https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2180-tergesa-gesa-merdeka



 Rabu 23 Juni 2021, 05:00 WIB 

Tergesa-gesa Merdeka 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Tergesa-gesa Merdeka MI.Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. INGGRIS 
sepertinya bukan contoh yang baik dalam urusan tarik rem dan injak pedal gas di 
saat pandemi covid-19. Negara yang telah sah keluar dari ikatan Uni Eropa itu 
sebetulnya sudah punya 'peta jalan' untuk kick off injak gas. Bisnis di Inggris 
bahkan telah penuh semangat mengantisipasi tanggal 21 Juni sebagai 'hari 
kebebasan' ketika semua pembatasan protokol virus korona akan dicabut. Namun, 
secara prematur, pada 14 Juni atau sepekan sebelum tanggal itu tiba, Perdana 
Menteri Boris Johnson menghancurkan harapan mereka. "Sudah waktunya untuk 
melepaskan pedal gas," kata Boris Johnson sebagaimana dikutip dari The 
Economist, pekan lalu. Benar saja, ketergesaan Boris berujung miris. Kasus 
rawat inap dan penerimaan untuk perawatan intensif covid-19 meningkat. Maka 
Irlandia, Prancis, dan Jerman pasang kuda-kuda. Mereka termasuk di antara 
negara-negara yang telah memperketat pembatasan pelancong dari Inggris. Yang 
dikhawatirkan ialah meluasnya varian delta. Sebelumnya dikenal sebagai B16172, 
varian tersebut pertama kali ditemukan di India pada Februari. Itulah varian 
yang berkontribusi pada gelombang infeksi yang mengerikan di musim semi. The 
Economist memperkirakan lebih dari 1 juta kematian akibat covid-19 di India 
tahun ini. Varian delta juga telah menyebar dengan cepat melintasi perbatasan. 
Menurut GISAID, inisiatif berbagi data untuk urusan virus korona dan influenza, 
mutasi telah diidentifikasi di setidaknya 70 negara, termasuk Indonesia. 
Inggris lambat menutup perbatasannya untuk pelancong dari India setelah varian 
baru terdeteksi di sana. Akibatnya, varian telah menyebar lebih cepat daripada 
yang mungkin terjadi. Indonesia, mirip-mirip dengan Inggris, lumayan terlambat 
menutup bandara dan pelabuhan dari perjalanan orang-orang India. Maka dari itu, 
jangan contoh Inggris, apalagi India. Terburu-buru mengumumkan 'hari kebebasan' 
dari covid-19 seperti mengirim masyarakat berbondong-bondong menuju jurang, 
alih-alih menyalakan harapan kebangkitan. Inggris tidak belajar dari India yang 
kelewat percaya diri dengan menyebut 'tinggal selangkah lagi mencapai herd 
immunity’. Seruan kemenangan semu itu dirayakan rakyat India dengan 
menanggalkan hampir semua atribut protokol kesehatan yang membelenggu. Festival 
keagamaan digelar berhari-hari dengan kerumunan penuh, tanpa masker, tanpa 
berjarak. Kampanye politik pilkada India dihalalkan di seluruh negeri. Stadion 
menampung penuh penonton liga kriket. Hasilnya, ledakan korona secara 
eksponensial nan mengerikan yang baru terjadi selama pandemi. Setali tiga uang, 
walau tidak sevulgar India dan Inggris, kita sempat bergegas ingin keluar dari 
zona suram pandemi. Narasi yang dibangun ialah potensi pertumbuhan positif 
ekonomi di kuartal II 2021. Ada yang amat bernafsu mengejar angka pertumbuhan 
7% agar di penghujung tahun tercapai target ekonomi tumbuh di kisaran 4% hingga 
5%. Basis argumentasinya ialah pandemi terlalu lama memukul sendi-sendi serta 
otot-otot perekonomian. Korona juga membuat anggaran negara makin ngos-ngosan 
mengongkosi dampak pandemi. Tahun lalu, defisit APBN menganga hingga lebih dari 
Rp1.300 triliun (sekitar 6,1% dari produk domestik bruto). Itu defisit 
tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Di awal tahun ini, hingga Mei 2021, defisit 
juga sudah membengkak hingga Rp219,3 triliun. Sementara itu, posisi pembiayaan 
utang juga naik 8,9% menjadi Rp330,1 triliun atau 28% dari pagu Rp1.177,4 
triliun. Betul-betul situasi yang sulit. Namun, sesulit apa pun itu, hukum 
'melindungi segenap tumpah darah Indonesia' tak bisa ditawar barang sekulit 
bawang pun. Maka, jangan pernah tergoda untuk menempuh jalan Inggris, apalagi 
India, yang tergesa-gesa mendeklarasikan terbebas dari korona, lalu menginjak 
gas sekencang-kencangnya. Bereskan dulu seberes-beresnya urusan kesehatan. 
Kampanyekan segencar-gencarnya kepada publik bahwa kita masih jauh dari kondisi 
'merdeka dari korona'. Penerima vaksin dosis lengkap baru sekitar 5% (masih 
jauh dari 70% syarat kekebalan kelompok). Kasus harian covid-19 masih di atas 
13 ribu dalam tiga hari terakhir. Baru, nanti, jika kasus sudah benar-benar 
sukses dikendalikan, kekebalan kelompok dicapai, silakan pekikkan kemerdekaan 
sekencang-kencangnya.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2180-tergesa-gesa-merdeka





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210623194341.c85559a951f0ba3227b7370c%40upcmail.nl.

Reply via email to