Survei Kinerja Menteri Untuk Apa?R53 - Tuesday, December 7, 2021 18:29
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/survei-kinerja-menteri-untuk-apa
 
Menteri Sosial Tri Rismaharini (Foto: Liputan6.com)
6 min read

Indikator Politik Indonesia merilis survei menteri berkinerja terbaik yang 
menempatkan Mensos Risma dan Menkeu Sri Mulyani sebagai yang tertinggi. Dengan 
responden yang merupakan masyarakat acak, bukannya para pakar di bidangnya, 
apakah survei tersebut dapat diamini? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Meski belum mati, saat ini ‘kepakaran’ berada dalam bahaya.” – Tom Nichols, 
dalam buku The Death of Expertise

Entah apapun isunya, topik seputar menteri selalu menarik atensi publik. Tentu 
bukan tanpa alasan, para menteri memegang peranan vital dalam menentukan arah 
kebijakan publik nasional. Atas ini, publik sangat menanti kinerja luar biasa 
para menteri. Seolah merespons, baru-baru ini Indikator Politik Indonesia 
merilis survei kinerja menteri Kabinet Indonesia Maju.

Di posisi pertama, terdapat nama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dengan 
12,5 persen. Setelah itu, ada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dengan 12,3 
persen. “Jadi berbanggalah perempuan karena dua menteri perempuan diapresiasi 
publik secara spontan sebagai menteri terbaik,” ungkap Direktur Eksekutif 
Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi.

Di peringkat ketiga sampai ketujuh adalah Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo 
Subianto dengan 9,2 persen; Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 
(Menparekraf) Sandiaga Uno dengan 9,2 persen; Menteri BUMN Erick Thohir dengan 
8,1 persen; Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud 
Ristek) Nadiem Makarim dengan 5,1 persen; dan Menteri Agama (Menag) Yaqut 
Cholil Qoumas dengan 4,1 persen.

Survei ini dilakukan pada 2-6 November 2021 dengan wawancara tatap muka. Jumlah 
responden sebanyak 2.202 yang dipilih melalui metode multistage random 
sampling. 

Beragam komentar datang menanggapi hasil survei. Seperti yang terlihat dalam 
unggahan infografis PinterPolitik di Instagram, umumnya warganet menaruh tanda 
tanya. Apa indikator penilaiannya? Apakah ini soal popularitas?

Dengan berbagai komentar sinis tersebut, mungkin dapat ditarik pertanyaan, 
sejauh mana survei ini dapat diterima?


  
Gap Pengetahuan
Survei kinerja menteri bukan kali pertama dilakukan. Berbagai lembaga survei 
melakukannya secara berkala. Pada Oktober 2020, misalnya, Indonesia Political 
Review (IPR) merilis survei tingkat kepuasan publik terhadap kinerja setahun 
para menteri.

Dalam survei tersebut, tiga menteri teratas adalah Menhan Prabowo dengan 45,2 
persen; Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dengan 44,9 persen; dan 
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dengan 44,8 persen.

Sebelumnya, ada pula rilis Arus Survei Indonesia (ASI) pada Juni 2020, yang 
juga menempatkan Menhan Prabowo sebagai menteri dengan kinerja paling memuaskan 
dengan respons kepuasan sebesar 43,7 persen.  

Kembali pada pertanyaan sebelumnya, dari mana indikator kepuasan kinerja 
tersebut? Bagaimana responden yang merupakan masyarakat acak menilai kinerja 
para menteri?

Atas pertanyaan ini, ada pandangan menarik dari Ketua DPP Partai Nasdem Willy 
Aditya ketika mengomentari survei serupa dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) 
pada Februari 2020. Menurutnya, tingginya respons publik terhadap Prabowo tidak 
lepas dari faktor keterkenalan dan popularitas sang Ketua Umum Gerindra. Dengan 
fakta sudah maju di kontestasi pilpres, siapa yang tidak mengenal Prabowo?

Mungkin, ada yang menanggapi sinis pernyataan Willy karena Nasdem diketahui 
kurang senang dengan masuknya Gerindra ke dalam kabinet. Alasannya sederhana, 
yakni karena itu mengubah format kabinet dan mengurangi kursi partai koalisi 
Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

Terlepas dari ada tidaknya sentimen tersebut, pernyataan Willy merupakan apa 
yang ditekankan oleh Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise. Dalam 
paragraf pertama bab “Pakar dan Warga Negara”, Nichols menulis kalimat yang 
sangat menarik.

“Mereka ada yang muda ataupun tua, kaya ataupun miskin, beberapa berpendidikan, 
yang lain hanya bersenjatakan laptop atau kartu perpustakaan. Tapi ada satu 
kesamaan: mereka orang biasa yang merasa dirinya adalah timbunan pengetahuan,” 
tulis Nichols.

Menurut Nichols, saat ini para pakar tengah menghadapi tantangan dan gugatan 
yang hebat, yang uniknya tidak datang dari kekuatan politik atau politisi yang 
merasa terancam oleh sains, melainkan dari masyarakat biasa yang merasa dirinya 
lebih berpengetahuan dari para pakar. 

Dalam studi psikologi, apa yang dijelaskan oleh Nichols disebut dengan 
Dunning-Kruger effect. Ini adalah konsep psikologi yang diambil dari tulisan 
David Dunning dan Justin Kruger yang berjudul Unskilled and unaware of it: how 
difficulties in recognizing one's own incompetence lead to inflated 
self-assessments.

Tulisan yang diterbitkan pada tahun 1999 itu menjelaskan bias kognitif yang 
terjadi ketika kita melebih-lebihkan pengetahuan atau kemampuan di bidang 
tertentu. Ini terjadi karena kita jarang merefleksikan atau merenungkan 
seberapa dalam kita mengetahui sesuatu. Sering kali, kita hanyut dalam 
kepercayaan diri dan malu mengakui ketidaktahuan. 

Akar dari Dunning-Kruger effect adalah lemahnya intellectual humility, yakni 
kesadaran bahwa kita kurang atau tidak mengetahui sesuatu. Brian Resnick dalam 
tulisannya Intellectual humility: the importance of knowing you might be wrong, 
menyebut konsep ini telah dari jauh-jauh hari diperkenalkan oleh filsuf 
Prancis, Michel de Montaigne pada abad ke-16. Montaigne menulis, “the plague of 
man is boasting of his knowledge.”

Kembali pada survei kinerja menteri. Dengan fakta butuh pakar untuk menilai 
kinerja menteri – misalnya Menkeu dinilai oleh para dosen, pakar, dan pelaku 
ekonomi – mengapa masyarakat umum yang menjadi responden merasa memiliki 
kapabilitas dalam menilai para menteri?

Kembali mengutip Nichols, ada gap pengetahuan antara masyarakat umum dengan 
para pakar yang sering kali dinafikan. 

 
  
Survei Tidak Perlu?
Pada kasus memuaskannya kinerja Menhan Prabowo, misalnya, dengan fakta saat itu 
Prabowo belum mampu mendatangkan alutsista, serta sampai saat ini belum mampu 
mengembangkan alutsista nasional, bagaimana mungkin kinerjanya dinilai 
memuaskan? Atas keganjilan ini, besar kemungkinan para responden mengacu pada 
berbagai berita seputar diplomasi pertahanan Prabowo. 

Ini jelas rancu. Pasalnya, semua Menhan memang melakukan diplomasi pertahanan. 
Dengan kata lain, ini bukanlah suatu prestasi, melainkan aktivitas yang lumrah 
dilakukan oleh seorang Menhan.

Pun demikian pada survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia. Apakah para 
responden memiliki pengetahuan memadai soal program dan kriteria penilaian 
Mensos? Apakah para responden memiliki pengetahuan yang sepadan dengan para 
dosen ekonomi dalam menilai kinerja Menkeu?

Seperti pernyataan Willy Aditya, jangan-jangan ini bukan menunjukkan tingkat 
kinerja, melainkan tingkat popularitas. Bukan tidak mungkin para responden 
menilai kinerja para menteri berdasarkan pada citra sang menteri, atau sejauh 
mana pemberitaan positif terhadap sang menteri. 

Jika benar ada fenomena Dunning-Kruger effect dan lemahnya intellectual 
humility, dapat dikatakan survei semacam ini pada dasarnya tidak perlu. 
Pasalnya, terdapat lembaga resmi negara seperti Badan Pengawas Keuangan (BPK) 
yang tidak hanya mengaudit keuangan, melainkan juga mengaudit kinerja. 

Dengan kata lain, kalaupun ingin memberikan informasi kepada publik terkait 
siapa saja menteri yang memiliki kinerja baik, para lembaga survei cukup 
mengambil data dari berbagai lembaga resmi yang melakukan audit kinerja setiap 
kementerian.

Mengutip ilmuwan politik Francis Fukuyama, sebagai bentuk akuntabilitas yang 
menjadi ciri khas demokrasi modern, Presiden Jokowi juga dapat menyampaikan 
rapor para menteri kepada publik. 

Sebagai penutup, survei semacam ini pada dasarnya tidak tepat dilakukan karena 
dapat menghasilkan kesimpulan yang rancu. Sekalipun ingin dilakukan, solusinya 
ada dua. Pertama, mengambil data dari lembaga resmi negara yang melakukan audit 
kinerja. Kedua, responden survei bukanlah masyarakat umum, melainkan para pakar 
di bidangnya. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2FED7A00565242748A6480093C0EBE56%40A10Live.

Reply via email to