Aksi Donasi Rp2 T dan (Adakah) Rasa Malu para Penyinyir

2021/07/27 16:25

PADA saat pemerintah dan masyarakat, khususnya penyintas covid berperang
melawan covid-19, ada sekelompok orang yang terus mendompleng bencana
kemanusiaan itu untuk menjatuhkan pemerintahan dan mengecilkan Presiden
Jokowi yang disebut gagal mengatasi pandemi.
Ada pula bocah telat dewasa yang menyimpulkan Indonesia sebagai failed
nation. Padahal dulu bapaknya justru yang lebih sering melakukan
aksi failed dan error tingkat dewa yang membuat dan menyuburkan kaum
radikalis semakin tidak beradab dan anti-Pancasila.
Mereka itulah yang selama ini bersorak-sorak gembira ketika jumlah kasus
positif covid bertambah. Mengucapkan belasungkawa dan prihatin pun tidak
saat jumlah warga masyarakat yang meninggal dunia karena covid bertambah.
Padahal dulu orang-orang itu saat berkuasa sering mengucapkan prihatin
meskipun untuk menangisi nasibnya sendiri. Mengamati kelakuan mereka,
membuat tidak saja pemerintah terganggu dalam menangani covid, tetapi juga
membuat masyarakat sebal bukan kepalang. Karena mereka sama sekali tidak
punya empati dan peduli.
Saya tak tahu apakah mereka tidak punya malu ketika di penjuru negeri
banyak warga masyarakat yang berjibaku menyingsingkan lengan baju membantu
pemerintah mengatasi pandemi covid, mereka justru tertawa dan nyinyir tiada
akhir. Padahal di saat bersamaan warga masyarakat terkapar tak berdaya di
halaman rumah sakit karena harus antre masuk ke UGD. Sampai-sampai tokoh
sekaliber Christianto Wibisono meninggal di Rumah Sakit Sitanala Tangerang,
sebuah rumah sakit yang selama ini dikenal sebagai rumah sakit khusus
penderita kusta. Ia menjadi rumah sakit pilihan terakhir warga Tangerang
jika sakit.
Benar, rumah sakit itu sekarang memang sudah berganti wajah menjadi rumah
sakit umum dan modern, namun kesan rumah sakit yang dulu distigmakan
sebagai rumah sakit yang pasiennya harus diajuhi tetap melekat begitu kuat.
Ya, di rumah sakit inilah Christianto Wibisono menghembuskan napas terakhir
setelah tubuhnya dicabik-cabik covid. Tidak cuma Christianto, guru besar
fikih, ulama perempuan Dr Huzaemah Tahido Yanggo juga meninggal di Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang, Banten karena covid. Padahal perempuan
berusia 77 tahun ini tinggal di Jakarta.
Bak oase di padang gurun, kita terkejut, ternyata ada sosok mulia– paling
tidak ahli warisnya– yang membantu pemerintah untuk mengatasi penyebaran
covid dengan memberikan donasi yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung, Rp2
triliun! Sebagaimana diberitakan di banyak media arus utama dan media
sosial beberapa hari lalu, Pemprov Sumatera Selatan (Sumsel) mendapat
bantuan dana hibah sebesar Rp2 triliun untuk penanggulangan covid-19 dari
pihak yang mengatasnamakan keluarga almarhum Akidi Tio.
Banyak orang sampai saat ini bertanya-tanya siapa Akidi Tio? Laki-laki ini
disebut-sebut berasal dari Aceh dan semasa hidupnya dikenal sebagai
pengusaha yang bergerak di dunia kontraktor, kontainer, dan besi. Tapi,
yang membuat kita tercengang adalah besar sumbangannya itu lho, Rp2
triliun! Orang awam seperti saya tidak pernah membayangkan, apalagi para
penyinyir yang belakangan populer dengan sebutan covidiot itu yang cuma
bisa memberikan 'sumbangan' di era covid ini berupa nyinyiran, kritikan,
kebencian dan makian.
Di mana rasa malu mereka? Dalam suasana nan penuh duka ini, saya jadi ingat
Iyyas Subiakto, teman saya yang beberapa hari lalu di Facebook menulis dan
mempertanyakan ke mana orang-orang kaya kita? Dari awal pandemi, menurut
Iyyas, salah satu yayasan kemanusiaan yang selalu kelihatan di depan adalah
Buddha Tzu Chi, mereka selalu sigap di setiap ada bencana.
Sepertinya tidak satu pun setiap ada bencana alam mereka lewatkan untuk
hadir. Ribuan rumah dibangun saat tsunami Aceh, NTB, dan Palu. Ratusan ribu
APD dan masker dibagikan diawal pandemi tahun lalu. Kita tahu yayasan ini
dibantu oleh ratusan pengusaha Tionghoa yang menyisihkan sebagian dananya.
Saat ini, masih menurut Iyyas Subiakto, di saat virus menggila lagi-lagi
mereka hadir nyata, belum lagi orang kaya yang ada seperti Sinar Mas,
Sukanto Tanoto, dan lainnya yang tidak disiarkan media. Saat kita
kekurangan oksigen, tiba-tiba bantuan dari Tiongkok sudah sampai di Tanjung
Priok, begitu juga dari Sukanto Tanoto, dan Sinar Mas yang menyumbang 1.200
ton oksigen setiap bulan yang ekuivalen dengan 1 juta botol tabung oksigen.
Soal oksigen berikut tabungnya, saya punya pengalaman menarik. Sebagai
anggota satgas covid di komunitas wilayah gereja, kami bahkan mendapatkan
pinjaman tiga tabung oksigen (gratis) dari komunitas bernama Paguyuban
Warga Klaten (PWK) di Jakarta. Kami tempo hari sempat kelimpungan ketika
ada warga gereja kami yang terpapar covid dan saturasinya di bawah 70.
Sekali lagi saya mempertanyakan di mana rasa malu para penyinyir dan
orang-orang kaya yang mungkin menjadi bohir para mahasiswa covidiot yang
tempo hari akan mendemo Presiden Jokowi? Di mana empati kalian kepada
negeri sendiri yang tengah dirundung duka, sementara kalian dengan begitu
mudahnya mengumpulkan donasi dan menyebarluaskan kotak amal ke mana-mana
ketika ada dua negara berkonflik di Timur Tengah sana? Kalian ini
sebenarnya siapa sih?

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavj-bt9Tbhu04R17ExDH8P2vA8O3-o9F%3Dnq8NrdikD5oyQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to