Jokowi, Kepercayaan Diri Periode Kedua?I76 - Sunday, December 19, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-kepercayaan-diri-periode-kedua
 
Presiden Joko Widodo (Foto: Kompas.com)
6 min read

Tontonan saling balas kritik pada Kongres Ekonomi Umat ke-2 MUI, menyita 
antensi publik. Banyak pihak mengatakan balasan terhadap kritik Anwar Abbas, 
memperlihatkan Presiden Jokowi saat ini lebih percaya diri dan tidak 
anti-kritik. Apakah benar demikian, seperti apa kepercayaan diri sang Presiden 
di periode kedua ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “To avoid criticism say nothing, do nothing, and, be nothing.” – Aristoteles

Pekan ini kita disajikan tontonan menarik tentang aksi saling balas kritik yang 
diperagakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama 
Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Pada momen Kongres Ekonomi Umat ke-2 MUI, Anwar 
Abbas menyampaikan indeks Indonesia bidang pertanahan cukup memprihatinkan, 
yakni 0,59 persen. Artinya, 1 persen penduduk menguasai 59 persen lahan yang 
ada di Indonesia. Kritik ini disampaikan langsung di hadapan Jokowi.

Saat giliran Presiden Jokowi memberi pidato, ia mengatakan apa yang disampaikan 
oleh Waketum MUI itu benar, namun juga memberikan sanggahan. Jokowi menimpa 
pernyataan Anwar yang menyebut 1 persen penduduk menguasai setengah lahan, 
dengan mengatakan pemerintah selama ini telah berupaya mengurangi kesenjangan. 
Upaya itu dilakukan dengan cara memberikan jutaan hektar sertifikat tanah 
kepada masyarakat, kemudian proses reformasi agraria juga terus berjalan.

Seolah gayung bersambut, kritik Anwar Abbas ke Jokowi kemudian dibalas oleh Ali 
Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), dengan 
mengatakan Anwar Abbas tidak kompeten membahas permasalahan pertanahan, karena 
menurut Ngabalin, Anwar Abbas sebenarnya tidak mengerti terkait masalah 
pertanahan.

Di lain pihak, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai janji Jokowi terkait 
pelaksanaan agenda reforma agraria tidak serius. Pasalnya, sepanjang 6 tahun, 
KPA mencatat banyak aktivis, petani, dan warga lainnya ditangkap terkait 
konflik agraria.

Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KPA, mengatakan dalam kurun 6 tahun 
terjadi 2.291 kasus agraria. Menurut Dewi, catatan KPA sekaligus menanggapi 
respons Jokowi atas pidato Anwar Abbas.

Terlepas dari konten kritik yang disampaikan, poin menarik yang dapat kita 
lihat adalah fenomena kritik dan saling balas kritik yang diperlihatkan kedua 
tokoh di atas, yaitu Jokowi dengan Anwar Abbas. Lantas, seperti apa fenomena 
saling balas kritik ini dapat kita maknai?


  
Memahami Nalar Kritik
Jika  kita merunut dari sejarahnya, kritik sebenarnya telah diperdebatkan jauh 
di era Yunani klasik. Filsuf Aristoteles mengatakan, “to avoid criticism say 
nothing, do nothing, and, be nothing”. Ini sebenarnya quote yang menyindir kita 
sebagai manusia. Jika ingin menghindari kritik orang lain, menurut Aristoteles, 
jangan pernah bicara, jangan lakukan apa-apa, dan jangan jadi siapa-siapa. 
Tidak perlu takut kritik, karena dengan kritik dapat terlihat  bahwa orang 
sebenarnya peduli terhadap kita.

Tapi pemimpin tidak mungkin dapat menghindari kritik, bahkan pemimpin tidak 
boleh alergi dengan kritik. Karena dengan kritik, pemimpin dapat menaikkan 
level dirinya sebagai pemimpin. Alasannya tentu karena pemimpin adalah harapan 
masyarakat untuk mengubah kehidupan mereka, pemimpin punya instrumen kekuasan 
untuk itu.

Bahkan, jika tercipta kondisi tanpa kritik, seorang pemimpin harus membuat 
kritik terhadap dirinya, hal ini disebut dengan self criticism. Kritik diri 
yang dimaksud bukan dalam pemahaman sebuah kebiasaan mengritik dan menghakimi 
diri sendiri yang kemudian akan terjebak dalam lubang ketidakbahagiaan.

Sebaliknya, kritik diri yang dimaksud, sejalan dengan konsep etika kebahagiaan 
Aristoteles tentang eudaimonia Sederhananya konsep ini menggambarkan bahwa 
manusia jika ingin bahagia, tidak harus menghindari penderitaan, bagi 
Aristoteles, penderitaan harus dihadapi dengan menggunakan rasio manusia agar 
dapat meningkatkan level dirinya.

Konsep Aristoteles sejalan dengan konsep Islam yang disebut muhasabah yang 
berasal dari kata “hasiba-yahsabu-hisab”, yang memiliki arti melakukan 
perhitungan. Dalam terminologi Islam, muhasabah memilki arti upaya seseorang 
melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan serta keburukan pada aspek hidupnya.

Yang menjadi permasalahan, biasanya ketakutan untuk melontarkan kritik 
disebabkan oleh ketidaksiapan seseorang untuk berkonflik dengan pihak lain. Hal 
ini disebabkan karena pemahaman bahwa konflik merupakan suatu pertarungan 
menang-kalah antar kelompok atau perorangan yang berbeda kepentingannya satu 
sama lain. Dengan kata lain, konflik adalah segala macam interaksi pertentangan 
atau antagonistik antara dua atau lebih pihak.

Teori konflik memahami bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan 
sosial. Teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya 
konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu 
mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada 
negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga tercipta suatu konsensus.

Dalam konsep konflik yang diterjemahkan sebagai upaya membentuk konsensus, 
ingin memperlihatkan bahwa kita tidak perlu takut untuk memberikan kritik atau 
berkonflik. Dengan cara itu fenomena antikritik kemudian akan tidak lagi 
terlihat, karena punya kesadaran bahwa kritik akan mengembangkan diri atau 
kelompok.

 
  
Jika ditarik dalam konteks saling kritik antara Jokowi dengan Anwar Abbas, 
terlihat Jokowi ingin menyampaikan pesan bahwa dia adalah pemimpin antikritik, 
yang mana ini diperagakan  dengan menaggapi kritik Anwar Abbas langsung di 
forum tersebut. Jokowi melakukan argumentasi balasan dengan menjawab langsung 
kritik Anwar Abbas yang memperlihatkan kepercayaan dirinya dalam menerima 
kritik.

Banyak pihak menilai, kepercayaan diri Jokowi mulai meningkat di periode kedua 
jabatannya. Apa alasan meningkatnya kepercayaan diri Jokowi di periode kedua?



Simpul-Simpul Kekuataan
Pada periode kedua kepemimpinanya, Jokowi terlihat lebih percaya diri. Setelah 
melewati fase krusial pertarungan Pemilihan Presiden 2019 yang membawa politik 
nasional ke titik krusial, situasinya saat ini terlihat mulai terkendali.

Di periode kedua ini, dengan masuknya PAN, koalisi pendukung pemerintahan 
Jokowi menguasai 471 dari 575 kursi di di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan 
persentasi sebesar 81,9 persen, ini adalah koalisi terbesar sejak Reformasi.

Selain besarnya koalisi, menurut Evan A. Laksmana dalam tulisannya 
Civil-Military Relations under Jokowi: Between Military Corporate Interests and 
Presidential Handholding, di periode kedua ini, Presiden Jokowi sudah memiliki 
pengaruh dan pengalaman yang cukup untuk mengelola hubungan dengan militer.

Menurut Evan, ini kontras dengan di periode pertama. Karena belum memiliki 
pengalaman untuk mengelola hubungan dengan militer, di periode pertama mantan 
Wali Kota Solo itu mengandalkan purnawirawan berpengaruh seperti Luhut, 
Moeldoko, Wiranto, dan Hendropriyono.

Senada, Stephen Wright dalam tulisannya Indonesia: Army’s influence sparks fear 
for democracy, dengan mengutip pernyataan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional 
(Lemhannas) Agus Widjojo, menyebut Presiden Jokowi kurang percaya diri tanpa 
tentara di sisinya pada periode pertama.

Kemudian terdapat kecenderungan kepercayaan diri Presiden Jokowi di periode 
kedua didasari karena sudah tidak memiliki beban politik di periode kedua 
kepemimpinannya. Jokowi tidak terbebani untuk terpilih lagi maupun beban untuk 
mendapatkan dukungan masyarakat.

Dengan modal politik yang lebih kuat, memperlihatkan dalam pengambilan 
keputusannya Presiden Jokowi lebih percaya diri. Hal ini juga yang menjelaskan 
balasan kritik Jokowi terhadap Anwar Abbas. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B6D4057D1D1E4747990BBCE0BA429B7B%40A10Live.

Reply via email to