1% yang berkuasa lahan bukan siapa-siapa, mereka adalah klik penguasa rezim neo-Mojopahit dan konco bin sahabat mereka.
On Mon, Dec 20, 2021 at 3:03 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > Jokowi, Kepercayaan Diri Periode Kedua? > *I76 * <https://www.pinterpolitik.com/author/i76>*- Sunday, December 19, > 2021 23:00* > > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-kepercayaan-diri-periode-kedua > *Presiden Joko Widodo (Foto: Kompas.com)* > > *6 min read* > > *Tontonan saling balas kritik pada Kongres Ekonomi Umat ke-2 MUI, menyita > antensi publik. Banyak pihak mengatakan balasan terhadap kritik Anwar > Abbas, memperlihatkan Presiden Jokowi saat ini lebih percaya diri dan tidak > anti-kritik. Apakah benar demikian, seperti apa kepercayaan diri sang > Presiden di periode kedua ini?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>* > > *“To avoid criticism say nothing, do nothing, and, be nothing.” > – Aristoteles* > > Pekan ini kita disajikan tontonan menarik tentang aksi saling balas kritik > yang diperagakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Wakil Ketua Umum > Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Pada momen Kongres Ekonomi Umat > ke-2 MUI, Anwar Abbas menyampaikan indeks Indonesia bidang pertanahan cukup > memprihatinkan, yakni 0,59 persen. Artinya, 1 persen penduduk menguasai 59 > persen lahan yang ada di Indonesia. Kritik ini disampaikan langsung di > hadapan Jokowi. > > Saat giliran Presiden Jokowi memberi pidato, ia mengatakan apa yang > disampaikan oleh Waketum MUI itu benar, namun juga memberikan sanggahan. > Jokowi menimpa pernyataan Anwar yang menyebut 1 persen penduduk menguasai > setengah lahan, dengan mengatakan pemerintah selama ini telah berupaya > mengurangi kesenjangan. Upaya itu dilakukan dengan cara memberikan jutaan > hektar sertifikat tanah kepada masyarakat, kemudian proses reformasi > agraria juga terus berjalan. > > Seolah gayung bersambut, kritik Anwar Abbas ke Jokowi kemudian dibalas > oleh Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), > dengan mengatakan Anwar Abbas tidak kompeten membahas permasalahan > pertanahan, karena menurut Ngabalin, Anwar Abbas sebenarnya tidak mengerti > terkait masalah pertanahan. > > Di lain pihak, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai janji Jokowi > terkait pelaksanaan agenda reforma agraria tidak serius. Pasalnya, > sepanjang 6 tahun, KPA mencatat banyak aktivis, petani, dan warga lainnya > ditangkap terkait konflik agraria. > > Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KPA, mengatakan dalam kurun 6 > tahun terjadi 2.291 kasus agraria. Menurut Dewi, catatan KPA sekaligus > menanggapi respons Jokowi atas pidato Anwar Abbas. > > Terlepas dari konten kritik yang disampaikan, poin menarik yang dapat kita > lihat adalah fenomena kritik dan saling balas kritik yang diperlihatkan > kedua tokoh di atas, yaitu Jokowi dengan Anwar Abbas. Lantas, seperti apa > fenomena saling balas kritik ini dapat kita maknai? > *Memahami Nalar Kritik* > > Jika kita merunut dari sejarahnya, kritik sebenarnya telah diperdebatkan > jauh di era Yunani klasik. Filsuf Aristoteles mengatakan, “*to avoid > criticism say nothing, do nothing, and, be nothing”*. Ini sebenarnya > *quote *yang menyindir kita sebagai manusia. Jika ingin menghindari > kritik orang lain, menurut Aristoteles, jangan pernah bicara, jangan > lakukan apa-apa, dan jangan jadi siapa-siapa. Tidak perlu takut kritik, > karena dengan kritik dapat terlihat bahwa orang sebenarnya peduli terhadap > kita. > > Tapi pemimpin tidak mungkin dapat menghindari kritik, bahkan pemimpin > tidak boleh alergi dengan kritik. Karena dengan kritik, pemimpin dapat > menaikkan level dirinya sebagai pemimpin. Alasannya tentu karena pemimpin > adalah harapan masyarakat untuk mengubah kehidupan mereka, pemimpin punya > instrumen kekuasan untuk itu. > > Bahkan, jika tercipta kondisi tanpa kritik, seorang pemimpin harus membuat > kritik terhadap dirinya, hal ini disebut dengan *self criticism*. Kritik > diri yang dimaksud bukan dalam pemahaman sebuah kebiasaan mengritik dan > menghakimi diri sendiri yang kemudian akan terjebak dalam lubang > ketidakbahagiaan. > > Sebaliknya, kritik diri yang dimaksud, sejalan dengan konsep etika > kebahagiaan Aristoteles tentang *eudaimonia* Sederhananya konsep ini > menggambarkan bahwa manusia jika ingin bahagia, tidak harus menghindari > penderitaan, bagi Aristoteles, penderitaan harus dihadapi dengan > menggunakan rasio manusia agar dapat meningkatkan level dirinya. > > Konsep Aristoteles sejalan dengan konsep Islam yang disebut *muhasabah* yang > berasal dari kata “*hasiba-yahsabu-hisab*”, yang memiliki arti melakukan > perhitungan. Dalam terminologi Islam, *muhasabah* memilki arti upaya > seseorang melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan serta keburukan pada > aspek hidupnya. > > Yang menjadi permasalahan, biasanya ketakutan untuk melontarkan kritik > disebabkan oleh ketidaksiapan seseorang untuk berkonflik dengan pihak lain. > Hal ini disebabkan karena pemahaman bahwa konflik merupakan suatu > pertarungan menang-kalah antar kelompok atau perorangan yang berbeda > kepentingannya satu sama lain. Dengan kata lain, konflik adalah segala > macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak. > > Teori konflik memahami bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan > sosial. Teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya > konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat > mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada > negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga tercipta suatu konsensus. > > Dalam konsep konflik yang diterjemahkan sebagai upaya membentuk konsensus, > ingin memperlihatkan bahwa kita tidak perlu takut untuk memberikan kritik > atau berkonflik. Dengan cara itu fenomena antikritik kemudian akan tidak > lagi terlihat, karena punya kesadaran bahwa kritik akan mengembangkan diri > atau kelompok. > > > Jika ditarik dalam konteks saling kritik antara Jokowi dengan Anwar Abbas, > terlihat Jokowi ingin menyampaikan pesan bahwa dia adalah pemimpin > antikritik, yang mana ini diperagakan dengan menaggapi kritik Anwar Abbas > langsung di forum tersebut. Jokowi melakukan argumentasi balasan dengan > menjawab langsung kritik Anwar Abbas yang memperlihatkan kepercayaan > dirinya dalam menerima kritik. > > Banyak pihak menilai, kepercayaan diri Jokowi mulai meningkat di periode > kedua jabatannya. Apa alasan meningkatnya kepercayaan diri Jokowi di > periode kedua? > > > *Simpul-Simpul Kekuataan* > > Pada periode kedua kepemimpinanya, Jokowi terlihat lebih percaya diri. > Setelah melewati fase krusial pertarungan Pemilihan Presiden 2019 yang > membawa politik nasional ke titik krusial, situasinya saat ini terlihat > mulai terkendali. > > Di periode kedua ini, dengan masuknya PAN, koalisi pendukung pemerintahan > Jokowi menguasai 471 dari 575 kursi di di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). > Dengan persentasi sebesar 81,9 persen, ini adalah koalisi terbesar sejak > Reformasi. > > Selain besarnya koalisi, menurut Evan A. Laksmana dalam tulisannya > *Civil-Military > Relations under Jokowi: Between Military Corporate Interests and > Presidential Handholding*, di periode kedua ini, Presiden Jokowi sudah > memiliki pengaruh dan pengalaman yang cukup untuk mengelola hubungan dengan > militer. > > Menurut Evan, ini kontras dengan di periode pertama. Karena belum memiliki > pengalaman untuk mengelola hubungan dengan militer, di periode pertama > mantan Wali Kota Solo itu mengandalkan purnawirawan berpengaruh seperti > Luhut, Moeldoko, Wiranto, dan Hendropriyono. > > Senada, Stephen Wright dalam tulisannya *Indonesia: Army’s influence > sparks fear for democracy,* dengan mengutip pernyataan Gubernur Lembaga > Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agus Widjojo, menyebut Presiden Jokowi > kurang percaya diri tanpa tentara di sisinya pada periode pertama. > > Kemudian terdapat kecenderungan kepercayaan diri Presiden Jokowi di > periode kedua didasari karena sudah tidak memiliki beban politik di periode > kedua kepemimpinannya. Jokowi tidak terbebani untuk terpilih lagi maupun > beban untuk mendapatkan dukungan masyarakat. > > Dengan modal politik yang lebih kuat, memperlihatkan dalam pengambilan > keputusannya Presiden Jokowi lebih percaya diri. Hal ini juga yang > menjelaskan balasan kritik Jokowi terhadap Anwar Abbas. (I76) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B6D4057D1D1E4747990BBCE0BA429B7B%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B6D4057D1D1E4747990BBCE0BA429B7B%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CFx%3DcHZM2fufTSDF1dHsnJZ%3DnEbKDb%2B2vrhneVE349bA%40mail.gmail.com.
