Ketidakadilan Pembagian Vaksin Makin Parah
2021-06-22 16:27:46  
http://indonesian.cri.cn/20210622/fa2e85af-3aa8-2480-55b6-efb4e928e191.htmlVaksin
 merupakan senjata kuat untuk mengalahkan wabah virus Corona global. Lebih 
banyak orang menyelesaikan vaksinasi secepat mungkin akan bermanfaat untuk 
berbagai negara mencegah wabah, menghindari penyebaran virus dalam skala besar. 
Tapi keadaan riil adalah, sebagian negara maju menimbun banyak vaksin, 
sedangkan negara-negara berkembang menderita dalam kesulitan kekurangan vaksin.



WHO bulan ini menyatakan bahwa penyebaran virus Corona lebih cepat daripada 
distribusi vaksin. Masalah ini berada di banyak negara berkembang, terutama di 
Afrika.

Dalam masalah pembagian vaksin yang tidak adil, WHO juga beberapa kali 
mengeluarkan peringatan. Pada bulan Januari tahun ini, Direktur Jenderal WHO 
Tedros Adhanom Ghebreyesus pernah mengatakan bahwa negara maju terus 
memproduksi vaksin, tapi negara-negara berkembang sedang menunggu. Seiring 
dengan berjalannya waktu, celah antar negara akan makin besar. Sampai saat ini, 
masalah ini masih belum diperbaiki.



COVAX yang dipimpin oleh WHO pada awalnya merencanakan menyerahkan 2 miliar 
dosis vaksin untuk seluruh dunia dalam tahun ini, tapi karena masalah 
kekurangan kapasitas, dan negara maju menimbun vaksin, jumlah vaksin yang 
diserahkan sangat terbatas.



Negara maju menimbun banyak vaksin, terutama diwakili oleh Amerika Serikat (AS) 
dan Inggris. Menurut statistik, penimbunan vaksin pemerintah AS bisa 
menyediakan vaksinasi untuk 750 juta orang, tapi jumlah orang dewasa di AS masa 
kini hanya 260 juta orang. Menurut laporan banyak media AS, bahkan terjadi 
pemborosan vaksin di banyak tempat AS.



Selain itu, populasi Inggris hanya 67 juta orang, pemerintah Inggris sudah 
order lebih dari 200 juta dosis vaksin, setelah menyelesaikan vaksinasi dalam 
negeri, masih ada kelebihan vaksin. “Nasionalisme vaksin” dari negara-negara 
maju seperti AS dan Inggris mengundang kritik dari dalam dan luar negeri.



Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pernah mengatakan kalau tidak bisa 
menjamin pembagian vaksin secara adil, akan terjadi keruntuhan baru etika 
moral. Sampai masa kini, 75% vaksin virus Corona dikuasai oleh 10 negara. 
Keadilan vaksin adalah inti mewujudkan HAM, vaksin harus menjadi produk global 
yang terjangkau oleh semua orang.

 





Terungkap Jepang Belum Miliki Teknik Penyaring Air Limbah Radioaktif
2021-06-22 15:52:24  
http://indonesian.cri.cn/20210622/89969092-673f-d506-4833-27b28e1bbd2a.html

Pemerintah Jepang selalu menggembar-gemborkan dirinya akan memproses air limbah 
radioaktif dari PLTN Fukushima secara aman sebelum membuangnya ke laut. Akan 
tetapi yang mengejutkan ialah media Jepang mengungkapkan bahwa Jepang hingga 
kini belum memiliki teknik tentang penyaringan tritium yang terkandung dalam 
air limbah radioaktif.

Melansir laporan NHK, TEPCO (Tokyo Electric Power Company) untuk urusan air 
limbah nuklir PLTN Fukushima baru-baru ini melakukan kampanye seleksi teknologi 
untuk memfilter zat-zat radioaktif terutama tritium dalam air limbah. Berita 
tersebut segera menimbulkan riuh di  masyarakat dan opini umum. Ada warganet 
yang bertanya, jika belum memiliki teknik filter, kenapa pemerintah Jepang 
berani mengambil Keputusan untuk membuang air limbah radioaktif ke laut?!



Memang pemerintah Jepang sudah dihujani kritik dari negara-negara tetangga 
bahkan seluruh masyarakat internasional sejak Jepang mengumumkan rencana 
membuang air limbah nuklir ke laut pada April lalu. Akan tetapi Jepang tetap 
bertindak nekat dan menutup matanya terhadap kecaman masyarakat internasional, 
bahkan masih mengelabui dunia dengan kebohongan. Ada juga pejabat Jepang yang 
bilang tak apa-apa jika air itu diminum, namun hingga sekarang dia belum 
terlihat mau meneguk sedikit pun air itu.

Sejak lama baik pemerintah Jepang maupun TEPCO sudah terbiasa berbohong dalam 
masalah pengamanan PLTN Fukushima. Dikumpulkannya teknik filter dari masyarakat 
kali ini kemungkinan juga sengaja dibuat-buatnya untuk mengelabui dunia, tapi 
hanya dirinya yang paling jelas apakah Jepang mampu memfilter tritium dari air 
limbah radioaktif.

Dalam sejarah lampau Jepang pernah membawa malapetaka kemanusiaan kepada banyak 
negara karena perang agresi yang dilakukannya. Akan tetapi para politikus 
Jepang hingga sekarang belum meminta maaf maupun melakukan introspeksi atas 
kejahatannya. Malah Jepang nekat membuang air limbah nuklir ke laut yang pasti 
akan merugikan kesehatan rakyat seluruh dunia serta ekosistem global. Aksi 
Jepang tersebut benar-benar telah menantang keadilan dan naluri hati manusia. 
Aksi ngawur Jepang tersebut sekali-kali tidak boleh dibiarkan. Jepang janganlah 
berkhayalan akan terluput dari kecaman dan pengusutan tanggung jawabnya dalam 
perihal pembuangan air limbah nuklir ke laut.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E2D6DDA991DB49688CD1667B77D9413D%40A10Live.

Reply via email to