Pahami UU HFTP, Rasakan Kebulatan Tekad Tiongkok tentang Keterbukaan
2021-06-22 10:58:39  
http://indonesian.cri.cn/20210622/fe86fa74-1bea-d562-478a-598352f273be.htmlDalam
 sebuah konferensi pers yang digelar di Beijing pada 21 Juni kemarin, beberapa 
petinggi pemerintah Tiongkok membeberkan secara terinci terkait UU Pelabuhan 
Perdagangan Bebas Hainan atau HFTP. Dari konferensi pers itu terbaca pesan yang 
jelas bahwa Tiongkok akan dengan teguh tak tergoyahkan mendorong keterbukaan 
dan globalisasi ekonomi.

Rencana membangun pelabuhan perdagangan bebas di Hainan adalah salah satu 
langkah penting keterbukaan yang dirancang dan dipimpin langsung oleh pemimpin 
tertinggi Tiongkok. Pembangunan HFTP akan terus digalakkan menurut jadwal 
dengan mengatasi kesulitan akibat pandemi dan arus anti globalisasi.

Perumusan UU HFTP merupakan langkah penting untuk mengubah regulasi menjadi 
hukum sebagai wujud pembinaan tata hukum dalam proses pembangunan HFTP.

Kebebasan perdagangan dan fasilitasi investasi adalah titik berat dalam 
pembangunan HFTP. UU HFTP secara terpisah memberikan penetapan spesial terhadap 
kebebasan perdagangan dan fasilitasi investasi. Selain itu, UU HFTP menetapkan 
sistem perpajakan yang mematuhi prinsip “perpajakan sederhana, tarif nol dan 
tarif rendah”, tata hukum adalah iklim bisnis terbaik dalam hal ini. Maklumlah 
pemberlakuan UU HFTP akan menciptakan kemudahan berusaha yang kian menarik bagi 
para investor sehingga memperkokoh kepercayaan para investor untuk terus 
berkiprah di Hainan, dan yakin akan memperoleh lebih banyak peluang investasi 
dan imbalan yang menjanjikan.

Yang patut ditunjukkan ialah antisipasi risiko sama pentingnya dengan 
pelaksanaan keterbukaan. Demi melindungi para investor dari risiko, Tiongkok 
pada beberapa tahun terakhir telah melaksanakan keterbukaan sistemik yang 
berbasis regulasi, peraturan, manajemen dan standar baku. Pemberlakuan UU HFTP 
menandai Tiongkok akan mengayunkan langkah baru dalam implementasi keterbukaan 
sistemik.

Dapat diramalkan bahwa pembangunan pelabuhan bebas Hainan yang berlandaskan 
pada tata hukum akan dimajukan menuju targetnya secara mantap. Pesan dari 
pembangunan HFTP adalah: pintu keterbukaan Tiongkok tidak akan tertutup, malah 
akan terbuka semakin lebar, dan dunia akan memperoleh semakin banyak peluang 
daripadanya.


 


AS: Tiongkok Hadapi Isolasi dari Komunitas Internasional. 
Kemlu Tiongkok: Pemerasan dan Ancaman Terang-terangan
2021-06-22 15:45:10  
http://indonesian.cri.cn/20210622/725c2e87-c84f-4f0c-e151-ca741dfa5399.htmlJake 
Sullivan, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Amerika Serikat, menyatakan 
bahwa jika Tiongkok tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap sumber 
virus Covid-19, Tiongkok akan menghadapi isolasi dari masyarakat internasional. 
Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian menyatakan 
di depan jumpa pers rutin hari senin kemarin (21/6) bahwa pernyataan AS adalah 
pemerasan dan ancaman terang-terangan. Tiongkok mengungkapkan ketidakpuasan 
yang kuat dan penentangan yang tegas, dan mutlak tidak akan menerimanya.

Zhao Lijian menunjukkan bahwa sejak terjadinya pandemi COVID-19, Tiongkok 
selalu mengadopsi sikap terbuka dan transparan dan tanpa pamrih berbagi 
pengalaman pencegahan serta pengendalian diagnosis dan pengobatan dengan negara 
lain. Tiongkok telah menerima pakar WHO dua kali untuk datang ke Tiongkok dan 
bersama kelompok ahli WHO merilis laporan penelitian tentang penelusuran, 
memberikan kontribusi positif untuk pelacakan asal-usul virus secara global.

"Wacana yang menuduh Tiongkok mengatakan 'tidak' terhadap investigasi tentang 
asal-usul virus corona tidak memiliki dasar. Penelusuran sumber virus adalah 
masalah ilmiah dan harus dilakukan oleh para ilmuwan global, dan tidak boleh 
dipolitisasi secara sewenang-wenang. Ini adalah konsensus yang diakui sebagian 
besar negara di dunia internasional. AS bersikeras melakukan manipulasi politik 
dan mendorong apa yang disebut "penyelidikan internasional" dengan mengerahkan 
tenaga intelijen alih-alih ilmuwan untuk melakukan penilaian yang relevan, dan 
memperkenalkan apa yang disebut ‘logika kekuasaan’ pada masalah penelusuran 
virus, ini adalah penentangan terhadap sebagian besar negara dalam komunitas 
internasional, dan ini adalah keterasingan dalam komunitas internasional."

Zhao Lijian menekankan bahwa AS telah berulang kali mendiskreditkan dan 
menyerang Tiongkok, tidak lebih dari menahan perkembangan Tiongkok, dan tidak 
lebih dari menimpakan kesalahan dirinya dalam memerangi pandemi kepada orang 
lain.

“Jika AS benar-benar peduli dengan kebenaran, maka cepat jawab tiga pertanyaan: 
Pertama, siapa yang harus bertanggung jawab atas kegagalan AS untuk memerangi 
pandemi? Kedua, apakah virus Covid-19 telah menyebar di AS sejak lama? Ketiga, 
bagaimana situasi sebenarnya dari laboratorium biologi Fort Detrick? Mengapa 
tidak memberikan akses yang diperlukan kepada pakar internasional untuk 
memperoleh informasi yang relevan?"




-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FFB1B69DA5BE4C88830BD5976DC335A4%40A10Live.

Reply via email to