Jokowi-Biden Buat Tiongkok Gentar?G69 - Tuesday, July 6, 2021 19:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-biden-buat-tiongkok-gentar
 
Sejumlah warga di Solo, Jawa Tengah (Jateng), mengenakan topeng dengan muka 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe 
Biden (kanan) sambil membawa bendera dua negara guna menyambut pelantikan 
presiden AS yang baru pada 20 Januari 2021. (Foto: Antara)
6 min read

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan akan segera membangun pusat 
maritime di Batam, Kepulauan Riau. Apakah ini jadi upaya pemerintahan Joko 
Widodo (Jokowi) dan pemerintahan Joe Biden di AS untuk membuat Republik Rakyat 
Tiongkok (RRT) gentar?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah sepakat untuk membangun pusat 
pelatihan maritim baru di Batam dengan nilai 3,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 
50,6 miliar. Duta Besar AS untuk Indonesia, Sung Kim, menegaskan bahwa 
pembangunan pusat maritim tersebut merupakan sebuah upaya lanjutan antara kedua 
negara untuk meningkatkan keamanan khususnya di kawasan Laut China Selatan 
(LCS). Pusat pelatihan ini terletak di lokasi yang strategis karena dekat 
dengan Selat Malaka, Batam, Kepulauan Riau, dan LCS.

Seperti yang diketahui secara umum bahwa Selat Malaka merupakan sebuah lokasi 
yang sangat strategis. Menurut U.S. Energy Information Administration, Selat 
Malaka merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak. Bahkan, sekitar 85-90 
persen perdagangan minyak dunia melintasi jalur ini.

Hal ini membuktikan bahwa Selat Malaka memiliki posisi yang ‘menguntungkan’ 
bagi sejumlah pihak yang bisa melihat potensi wilayah tersebut. Qatar, 
misalnya, mampu mengoptimalkan jalur tersebut untuk melakukan perdagangan LNG 
(liquefied natural gas) dengan negara-negara di kawasan Asia Timur seperti 
Jepang dan Korea Selatan (Korsel).

Negara-negara besar seperti AS dan Tiongkok juga tidak mengalihkan perhatiannya 
dari Selat Malaka. Tiongkok, contohnya, menggantungkan mayoritas perdagangannya 
di jalur tersebut. Menurut Center for Strategic and International Studies 
(CSIS), 60 persen perdagangan Tiongkok melintasi jalur Selat Malaka dan LCS.

Baca Juga: Jokowi “Lirik” Diplomasi Iklim Biden?

 
Sementara, khusus AS perhatiannya lebih mengarah kepada kerja sama militer dan 
pertahanan. Salah satu contohnya adalah Angkatan Laut AS (US Navy) yang bekerja 
sama dengan Jepang dengan platform Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) di 
Selat Malaka. Mengutip dari The Diplomat, kapal USS William P. Lawrence dengan  
Izumo dan Murasame berlatih militer bersama di lokasi tersebut.

Tidak hanya dengan Jepang, AS dengan kapal induk USS Ronald Reagan juga pernah 
melakukan latihan militer bersama dengan India di LCS dan sempat melintas di 
Selat Malaka. Kapal induk itu membawa sejumlah jet tempur serta diperkuat 
dengan kapal jelajah yang memiliki peluru kendali. Komandan armada tempur AS 
yaitu Laksamana Muda George Wikoff menilai bahwa hal ini merupakan upaya negeri 
Paman Sam untuk menjaga keamanan di LCS.

Bukan tidak mungkin, dengan meningkatnya aktivitas sejumlah negara besar di 
sekitar kawasan Selat Malaka dan LCS, kawasan-kawasan ini dianggap menjadi 
wilayah yang strategis. Namun, apa yang membuat wilayah-wilayah laut ini 
dinilai sangat penting secara strategis? Lantas, apakah dua wilayah laut ini 
juga berkaitan dengan rencana pembangunan Pusat Maritim Indonesia-AS di Batam?



Pentingnya Selat Malaka
Tidak hanya India dan Jepang, AS juga terus menjalin hubungan yang baik dengan 
negara-negara lainnya yang berada di jalur Selat Malaka. Adapun negara-negara 
tersebut yaitu Indonesia dan Singapura.

Maka dari itu, wajar apabila AS membangun kehadiran militernya di dua negara 
tersebut. Di Singapura, meski tidak ditegaskan secara gamblang disebutkan ada 
pangkalan militer AS, faktanya Global Security menyebutkan bahwa kapal laut 
perang AS sering bersandar di Pelabuhan Sembawang sejak tahun 1960. Tidak hanya 
sekedar bersandar, tetapi pada tahun 1990, Wakil Presiden Singapura Quayle dan 
Perdana Menteri Lee Kuan Yew mengizinkan militer AS untuk melakukan latihan 
hingga menggunakan fasilitas di Pelabuhan Sembawang.

Sepertinya hal serupa juga terlihat pada kesepakatan pembangunan pusat 
pelatihan militer baru di Batam. Pusat pelatihan memang bukan merupakan 
merupakan pangkalan militer seutuhnya bagi AS namun sejumlah fasilitas seperti 
ruang kelas, barak dan landasan peluncuran juga tersedia di lokasi tersebut. 
Terlebih, pusat pelatihannya juga terletak di posisi yang strategis yakni Selat 
Malaka, Batam, Kepulauan Riau dan LCS.

Baca Juga: ‘Amunisi’ Biden Bayangi Jokowi?


Pemilihan Selat Malaka untuk pusat pelatihan militer bukanlah hal asing bagi AS 
karena negeri ‘Paman Sam’ ini sudah beberapa kali melakukan latihan militer di 
lokasi tersebut. Satu alasan yang memicu pergerakan AS di jalur Selat Malaka 
merupakan salah satu bentuk upaya untuk membatasi manuver Tiongkok yang 
memprioritaskan jalur tersebut untuk perdagangan.

Ternyata, hal tersebut tidak lepas dari proyeksi pemerintah Tiongkok yang ingin 
meningkatkan keamanan energi di negaranya, mengingat pasokan minyak alam yang 
ada di Tiongkok tidak mencukupi untuk memberikan jaminan atas keamanan energi. 
Sementara, Selat Malaka dinilai memiliki banyak dampak positif untuk mendukung 
tujuan tersebut.

Dalam tulisan The Importance of the Malacca Dilemma in the Belt Road Initiative 
karya Yu Zhong, dijelaskan bahwa negara-negara sekitar yang mayoritas merupakan 
negara ASEAN dinilai bisa mendukung cita-cita Tiongkok, yakni proyek Belt and 
Road Initiative, karena sejumlah negara juga memiliki cadangan minyak cukup 
melimpah.

Hal ini menjadi pertimbangan, mengingat adanya upaya pemerintah Tiongkok untuk 
menjadikan negaranya pemasok minyak terbesar mengalahkan AS. Kesempatan untuk 
menjadi pemasok terbesar juga cukup terbuka mengingat upaya pengamanan wilayah 
tersebut oleh negara-negara ASEAN belum cukup kuat menandingi kekuatan militer 
Tiongkok.

Alhasil, banyak friksi yang terjadi antara negara-negara ASEAN dengan Tiongkok. 
Salah satunya dengan Indonesia. Sebagai negara yang memiliki pengaruh yang 
cukup besar di ASEAN, ternyata keamanan laut Indonesia masih memerlukan 
perhatian khusus – terlebih dengan adanya isu temuan drone pengintai kedalaman 
Selat Malaka yang diduga milik Tiongkok.

Baca Juga: Jokowi dan Siasat Ideologis Biden di Asia

 
Peristiwa ini menjadi pertanda bahwa ada indikasi ancaman terhadap kedaulatan 
Indonesia. Maka dari itu, kuat dugaan bahwa pembangunan pusat pelatihan maritim 
yang ada di Batam ini bertujuan untuk menjaga keamanan Indonesia dari ancaman 
baik domestik maupun transnasional. Lantas, apa dampaknya pusat maritim ini 
pada Tiongkok?



Efek Gentar untuk Tiongkok?
Selama ini Indonesia juga disibukkan dengan adanya kapal Tiongkok yang masuk 
secara ilegal di perairan Natuna. Tindakan tersebut bahkan dilakukan secara 
berulang-ulang, seperti misalnya pada 11 Januari 2020 lalu dengan adanya temuan 
30 kapal ikan asing bersama dengan kapal coast guard Tiongkok yang masuk ke 
wilayah perairan Natuna.

Kemudian, pada 12 September 2020 lalu, Bakamla menemukan kapal coast guard 
Tiongkok yang masuk ke perairan Indonesia. Hal ini disebut sebagai bentuk klaim 
negeri Tirai Bambu tersebut atas nine-dash line atau 9 garis putus-putus yang 
dinilai melintasi perairan Natuna. Atas dasar inilah, Juru Bicara Kementerian 
Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang menegaskan bahwa negaranya tidak melanggar 
hukum internasional dan memiliki hak untuk memasuki wilayah perairan tersebut.

Padahal, United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) menyatakan 
bahwa telah ada penetapan terkait batas-batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) pada 
masing-masing negara. Maka, hak yang diperoleh yaitu melakukan eksploitasi dan 
kebijakan di wilayah perairan tersebut. Namun, Tiongkok tidak mengakui ZEE di 
LCS. Akibatnya kapal milik Tiongkok berulang kali masuk ke wilayah perairan 
Natuna.

Jika melihat manuver aktif Tiongkok di kawasan LCS, maka wajar jika Indonesia 
mengizinkan adanya pembangunan pusat maritim di Batam yang notabene berdekatan 
dengan kawasan LCS. Tindakan ini mengarah ke upaya deterrence Indonesia 
terhadap Tiongkok.

Menurut buku The Globalization of World Politics karya John Baylis, dijelaskan 
bahwa upaya deterrence atau membuat efek gentar terhadap negara yang dianggap 
mengancam bisa terealisasi dengan penggunaan kekuatan militer. Upaya deterrence 
ini juga merupakan salah satu cara untuk mendorong tercapainya suatu kebijakan 
luar negeri. Melihat keterlibatan AS dengan membangun pusat maritim membuat isu 
perebutan kekuasaan dan pengaruh di LCS, menarik untuk ditunggu terutama 
respons dari Tiongkok. (G69)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0A5750C2446C4836B85C97F3CD39EE16%40A10Live.

Reply via email to