Hendropriyono, Ganjalan Andika Jadi Panglima?R53 - Wednesday, June 23, 2021 
17:44
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/hendropriyono-ganjalan-andika-jadi-panglima
 
KASAD Andika Perkasa (Foto: JPNN.com)
6 min read

Faktor Hendropriyono kerap disebut sebagai “pelicin” bagi KASAD Andika Perkasa 
untuk menuju Panglima TNI. Namun, mungkinkah faktor mantan Kepala Badan 
Intelijen Negara (BIN) ini yang justru menghambat Andika? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “One must work with time and not against it.” – Ursula K. Le Guin, penulis 
asal Amerika Serikat

Andika dikejar waktu. Saat ini perdebatan berputar soal waktu atau kapan KASAD 
Andika Perkasa harus menjabat Panglima TNI jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
memang menginginkannya. Pasalnya, jika menunggu masa pensiun Marsekal Hadi 
Tjahjanto pada November 2021, Andika hanya punya waktu sekitar setahun menjadi 
Panglima.

Waktu yang singkat ini dinilai kurang baik untuk organisasi TNI. Ini misalnya 
disebutkan oleh pengamat pertahanan dari Institute for Security and Strategic 
Studies (ISESS) Khairul Fahmi dan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai 
Golkar, Bobby Adhityo Rizaldi.

Kendati konsisten memberi dukungan, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP, 
Effendi Simbolon juga menyinggung soal waktu. Menurutnya, jika Presiden Jokowi 
berkehendak menjadikan Andika sebagai Panglima TNI, maka itu harus dilakukan 
bulan depan.

Baca Juga: Pertengahan Tahun, Andika Jadi Panglima?

Indikasi persoalan ini semakin jelas terlihat pada manuver mertua Andika, A.M. 
Hendropriyono yang disebut Tempo telah melakukan lobi ke Presiden Jokowi agar 
menantunya dapat menjadi Panglima TNI.

Laporan Tempo tersebut kemudian dibantah oleh Hendro. "Saya tidak pernah begitu 
hina mau nyosor meminta-minta jabatan. Tidak untuk menantu, anak, apalagi untuk 
saya sendiri. Tidak pernah," begitu tegasnya pada 14 Juni.

Well, terlepas dari ada tidaknya lobi Hendro, telah sejak lama “faktor Hendro” 
disebut banyak pihak memperkuat peluang Andika sebagai pengganti Hadi 
Tjahjanto. Pada 2018 ketika Andika diangkat menjadi KASAD, faktor Hendro juga 
jamak disebut di belakangnya.

Namun, apabila kita mencermati dinamika yang ada, mungkinkah faktor Hendro yang 
justru menjadi ganjalan Presiden Jokowi memilih Andika Perkasa menjadi Panglima 
TNI selanjutnya?

 
Hendro Telah Memudar?
Dalam analisis berbagai pengamat dan akademisi, di periode pertamanya, Presiden 
Jokowi disebut “insecure” karena tidak memiliki pengalaman dalam mengelola 
hubungan dengan militer.

Ini disebutkan Stephen Wright dalam tulisannya Indonesia: Army’s influence 
sparks fear for democracy ketika mengutip Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional 
(Lemhannas) Agus Widjojo yang menyebut Presiden Jokowi kurang percaya diri 
tanpa tentara di sisinya.

Ihwal tersebut kemudian membuat Presiden Jokowi mengandalkan purnawirawan 
berpengaruh seperti Luhut B. Pandjaitan, Moeldoko, Agum Gumelar, Ryamizard 
Ryacudu, Wiranto, dan Hendropriyono. Ini disebutkan oleh peneliti senior Centre 
for Strategic and International Studies (CSIS) Evan A. Laksmana dalam 
tulisannya Civil-Military Relations under Jokowi: Between Military Corporate 
Interests and Presidential Handholding.

Terkait Hendro, namanya juga disebut sebagai satu dari enam tokoh yang bisa 
disebut sebagai enam matahari Presiden Jokowi di periode pertamanya. Lima 
lainnya adalah Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri, Menko Marves 
Luhut B. Pandjaitan, Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, Kepala Badan Intelijen 
Negara (BIN) Budi Gunawan (BG), dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Mengacu pada lumrahnya spoils system di Indonesia, yakni praktik pemenang 
pemilu memberikan posisi kepada pendukungnya sebagai hadiah karena berjasa 
menghantarkan kemenangan, tidak heran kemudian terdapat pihak yang mengaitkan 
posisi Hendro atas pengangkatan Andika sebagai KASAD. Pun begitu dengan peluang 
Andika menjadi Panglima TNI.

Baca Juga: Andika Perkasa Sulit Jadi Panglima?

Persoalan ini dapat pula direfleksikan pada fenomena princelings di Tiongkok. 
Tony Huiquan Zhang dalam tulisannya The Rise of The Princelings in China: 
Career Advantages and Collective Elite Reproduction menyebut princelings adalah 
fenomena di mana elite-elite di Tiongkok mendapatkan keuntungan dari latar 
belakang keluarganya.

Menurut Bo Zhiyue dalam tulisannya Who Are China’s ‘Princelings’?, princelings 
terbagi dalam tiga macam, yakni politik, jenderal, dan pengusaha. Presiden 
Tiongkok Xi Jinping adalah contoh politisi princelings. Ayahnya, Xi Zhongxun 
adalah seorang komunis veteran yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan 
Wakil Perdana Dewan Negara pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an, serta anggota 
Politburo pada tahun 1980-an.

Contoh jenderal princelings adalah Jenderal Zhang Youxia. Ayahnya, Jenderal 
Zhang Zongxun adalah mantan Wakil Kepala Staf dan Direktur Departemen Logistik 
Umum Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Jika benar karier Andika karena Hendro, alumnus Harvard University ini mungkin 
bisa disebut sebagai jenderal princelings ala Indonesia.

Nah, sekarang persoalannya menjadi menarik. Bagaimana jika faktor Hendro tidak 
lagi berpengaruh? Pasalnya, tidak seperti di periode pertamanya, saat ini 
Presiden Jokowi disebut telah memiliki modal politik dan pengalaman yang cukup 
untuk mengelola hubungan dengan militer. Ini misalnya disebutkan oleh Evan A. 
Laksmana dan Khairul Fahmi.

Artinya, jika Hendro tidak memiliki peran vital di pemerintahan, seperti Luhut 
atau Moeldoko, mantan Kepala BIN itu tampaknya tengah meredup saat ini. Ihwal 
tersebut misalnya terlihat pada kasus Wiranto dan Ryamizard yang tidak lagi 
menonjol. 

Dengan demikian, dapat dikatakan tidak tepat jika menyebut salah satu daya 
tawar terbesar Andika saat ini adalah Hendro.

 
Justru Hambatan?
Selain dugaan pengaruh Hendro telah memudar, mengacu pada lekatnya nama Andika 
dengan Hendro, ada kemungkinan faktor Hendro justru adalah penghambat Presiden 
Jokowi dalam memilih Andika. Mengapa demikian?

Alasannya sederhana, mereka yang ditunjuk sebagai Kapolri dan Panglima TNI 
adalah president’s man. Keduanya adalah posisi penting yang memberi jaminan 
keamanan. Mengacu pada sejarah politik Indonesia, memiliki hubungan baik dengan 
militer adalah fakta yang tak terelakkan untuk menjaga dukungan dan konsolidasi.

Sejak tahun 1513, persoalan ini telah ditegaskan oleh Niccolo Machiavelli dalam 
bukunya Il Principe. Menurut Machiavelli, kekuasaan dan pengaruh memang lebih 
mudah dipertahankan apabila pihak terdekat atau yang paling dipercaya yang 
ditunjuk sebagai penerus (successor), pembantu, dan sebagainya.

Ini membuat sangat penting bagi Presiden untuk menjamin posisi Panglima TNI 
adalah orang yang benar-benar setia kepadanya. Komunikasi antara Presiden dan 
Panglima TNI juga harus bersifat langsung dan tanpa “perantara”.  

Ini juga ditegaskan oleh Direktur Eksekutif Voxpol Center and Consulting, Pangi 
Syarwi Chaniago. "Panglima ini kan tidak hanya soal pintar, tapi juga yang 
prioritas adalah loyalitas," begitu tuturnya.

Poin tersebut sangat perlu digarisbawahi. Pasalnya, jika benar karier Andika 
berkat Hendro, ada kemungkinan komunikasi Andika dengan Presiden sedikit 
tidaknya terhalang oleh Hendro. Misalnya, Andika meminta saran dari Hendro 
“harus bagaimana”. Spekulasi terburuknya adalah Hendro dapat memberi 
“intervensi” atas kebijakan Andika.

Baca Juga: Andika Perkasa Akan Berlabuh di PDIP?

Selain itu, sudah lama diketahui Hendro memiliki hubungan yang erat dengan 
PDIP, khususnya Megawati. Kedekatan ini sekiranya menjawab mengapa politisi 
senior PDIP, seperti Effendi Simbolon memberi dukungan kepada Andika. 
Masalahnya, hubungan Presiden Jokowi disebut sedikit merenggang dengan PDIP 
saat ini.   

Nah, konteks-konteks tersebut sekiranya dapat membuat Presiden Jokowi kurang 
nyaman bekerja dengan Andika jika nantinya ditunjuk sebagai Panglima TNI.

Well, terlepas dari semua perdebatan yang ada, pada akhirnya kita hanya dapat 
menanti siapa sosok yang akan dipilih Presiden Jokowi.Bagaimana pun, ini adalah 
hak prerogatif Presiden. Semuanya di tangan Pak Jokowi. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1063388A89DB4D7F88663EBCA8175494%40A10Live.

Reply via email to