air mata berderai, jatuh menimpa badan saya.
Saya berusaha menolak, tapi dijelaskan dengan rinci. ICU itu berbeda dengan
kamar perawatan. Ini satu ruangan untuk satu pasien.

Rawat ICU
Saya di sini ditemani oleh alat-alat pendeteksi nadi, paru, jantung,
saturasi, tensi dipasang 24 jam. Tubuh saya ditempeli banyak kabel, suara
mesin menimpali setiap detik. Nyaris tak bisa bergerak. Tubuh ini, dipasung
oleh semua alat itu. Memegang HP pun hanya bisa dilakukan dengan susah
payah.

Darah saya berkali-kali diambil. Hampir tak ada lagi tempat untuk
menusukkan jarum di tangan dan di kaki. Kini giliran mengambil darah vena.
Lama suster mencari-cari dimana akan diambil. Tiap dicoba, tiap gagal.
Bagian-bagian tak lazim, seperti di kaki, juga gagal. Beberapa bekas
tusukan jarum sudah membiru dan membengkak. Dapat. Darah vena saya harus
diambil, metodenya beda. Jarum harus tegak lurus, menusuk ke dalam. Jauh.
Yang terjadi? Inilah sakit yang tak terkatakan. Tangan serasa kena sentrum.
Pertama dalam sejarah darah vena diambil.

Tiga jam kemudian: seorang suster tiba-tiba datang. Ia datang dengan
mendorong sebuah kotak. “Kita foto rontgen paru ya Kak?”
Refleks saya bersiap-siap karena berpikir akan dibawa ke ruangan lab.
Paling awal saya ambil kacamata yang kemudian asal pasang saja. Saya
terkejut, sebab suster itu membuka kotak portable. Bagai crane di
gedung-gedung bangunan, kerangka besinya naik tinggi. Ternyata foto
rontgennya ada dalam kotak ini. Saya didatangi, bukan saya yang pergi ke
laboratorium. Pertama saya alami.

Belum habis kaget saya, berselang datang lagi seorang suster. Ia membawa
kotak lain. Ini untuk merekam jantung dan paru. Meski para wanita, mereka
sesuai job, melaksanakan tugas dengan professional.  Tak peduli alatnya
sebesar dan seberat apapun. Sambil dirontgen dan sambil rekam jantung, saya
memberikan pujian kepada perempuan muda hebat ber APD itu. Tak lama
keduanya pergi, meninggalkan saya yang nyaris tak percaya. Ada wanita muda
bekerja seperti ini. Siapa yang tahu?

Sepi lagi. Inilah rasa sepi yang paling dalam. Saya ditemani bunyi
alat-alat medis penyambung hidup. Batuk saya tetap mengeluarkan darah. Dada
seperti dikukus. Tiap batuk, bunyi alat monitor itu berbunyi kencang pula.
Alat itu mengikuti irama jantung saya. Saya berharap tak ada bunyi panjang
dan garis datar dalam grafik monitor itu. Huft saya melamun terlalu jauh.

Tiba-tiba HP yang berbunyi. Meraihnya di meja dengan tangan terpasung alat
saja susah bukan main. Namun, saya sangat merasa “tertolong”. Sebuah video
call kawan-kawan SMA. Saya “terisi”, disaat sedang galau dalam ruang sempit
yang putih. HP saya pegang bergantian dengan dua tangan. Tangan saya sudah
bertali-tali infus, satu lagi, pakai saturasi, alat ukur detak jantung.
Genggaman tangan tak sekokoh waktu sehat.

“Tetap semangat ya Pien. Elu yang biasa kuat, pasti bisa lalui ini. Kita
punya agenda kumpul lagi bersama yang harus dieksekusi dan itu harus
bersama-sama elu,” papar semua teman sekolah bergantian dengan whatsaap
video. Saya seperti sedang berlari-lari di halaman sekolah dulu, tiba-tiba
seperti bergandengan ke masa muda yang semangat dan riang. Bahkan ada yang
mengirimkan makanan dan jus buah merah papua. Terima kasih kawan-kawan yang
baik.

Tak hanya teman, abang saya pun memberikan apa yang bisa dia berikan.
Termasuk barang-barang yang tak terbawa. Karena ini rumah sakit pemerintah,
tak seluruh keperluan pasien disediakan. Selimut tambahan, sendok, tisu
basah, pampers, dan peralatan mandi.

Di ICU, botol infus saya lima sekali digantung.  Lima, bukan satu. Ambil
darah makin intens, suntik pengencer darah dan antibiotik juga makin tak
berjarak. Setiap setengah jam sekali. Alat pengukur tensi yang dilekatkan
di tubuh saya bekerja sendiri. Tiba-tiba meremas kaki kanan saya. Pengukur
tensi yang biasanya di lengan. Kini malah di kaki, karena akan menghambat
infus dan saturasi yang diletakan di tangan kanan dan kiri.

Di ICU ini juga demam saya sudah diangka 36 dan 37. Obat sirup batuk yang
diberikan, sepertinya membantu menghilangkan darah di batuk. Kalaupun
berlendir kembali kuning yang basah dan berbusa. Mungkin inilah inti dari
virus covid. Segala hal tentang batuk di paru.

Di hari ketiga ICU, saya tiba-tiba diberikan kabar bisa kembali ke ruang
perawatan. Dua petugas tiba-tiba datang. Keduanya mengambil semua barang
bawaan. Mereka yang tak bisa saya bedakan karena memakai baju hazmat itu
meletakan semua barang saya di kasur. “Kita pindah ya Bu, balik ke ruang
perawatan,” katanya. Saya sendiri bingung antara senang atau lega. Ya
kembali di dorong bukan untuk pulang, tapi untuk kembali dirawat. Masih
lamakah saya di sini?

Di lorong ini, saya menahan sesak. Ini karena oksigen saya tak terpasang.
Dalam sesak itu saya mengobservasi lorong RS dadakan ini. Rumah sakit yang
awalnya ialah lahan sepak bola simprug. Lantainya bukan di cor tapi di
tutup dengan papan. Sehingga jika berjalan membuat bergelombang dibuatnya.
“Ini wing 2 lewat mana? Kanan atau kiri?,” ujar mereka yang sepertinya
masih belum terbiasa dengan rumah sakit yang dikebut siap dari April.

Balutan Jepang
Saat menuju ruang rawat saya melewati lorong administrasi dan farmasi. Klop
rasanya tebakan saya, bahwa rumah sakit ini berkerjasama dengan konsulat
Jepang. Ada beberapa konsultan Jepang yang sedang memberi arahan pada
tenaga medis di ruang itu. Dan jika diperhatikan di semua baju tenakes
terdapat stiker Jepang di depan baju Hazmat. Tak hanya itu, jika
membunyikan bel ke perawat, kalimat awal bunyi sapaan Bahasa Jepang dulu
baru tersambung.

Sampai di ruang rawat, saya di datangi dokter. Dan, diberikan pilihan untuk
mendapatkan obat dari Jepang. Bukan vaksin bukan pula obat antivirus yang
sedang diuji. Kata dokter ini obat yang biasanya digunakan pasien covid dan
memang hasilnya berbeda-beda bagi pasien. Maka kita diberikan pilihan mau
atau tidak.
Saya yang menyatakan kesediaan. “Mau dok.” Lalu diberikan obat tersebut 5
atau 8 butir. Obat yang saya tak tahu namanya tapi ada cap Jepang,
bercampur dengan obat lainnya. Saya minum obat tiga kali sehari, namun
kwantitasnya puluhan butir tiap hari.

Tenakes Nusantara
Di sini, di rumah sakit darurat bautan Jepang ini, memang rapi. Bersih dan
hening. Nyaman (kalau kita tak sakit).  Semua limbah medis, bekas makan,
tisu kita, bungkus roti dan sebagainya, dibakar habis. Rumah sakit dengan
300 tempat tidur terdiri dari lorong-lorong seperti lorong labor.

Paramedis wanita dan pria itu, adalah sukarelawan yang bekerja sepenuh
hati. Mereka dengan baik hati membantu saya bangun. “Bu mandinya kita bantu
lap ya.” Badan saya dilap. Ganti pakaian. Buang isi kantong kemih plastik.
Dengan tepat waktu antar makanan 3 kali sehari. Kalau mau bicara tekan bel
tapi datangnya memang agak lama, karena ruangan mereka jauh. Tak pernah
mengeluh, yang sering malah saya. Mereka tak hanya mengganti pakaian saya,
tapi juga alas kasur sarung bantal dan selimut.

Tenaga medis ini, adalah anak-anak Nusantara karena memang datang dari
berbagai provinsi dan kota di Indonesia, termasuk dari Padang. Ada yang
baru empat hari bekerja. “Saya sebelumnya di M Djamil kak. Ada lowongan ya
saya isi aja, ternyata ditempatkan di sini,” ungkap Lia sembari menyuntikan
obat pengencer darah ke perut saya.

Lia mengumbar dirinya ditidurkan di sebuah hotel dan dijaga kesehatannya.
Bersama dengan perawat lainnya mereka diantar jemput untuk dinas, bekerja
dengan sift pagi dan malam. Mereka adalah remaja yang demi sesama,
membiarkan ibundanya menangis di kampung demi cinta anaknya. “Teman sekamar
Lia kemarin kena covid kak, sedih padahal kita baru kerja seminggu lalu,”
tukuknya.

Para perawat tiap hari bercanda dengan saya. Berkisah, walau ada yang
tergesa, sebab tugas mereka berat, pasien banyak, tenaga kurang. Bahkan
mereka bercerita bisa membuka baju APD setelah 4 jam. Harus menahan ke
belakang, shalat pun jadinya dijamak. “Belum pernah jalan-jalan di Jakarta
kak. Sejak dari Makasar, dilatih dan karantina, langsung dinas sebulan
ini,” kata Ratih yang awalnya dia pikir akan ditempatkan di wisma atlet.

Di sini tak ada televisi, entah kalau di ruang VIP. Jika Anda dirawat di
ruang VIP itu artinya biaya bayar sendiri. Jika Anda dirawat di ruang
biasa, Anda dibayar negara. Biaya perawatan korban Covid 19 itu kata orang
bisa Rp150 juta sampai Rp200 juta.  Betapa banyaknya orang dirawat dan itu
ditanggung negara. Karena itu taatilah protokol kesehatan.

Saya yang bertubuh imun rentan ini, sudah berhari-hari dirawat di sini.
Masuk ICU, keluar, berangsur sehat. Tubuh ini memang rentan.
Sering demam, pernah malaria, pernah typus, lelah saja demam.
Berpanas-panas saja demam, kena hujan saja demam. Manusia demam. Ini
makanan empuk corona. Yang terjadi? Saya berangsung pulih. Mukjizat Tuhan.

Tetap Positif
Masih positif covid. Entah hari keberapa saya diswab oleh dokter. Ya Allah,
masih positif. Padahal sudah menunggu hasilnya dua hari. Udara pakai slang
masih ke hidung. Batuk masih memukul dada. Obat segenggam sekali makan.
Infus bertali-tali  masih tergantung. Apakah saya akan sehat?
Kata orang, jika positif covid dan Anda punya penyakit suka demam, tubuhnya
rentan seperti saya, biasanya sulit ditolong. Saya lawan asumsi itu, saya
harus sehat. Saya segera hubungi Mama yang saat itu berada di Payakumbuh.
Etek juga. Saya menangis minta maaf dan tangis mama, ternyata membuat saya
tegar. Mama yang dijemput si uda, lalu sampai di Jakarta. Mama mengawal
saya dengan doa-doanya.

Alhamdulillah empat hari kemudian, hasil swab negatif. Saya sudah negatif,
tapi ini corona. Corona itu, menikam jantung manusia. Membuat sarang di
sana, melilitnya. Hingganya dokter punya protokol, saya harus swab sekali
lagi, untuk mengkonfirmasi bahwa saya sudah sehat dan bebas covid.

PSBB ke Dua
Menunggu hasil swab kedua rasanya menanti pengumuman kelulusan hidup.
Bahkan untuk melakukan swab ke dua harus direntang 10 hari dari swab
pertama. Lama, dan saya mulai bosan. Perawatan saya memang beda dengan
pasien yang pernah saya lihat di laman-laman medsos. Jangankan berjemur
matahari atau olahraga, saya bahkan tak bisa turun dari ranjang.

Hingga di suatu hari, jadwal swab kedua tiba-tiba dipercepat. Kejutan tak
sampai disitu, esoknya saya diminta agar pulang saja. Diisolasi di rumah
sambil menunggu hasil swab yang akan dikirimkan via email. “Maaf ibu Vinna.
Gelombang kedua ini menyebabkan semua rumah sakit kewalahan menerima pasien
covid. Semuanya menumpuk di IGD dan menunggu ruang inap kosong. Jadi kita
minta ibu siap kemas-kemas ya, malam ini bisa pulang,” kata dokter jaga
ditemani dua suster yang hanya diam saat saya mengatakan keberatan.

Dengan hati yang rusuh saya kembali menghubungi “orang dalam”. Dia kemudian
memberikan nomor direktur rumah sakit. Tidaklah mungkin saya pulang dengan
tubuh yang lemah dan belum dapat kepastian sudah bersih covid atau tidak.
“Maaf ya ibu. Saya hubungi dokter dan kita pastikan ibu sudah terima swab
negatif kedua, baru dirumahkan,” kata direktur wanita itu.
Saat menunggu itu beberapa teman mengirim link berita membludaknya pasien
covid di Jakarta. Ada juga video ramainya antrian pasien masuk wisma atlet.
Bahkan menggunakan bus sekolah. Lima belas hari lalu saja saya kewalahan
mencari rumah sakit, kini tak terbayang betapa sengkarutnya situasi. Ah,
saya terjebak dalam waktu yang salah dengan penyakit yang salah.

Protokol Pulang
Swab saya kedua Alhamdulillah negatif. Saya pulang. Masuk dari pintu
berbeda, keluar di pintu berbeda pula. Keluar dari kamar, bekas-bekas
makanan, tisu, obat dan lainnya semua dibakar. Saya diantar keluar,
berbelok ke kanan, Mandi!
Bukan di kamar mandi tempat saya dirawat, tapi mandi di pintu keluar.
Ya, satu ruangan disulap menjadi kamar mandi. Pintu masuk dari dalam dan
pintu keluarnya ada ruangan transisi sebelum keluar halaman rumah sakit.
Sepertinya inilah pintu exit semua penghuni rumah sakit yang akan keluar,
mungkin juga para tenakes.

Ransel yang saya bawa dan semua isinya disemprot disinfektan, masuk kantong
plastic besar. Ikat. Dan pakaian usai mandi harus dari rumah, bukan dari
tas yang saya bawa. Ini protokol jika keluar dari zona merah rumah sakit.
Selesai mandi, saya masuk sebuah ruangan kosong. Saat buka pintu di
depannya. Melangkah. Tiba di luar. Tak boleh lagi masuk. Di luar seorang
suster menunggu. “Ini obat ibu, ini rekam medis, pulang, sampai di rumah
mandi lagi dan jangan kemana-mana 14 hari.”
Sebuah percakapan yang biasanya terjadi di dalam gedung rumah sakit terjadi
di halaman belakang parkiran. Dengan rambut yang masih basah, saya
mendengar seksama penjelasan suster. Dia hanya memberikan obat dan tak ada
tagihan uang apapun. Luar biasa semua pengalaman ini. Saya mantan pasien
covid.

Makna
Kini saya diisolasi di rumah. Harus menunggu 14 hari baru bisa kontak
dengan publik. Saya temui hari baru. Kata orang bekas pasien covid takkan
bisa sesehat dulu lagi. Bukan itu masalahnya, tapi ini : Mohon jaga
Kesehatan Anda semua, jangan pernah mencoba seperti apa yang saya alami.
Jika pun mengalaminya, jangan sampai Anda kehilangan semangat hidup. Jangan
sampai tak kebagian tempat tidur di rumah sakit.
Manjauhlah dari asumsi ini konspirasi. Kalau Anda sakit, tak ada
konspirasi, tak ada politik, tak ada debat. Jika pulang tinggal nama? Ini
wabah. Di dunia wabah covid bukan yang pertama. Flu adalah wabah yang
vaksinnya belum ditemukan sampai sekarang.

Percayalah, membuat berita covid lebih mudah daripada menjalaninya.
Percayalah, tenakes itu berjuang dengan lelah dan payah. Maka sekarang,
saya telah di rumah. Berbagi kisah untuk semua. Yang sehat tetaplah sehat.
Menjaga dirimu, sama dengan menjaga diri keluarga.
Saya sudah sembuh. Syukur ya Allah***

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8taviQGAcT%2BVyJy__LFe%2BqCNQ4zPSsDcp_fCLN%2BywuM-YD%3Dg%40mail.gmail.com.

Reply via email to