■China severely sanctions the small anti-China countries Lithuania and
Australia that are leading the United States. The United States and Europe
accuse China of not daring to attack the United States but bullying the small
countries. For the US Biden signed a bill the day before yesterday to ban US
companies from investing in Xinjiang and ban the import of all products from
Xinjiang. Today, China reacted super fast, with two or two tricks to attack the
United States and Europe, and it was even more lethal to them. This is just the
beginning. , Follow-up countermeasures have been introduced one after another.
The first trick: China has established the "China Rare Earth Group
Corporation" to unify all the business companies that produce rare earths in
China and the upstream, midstream and downstream industrial chains into this
group company. However, *The registration place of this newly established group
company is in Xinjiang ! * That is, there is no other choice. The five major
U.S. military industry giants that rely on China’s rare earths as their
lifeblood for weapons production will immediately have to stop production
because their country’s laws cannot import Xinjiang’s rare earths. The
responsibility is not in China:
Sid-Martin (LOCKHEED MARTIN), Boeing (BOEING), Raytheon (RAYTHEON), General
Dynamics (GENERAL DYNAMICS) and Northrop Grumman (Northrop Grumman). Ministry
of Foreign Affairs of China: You play, you remember that I said double refund!
The second trick It is officially announced to the world that all masks
exported by China use cotton produced in Xinjiang. In the future, countries
will prohibit the import of cotton products produced in Xinjiang. Your country
does not need to consider Chinese masks and must purchase from other sources. 😀
Sent from Rogers Yahoo Mail on Android
On Sun., Dec. 26, 2021 at 8:11 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:
#yiv2201841982 v\00003a* {}#yiv2201841982 o\00003a* {}#yiv2201841982 w\00003a*
{}#yiv2201841982 .yiv2201841982shape {}<!--#yiv2201841982 _filtered {}
_filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered
{}#yiv2201841982 #yiv2201841982 p.yiv2201841982MsoNormal, #yiv2201841982
li.yiv2201841982MsoNormal, #yiv2201841982 div.yiv2201841982MsoNormal
{margin:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", sans-serif;}#yiv2201841982
a:link, #yiv2201841982 span.yiv2201841982MsoHyperlink
{color:blue;text-decoration:underline;}#yiv2201841982
span.yiv2201841982DefaultFontHxMailStyle {font-family:"Calibri",
sans-serif;color:windowtext;font-weight:normal;font-style:normal;text-decoration:none
none;}#yiv2201841982 p.yiv2201841982color-body, #yiv2201841982
li.yiv2201841982color-body, #yiv2201841982 div.yiv2201841982color-body
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri",
sans-serif;}#yiv2201841982 p.yiv2201841982print, #yiv2201841982
li.yiv2201841982print, #yiv2201841982 div.yiv2201841982print
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri",
sans-serif;}#yiv2201841982 span.yiv2201841982read-more-container
{}#yiv2201841982 .yiv2201841982MsoChpDefault {} _filtered {}#yiv2201841982
div.yiv2201841982WordSection1 {}#yiv2201841982 _filtered {} _filtered {}
_filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {}
_filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {}
_filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered {} _filtered
{}#yiv2201841982 ol {margin-bottom:0in;}#yiv2201841982 ul
{margin-bottom:0in;}-->Apanya pepesan kosong??? Nenek yang betul-betul hidup
dalam tempurung, TIDAK berhasil melihat kenyataan didunia sekarang ini hanya
RRT lah yang berkemampuan TEGAK BERDIRI menantang dan melawan imperialisme AS!
Dan, ... membuat Amerika cukup kewalahan menghadapi perlawanan gigih Tiongkok!
Dan, ... tidak berhasil melihat kenyataan bahwa KEMAJUAN DAHSYAT yang dicapai
Deng dengan menempuh Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok 40 tahun terakhir
ini, merupakan kelanjutan dari KEBERHASILAN masa Mao membebaskan rakyat dari
penindasan feodalisme dan imperialisme kemudian berlanjut dengan KEBERHASILAN
membangun dasar ekonomi dan didemonstrasikan dengan keberhasilan meledakkan
bom-atom, bom-nuklir dan, ... tahun 1971 dipuncak kerusuhan RBKP masih juga
BERHASIL meluncurkan satelite pertama yang mengkumandangkan lagu “Dong Fang
Hong” (= Merah Diufuk Timur) diangkasa raya! Tanpa mengakui dan adanya
kenyataan keberhasilan Mao membangun DASAR Ekonomi yang cukup kuat, bagaimana
mungkin ada landasan kuat bagi Deng meluncur terbang yang digunakan bagi
pertumbuhan ekonomi yang dahsyat itu!!! Sedang sikap PKT terhadap partai
komunis didunia tentu juga harus disesuaikan dengan perubahan situasi
internasional yang dihadapi, TIDAK BISA dan TIDAK lagi mungkin meneruskan saat
PERANG DINGIN, dimana AS menjalankan politik blokade sejagad terhadap RRT!
Ucapan dan pernyataan nenek yang satu ini, lagi-lagi membuktikan sikap seorang
nenek yang sudah keenakkan mendapatkan BANTUAN diatas kesulitan dan penderitaan
700 juta rakyat Tiongkok! Lalu, berteriak maki-maki Tiongkok begitu bantuan
dicabut, ... seperti seeeiiitan gila yang tidak tahu diri! From: Tatiana
Lukman Sent: Monday, December 27, 2021 12:48 AMTo: Chan CT ; GELORA45_In
Subject: RE: [GELORA45] the biggest losers
Masih mau bantah pepesan kosong??!! Lihatlah BARU paragraph pertama saja sdh
pepesan kosong!!! MENCATUT perjuangan rakyat Tiongkok di bawah pimpinan
Mao…JANGAN mencampur aduk perjuangan rakyat Tiongkok sebelum pembebasan sampai
tahun 1976 dengan reformasi kapitalis setelah Deng Xiaoping melakukan kudeta
dengan menangkap dan menindas orang-orang pendukung Mao!!! Dan ingat dalam
periode Mao, Tiongkok TIDAK MENGKHIANATI PKI DAN RAKYAT INDONESIA.
HANYA DALAM PERIODE SOSIALIS MAO YANG ENGKAU HUJAT SEBAGAI PERATAAN KEMISKINAN
PEMBANGUNAN TIONGKOK TIDAK LAHIR DARI PENGHISAPAN DAN PENINDASAN RAKYAT TKK DAN
BANGSA LAIN!! TETAPI SETELAH TIONGKOK BERUBAH MENJADI KAPITALISME DAN
IMPERIALISME, BARULAH PEMBANGUNAN DIDASARKAN PADA PENGHISAPAN, PEMERASAN KAUM
BURUH MIGRAN DAN KELAS PEKERJA TIONGKOK SERTA KAUM BURUH NEGERI-NEGERI DUNIA
KETIGA. DAN UNTUK INI SUDAH BERKALI-KALI SAYA POSTINGKAN BUKTINYA, SEPERTI DI
NEGERI-NEGERI AFRIKA!! DAN JUGA DALAM PERIODE DENG XIAOPING INILAH TIONGKOK
MENGKHIANATI PKI!! JELAS PERBEDAAN YANG MENDASAR DALAM SIKAP MAO DAN DENG
TERJADAP PKI!!!
Tak perlu baca ocehan alias pepesan kosong agen remo selanjutnya!!! Dasar remo
kepala batu dan munafik!!!!
Sent from Mail for Windows
From: Chan CT
Sent: Sunday, December 26, 2021 2:59 AM
To: Tatiana Lukman; GELORA45_In
Subject: Re: [GELORA45] the biggest losers
Apanya pepesan kosong??? Hasil perjuangan keras rakyat Tiongkok selama 100
tahun terakhir ini, sepenuhnya HASIL perjuangan rakyat Tiongkok sendiri, adalah
hasil kerja keras, peras keringat dan kecerdasan rakyat Tiongkok sendiri, ...!
Bukan dari penghisapan dan penindasa terhadap rakyat dan bangsa lain!
Bukankah KEBERHASILAN Tiongkok disegala bidang, khususnya dibidang ekonomi,
teknologi dan militer inilah yang memaksa AS mengangkat RRT menjadi ANCAMAN
Terberat dan mutlak harus digebuk dan dicekik mati dengan berbagai cara keji
dan fitnah, ...! Kalau saja keberhasilan gemilang RRT ini hanyalah pepesan
kosong, TENTU dan PASTI, musuh utamanya imperialisme AS tidak perlu menjadikan
Tiongkok ancaman berat! Dibiarkan saja juga akan ROBOH dengan sendirinya
seperti USSR/PKUS itu!
Perjuangan klas dan akhirnya lenyapnya klas dalam masyarakat, sepenuhnya adalah
HUKUM perkembangan masyarakat yang TIDAK BISA diatur menurut kehendak subjektif
seseorang! Coba saja perhatikan, bagaimana perkembangan dari jalam Primitif
menjadi jaman budak dan kemudian menjadi jaman feodal dan jaman kapitalis yang
kita lalui sekarang ini. TIDAK ada satu jaman yang dilalui hanya puluhan atau
ratusan tahun, tapi semua juga dilalui sepanjang ribuan tahun! Bagaimana
mungkin dijaman kapitalis sekarang ini menghendaki selesaikan, melenyapkan klas
dalam hitungan 40an tahun saja, dalam puluhan atau seratus, dua ratus tahun
saja mungkin bisa dikatakan terlalu cepat? Pemikiran begitu hanyalah muncul
dibenak nenek yang hidup dalam mimpi didalam tempurung saja, ...
Ditingkat perjuangan rakyat sekarang didunia ini, hanya sebatas MEMBATASI
penghisapan kapitalis dan meningkatkan kesejahteraan rakyat baik lebih baik
dari tahun ketahun saja, jangan sampai ada warga yang hidup dalam segala
kekurangan dan penderitaan apalagi sampai terjadi mati kelaparan dan kedinginan
lagi! Jadi, yang digunakan RRT bukan lebih dahulu membabat kapitalis yang sudah
kaya, tapi lebih dahulu melepaskan seluruh rakyat dari kemiskinan-absolut dan
di tahun 2020 yl. telah berhasil meembebaskan lebih 700 juta rakyat Tiongkok
dari kemiskinan absolut, ...!
Lalu, bagaimana cara Tiongkok membatasi penghisapan kapitalis di Tiongkok?
Disamping gunakan penarikkan pajak penghasilan dan keuntungan yang selama ini
dijalankan, juga diperlukan ada pengontrolan dan pengawasan pelaksanaan ketat,
jangan sampai terjadi kebocoran pajak dan sekian tahun tidak bayar pajak, ...!
Dan, ternyata semua ketentuan bisa berlangsung baik, sangat tergantung dari
pejabat dan orang yang menjalankan. Nampaknya Pemerintah Tiongkok sekarang
gunakan teknologi, DATA-BESAR yang canggih dan berhasil mengejar kealpaan bayar
pajak selama ini yang terjadi, ...!
Begitu juga nampak usaha Pemerintah Tiongkok sejak tahun 2017 berusaha keras
menekan harga rumah/flat yang terus saja membumbung tinggi, ... sampai-sampai
membuat begitu tinggi dan mahalnya rumah/flat tidak lagi terjangkau oleh
penghasilan pemuda-pemudi yang sudah bekerja belasan tahun. Membuat banyak
anak-anak muda tidak berani kawin dan punya anak, ....! Rumah bukan untuk
spekulasi, digoreng jual-belikan makelar-makelar untuk meraih keuntungan lebih
besar! Akhirnya terjadi disitu begitu banyak rumah kosong bertahun-tahun,
disini banyak orang tidak ada rumah layak untuk dihuni, ... banyak pemuda tidak
berani berkeluarga hanya karena tidak mampu beli rumah! Caranya?
Pemerintah buatkan ketentuan agar TIDAK mematikan kapitalis properti jual-beli
rumah dipasar, ... diberlakukan pajak progresif bagi pemilik rumah ke-2, ke-3,
dst., ... itulah yang membuat harga rumah dibanyak kota besar di Tiongkok 5
tahun terakhir ini berangsur-angsur turun sampai lebih 16%! Itu pula sebab
utama terjadi Evergrand terakhir ini kelimpungan menghadapi krisis keuangan
diperusahaannya dengan bludag nya hutang tidak terbayar, karena merosotnya dan
melambatnya penjualan rumah yang sudah jadi, ... Tapi, yaaa begitulah
Pemerintah Rakyat yang benar, harus mendahulukan dan utamakan kepentingan
rakyat banyak! Membuka jalan agar pemuda bisa beli rumah, dan biarkan
segelintir kapitalis properti kelimpungan bayar hutangnya dahulu! TIDAK
dimatikan, tapi memaksa mereka menjual rumah yang sudah jadi dengan harga lebih
murah! Begitulah mungkin cara yang lebih bijaksana dalam usaha melenyapkan
klas-klas dalam masyarakat, tidak dengan membabat mati kapitalis, tapi cukup
membatasi keserakahan kapitalis menghisap rakyat dengan berusaha keras
mengangkat kesejahteraan rakyat banyak lebih cepat dan lebih baik! Lalu,
bagaimana langkah selanjutnya?
Saya BELUM menemukan dan melihat ketentuan yang akan dijalankan, tapi dari
beberapa gejala yang ada ditengah masyarakat Tiongkok, mungkin saja langkah
selanjutnya membatasi hak kepemilikkan SAHAM perseorangan, ... Mungkin saja
nantinya seluruh kepemilikkan, termasuk BUMN menjadi kepemilikkan kolektif, ...
menjadi kepemilikkan publik dimana semua SAHAM menjadi milik massa dan tidak
seorangpun yang boleh lebih sekian % dari total SAHAM Perusahaan! Saya tertarik
dengan kenyataan Jack Ma yang pernah dinobatkan bilyuner terkaya di Tiongkok
ternyata hanya menguasai 18% SAHAM Grup Alibaba, dimana saham G. Alibaba lebih
banyak dikuasai asing itu! Sedang yang lebih dahsyat, ternyata bossnya, Ren
Zhengfei juga hanya 1,8% SAHAM Huawei dimana seluruh SAHAM Huawei dikuasai
seluruh karyawan yang berjumlah lebih 180 ribu orang itu, ...
Jadi, ternyata pikiran selama ini terbalik! BUKAN dan TIDAK PERLU segera
membabat klas kapitalis, menjadikan kapitalis-kapitalis juga proletariat yang
tidak punya apa-apa kecuali menjual tenaga kerjanya, ... dan kenyataan yang
terjadi akhirnya hanya meratakan kemiskinan yang ada! Tapi, pemerintah rakyat
yang berkuasa cukup mengendalikan dan berusaha keras menggunakan
kapitalis-kapiatalis yang kaya lebih dahulu itu untuk menarik gerbong kereta
kemiskinan. Ikut dalam barisan meningkatkan kesejahteraan rakyat, membangun
masyarakat makmur! Yang harus dan mutlak diratakan adalah kemakmuran masyarakat
yang telah tercapai! Kalau saja usaha pemerintah terlalu keras/berat melakukan
kebijakan menahan, mengganjal kapitalis mendapat keuntungan tentu akan menahan
dan mengganjal kelajuan mencapai kemakmuran masyarakat, ...! Bagaimanapun juga
setiap saat pemerintah harus membuat KESEIMBANGAN yang baik, disatu pihak tetap
memberi keuntungan bagi kapitalis untuk terus hidup dan rumbuh berkembang
dengan baik, dipihak lain juga TETAP harus menjamin kesejahteraan rakyat banyak
maju lebih cepat dan lebih baik!
Bukankah klas itu akan menghilang dengan sendirinya setelah SELURUH RAKYAT,
BURUH di kota menjadi pemilik saham pabrik/industri sedang PETANI di desa juga
sudah menjadi pemilik SAHAM koperasi-desa, ... Jadi, SELURUH RAKYAT bukan
menjadi proletariat yang tidak punya apa-apa kecuali tenaga kerja, tapi
sebaliknya SELURUH RAKYAT menjadi kapitalis-kapitalis pemilik SAHAM yang punya
segalanya!
From: 'Tatiana Lukman' via GELORA45
Sent: Saturday, December 25, 2021 10:46 PM
To: 'Jonathan Goeij' via GELORA45
Subject: [GELORA45] the biggest losers
Mengapa selalu saya katakan ocehan agen remo Chan pepesan kosong? Tidak mampu
membantah to the point argumentasi dan fakta yang saya ajukan berkali-kali
selama bertahun-tahun, maka selalu berdebat kusir, mengalihkan isi tema dan
membelokkannya ke tema lain yang tidak berhubungan langsung dengan tema yang
menjadi perdebatan. Pepesan kosong baru yang diajukan sekarang berkaitan dengan
bagaimana dan kapan melenyapkan kelas….Seolah-olah reformasi kapitalis Deng
akan membawa China menuju pelenyapan kelas. Sejak berkuasanya kaum revisionis
1978, kurang lebih 43 tahun, jadi jauh lebih panjang dari periode kekuasaan Mao
(hanya 27 tahun), adakah kelihatan arah pelenyapan kelas? Baca saja laporan
Forbes di bawah, dari mana dan kapan lahir serta berkembangnya kelas bilyuner
China seperti tiga tokoh yang ditayangkan ini???? Bandingkan kehidupan kaum
bilyuner dengan ratusan juta kaum buruh migran, kaum tani, dan kelas pekerja
lainnya…Sudah menjadi pengetahuan umum, hanya agen remo dkk yang tidak mau
mengakuinya, kesenjangan antara kelas di china semakin melebar. Dari kenyataan
ini, kalau pakai common sens, orang akan bilang, justru reformasi kapitalis
Deng telah melahirkan kelas baru, alias oligarki yang menguasai Partai dan
Negara. Jangan lupa banyak diantara para bilyuner ini adalah anggota Partai
dan/atau anggota Kongres Rakyat. Dalam arti ini, apa bedanya dengan Indonesia
yang juga dikuasai oleh kaum oligarki?? Maka bicara tentang pelenyapan kelas
sekarang, untuk kesekian kalinya hanyalah pepesan kosong!!! Jawablah
argumentasi ini secara langsung/to the point!!! Sudah 43 tahun, di mana arah
pelenyapan kelas?
Agen remo Chan menghujat Mao yang dituduh membabat kaum kapitalis terlalu
cepat. Tuduhan ini sudah cukup untuk meletakkan chan sebagai anti-Mao dan
anti-sosialis. Ironisnya, rezim kekaisaran Xi Jin-ping, juga membabat kaum
kapitalis besar melalui berbagai macam peraturan. Sudah tentu latar belakang
pembabatan kaum kapitalis Mao sepenuhnya berbeda dengan yang dilakukan kaisar
Xi. Xi tidak mengijinkan kekuasaan finans kaum bilyuner ini akan melampaui dan
membahayakan kedudukan kaum kapitalis monopoli yang bersarang di PKT dan
Negara. Logis, bukan???
- The biggest Losers: These Billionaires’Fortunes Fell $152 Billion in 2021
>From left to right: Alibaba Group cofounder Jack Ma, Pinduoduo founder Colin
>Zheng Huang and SoftBank Group founder Masayoshi Son.
FORBES
It was a dramatic year for the world’s richest people. As a group, the 2,660
billionaires got an estimated $1.6 trillion wealthier from January through
early December. Though the bounties got bigger, so did the losses.
This year’s biggest billionaire losers–the 10 tycoons who shed the most wealth
in 2021–saw their net worths drop by a collective $152 billion.
By far the most damage was felt by China’s super-rich, who make up six of the
ten billionaires with the largest net worth declines of the year. An escalating
regulatory crackdown by the Chinese government on industries ranging from
e-commerce to after-school tutoring prompted steep stock sell-offs that wiped
hundreds of billions of dollars in value from Chinese companies. Internet giant
Pinduoduo shares lost nearly two-thirds of their value so far this year through
Friday, December 10, while Alibaba Group shares plummeted nearly 50% over the
same period. Those firms and others are contending with a slate of strict new
Chinese laws and fines linked to data security and monopolistic practices. The
founders of these two companies lost more wealth than anyone else on the planet
over the course of 2021, with Pinduoduo’s Colin Zheng Huang down $40.2 billion
through December 10 and Alibaba’s former Jack Ma down $21.4 billion.
Chinese billionaires–who led the world in wealth growth in 2020–are just 4%
richer than a year ago as a whole, compared to a 60% gain last year. Another
concern for Chinese investors: the ballooning crisis at real estate developer
China Evergrande Group, which is threatening a broader fallout as it struggles
to get out from more than $300 billion in liabilities. Evergrande founder Hui
Ka Yan lost $18 billion in 2021, ranking among the world’s biggest billionaire
losers for the second year in a row. He was worth an estimated $9.1 billion as
of December 10, down from $36 billion in March 2019. Also down: Zhang Yong, a
Singapore-based hotpot tycoon who lost 68% of his wealth after a coronavirus
miscalculation; Anthony Hsieh, an American mortgage mogul who was (very)
briefly one of the top 10 richest people on the planet before losing $13.2
billion, and Japanese clothing retail billionaire Tadashi Yanai, whose Uniqlo
business landed itself in the middle of multiple global scandals.
This year’s losers eclipsed the losses of last year’s cohort, who fell a
combined $41.6 billion, by a factor of three. The biggest loser of 2020 was
Carlos Slim Hélu, the Mexican mogul whose family controls América Móvil, Latin
America’s biggest mobile telecom firm, with $5 billion gone from his fortune.
That’s less than half of the drop tallied by the tenth billionaire loser of
2021, Hansoh Pharmaceutical chairwoman Zhong Huijuan, and seven times less than
the No. 1 spot holder, Colin Zheng Huang of Pinduoduo.
To measure fortunes for this article, Forbes assessed the changes in the net
worths of 2,660 billionaires between December 31, 2020 and December 10, 2021.
We then calculated the biggest losers in dollar terms, taking into
consideration only those with investments in publicly traded companies.
© 2017 BLOOMBERG FINANCE LP
1. Colin Zheng Huang
Citizenship: China
Drop: $40.2 billion
Net worth: $22.4 billion
China’s regulatory crackdown has hit no fortune harder than that of Huang, the
founder of e-commerce platform Pinduoduo. The billionaire lost 64% of his
fortune this year as Pinduoduo’s shares fell by about the same amount. Already
deflated by the broad antitrust probes threatening China’s internet giants, the
six-year-old company was further rocked by Huang’s abrupt resignation as
chairman in March, just as Pinduoduo overtook Alibaba as the country’s largest
ecommerce company, measured by annual active buyers. Its stock fell 21% after
missing quarterly revenue expectations in November.
GETTY IMAGES
2. Jack Ma
Citizenship: China
Drop: $21.4 billion
Net worth: $37 billion
Ma, who was once China’s richest person and one of its most outspoken tycoons,
spent much of 2021 out of the public eye after government regulators took harsh
action against his companies. Chinese regulators first quashed Alibaba fintech
arm Ant Group’s planned $35 billion IPO in November 2020. Then they hit
Alibaba, the e-commerce giant cofounded by Ma, with a $2.8 billion fine in
April—the highest-ever antitrust penalty imposed in China—alleging that Alibaba
violated anti-monopoly rules. Alibaba's market capitalization is down more than
46% so far this year, shaving $37 billion off his fortune, a 37% drop.
© 2019 BLOOMBERG FINANCE LP
3. Hui Ka Yan
Citizenship: China
Drop: $18 billion
Net worth: $9.1 billion
Hui is one of the biggest billionaire losers for the second year in a row. He
has bled billions amid the ongoing financial crisis at China Evergrande Group.
The real estate giant, which he founded and chairs, defaulted on its debt to
global investors for the first time in December and as of December 15 was
trading on the Hong Kong Stock Exchange at the equivalent of $0.19 per share.
Scrambling to keep the company alive, Hui reportedly recently injected $1
billion of his personal fortune into the embattled developer and was also
forced to sell shares that he had pledged. He is under new pressure to
accelerate a restructuring of Evergrande’s $300 billion in liabilities as
worries bubble about the potential of a larger debt crisis in China’s real
estate market. Forbes calculated that Hui was paid $8 billion in Evergrande
dividends from 2009 (when it went public) through 2020.
© 2018 BLOOMBERG FINANCE LP
4. Zhang Yong
Citizenship: Singapore
Drop: $15.9 billion
Net worth: $7.6 billion
Zhang is the founder and chairman of Haidilao, China’s biggest hotpot chain,
which also has locations around the world. Emboldened by years of fast growth,
the restaurant giant made the risky bet of undergoing its most dramatic
expansion to date during the pandemic, doubling its number of locations to
almost 1,600. But with fresh waves of Covid-19 and consumer wariness about
Haidilao’s communal dining experience, there hasn’t been the demand to match.
In November, the company announced it would suspend or shut down 300 stores by
the end of the year. Shares are down 71% in the year through December 15,
leaving Zhang–who was worth $23 billion in April–68% poorer.
SOUTH CHINA MORNING POST VIA GETTY IMAGES
5. Tadashi Yanai
Citizenship: Japan
Drop: $14 billion
Net worth: $30.4 billion
Yanai lost about a third of his fortune this year after shares of his
Tokyo-based clothing empire Fast Retailing, the owner of popular brands Uniqlo
and Theory, dropped about 34%. Though revenues for the year through August 2021
grew 6% and pretax profits soared more than 70% from 2020, the retailer was
still heavily impacted by on-and-off Covid-19 restrictions and lockdowns this
year, including at its factories in Vietnam. It also battled issues with its
suppliers’ facilities in Myanmar, where a military coup sparked violent unrest,
and claims of human rights abuses over allegations it relied on the forced
labor of minorities in China’s Xinjiang region. Fast Retailing has denied these
claims.
© 2019 BLOOMBERG FINANCE LP
6. Lei Jun
Citizenship: China
Drop: $14 billion
Net worth: $16.3 billion
The fortune of Lei, the founder and chairman of Xiaomi, one of the world’s most
popular smartphone brands, was nearly halved this year. Though it avoided the
regulatory scrutiny that damaged other Chinese tech giants, Xiaomi struggled
with supply chain issues–namely a global chip shortage—along with tough
competition that shrunk its market share. It posted its slowest pace of sales
growth since early 2020 in its third quarter earnings in November, citing the
chip deficits which it projected will continue well into 2022.
GETTY IMAGES
7. Masayoshi Son
Citizenship: Japan
Drop: $13.6 billion
Net worth: $25.1 billion
The uncertainty troubling Chinese firms also had a big impact on Masayoshi Son,
the founder and CEO of Japanese investment giant Softbank Group. Softbank
counts numerous Chinese tech companies among its key investments, such as
Alibaba, its most valuable company, and ride-hailing app Didi Global. The
Chinese government offensive against these companies, coupled with the tumbling
value of some of Softbank’s most high-profile IPOs, led to a record loss of
$7.3 billion for Softbank’s Vision Fund in the three months ending September
30. Slumping shares have shaved 35% from the fortune of Son, who has been
replaced by Takemitsu Takizaki, the founder of electronic sensor-maker Keyence
Corp., as Japan’s richest person.
ASSOCIATED PRESS
8. Daniel Gilbert
Citizenship: U.S.A.
Drop: $13.2 billion
Net worth: $29.6 billion
It was a tumultuous year for the stock price of Dan Gilbert’s mortgage firm
Rocket Companies. The mortgage billionaire briefly became one of the top 10
richest people in the world when his fortune spiked to $80 billion during a
short squeeze in March. But the online lender’s shares had fallen 62% since
that peak as of December 15 amid a slowdown in revenues and profits from the
booming business of cycle 2020, when mortgage refinancing surged. Rocket
reported $1.4 billion in net income on $3.1 billion in revenues from July
through September of this year, compared to $3 billion in net income and $4.6
billion in revenue during the same period in 2020.
VCG VIA GETTY IMAGES
9. Zhang Bangxin
Citizenship: China
Drop: $11.3 billion
Net worth: $1.2 billion
It’s not a great time to be in the tutoring business in China. Zhang, the
cofounder and chairman of education services firm TAL Education can attest to
that. The Chinese government ramped up its offensive against after-school
tutoring companies this year, arguing the industry—which boomed during the
pandemic—was putting too much pressure on children and parents, and had been
“severely hijacked by capital.” The stock of companies like TAL Education
plummeted as regulators unveiled strict new rules, including a ban on raising
capital from overseas investors and through public listings and a requirement
for tutoring companies teaching school subjects to register as nonprofits.
While Zhang’s net worth crashed by 90%, some tutoring entrepreneurs fared even
worse, such as Larry Xiangdong Chen, the CEO of education firm GSX Techedu,
whose fortune has dropped to $250 million from a peak of $15.8 billion.
VISUAL CHINA GROUP VIA GETTY IMAGES
10. Zhong Huijuan
Citizenship: China
Drop: $10.4 billion
Net worth: $10 billion
Zhong is the founder, chairwoman and CEO of the Chinese drugmaker Hansoh
Pharmaceutical. She became one of the richest women in the world after guiding
the company through its 2019 IPO, after which its stock rose more than 130%.
(Zhong and her daughter together own more than three quarters of the company.)
But shares have fallen more than 50% in 2021 and are now below the IPO listing
price of HK$14.26 ($1.82) per share. As a result, Zhong’s wealth has dropped
51% this year. She is married to Chinese billionaire Sun Piaoyang, who runs
pharmaceutical firm Jiangsu.
Follow me on Twitter. Send me a secure tip.
Jemima McEvoy
Follow
I’m a wealth reporter covering the world’s richest people for Forbes. I was
previously a reporter on Forbes’ breaking news desk, and have also done stints
at CBS News and Inc. Magazine.
... Read More
- Print
- Reprints & Permissions
Cookies on Forbes
Sent from Mail for Windows
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/306475108.63475.1640443594740%40yahoo.com.
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B6C6934CB61C4344A7F529553B68AF6A%40A10Live.
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/420922201.871051.1640567577808%40mail.yahoo.com.