Kemenlu Tiongkok: 
AS Hendaknya Menyadari Mereka sendirilah Yang Melanggar HAM Tenaga Kerja
2021-06-22 10:54:41  
http://indonesian.cri.cn/20210622/ed77f12c-bf8f-4fcb-33ad-addd16c24cfd.htmlJuru 
Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian kemarin (21/6) di depan 
jumpa pers rutin di Beijing menunjukkan, Amerika Serikat hanya mengesahkan dua 
dari 8 Konvensi Inti Organisasi Buruh Internasional (ILO). Organisasi buruh 
internasional terkait mengonfirmasi bahwa di AS terdapat masalah pelanggaran 
hak buruh secara sistematik, AS berpenampilan paling buruk di antara berbagai 
negara maju utama. Yang paling perlu dilakukan AS pada masa kini ialah 
mengesampingkan superioritas moral, menghentikan standar ganda dalam masalah 
tenaga kerja, benar-benar menyadari kesalahan diri yang dengan serius melanggar 
hak dan kepentingan kaum tenaga kerja, dan bertanggungjawab atas kesalahan 
tersebut.

Menurut laporan, AS menyatakan di depan Konferensi Buruh Internasional Ke-109, 
bahwa setiap pelaku yang terlibat dalam kerja paksa dan penganiayaan buruh 
anak, harus bertanggungjawab atas tindakannya. Menanggapi hal itu, Zhao Lijian 
memaparkan catatan AS terkait pelanggaran HAM tenaga kerja.

“Dalam 5 tahun yang lalu, di 50 negara bagian AS dan Washington, District 
Khusus Colombia telah dilaporkan adanya kasus kerja paksa dan kasus 
penyelundupan penduduk, tiap tahun sebanyak 100 ribu orang terjual ke Amerika 
dan dipaksa bekerja, separo di antaranya dijual ke ‘Pabrik Darah’ atau menjadi 
hamba keluarga. Menurut statistik sejumlah badan AS, setidaknya 500 ribu orang 
di AS menjadi hamba dan dipaksa bekerja. Departemen Keamanan Nasional AS 
terpaksa mengakui, di AS terdapat banyak keadaan kerja paksa, penderita tidak 
hanya warga negara AS, masih ada warga negara asing yang hampir berasal dari 
setiap penjuru di dunia, bahkan terdapat kelompok lemah antara lain wanita, 
anak dan penyandang cacat.”

Sementara itu Zhao Lijian menunjukkan, di bidang hak buruh anak, AS adalah 
negara satu-satunya yang tidak mengizinkan Konvensi Hak Anak PBB. Menurut 
statistik dari sejumlah asosiasi sektor AS, di AS terdapat sekitar 500 ribu 
buruh anak yang sedang melakukan pekerjaan pertanian, banyak anak mulai bekerja 
dari usia 8 tahun, waktu kerja sepanjang 72 jam tiap minggu, tiap hari hampir 
bekerja 10 jam. Risiko buruh di bawah umur yang menderita kanker akibat 
pestisida adalah 3 kali lipat daripada orang dewasa. Dalam kasus meninggal 
buruh anak AS, separo di antaranya berasal dari pertanian, dari tahun 
2003-2016, tercatat 237 buruh anak AS meninggal akibat kecelakaan pertanian, 
angka ini adalah 4 kali lipat daripada sektor lainnya. Komisi Ahli Pelaksana 
Konvensi dan Usulan ILO berkali-kali berkomentar mengenai masalah buruh anak 
AS, dan mendesak pemerintah AS menyusun kebijakan meningkatkan pengawasan 
terhadap pengerjaan buruh anak di pertanian, serta menyediakan data statistik 
terinci tentang pengerjaan buruh anak di pertanian, khususnya jumlah kasus 
kecelakaan yang menimpa buruh di bawah umur serta  hasil penyelidikan dan 
penanganan kasus pengerjaan buruh anak secara ilegal. 



Kemlu Tiongkok Desak AS Jangan Campuri Urusan Dalam Negeri Tiongkok dengan 
Dalih Vaksin
2021-06-22 10:52:01  
http://indonesian.cri.cn/20210622/868ffbec-36de-1049-1505-42e536fce6a6.htmlAmerika
 Serikat beberapa hari terakhir ini menyumbang 2,5 juta dosis vaksin kepada 
Taiwan. Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao 
Lijian pada hari Senin kemarin (21/6) mengatakan bahwa Tiongkok selalu 
mendukung kerja sama penanggulangan wabah dan secara aktif berupaya demi tujuan 
ini. Tiongkok mendesak pihak AS jangan melakukan manipulasi politik melalui 
sumbangan vaksin dan mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok.

Zhao Lijian menyatakan bahwa daratan Tiongkok dan Taiwan adalah keluarga yang 
terhubung oleh darah. Kami berempati sepenuhnya dengan saudara-saudara setanah 
air Taiwan yang dilanda pandemi parah dan selalu menyatakan bahwa pihak daratan 
bersedia membantu mereka untuk mengatasi kesulitan sesegera mungkin. Namun, 
menghadapi niat baik dari daratan Tiongkok dan urgensi kebutuhan vaksin di 
Taiwan, otoritas Partai Progresif Demokratik (PPD) dengan segala cara mencegah 
pengiriman vaksin dari daratan Tiongkok memasuki Taiwan, bahkan berbohong bahwa 
daratan Tiongkok menghalangi pihaknya membeli vaksin.

“Demi kepentingan politik pribadinya sendiri, otoritas PPD secara terus-menerus 
melakukan manipulasi politik pada kerja sama penanggulangan wabah, ini adalah 
ketidakpedulian terhadap jiwa dan kesehatan saudara-saudara setanah air Taiwan 
dan melanggar semangat dasar kemanusiaan. Tiongkok selalu mendukung kerja sama 
penanggulangan wabah dan secara aktif berupaya demi tujuan ini. Tiongkok 
mendesak pihak AS menghentikan manipulasi politik melalui sumbangan vaksin dan 
menghentikan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Tiongkok,” tutur Zhao.




-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/41107570E04F45F090D3E5BE29E7964F%40A10Live.

Reply via email to