Kebenaran di Balik “Demokrasi ala Amerika”
2021-12-10 15:44:15  
http://indonesian.cri.cn/20211210/993ed14e-7367-5911-a2f8-973f6d76b1db.html

Apa yang disebut sebagai “KTT Demokrasi” yang diadakan oleh AS terselenggara 
pada hari Kamis (9/12) kemarin. Mengibarkan panji demokrasi, menggolongkan 
kamp, dan menciptakan perpecahan di seluruh dunia, bermaksud untuk menjaga 
kedudukan hegemoni AS. Ironisnya, demokrasi AS kacau, masalah-masalah seperti 
kesenjangan antara yang kaya dan miskin, rasisme, kekacauan pemilihan umum, 
wabah yang lepas kendali dan lain sebagainya semua saling terkait. Semua itu 
mengungkapkan kekurangan dan gagalnya sistem demokrasi ala AS dalam 
pemerintahan negara. Sementara itu, campur tangan militer luar dan apa yang 
disebut sebagai “transformasi demokratis” yang dipimpin oleh AS mendatangkan 
kerugian yang tak terhingga, dan telah menciptakan serangkaian tragedi dengan 
konsekuensi yang tragis. AS mengadakan apa yang disebut sebagai “KTT Demokrasi” 
dengan latar belakang masalah demokrasinya yang menumpuk seperti gunung, hal 
ini tidak lebih dari sebuah ironi besar dan lelucon yang konyol.



Catatan ‘Jalan Maut’ Afghanistan yang ‘Dinaungi’ Demokrasi ala AS
2021-12-10 14:39:32  
http://indonesian.cri.cn/20211210/755f920f-51b3-462f-619b-b8cec42b3ccf.html

Jalan raya jurusan Kandahar-Khabul yang kerap kali dijuluki sebagai ‘jalur api’ 
ini pada kenyataan benar-benar adalah ‘jalan maut’ yang bertumpahan darah. 
Dalam perang Afghanistan selama 20 tahun yang lalu, para pengguna jalan raya 
tersebut menghadapi banyak bahaya, dari ledakan mendadak di pinggir jalan 
hingga serangan maupun bentrokan bersenjata yang dapat terjadi sewaktu-waktu. 
Nyawa ribuan orang sudah melayang di jalan raya tersebut.



Pada bulan Agustus 2021, militan Taliban Afghanistan memasuki Khabul melalui 
jalan raya Kandahar-Khabul dari arah selatan.



Sejak berdiri, pemerintah sementara Taliban mengharapkan masyarakat 
internasional dapat membantunya melakukan rekonstruksi Afghanistan. Menjelang 
akhir tahun 2021, bagaimana keadaan rekonstruksi di negeri ini? Baru-baru ini, 
wartawan CMG melakukan peliputan terhadap penduduk sepanjang jalan raya 
tersebut.



Mobil yang dikendarai wartawan melaju ke arah Kandahar setelah meninggalkan 
Khabul dan sempat melewati sebuah pos pemeriksaan berukuran besar yang disebut 
sebagai ‘pintu gerbang Khabul’. Walaupun masih terdapat sisa bahan peledak, 
anak-anak dari desa di sekitar masih nekat memetik dan mengumpulkan ranting 
pohon sebagai bahan bakar menjelang tibanya musim dingin.



Seorang bocah pria setempat bernama Bihula mengatakan, jika tidak ada perang, 
maka tanah airnya seharusnya sangat kuat, dan semestinya memiliki mesin yang 
canggih dan zamrud yang indah.



Peperangan telah meninggalkan luka fisik maupun trauma psikis kepada anak-anak 
setempat. Seorang anak yang pertama kali bertemu wartawan CMG menjadi sangat 
tegang karena mengira kamera adalah semacam senjata yang aneh.



Ayah dari anak itu mengatakan kepada wartawan bahwa ibu anak itu meninggal 
dalam sebuah serangan ledakan pada Agustus tahun lalu. Empat dari lima anaknya 
pernah mengalami luka-luka. Seorang anak perempuannya jari tangannya terluka 
karena terkena peluru menyasar sehingga cacat seumur hidup. Salah satu anaknya 
yang luka kepala hingga saat ini masih sering dalam kondisi ketakutan.



Di sebuah apotek di pasar tradisional, nyaris di setiap sudut terlihat bekas 
tembakan peluru. Pemilik toko obat itu sudah berbisnis selama 30 tahun di sini. 
Ketika baku tembak terjadi, dia langsung bersembunyi di pojok, dengan mata 
kepalanya sendiri menyaksikan botol obat pecah terkena tembakan peluru.



“Mengapa sebuah negara mau menginvasi negara lain?” Di benaknya masih terlalu 
banyak ingatan yang pahit dan pilu karena berkali-kali melihat korban yang 
berjatuhan dalam peperangan.

Sekolah desa terpaksa ditutup karena perang. Anak-anak harus berjalan kaki 
menempuh jalan yang jauh ke sekolah di lembah gunung. Jika lelah, mereka 
langsung duduk di tanah, dengan tangannya merah karena kedinginan.



Selama 20 tahun terakhir, dana bantuan pendidikan dari masyarakat internasional 
kepada Afghanistan tercatat jutaan dolar AS. Akan tetapi, di sekolah yang dekat 
Khabul ini, masih belum dilengkapi meja dan kursi maupun buku pelajaran. 
Gurunya hanya beberapa orang saja.

Tetua suku etnis setempat melayangkan surat bersama kepada UNICEF agar mereka 
dapat membantu membangun sebuah sekolah dasar untuk anak-anak perempuan.

Jalan raya yang memanjang ke tempat jauh memang dapat mendorong penyebaran 
peradaban antar manusia, namun pengalaman yang terkumpul dari penjelajahan 
‘jalan raya maut’ kali ini dengan jelas memberitahu kita bahwa masyarakat 
Afghanistan masih terus mengalami kesengsaraan dan kepahitan dari akibat dan 
tragedi peperangan.

Pada saat rakyat Afghanistan berupaya keras dalam rekonstruksi tanah airnya, AS 
malah sibuk memanggil sekutunya menyelenggarakan apa yang disebut sebagai ‘KTT 
Demokrasi’. Rakyat tak berdosa Afghanistan yang berkali-kali tertimpa serangan 
jitu pasukan AS masih saja menghadapi beragam kesulitan pasca perang. Itukah 
‘demokrasi’ yang dipromosikan AS kepada dunia?


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB5AC14B7C2B4665BBCD01B83BEDE96F%40A10Live.

Reply via email to