Jokowi Bisa “Taklukkan” Jepang?A43 - Tuesday, January 11, 2022 18:30
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-bisa-taklukkan-jepang
 
Joko Widodo (Jokowi) (kiri) yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI 
Jakarta menerima kunjungan Fumio Kishida (kanan) yang juga masih menjabat 
sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang pada tahun 2014 silam. (Foto: 
Liputan6)
7 min read

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melarang ekspor batu bara 
pada Januari 2022 demi menjaga kebutuhan pasokan energi dalam negeri. Namun, 
sejumlah negara – seperti Jepang dan Korea Selatan (Korsel) – melayangkan 
protes. Bisakah Jokowi “taklukkan” Jepang?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Siapa yang tidak kenal dengan permainan papan (board game) yang dikenal sebagai 
Monopoly atau Monopoli? Hampir setiap orang setidaknya pernah sekali 
berpartisipasi dalam board games seperti ini.

Sebenarnya, permainan papan satu ini hampir mirip dengan jalannya perdagangan 
di dunia nyata. Pemain harus melakukan sejumlah kegiatan – membeli dan menjual 
properti seperti rumah dan hotel – dengan tujuan untuk membuat bangkrut 
pemain-pemain lawan.

Mungkin, di dunia nyata, upaya untuk “membangkrutkan” lawan ini disebut sebagai 
kompetisi – yang mana keuntungan optimal perlu dikejar dengan cara-cara yang 
ada. Namun, tentunya, tidak semua perdagangan harus menihilkan pihak-pihak lain.

Dalam perdagangan antarnegara, misalnya, terdapat perbedaan komoditas yang 
diproduksi setiap negara. Dengan perbedaan ini, negara-negara memiliki 
keuntungan tersendiri bila saling menjual dan membeli barang dan jasa yang 
mereka miliki.

Mungkin, contohnya adalah kesepakatan pembelian jet tempur Sukhoi antara Rusia 
dan Indonesia yang kabarnya terancam batal. Meskipun masih belum jelas 
kelanjutannya, kesepakatan ini sebenarnya didasarkan pada perolehan keuntungan 
bagi masing-masing pihak (relative gains) yang mana Indonesia memperoleh jet 
tempur sedangkan Rusia mendapatkan sejumlah komoditas pangan.

Namun, tentunya, faktor keuntungan komparatif antarnegara bukanlah penentu 
utama dalam perdagangan internasional. Setiap negara pasti akan mementingkan 
kebutuhan masing-masing – entah itu kepentingan politik atau kepentingan 
ekonominya sendiri.

Contoh paling nyata adalah ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk 
melarang ekspor batu bara pada bulan Januari 2022. Pemerintahan Joko Widodo 
(Jokowi) pun menyebutkan kebijakan ini hanya bersifat temporer untuk memenuhi 
kebutuhan pasokan energi batu bara bagi pembangkit listrik.

Bila dipikirkan, menjadi masuk akal apabila kebutuhan sendiri perlu 
didahulukan. Namun, tentu saja, keputusan seperti ini bukanlah tanpa 
konsekuensi. 

Baca Juga: Siasat Luhut ‘Lenyapkan’ Batu Bara

 
Sejumlah negara – seperti Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Filipina – telah 
melayangkan protes. Pada intinya, mereka merasa keberatan dengan keputusan 
pelarangan ekspor tersebut karena dapat mengancam pasokan batu bara yang 
dibutuhkan oleh ekonomi mereka.

Protes negara-negara ini sebenarnya dapat dimaknai lain melalui kacamata 
politik internasional. Pasalnya, bukan tidak mungkin kepentingan masing-masing 
negara turut campur dalam perdagangan komoditas seperti batu bara ini di 
tingkat internasional.

Lantas, mengapa pemerintahan Jokowi memutuskan untuk melarang ekpsor batu bara 
bila keputusan tersebut bisa mengancam kebutuhan ekonomi negara-negara lain? 
Kondisi internasional seperti apa yang mendasari?

Kembalinya Merkantilisme?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kondisi pasar dan perdagangan internasional 
yang dianggap ideal adalah di mana setiap negara bisa melakukan kegiatan jual 
beli antara satu sama lain dengan keuntungan maksimum. Namun, faktanya, 
unsur-unsur lain turut mempengaruhi, seperti faktor politik.

Mungkin, contoh nyata dari masuknya kepentingan politik dalam perdagangan 
internasional adalah perang dagang yang sempat meletus antara Amerika Serikat 
(AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 2018 silam. Salah satu 
alasan Presiden AS Donald Trump kala itu adalah agar perusahaan-perusahaan 
negeri Paman Sam dapat bersaing dengan lebih adil (fair).

Apa yang dilakukan pemerintahan Trump kala itu bisa diamati dengan salah satu 
pendekatan dalam teori-teori ekonomi politik internasional (EPI), yakni 
merkantilisme. Mengacu pada tulisan karya Laura LaHaye yang berjudul 
Mercantilism, merkantilisme merupakan pendekatan ekonomi nasionalisme yang 
bertujuan untuk membangun negara yang lebih kaya dan lebih kuat.  

Bagaimana caranya? Biasanya, negara-negara akan membuat sejumlah instrumen 
kebijakan perdagangan – seperti penerapan tarif dan kuota dalam ekspor dan/atau 
impor. Apapun cara yang digunakan, negara seperti ini ingin memperoleh posisi 
yang lebih menguntungkan (advantage) dalam neraca perdagangannya.

Pendekatan ekonomi seperti ini banyak digunakan pada abad ke-16 hingga abad 
ke-18 di Eropa karena negara-negara saat itu banyak dikuasai oleh 
perusahaan-perusahaan dagang seperti East India Company (EIC) dan Vereenigde 
Oostindische Compagnie (VOC). Buruknya adalah, bila sengketa dagang terjadi, 
konflik bersenjata dan perang malah turut membara.

Baca Juga: Di Balik Jokowi dan Pengusaha Batu Bara


  
Era merkantilisme sebenarnya telah berakhir dengan berkembangnya konsep 
perdagangan bebas (free trade) ala liberalisme. Rezim internasional yang 
didasarkan pada perdagangan tanpa batas dan liberalisasi pasar ini pun semakin 
berkembang setelah Perang Dunia II berakhir – dengan kehadiran General 
Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1947 dan World Trade 
Organization (WTO) pada tahun 1995.

Bukan tidak mungkin, rezim perdagangan bebas ini kini mulai meluruh. Edward 
Alden dalam tulisannya yang berjudul “Free Trade Is Dead. Risky ‘Managed Trade’ 
Is Here.” di Foreign Policy menjelaskan bahwa rezim ini telah berakhir dengan 
adanya berbagai ancaman keamanan baru, seperti ancaman Tiongkok terhadap AS dan 
perubahan iklim. 

Belum lagi, WTO kini dianggap telah melemah dengan hilangnya hegemoni utama 
yang bisa memimpin rezim ini – akibat kebijakan-kebijakan nasionalis Trump di 
AS dan meningkatnya persaingan negara itu dengan Tiongkok. WTO yang biasanya 
mengatur penyelesaian sengketa pun semakin tidak efektif.

Dengan berubahnya rezim perdagangan kini, lantas, bagaimanakah pengaruhnya 
terhadap Indonesia dalam panggung politik internasional? Mungkinkah ini saatnya 
Indonesia mengambil kesempatan demi pemenuhan kebutuhannya sendiri?



Bisa “Taklukkan” Jepang?
Pemerintahan Jokowi bisa saja dianggap mendukung sejumlah nilai dalam 
perdagangan bebas – seperti dengan menerima investasi yang menguntungkan dari 
negara mana pun. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Jokowi juga menerapkan 
sejumlah kebijakan proteksionis.

Pelarangan ekspor bijih nikel pada awal tahun 2020 lalu, misalnya, merupakan 
upaya pemerintahan Jokowi untuk mewujudkan ambisi perekonomiannya, yakni 
hilirisasi. Dengan hilirisasi nikel, diharapkan Indonesia mendapatkan 
keuntungan lebih bagi negaranya sendiri dengan menjual produk jadi dari nikel, 
seperti baterai litium untuk kendaraan bertenaga listrik.

Selain nikel, pemerintahan Jokowi juga baru-baru ini mencanangkan pelarangan 
ekspor batu bara pada bulan Januari 2022 – meski kini telah diizinkan kembali. 
Alasannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasokan batu bara sebagai sumber 
energi bagi pembangkit listrik PLN.

Kebijakan ini akhirnya langsung diprotes oleh sejumlah negara. Salah satunya 
adalah Jepang yang menganggap batu bara Indonesia sangat dibutuhkan untuk 
keberlangsungan aktivitas ekonominya.

Baca Juga: Mampu Indonesia Lepas dari Batu Bara?

 
Konsekuensi ini menarik untuk diamati. Pasalnya, reaksi Jepang, Korsel, dan 
Filipina menunjukkan bahwa negara-negara tersebut secara tidak langsung 
bergantung dengan kehadiran Indonesia.

Menariknya, batu bara sebagai sumber energi ini menjadi faktor penting dalam 
politik internasional – khususnya bila diamati dari kacamata realisme. Giedrius 
Česnakas dalam tulisanya yang berjudul Energy Resources in Foreign Policy 
menjelaskan bahwa sumber energi menjadi salah satu jenis kekuatan keras (hard 
power) sebuah negara dalam menjalankan politik luar negeri.

Bukan tidak mungkin, posisi Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di 
dunia – yakni sebesar 455 juta ton (2019) – memberikan negara kepulauan ini 
hard power yang bisa digunakan dalam bermanuver di panggung politik dunia. 
Pasalnya, bagaimana pun juga, dalam dunia politik yang anarki ini, Indonesia 
perlu menghalau pengaruh-pengaruh asing yang memiliki kepentingan tertentu.

Jepang, misalnya, dinilai memiliki dominasi teknologi terhadap Indonesia – 
khususnya dunia otomotif. Mungkin, inilah mengapa Jepang menjadi salah satu 
negara yang bereaksi keras ketika pemerintahan Jokowi ingin mengembangkan 
kendaraan bertenaga listrik yang disebut-sebut menjadi pesaing utama bagi 
kendaraan berbahan bakar fosil – yang mana pasarnya di Indonesia dikuasai oleh 
perusahaan-perusahaan Jepang.

Selain itu, pemerintahan Jokowi bisa saja menggunakan kebijakan dagang ini 
sebagai daya tawar terhadap Jepang. Salah satunya adalah soal kereta cepat 
Jakarta-Surabaya yang akan dibantu pembangunannya oleh negara tersebut.

Namun, silang pendapat dikabarkan terjadi karena pemerintahan Jokowi 
menginginkan agar jalur kereta cepat tersebut dapat digabungkan dengan jalur 
kereta cepat Jakarta-Bandung yang digarap oleh konsorsium Indonesia-Tiongkok. 
Padahal, Tiongkok sendiri merupakan rival Jepang saat menawarkan proyek kereta 
cepat Jakarta-Bandung.

Lagipula, seperti yang dijelaskan oleh Peter van der Wint dalam tulisannya yang 
berjudul Bargaining in International Relations, kekuatan fisik dan sumber 
seperti ini bisa menjadi sejumlah determinan dalam daya tawar (bargaining 
power). Meski begitu, itu semua kembali pada pertimbangan dan kepentingan 
pemerintah Indonesia sendiri dalam menghadapi Jepang – entah itu kepentingan 
dagang, bisnis, atau politik.

Seperti permainan Monopoli yang disebutkan di awal, tujuan pemain dalam gim 
tersebut adalah untuk menguntungkan diri sendiri dan menghabisi para lawan. 
Meski begitu, dunia politik internasional tidaklah sesederhana itu dengan 
banyaknya lapisan kepentingan yang ada. Bukan begitu? (A43)

Baca Juga: Jokowi dan Populisme Batu Bara

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EEC887FD95E94610AE57FDDD9C39012E%40A10Live.

Reply via email to