Glorifikasi Kemenangan Taliban, Berbahaya?A72 - Tuesday, August 24, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/glorifikasi-kemenangan-taliban-berbahaya
 
Foto: Sindonews
7 min read

Beberapa hari setelah Afghanistan jatuh ke tangan Taliban, Jamaah Ansharusy 
Syariah (JAS) salah satu kelompok ekstremis terbesar di Asia Tenggara merilis 
sebuah pernyataan. Juru bicara kelompok JAS Abdul Rochim Bashir mengatakan 
kelompoknya bersukacita atas kemenangan Taliban di Afghanistan. Lalu apakah hal 
tersebut akan berdampak ke Indonesia?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dalam artikel yang diterbitkan The Sidney Morning Herald yang berjudul Selfies, 
sunglasses and AK-47s: Taliban’s slick victory inspires extremists in 
south-east Asia memaparkan kemenangan Taliban di Afghanistan dinilai akan 
menginspirasi generasi baru kelompok ekstremis agama di wilayah Asia Tenggara.

Lebih lanjut, Indonesia dianggap salah satu negara di Asia Tenggara yang paling 
rawan akan kebangkitan kelompok ini.

Seorang perwira senior dari pasukan khusus anti teror Indonesia memberikan 
kesaksian kepada Sydney Morning Herald bahwa benar ada indikasi kelompok 
ekstremis di Indonesia terilhami dengan apa yang terjadi di Afghanistan.

Sana Jaffrey, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) di 
Jakarta, menilai kegigihan dan kemenangan Taliban akan bergema di Asia Tenggara 
termasuk Indonesia, tetapi dirinya menambahkan bahwa hal tersebut tidak bisa 
otomatis diartikan bahwa mereka akan melakukan semacam tindakan dalam waktu 
dekat.

Lalu, apakah benar peristiwa di Afghanistan dapat menjadi momentum kebangkitan 
kelompok ekstremis di Indonesia?



Contagion Theory of Terrorism
Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya yang berjudul Teror Makassar 
Menginspirasi Serangan ke Mabes Polri? menjelaskan, terkait persoalan momentum 
terdapat satu teori yang tampaknya dapat menjadi jawaban, yakni contagion 
theory of terrorism atau yang juga disebut dengan contagion hypothesis 
(hipotesis penularan).

Brigitte L. Nacos dalam tulisannya Revisiting the Contagion Hypothesis: 
Terrorism, News Coverage, and Copycat Attacks menyebutkan istilah contagion 
atau penularan mengacu pada bentuk peniruan kejahatan (copycat crime).

Individu dan kelompok akan meniru bentuk kekerasan yang menarik bagi mereka 
berdasarkan contoh atau peristiwa yang disaksikan di media massa. Pada akhir 
tahun 1960-an dan awal 1970-an, misalnya, teroris Palestina melancarkan 
sejumlah pembajakan pesawat komersial.

Saat itu, pembajakan yang sengaja dilakukan secara berkepanjangan agar 
mendapatkan liputan besar-besaran untuk menyuarakan pesan-pesan politik pelaku 
teror, disebut-sebut telah menginspirasi kelompok lain untuk mengikuti langkah 
mereka.

 
Akan tetapi, teori contagion bukannya tanpa kritik. Robert G. Picard dalam 
tulisannya News Coverage as the Contagion of Terrorism: Dangerous Charges 
Backed by Dubious Science, misalnya, membantah adanya relasi kausal antara 
tindakan terorisme dengan pemberitaan media.

Dalam temuan yang didapatkan, serangan teror bukan sesuatu yang dapat dilakukan 
hanya berdasar pada inspirasi pemberitaan. Ini karena serangan terorisme adalah 
sebuah proses yang membutuhkan perencanaan, misalnya terkait pengumpulan dana, 
perakitan bom, ataupun penentuan target.

Dengan demikian, serangan teror yang mirip atau yang terjadi dalam waktu yang 
berdekatan bisa saja merupakan dua serangan yang memang telah disiapkan 
sebelumnya, namun memiliki momentum yang berbeda. Eric Neumayera dan Thomas 
Plümper dalam tulisannya Galton’s Problem and Contagion in International 
Terrorism along Civilizational Lines menyebut kemungkinkan tersebut sebagai 
Galton’s problem.

Baca juga: Membaca Tiongkok di Afghanistan

Dalam contagion theory, hipotesisnya adalah serangan teror kedua diinspirasi 
oleh serangan teror pertama. Namun, bagaimana apabila kedua serangan dipicu 
oleh hal yang sama? Ini yang disebut dengan Galton’s problem. 

Kembali ke dalam konteks keberhasilan kelompok Taliban dalam menguasai 
Afghanistan, apakah kemenangan tersebut dapat menjadi momentum untuk 
menginspirasi kelompok ekstremis di Indonesia?

Direktur IPAC, Sana Jeffrey lebih lanjut memaparkan bahwa Taliban telah 
menunjukkan kepada kelompok teroris di Asia Tenggara bahwa berperang melawan 
pemerintah atas nama agama dapat membuahkan hasil.

Badan Intelijen Negara (BIN) sendiri diketahui telah melakukan deteksi awal dan 
antisipasi dari kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di Indonesia 
akibat euforia terhadap kemenangan Taliban di Afghanistan.

Lebih lanjut BIN menemukan ada total 98 WNI alumni perang di Afghanistan dan 
beberapa WNI yang masih bergabung dengan kelompok teror di Afghanistan. Saat 
ini BIN terus mendekati dan memantau mereka serta melakukan pembinaan agar 
tidak lagi meyakini paham ekstrem dan menginspirasi gerakan serupa.

Maraknya pemberitaan internasional yang menganalisis bahwa kemenangan Taliban 
dapat menginspirasi kelompok ekstremis di Asia Tenggara, termasuk dari IPAC dan 
BIN, bisa dikatakan mengacu pada contagion theory.



Pengaruh Perubahan Ideologi?
Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh, Al Chaidar memaparkan bahwa 
perubahan ideologi Taliban dari jihadis Wahabi menjadi bermazhab Hanafi, sangat 
menarik diikuti.

Hal ini merupakan adaptasi ijtihadiyah di mana mereka harus bekerja sama dengan 
masyarakat internasional dan mengakui hak-hak asasi manusia (HAM), hak 
perempuan, kaum minorias, dan sebagainya.

Lebih lanjut dalam konteks Indonesia, Al Chaidar memprediksi ada kemungkinan 
walau kecil anggota ISIS dan gerakan ekstremis di Indonesia lainnya akan 
mengubah ideologinya menjadi inklusif dan bersahabat.

Baca juga: Wiranto Korban Perubahan Teroris

Terkait indikasi akan hal ini, sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan 
Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar meminta seluruh masyarakat untuk 
bersikap bijak dalam menyikapi pemberitaan konflik antara Afghanistan dengan 
kelompok Taliban.

Ia menilai dengan adanya masalah tersebut, bukan tidak mungkin ada kelompok 
yang berusaha menggalang simpatisan.

Lebih lanjut, Boy menegaskan bahwa yang terpenting masyarakat jangan salah 
bersimpati, karena BNPT menemukan ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan 
motif baru dengan “menggalang simpati” atas euforia kemenangan dan isu-isu 
Taliban.

 
Waspada Glorifikasi?
Dari segi geopolitik khususnya dalam konteks GWOT (Global War on Terrorism), 
Indonesia memang menjadi negara yang cukup rentan diganggu oleh terorisme yang 
sel-selnya sudah sangat jelas memiliki proxy dengan kelompok di Afghanistan.

Kekhawatiran ini dikuatkan oleh temuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 
(LIPI) yang mengungkap bahwa saat ini ada beberapa sel tidur (sleeper cells) 
mantan mujahidin yang dulu ikut bergerilya di Afghanistan kini masih berada di 
Indonesia.

Jika kita analisis dari segi ideologi dan jaringan (proxy), Taliban sendiri 
sudah memutuskan hubungannya dengan al-Qaeda dan sudah berjanji tidak akan 
menyerang negara lain. Artinya mereka tidak bekerja sama dengan teroris  
lainnya.

Penjelasan tersebut bisa diartikan bahwa mungkin kemenangan Taliban ini tak 
akan berpengaruh banyak bagi gerakan terorisme di Indonesia secara langsung 
sekaligus mematahkan temuan LIPI soal adanya potensi “sleeper cells” di 
Indonesia.

Namun kita tidak bisa menganalisis secara satu langkah karena selama ini 
Taliban pandai memainkan strategi dan wajah yang berbeda. Pengamat isu konflik  
Timur Tengah Alto Laketubun membenarkan bahkan meyakini perubahan ideologi yang 
dilakukan Taliban hanya pencitraan belaka. Ia menduga Taliban yang sekarang 
masih sama seperti yang dulu.

Namun terlepas dari itu semua, dalam kasus ini sebenarnya yang harus diwaspadai 
Indonesia dari kemenangan Taliban adalah glorifikasi dari kemenangan gerakan 
tersebut.

Terkait hal ini, Kepala Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia, 
Muhamad Syauqillah memaparkan glorifikasi dari keberhasilan gerakan terorisme 
seperti ISIS dan al-Qaeda sebelumnya telah terbukti berhasil membangkitkan 
gerakan serupa di Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, euforia dan glorifikasi atas kemenangan Taliban ini 
berpotensi bisa dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis di Indonesia untuk 
melakukan beberapa tujuan seperti menggalang simpati masyarakat bahkan untuk 
menggalang dana demi kegiatan mereka.

Pengamat militer Noor Huda Ismail menilai bahwa sangat besar potensi kelompok 
teroris yang ada di Indonesia mendapat inspirasi dari kemenangan Taliban, di 
mana mereka melihat bahwa kelompok Taliban mampu menunggu selama 20 tahun untuk 
akhirnya bisa kembali menduduki Afganistan.

Baca juga: Terorisme Makassar, Radikalisme Bukan Akar Masalahnya?

Huda menambahkan inspirasi itu bukan soal akan maraknya aksi teror, tetapi 
lebih ke perubahan ideologi  atau pola hidup. “Mereka (dalam artian kelompok 
teroris) will do the same, menangkan dulu hati orang untuk mengubah sistem. 
Ancaman terbesarnya di perubahan sistem negara,” ungkapnya.

Kelompok-kelompok ekstremis tersebut diyakini akan belajar dari keberhasilan 
Taliban dalam merebut simpati masyarakat dengan cara tersebut, apalagi dengan 
kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini cara yang sama mungkin bisa 
signifikan.  

Pada akhirnya, dalam konteks ini kita harus tetap waspada dan berharap agar 
pihak-pihak terkait dapat meningkatkan mitigasi atau upaya pencegahan serangan 
teror ke depannya. (A72)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0C97B865E7A24B008B6F84929DD0F522%40A10Live.

Reply via email to