Tikus Indonesia pakai celana.
    On Thursday, January 13, 2022, 02:56:13 PM MST, Sunny ambon 
<[email protected]> wrote:  
 
 
Pada tahun 1960-an India mengalami kesulitanbahan makanan, karena apa yang 
dihasilkan dimakan hamatikus.  Sekarang di NKRI juga mengalamikekurangan 
pangan. Beda antara apa yang terjadi di India pada masa lalu danNKRI dewasa 
ini, ialah tikus-tikus di India berkaki empat, sedangkan di NKRItikus-tikusnya 
berkaki dua. Tikus-tikus NKRI berkaki dua ini bukan saja rakus,tetapi juga 
jahat, maka oleh sebab itu:”Sulit harapkan langkah terobosanholding BUMN 
pangan”. hehehhehe

https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/55988/sulit_harapkan_langkah_terobosan_holding_bumn_pangan_

Sulit Harapkan Langkah Terobosan Holding BUMN Pangan

Kamis , 13Januari 2022 | 21:13

 

 

AKARTA--Pemerintah telah membentukperusahaan induk (holding company) di bidang 
pangandengan ambisi besar untuk mengefisienkan pengadaan dan distribusi 
bahankebutuhan masyarakat. Tujuan yang mulia tentu harus didukung. Namun masih 
harusditelaah apakah perusahaan raksasa tersebut memang memiliki kemampuan 
sepadanatau kebijakan ini hanya konsolidasi beberapa BUMN yhang kinerjanya 
tidakbagus.

BUMN Holding baru tersebut Bernama “ID Food” hasil peleburan dari 
limaperusahaan pemerintah. Proses pembentukan holding pangan ini telah 
selesaidilaksanakan, ditandai dengan penandatanganan akta inbreng saham pada 7 
Januari2022. Pemerintah mengalihkan saham lima BUMN pangan, yakni PT 
PerusahaanPerdagangan Indonesia, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan Indonesia, PT 
Berdikari,dan PT Garam kepada PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau 
RNI sebagaiinduk holding BUMN pangan.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, pembentukan Holding BUMN akanmenciptakan 
nilai tambah, efisiensi, penguatan rantai pasok, hingga inovasibisnis model. 
"Adanya holding BUMN pangan juga menjadi prioritas utamadalam transformasi 
industri pangan mengingat Indonesia sebagai negaraagraris," ujar Menteri Erick, 
pekan ini.

Menurut Direktur Utama PT RNI (Persero), Arief Prasetyo Adi, launchingidentitas 
baru Holding Pangan tersebut menjadi pemicu semangat untuk mewujudkantiga 
sasaran. Yaitu mendukung ketahanan pangan nasional, inklusivitas bagipetani 
peternak dan nelayan, serta menjadi perusahaan pangan berkelas dunia.

Masalah pangan di negeri ini ternyata lebih ruwet dari kemampuan 
pemerintahmenanganinya. Pemerintah sejak jaman pemerintah Orde Baru telah 
membentuk BadanUrusan Logistik (Bulog) yang juga berfungsi menjaga stabilitas 
harga pangan.Bulog bertindak sebagai pembeli hasil petani dan 
mendistribusikannya kepasaran.

Namun kebijakan harga yang dikendalikan menyebabkan petani tidak bisamenjual 
produknya dengan harga tinggi sehingga mereka mengalami kesulitan untukmenutup 
kebutuhan biaya produksi. Bulog juga harus menjual harga bahan pangandengan 
patokan  tertentu untuk menjaga tidak terjadi ancaman  inflasikarena harga 
melonjak di pasaran.

Akibatnya selama puluhan tahun petani tidak mampu meningkatkankesejahteraan 
mereka, bahkan terjadi kecenderungan penurunan angkatan kerja disektor 
pertanian. Sangat terasa angkatan kerja muda di pedesaan tidak mau 
lagimennggantungkan masa depan mereka di sector ini sehingga kemampuan produksi 
punterus menurun.

Bulog yang sudah sangat berpengalaman di sector ini tidak diajak masukdalam 
pembentukan holding pangan tersebut. Kemana sebetulnya arah yang ingindituju 
pemerintah ke depan karena keenam perusahaan yang bergabung tersebuttidak 
memilki kinerja cemerlang di bidang ini.

Seperti dikutip media, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia(Persero) 
atau RNI, Arief Prasetyo Adi mengakui beberapa anak perusahaanHolding BUMN 
Pangan ID Food, masih ada yang mencatatkan kinerja keuangannegatif. RNI sebagai 
induk Holding ID Food, diberi target untuk menghijaukankinerja keuangan 
anak-anak perusahaan holding yang masih negatif tersebut.

Muncul beberapa pertanyaan lain. Apa bisnis inti (core business) 
holdingtersebut mengingat keenamnya berbeda lingkup bisnisnya. Mengapa tidak 
sekalianmemasukkan Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Perkebunan dan beberapa 
perusahaanlain dengan konsep yang lebih matang.

Ini layaknya sebuah langkah tanggung yang disangsikan mampu menjawab tigatarget 
sasaran tadi. Kesannya terburu-buru dan tidak jelas kemana arahnya.

Ditengah dominasi swasta yang menguasai perdagangan dan distribusi bahanpangan 
di dalam negeri, sulit diharapkan holding pangan tersebut bisa berperanbesar 
dan efektif. Padahal harapannya mereka mampu menjadi jangkar agarberperan dalam 
produksi, pengadaan dan distribusi bahan pangan sehingga pasartidak mudah 
guncang.

Kiranya sukit mengharapkan langkah terobosan dan peran besar BUMN 
Pangantersebut, kecuali hanya akan meramaikan kehadiran entitas baru dalam 
duniaperdagangan pangan di dalam negeri. Apakah mereka akan mampu 
melakukanterbosoan di pasaran ekspor, lebih sulit lagi.

Tidaklah berlebihan pihak yang berpandangan bahwa pembentukan BUMN 
HoldingPangan lebih atas pertimbangan pragmatis untuk mengkonsolidasikan enam 
BUMNyang kinerjanya belum bagus. Namun kita tidak apriori, hanya 
mengkhawatirkankinerjanya tidak akan bagus karena kebijakannya terburu-buru. 
Selain konsepnyatidak terlalu jelas, pemerintah tidak membuang kerakap dan 
benalunya. Apakahkerakap dan benalu akan tetap tumbuh subur di holding yang 
baru? Ini pertanyaanyang sulit dijawab. (BC)


Sumber Berita: Berbagai sumber

 

 

 


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DqV5h%3DRQ0_5pzMU-5iVFpssv1r6ecKWQELc74OwUjZOA%40mail.gmail.com.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/782192540.62107.1642131980584%40mail.yahoo.com.

Reply via email to