*Pada tahun 1960-an India mengalami kesulitan bahan makanan, karena apa
yang dihasilkan dimakan hama tikus.  Sekarang di NKRI juga mengalami
kekurangan pangan. Beda antara apa yang terjadi di India pada masa lalu dan
NKRI dewasa ini, ialah tikus-tikus di India berkaki empat, sedangkan di
NKRI tikus-tikusnya berkaki dua. Tikus-tikus NKRI berkaki dua ini bukan
saja rakus, tetapi juga jahat, maka oleh sebab itu:”Sulit harapkan langkah
terobosan holding BUMN pangan”. hehehhehe*

https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/55988/sulit_harapkan_langkah_terobosan_holding_bumn_pangan_

*Sulit Harapkan Langkah Terobosan Holding BUMN Pangan*

Kamis , 13 Januari 2022 | 21:13





AKARTA--Pemerintah telah membentuk perusahaan induk (*holding company*) di
bidang pangan dengan ambisi besar untuk mengefisienkan pengadaan dan
distribusi bahan kebutuhan masyarakat. Tujuan yang mulia tentu harus
didukung. Namun masih harus ditelaah apakah perusahaan raksasa tersebut
memang memiliki kemampuan sepadan atau kebijakan ini hanya konsolidasi
beberapa BUMN yhang kinerjanya tidak bagus.

BUMN Holding baru tersebut Bernama “ID Food” hasil peleburan dari lima
perusahaan pemerintah. Proses pembentukan holding pangan ini telah selesai
dilaksanakan, ditandai dengan penandatanganan akta inbreng saham pada 7
Januari 2022. Pemerintah mengalihkan saham lima BUMN pangan, yakni PT
Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan
Indonesia, PT Berdikari, dan PT Garam kepada PT Rajawali Nusantara
Indonesia (Persero) atau RNI sebagai induk holding BUMN pangan.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, pembentukan Holding BUMN akan
menciptakan nilai tambah, efisiensi, penguatan rantai pasok, hingga inovasi
bisnis model. "Adanya holding BUMN pangan juga menjadi prioritas utama
dalam transformasi industri pangan mengingat Indonesia sebagai negara
agraris," ujar Menteri Erick, pekan ini.

Menurut Direktur Utama PT RNI (Persero), Arief Prasetyo Adi, launching
identitas baru Holding Pangan tersebut menjadi pemicu semangat untuk
mewujudkan tiga sasaran. Yaitu mendukung ketahanan pangan nasional,
inklusivitas bagi petani peternak dan nelayan, serta menjadi perusahaan
pangan berkelas dunia.

Masalah pangan di negeri ini ternyata lebih ruwet dari kemampuan pemerintah
menanganinya. Pemerintah sejak jaman pemerintah Orde Baru telah membentuk
Badan Urusan Logistik (Bulog) yang juga berfungsi menjaga stabilitas harga
pangan. Bulog bertindak sebagai pembeli hasil petani dan
mendistribusikannya ke pasaran.

Namun kebijakan harga yang dikendalikan menyebabkan petani tidak bisa
menjual produknya dengan harga tinggi sehingga mereka mengalami kesulitan
untuk menutup kebutuhan biaya produksi. Bulog juga harus menjual harga
bahan pangan dengan patokan  tertentu untuk menjaga tidak terjadi ancaman
 inflasi karena harga melonjak di pasaran.

Akibatnya selama puluhan tahun petani tidak mampu meningkatkan
kesejahteraan mereka, bahkan terjadi kecenderungan penurunan angkatan kerja
di sektor pertanian. Sangat terasa angkatan kerja muda di pedesaan tidak
mau lagi mennggantungkan masa depan mereka di sector ini sehingga kemampuan
produksi pun terus menurun.

Bulog yang sudah sangat berpengalaman di sector ini tidak diajak masuk
dalam pembentukan holding pangan tersebut. Kemana sebetulnya arah yang
ingin dituju pemerintah ke depan karena keenam perusahaan yang bergabung
tersebut tidak memilki kinerja cemerlang di bidang ini.

Seperti dikutip media, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia
(Persero) atau RNI, Arief Prasetyo Adi mengakui beberapa anak perusahaan
Holding BUMN Pangan ID Food, masih ada yang mencatatkan kinerja keuangan
negatif. RNI sebagai induk Holding ID Food, diberi target untuk
menghijaukan kinerja keuangan anak-anak perusahaan holding yang masih
negatif tersebut.

Muncul beberapa pertanyaan lain. Apa bisnis inti (core business) holding
tersebut mengingat keenamnya berbeda lingkup bisnisnya. Mengapa tidak
sekalian memasukkan Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Perkebunan dan beberapa
perusahaan lain dengan konsep yang lebih matang.

Ini layaknya sebuah langkah tanggung yang disangsikan mampu menjawab tiga
target sasaran tadi. Kesannya terburu-buru dan tidak jelas kemana arahnya.

Ditengah dominasi swasta yang menguasai perdagangan dan distribusi bahan
pangan di dalam negeri, sulit diharapkan holding pangan tersebut bisa
berperan besar dan efektif. Padahal harapannya mereka mampu menjadi jangkar
agar berperan dalam produksi, pengadaan dan distribusi bahan pangan
sehingga pasar tidak mudah guncang.

Kiranya sukit mengharapkan langkah terobosan dan peran besar BUMN Pangan
tersebut, kecuali hanya akan meramaikan kehadiran entitas baru dalam dunia
perdagangan pangan di dalam negeri. Apakah mereka akan mampu melakukan
terbosoan di pasaran ekspor, lebih sulit lagi.

Tidaklah berlebihan pihak yang berpandangan bahwa pembentukan BUMN Holding
Pangan lebih atas pertimbangan pragmatis untuk mengkonsolidasikan enam BUMN
yang kinerjanya belum bagus. Namun kita tidak apriori, hanya
mengkhawatirkan kinerjanya tidak akan bagus karena kebijakannya
terburu-buru. Selain konsepnya tidak terlalu jelas, pemerintah tidak
membuang kerakap dan benalunya. Apakah kerakap dan benalu akan tetap tumbuh
subur di holding yang baru? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. (BC)


Sumber Berita: Berbagai sumber

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DqV5h%3DRQ0_5pzMU-5iVFpssv1r6ecKWQELc74OwUjZOA%40mail.gmail.com.

Reply via email to