Rasisme Mencekik Leher “Demokrasi ala AS”
2021-07-20 15:43:06  
http://indonesian.cri.cn/20210720/4272e432-9200-5f79-7754-812fcda1ac56.htmlRekor
 HAM Amerika Serikat masih sangat buruk, akan tetapi mereka tanpa malu berperan 
sebagai “Pembela HAM” di seluruh dunia dan dengan kasar main tuding urusan 
dalam negeri dan kondisi HAM negara lain. Pemerintah AS pandai main “standar 
ganda” dan tutup mata terhadap rasisme didalam negeri sendiri, akan tetapi 
tetap ada tokoh AS yang berwawasan berani menelanjangi AS, dan membongkar 
kemunafikan pemerintah AS dan “demokrasi ala Amerika Serikat”.



Rasisme dijadikan alat politik pemerintah AS

Tanggal 27 Januari tahun 2017, pemerintah AS mengeluarkan sebuah perintah 
eksekutif, melarang warga negara Iran, Irak, Libia, Somalia, Sudan, Suriah dan 
Yaman masuk wilayah Amerika Serikat. Karena perintah AS tersebut melibatkan 
negara-negara Islam, maka disebut sebagai “Larangan Muslim”. Larangan AS 
tersebut mengundang protes luas di dalam negeri AS bahkan seluruh dunia. John 
Feffer, penanggung jawab Kebijakan Luar Negeri dalam Fokus di Institut Studi 
Kebijakan mengatakan, Presiden Amerika Serikat waktu itu, Donald Trump, 
menjadikan rasisme sebagai alat untuk menghancurkan segala komitmen AS terhadap 
liberalisme internasional. Kebijakan luar negeri pemerintah AS selalu 
mengandung unsur rasisme.  Pemerintah AS tak henti-hentinya melemparkan 
tanggung-jawab pandemi Covid-19 kepada Tiongkok, sebenarnya mereka sendiri 
sudah tahu bahwa konspirasi begitu pasti akan menimbulkan sentimen anti-warga 
keturunan Asia.

Grup Krisis Internasional (International Crisis Group) berpendapat bahwa 
sejumlah politikus AS, termasuk Donald Trump dengan sengaja memperalat rasisme, 
bukannya mendorong persatuan antar suku. Sejumlah organisasi internasional juga 
mengkritik keras pemerintah Trump yang mencabut rencana penempatan kembali 
mayoritas pengungsi AS, tidak rela menerima orang yang meminta perlindungan, 
melaksanakan perintah larangan perjalanan terhadap beberapa negara Muslim dan 
sikapnya terhadap para imigran.

Pada hakikatnya, ekstremisme orang kulit putih telah menjadi sumbu peristiwa 
konflik antar suku di AS. Sebuah pernyataan yang dirilis oleh Biro Investigasi 
Federal (FBI) AS mengatakan, motif kekerasan serupa kasus penembakan merupakan 
ideologi supremasi orang kulit putih. Mantan agen FBI, Michael Germain yang 
sekarang bekerja di Pusat Riset Keadilan Brennan, Universitas New York, 
mengatakan bahwa FBI tidak pernah memandang rata semua oknum teroris. 
Dikatakannya, “Pekerjaan setiap agen FBI berfokus pada kaum Muslim dan kaum 
Muslim di AS, akan tetapi, malah diremehkan ancaman fatal dari supremasi orang  
kulit putih.” “Tak diragukan lagi, jumlah korban yang dibunuh oleh kaum 
Supremasi Orang  Kulit Putih dan organisasi sayap kanan jauh lebih banyak 
daripada organisasi lain. Akan tetapi kami tutup mata terhadap aktivitas 
kekerasan sayap kanan ekstrem dan rasial ” .



“Politik Separatis” yang semakin meluas

Trump pernah berkali-kali melontarkan argumentasi yang menghina agama Islam, 
dan juga ada sejumlah anak buahnya yang menentang agama Islam. Asisten pertama 
Presiden Trump untuk Urusan Keamanan Negara Flynn menilai agama Islam sebagai 
“tumor ganas”. Dia mengatakan bahwa Islamisme adalah sebuah “gagasan politik” 
yang “bersembunyi di belakang agama”, maka ketakutan terhadap Muslim adalah 
“rasional”. Mantan Kepala Strategi Trump, Bannon pernah mengategorikan agama 
Islam sebagai “agama yang paling ekstrem didunia”, dan mengatakan bahwa kaum 
Muslim sedang berusaha membentuk “Angkatan Kelima (Fifth Column).

Tahun 2019, Trump menginjeksikan unsur rasis ketika mengkritik anggota Partai 
Demokrat sayap liberal. Dia mengatakan bahwa 4 orang anggota Kongres kulit 
berwarna harus kembali ke negerinya yang “bobrok dan penuh kejahatan”. Akan 
tetapi, Trump tidak mempedulikan fakta bahwa 4 orang wanita tersebut adalah 
warganegara Amerika Serikat, dan 3 di antaranya lahir di AS. Argumentasi Trump 
yang agresif tersebut mengundang kecaman keras anggota Partai Demokrat, dan 
mereka menilai bahwa argumentasi Trump tersebut bersifat rasisme dan akan 
mengakibatkan perpecahan serius.



Kondisi HAM yang buruk, “standar ganda” yang memuakkan

Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Brian Hooker 
pernah mengirim sebuah MoU kepada Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson waktu 
itu, dengan mengusulkan bahwa AS harus menjadikan HAM sebagai senjata terhadap 
lawannya, seperti Iran dan Tiongkok. Tapi dia mengusulkan pula untuk menutup 
sebelah mata terhadap sekutunya yang “menindas rakyatnya”, seperti Mesir dan 
Arab Saudi. MoU tersebut sepertinya telah merumuskan kebijakan pemerintah Trump 
mengenai masalah HAM, dan mantan Menteri Luar Negeri AS waktu itu Mike Pompeo, 
kerap kali memberikan tekanan dalam masalah HAM, tapi sasaran kritiknya hampir 
semua adalah pemerintah yang bermusuhan dengan AS, ada juga negara yang hanya 
bisa mendatangkan kepentingan strategis yang terbatas bagi AS.

Presiden merangkap CEO Group Krisis Internasional Robert Malley mengatakan, 
“tidak selaras perkataan dan perbuatan pemerintahan AS yang lalu, baik 
pemerintah Partai Republik maupun Partai Demokrat dalam memajukan HAM dan 
melindungi kepentingan AS. Di bawah pemerintahan Trump, perbedaan antara 
perkataan dan perbuatan menjadi “lembah”.

Dapat dilihat dari hal-hal tersebut, demorasi munafik ala Amerika Serikat yang 
menjunjung tinggi rasisme, bahkan supremasi orang kulit putih tidak mendapat 
dukungan. Di dalam negeri, AS sendiri mendiskriminasi dan bermusuhan dengan 
kelompok Muslim, di dunia internasional, mereka menimbulkan malapetaka 
kemanusiaan di Suriah, Irak, Afghanistan dan negara-negara lain. Perbuatan AS 
itu pada akhirnya pasti akan mengalami kegagalan total.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8FFB64E1B9724246B20DC8DAC0976462%40A10Live.

Reply via email to