Judulnya bombastis tak sesuai dengan kemampuan yang mulia.

On Wed, Jan 12, 2022 at 2:02 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Jokowi Bisa “Taklukkan” Jepang?
> *A43 * <https://www.pinterpolitik.com/author/a43-162>*- Tuesday, January
> 11, 2022 18:30*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-bisa-taklukkan-jepang
> *Joko Widodo (Jokowi) (kiri) yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur
> DKI Jakarta menerima kunjungan Fumio Kishida (kanan) yang juga masih
> menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang pada tahun 2014 silam.
> (Foto: Liputan6)*
>
> *7 min read*
>
> *Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melarang ekspor batu
> bara pada Januari 2022 demi menjaga kebutuhan pasokan energi dalam negeri.
> Namun, sejumlah negara – seperti Jepang dan Korea Selatan (Korsel) –
> melayangkan protes. Bisakah Jokowi “taklukkan” Jepang?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> Siapa yang tidak kenal dengan permainan papan (*board game*) yang dikenal
> sebagai *Monopoly* atau Monopoli? Hampir setiap orang setidaknya pernah
> sekali berpartisipasi dalam *board games* seperti ini.
>
> Sebenarnya, permainan papan satu ini hampir mirip dengan jalannya
> perdagangan di dunia nyata. Pemain harus melakukan sejumlah kegiatan –
> membeli dan menjual properti seperti rumah dan hotel – dengan tujuan untuk
> membuat bangkrut pemain-pemain lawan.
>
> Mungkin, di dunia nyata, upaya untuk “membangkrutkan” lawan ini disebut
> sebagai kompetisi – yang mana keuntungan optimal perlu dikejar dengan
> cara-cara yang ada. Namun, tentunya, tidak semua perdagangan harus
> menihilkan pihak-pihak lain.
>
> Dalam perdagangan antarnegara, misalnya, terdapat perbedaan komoditas yang
> diproduksi setiap negara. Dengan perbedaan ini, negara-negara memiliki
> keuntungan tersendiri bila saling menjual dan membeli barang dan jasa yang
> mereka miliki.
>
> Mungkin, contohnya adalah kesepakatan pembelian jet tempur Sukhoi antara
> Rusia dan Indonesia yang kabarnya terancam batal. Meskipun masih belum
> jelas kelanjutannya, kesepakatan ini sebenarnya didasarkan pada perolehan
> keuntungan bagi masing-masing pihak (*relative* *gains*) yang mana
> Indonesia memperoleh jet tempur sedangkan Rusia mendapatkan sejumlah
> komoditas pangan.
>
> Namun, tentunya, faktor keuntungan komparatif antarnegara bukanlah penentu
> utama dalam perdagangan internasional. Setiap negara pasti akan
> mementingkan kebutuhan masing-masing – entah itu kepentingan politik atau
> kepentingan ekonominya sendiri.
>
> Contoh paling nyata adalah ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk
> melarang ekspor batu bara pada bulan Januari 2022. Pemerintahan Joko Widodo
> (Jokowi) pun menyebutkan kebijakan ini hanya bersifat temporer untuk
> memenuhi kebutuhan pasokan energi batu bara bagi pembangkit listrik.
>
> Bila dipikirkan, menjadi masuk akal apabila kebutuhan sendiri perlu
> didahulukan. Namun, tentu saja, keputusan seperti ini bukanlah tanpa
> konsekuensi.
>
> *Baca Juga: **Siasat Luhut ‘Lenyapkan’ Batu Bara*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/siasat-luhut-lenyapkan-batu-bara>
> [image: Ekspor Batu Bara di-Stop]
> <https://www.instagram.com/p/CYQ4eVWFWbx/>
>
> Sejumlah negara – seperti Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Filipina –
> telah melayangkan protes. Pada intinya, mereka merasa keberatan dengan
> keputusan pelarangan ekspor tersebut karena dapat mengancam pasokan batu
> bara yang dibutuhkan oleh ekonomi mereka.
>
> Protes negara-negara ini sebenarnya dapat dimaknai lain melalui kacamata
> politik internasional. Pasalnya, bukan tidak mungkin kepentingan
> masing-masing negara turut campur dalam perdagangan komoditas seperti batu
> bara ini di tingkat internasional.
>
> Lantas, mengapa pemerintahan Jokowi memutuskan untuk melarang ekpsor batu
> bara bila keputusan tersebut bisa mengancam kebutuhan ekonomi negara-negara
> lain? Kondisi internasional seperti apa yang mendasari?
> *Kembalinya Merkantilisme?*
>
> Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kondisi pasar dan perdagangan
> internasional yang dianggap ideal adalah di mana setiap negara bisa
> melakukan kegiatan jual beli antara satu sama lain dengan keuntungan
> maksimum. Namun, faktanya, unsur-unsur lain turut mempengaruhi, seperti
> faktor politik.
>
> Mungkin, contoh nyata dari masuknya kepentingan politik dalam perdagangan
> internasional adalah perang dagang yang sempat meletus antara Amerika
> Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 2018 silam.
> Salah satu alasan Presiden AS Donald Trump kala itu adalah agar
> perusahaan-perusahaan negeri Paman Sam dapat bersaing dengan lebih adil (
> *fair*).
>
> Apa yang dilakukan pemerintahan Trump kala itu bisa diamati dengan salah
> satu pendekatan dalam teori-teori ekonomi politik internasional (EPI),
> yakni merkantilisme. Mengacu pada tulisan karya Laura LaHaye yang berjudul
>  *Mercantilism*, merkantilisme merupakan pendekatan ekonomi nasionalisme
> yang bertujuan untuk membangun negara yang lebih kaya dan lebih kuat.
>
> Bagaimana caranya? Biasanya, negara-negara akan membuat sejumlah instrumen
> kebijakan perdagangan – seperti penerapan tarif dan kuota dalam ekspor
> dan/atau impor. Apapun cara yang digunakan, negara seperti ini ingin
> memperoleh posisi yang lebih menguntungkan (*advantage*) dalam neraca
> perdagangannya.
>
> Pendekatan ekonomi seperti ini banyak digunakan pada abad ke-16 hingga
> abad ke-18 di Eropa karena negara-negara saat itu banyak dikuasai oleh
> perusahaan-perusahaan dagang seperti East India Company (EIC) dan
> Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Buruknya adalah, bila sengketa
> dagang terjadi, konflik bersenjata dan perang malah turut membara.
>
> *Baca Juga: **Di Balik Jokowi dan Pengusaha Batu Bara*
> <https://www.pinterpolitik.com/celoteh/di-balik-jokowi-dan-pengusaha-batu-bara>
> [image: Jepang Protes Pemerintahan Jokowi]
> <https://www.instagram.com/p/CYY0rRJhcU4/>
>
>
> Era merkantilisme sebenarnya telah berakhir dengan berkembangnya konsep
> perdagangan bebas (*free trade*) ala liberalisme. Rezim internasional
> yang didasarkan pada perdagangan tanpa batas dan liberalisasi pasar ini pun
> semakin berkembang setelah Perang Dunia II berakhir – dengan kehadiran 
> *General
> Agreement on Tariffs and Trade* (GATT) pada tahun 1947 dan World Trade
> Organization (WTO) pada tahun 1995.
>
> Bukan tidak mungkin, rezim perdagangan bebas ini kini mulai meluruh.
> Edward Alden dalam tulisannya yang berjudul “Free Trade Is Dead. Risky
> ‘Managed Trade’ Is Here.” di *Foreign Policy* menjelaskan bahwa rezim ini
> telah berakhir dengan adanya berbagai ancaman keamanan baru, seperti
> ancaman Tiongkok terhadap AS dan perubahan iklim.
>
> Belum lagi, WTO kini dianggap telah melemah dengan hilangnya hegemoni
> utama yang bisa memimpin rezim ini – akibat kebijakan-kebijakan nasionalis
> Trump di AS dan meningkatnya persaingan negara itu dengan Tiongkok. WTO
> yang biasanya mengatur penyelesaian sengketa pun semakin tidak efektif.
>
> Dengan berubahnya rezim perdagangan kini, lantas, bagaimanakah pengaruhnya
> terhadap Indonesia dalam panggung politik internasional? Mungkinkah ini
> saatnya Indonesia mengambil kesempatan demi pemenuhan kebutuhannya sendiri?
>
>
> *Bisa “Taklukkan” Jepang?*
>
> Pemerintahan Jokowi bisa saja dianggap mendukung sejumlah nilai dalam
> perdagangan bebas – seperti dengan menerima investasi yang menguntungkan
> dari negara mana pun. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Jokowi juga
> menerapkan sejumlah kebijakan proteksionis.
>
> Pelarangan ekspor bijih nikel pada awal tahun 2020 lalu, misalnya,
> merupakan upaya pemerintahan Jokowi untuk mewujudkan ambisi
> perekonomiannya, yakni hilirisasi. Dengan hilirisasi nikel, diharapkan
> Indonesia mendapatkan keuntungan lebih bagi negaranya sendiri dengan
> menjual produk jadi dari nikel, seperti baterai litium untuk kendaraan
> bertenaga listrik.
>
> Selain nikel, pemerintahan Jokowi juga baru-baru ini mencanangkan
> pelarangan ekspor batu bara pada bulan Januari 2022 – meski kini telah
> diizinkan kembali. Alasannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasokan batu
> bara sebagai sumber energi bagi pembangkit listrik PLN.
>
> Kebijakan ini akhirnya langsung diprotes oleh sejumlah negara. Salah
> satunya adalah Jepang yang menganggap batu bara Indonesia sangat dibutuhkan
> untuk keberlangsungan aktivitas ekonominya.
>
> *Baca Juga: **Mampu Indonesia Lepas dari Batu Bara?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mampu-indonesia-lepas-dari-batu-bara>
> [image: Lampu Hijau Luhut untuk Batu Bara]
> <https://www.instagram.com/p/CYlRJxkoYem/>
>
> Konsekuensi ini menarik untuk diamati. Pasalnya, reaksi Jepang, Korsel,
> dan Filipina menunjukkan bahwa negara-negara tersebut secara tidak langsung
> bergantung dengan kehadiran Indonesia.
>
> Menariknya, batu bara sebagai sumber energi ini menjadi faktor penting
> dalam politik internasional – khususnya bila diamati dari kacamata
> realisme. Giedrius Česnakas dalam tulisanya yang berjudul *Energy
> Resources in Foreign Policy* menjelaskan bahwa sumber energi menjadi
> salah satu jenis kekuatan keras (*hard* *power*) sebuah negara dalam
> menjalankan politik luar negeri.
>
> Bukan tidak mungkin, posisi Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar
> di dunia – yakni sebesar 455 juta ton (2019) – memberikan negara kepulauan
> ini *hard power* yang bisa digunakan dalam bermanuver di panggung politik
> dunia. Pasalnya, bagaimana pun juga, dalam dunia politik yang anarki ini,
> Indonesia perlu menghalau pengaruh-pengaruh asing yang memiliki kepentingan
> tertentu.
>
> Jepang, misalnya, dinilai memiliki dominasi teknologi terhadap Indonesia –
> khususnya dunia otomotif. Mungkin, inilah mengapa Jepang menjadi salah satu
> negara yang bereaksi keras ketika pemerintahan Jokowi ingin mengembangkan
> kendaraan bertenaga listrik yang disebut-sebut menjadi pesaing utama bagi
> kendaraan berbahan bakar fosil – yang mana pasarnya di Indonesia dikuasai
> oleh perusahaan-perusahaan Jepang.
>
> Selain itu, pemerintahan Jokowi bisa saja menggunakan kebijakan dagang ini
> sebagai daya tawar terhadap Jepang. Salah satunya adalah soal kereta cepat
> Jakarta-Surabaya yang akan dibantu pembangunannya oleh negara tersebut.
>
> Namun, silang pendapat dikabarkan terjadi karena pemerintahan Jokowi
> menginginkan agar jalur kereta cepat tersebut dapat digabungkan dengan
> jalur kereta cepat Jakarta-Bandung yang digarap oleh konsorsium
> Indonesia-Tiongkok. Padahal, Tiongkok sendiri merupakan rival Jepang saat
> menawarkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
>
> Lagipula, seperti yang dijelaskan oleh Peter van der Wint dalam tulisannya
> yang berjudul *Bargaining in International Relations*, kekuatan fisik dan
> sumber seperti ini bisa menjadi sejumlah determinan dalam daya tawar 
> (*bargaining
> power*). Meski begitu, itu semua kembali pada pertimbangan dan
> kepentingan pemerintah Indonesia sendiri dalam menghadapi Jepang – entah
> itu kepentingan dagang, bisnis, atau politik.
>
> Seperti permainan Monopoli yang disebutkan di awal, tujuan pemain dalam
> gim tersebut adalah untuk menguntungkan diri sendiri dan menghabisi para
> lawan. Meski begitu, dunia politik internasional tidaklah sesederhana itu
> dengan banyaknya lapisan kepentingan yang ada. Bukan begitu? (A43)
>
> *Baca Juga: **Jokowi dan Populisme Batu Bara*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-dan-populisme-batu-bara>
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EEC887FD95E94610AE57FDDD9C39012E%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EEC887FD95E94610AE57FDDD9C39012E%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Ah9de06vROoi3kaRpU2cz-h%2Bocw53Y5WLPbGVoBpkbWA%40mail.gmail.com.

Reply via email to