Sdri Siti Sutrisno, dengan jujur saya hargai keprihatinan Anda. Tapi dengan 
jujur pula saya katakan keprihatian itu tidak diperlukan. Yang justru 
diperlukan adalah kesediaan dan kemauan untuk mempelajari sejarah dan 
pengalaman masa lalu yang telah mendatangkan mala petaka kepada rakyat dan 
gerakan progresif Indonesia, menganalisa sebab-sebab subjektif dan objektifnya 
berdasarkan pada teori revolusioner yang sudah dibuktikan kebenarannya dalam 
gerakan pembebasan rakyat. Pikiran yang mengakui kebenaran teori revolusioner 
sama sekali bukan pikiran ekstrim. Kaum imperialisme, kaum reaksioner dan kaum 
revisionis modern yang sekarang diwakili oleh para penguasa di China dan 
centeng serta anjing-anjing jaganya di milis ini; mereka lah yang selalu bicara 
tentang kedaluwarsaan teori-teori revolusioner, memfitnah, memojokkan dan 
menghitamkan para Guru Besar Marx, Lenin dan Mao Tsedong serta karya-karya 
teori dan praktek membangun masyarakat adil dan makmur bagi rakyat pekerja.

Bung Karno saja mengakui akan ampuhnya Marxisme sebagai pisau untuk menganalisa 
gejala ekonomi, politik dan sosial.

Anda menganggap saya bukan orang sembarangan. Saya sendiri menganggap diri saya 
orang biasa yang berusaha TIDAK MENGKHIANATI  cita-cita dua-tiga generasi yang 
lalu yang sudah mengorbankan segalanya termasuk nyawanya sendiri untuk 
mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Saya terus menerus berusaha melawan 
brainwashing, hoax, rezim ORBA dengan dan tanpa Soeharto melalui penulisan buku 
(sudah 4 buku saya tulis: Pelangi, Panta Rhei, Alternatif, Trotskyisme: 
Revolusi Permanen atau sosialisme di satu negeri ) dan banyak artikel di koran 
Sulindo. Pernah anda baca tulisan saya? Kalau anda mau menghakimi pikiran saya, 
sudah seharusnya anda baca dulu buku saya. Kemudian kita bisa mendiskusikan 
tema-tema yang saya kupas dalam buku saya itu. Adalah normal, kalua anda tidak 
menyetujui pendapat saya, tapi paling sedikit anda  tahu  apa kongkritnya 
pikiran saya itu, baru kemudian menghakiminya.

Bahwa di Belanda, dan ditempat lain, ada orang yang tidak menerima pikiran 
saya, saya tahu. Bahkan dikalangan orang-orang yang dulunya “kiri” dan 
“revolusioner”, seperti si pengelola milis ini, saya kenal dan tahu banyak yang 
sudah mengkhianati cita-citanya, hanya ingin hidup enak, menikmati hari tua 
yang aman dan tenteram. Jadi tuduhan anda kepada saya “mau hidup enak di 
Belanda”seharusnya justru dilemparkan kepada mereka yang sudah jadi revisionis! 
Di Indonesia, banyak orang mengkhianat karena siksaan, tapi di luar negeri, 
tanpa siksaan, tak sedikit orang yang mengkhianati cita-cita dan usaha yang 
dulu mereka dukung! Lantas saya lah yang dituduh “extremis” atau “radikal”. Ya 
logis, bagi mereka yang sudah mengkhianat, saya dicap “ekstremis” atau 
“radikal”.

Tapi saya punya kawan di seantero dunia!! Anda bilang “segelintir”, karena 
proses penyadaran di dunia yang sekarang dikuasai oleh propaganda imperialis 
dan revisionis, membutuhakn waktu Panjang. Marx dan Engels juga hanya berdua, 
ketika mulai dengan Analisa yang membelejeti penghisapan sistim kapitalis.. 
Lenin juga mulai dengan segelintir orang… Mao juga mulai hanya dengan 12 orang… 
Yang menentukan adalah ide/pikiran mereka mewakili mode of production yang 
paling maju dan sesuai dengan hokum perkembangan masyarakat!! Lima puluh, 
serratus tahun sungguh lama bagi usia manusia, tapi hanya sebentar saja bagi 
sejarah umat manusia…Orang-orang revolusioner tidak berjuang untuk generasinya 
saja, tapi paling penting untuk generasi yang akan datang dan hari depan umat 
manusia!!!

Saya sambut keinginan anda untuk menegakkan keadilan sosial dan menghukum rezim 
Suharto. Bagaimana caranya? Apakah dengan mendukung rezim Jokowi yang sangat 
getol membangun megaproyek infrastruktur dan proyek turisme yang merampas tanah 
kaum tani, pertambangan, perke-bunan yang membabat hutan-hutan dan merusak 
lingkungan, dan semuanya itu dibiayai oleh modal asing yang diberikan segala 
fasilitas untuk dapat keuntungan luar biasa. Khusus tentang modal asing, saya 
membelejeti dengan bukti (bukan asal jeplak) kejahatan penanaman modal China. 
Tentu anda tahu bahwa dalam proyek-proyek yang dibiayai oleh modal China, 
terdapat syarat-syarat, misalnya penggunaan tenaga kerja China (dengan alasan 
tenaga ahli, itu sudah dibuktikan bohong!), penggunaan input (mesin, 
perlengkapan bangunan etc.) dari China, etc. Oleh karena itu saya membuat 
anjing-anjing jaga rezim China MARAH BESAR! 

Saya anggap penting membelejeti kejahatan rezim kapitalis-imperialis china 
karena di Indonesia mayoritas orang menganggap china itu komunis!!!ITU 
KESALAHAN BESAR!!

Anda bicara tentang Swedia dan negara eropa barat yang menurut anda lebih baik 
dari pada sosialismenya Mao…

Dalam jawaban pertama, saya bicara tentang Kuba yang miskin dan diblokade AS, 
tapi dapat memberikan Pendidikan dan layanan kesehatan gratis kepada 
penduduknya. Begitu juga sosialismenya Mao dulu, walaupun masih miskin, tapi 
bias memberi Pendidikan dan layanan kesehatan gratis. Buruh punya status buruh 
tetap SEUMUR HIDUP, TAK BISA DIPECAT! Buruh punya hak untuk mogok! Buruh punya 
hak libur. Dan ingat Kuba dan Tiongkok TIDAK menjajah negeri lain, TIDAK 
menghisap buruh negeri lain, TIDAK merampas kekayaan alam negeri lain, TIDAK 
membunuh ekonomi nasional negeri lain, TIDAK merampok ikan di lautan negeri 
orang lain….

Sebaliknya Belanda, Swedia dan engeri-negeri Eropa Barat lainnya, punya koloni 
bahkan sekarangpun masih meneruskan penjajahannya yang dinamakan 
NEO-KOLONIALISME! Ya jelas nggak bias dong anda membandingkan Kuba, Tiongkok 
sosialis dengan negeri-negeri Eropa Barat..

Sekarang, china yang gemerlapan dengan bangunan pencakar langitnya dan 
teknologinya, tidak memberi rakyatnya Pendidikan dan layanan kesehatan gratis!! 
Buruhnya bekerja 12 jam sehari, enam hari seminggu, dan upah sering tak dibayar 
atau ditunda pembayarannya, ratusan juta buruh migran yang justru tenaga pokok 
yang membangun semua pencakar langit, perumahan, mall-mall yang mewah, TIDAK 
PUNYA HAK TINGGAL DI KOTA YANG TELAH EMREKA BANGUN!!

Korupsi di China tidak kalah hebatnya dari pada di Indonesia!

Di Indonesia tidak asing lagi roang bicara tentang imperialisme AS, tapi masih 
sedikit yang tahu bahwa CHINA JUGA IMPERIALISME YANG BERSAING DENGAN AS UNTUK 
MENDAPATKAN PASAR BAGI PRODUKNYA, MENDAPATKAN BAHAN BAKU UNTUK INDUSTRINYA, 
MENDAPATKAN RUANG UNTUK MENANAM MODALNYA!!!



Sent from Mail for Windows

From: Siti Sukrisno
Sent: Sunday, February 13, 2022 12:05 AM
To: Tatiana Lukman; Tatiana Lukman' via GELORA45; B.H. Jo; Jaya Suprana; Chan CT
Subject: RE: [GELORA45] Warisan generasi aktual China kepada generasi yang akan 
datang

Mbak, saya hanya prihatin kalo dampak dari pikiran extrem anda tidak membantu 
utk. perjuangan rakyat Indonesia utk. memulihkan demokrasi dan menegakkan 
keadilan sosial dan menghukum rezim Suharto, musuh rakyat Indonesia 
sesungguhnya yg. belum melek betul karena ber-tahun2 kena brain washing, korban 
hoax dan kebohongan. Mbak bukan orang sembarangan, dari segi asal usul mbak, 
walau zaman sekarang pendapat2 mbak yg. etrem, nggak dapat pasaran di 
Indonesia, menurut saya juga dikalangan teman2 di Belanda dan di Eropa, atau 
hanya segelintir orang saja yg. sepaham dengan mbak, mungkin di Indonesia juga 
demikian.  
Op 12-02-2022 16:27 schreef 'Tatiana Lukman' via GELORA45 
<[email protected]>: 


Jawaban buat saudari Siti Sukrisno.
Terima kasih banyak atas reaksinya. Kita tidak saling kenal. Apakah anda tahu 
tentang kehidupan saya? Apakah anda tahu mengapa saya meninggalkan Kuba dan 
sekarang tinggal di Belanda? Apakah saya punya kewajiban untuk mengobral 
masalah personal hanya untuk memuaskan/menjawab tuduhan ngawur yang sudah lama 
juga dilemparkan oleh orang yang sekarang mendukung reaksi anda? Yang jelas 
saya datang ke Belanda bukan untuk  hidup enak dari hasil menghisap kaum 
pekerja Belanda. Saya bekerja dan tunjangan yang saya dapat sekarang adalah hak 
saya sebagai pekerja. Uang tunjangan yang juga diterima semua orang Belanda 
BUKANLAH HASIL DARI SISTEM DEMOKRASI NEGARA-NEGARA BARAT. 
 
Apakah anda tidak tahu akumulasi kapital yang digunakan untuk membangun 
industry dan kapitalisme Belanda berasal dari penghisapan dan penindasan 
kolonial Belanda di Indonesia selama lebih dari tiga abad?  Anda tidak tahu 
Belanda membunuhi penduduk pulau Banda dan pulau-pulau lain, penghasil pokok 
rempah-rempah yang ketika itu sedang laris di Eropa untuk mempertahankan 
monopoli dalam perdagangan rempah-rempah? Anda tidak tahu Cultuurstelsel/sistim 
tanaman paksa  yang telah menyebabkan kaum tani kelaparan dan mati di Pulau 
Jawa untuk mengisi kas negara Belanda yang kosong karena perang Diponegoro dan 
perang Aceh? Anda tidak tahu minyak di perut bumi Indonesia disedot dan 
diboyong ke Belanda? Anda tidak tahu penderitaan buruh perkebunan gula, 
tembakau etc. yang hasil kerjanya diboyong ke Belanda? Anda tidak tahu 
orang-orang Jawa dibawa ke Suriname untuk dipekerjakan sebagai Budak?
 
Bagus sekali anda menyinggung Karl Marx. Anda pasti bias Bahasa Inggris, bukan? 
Nah, coba simak dan hayati  kata-kata Karl Marx di bawah ini.
Karl Marx had the following to say about the accumulation of capital by the VOC:
“The history of the colonial administration of Holland – and Holland was the 
head capitalistic nation of the 17th century – ‘is one of the most 
extraordinary relations of treachery, bribery, massacre, and meanness.’ Nothing 
is more characteristic than their system of stealing men, to get slaves for 
Java. The men stealers were trained for this purpose. The thief, the 
interpreter, and the seller, were the chief agents in this trade, native 
princes the chief sellers. The young people stolen, were thrown into the secret 
dungeons of Celebes, until they were ready for sending to the slave-ships. An 
official report says: ‘This one town of Macassar, e.g., is full of secret 
prisons, one more horrible than the other, crammed with unfortunates, victims 
of greed and tyranny fettered in chains, forcibly torn from their families.’ To 
secure Malacca, the Dutch corrupted the Portuguese governor. He let them into 
the town in 1641. They hurried at once to his house and assassinated him, to 
‘abstain’ from the payment of £21,875, the price of his treason. Wherever they 
set foot, devastation and depopulation followed. Banjuwangi, a province of 
Java, in 1750 numbered over 80,000 inhabitants, in 1811 only 18,000. Sweet 
commerce!” (Capital, chapter 31).
 
Kutipan Karl Marx itu saya tampilkan dalam pidato di Archive and Activism / 
Panel People Powered Movement vs Shell  
Silahkan kalau mau nonton videonya, saya bukan penipu.
https://youtu.be/Fy5ZDQaRI8Y
 
Di Belanda, saya tidak tahu di mana anda tinggal, banyak orang Belanda yang 
benci pada kapitalisme, tapi mereka harus hidup dan bekerja dalam sistim itu. 
Saya bilang begitu karena saya  kenal orang dan organisasi yang terlibat dalam 
gerakan anti-kapitalis dan anti-imperialis dan berjuang untuk 
Sosialisme!!Membenci satu sistim ekonomi tertentu, tidak berarti dan tidak 
mungkin semua orang yang membencinya lantas harus MENINGGALKAN NEGERI ITU!! 
Hanya orang yang picik dan ignorant yang berpikiran seperti anda dan pendukung 
anda..
 
Apakah anda tahu kedua kakek saya berjuang untuk mengusir Belanda dalam 
pemberontakan nasional pertama di Indonesia pada tahun 1926? Karena itu, mereka 
dan keluarganya dikirim ke kamp konsentrasi Belanda di Boven Digul, di Papua? 
Tahu nggak berapa tahun mereka disekap di situ kemudian dikirim ke Australia? 
Mereka baru pulang tahun 1947, setelah proklamasi kemerdekaan 1945!! Tahu nggak 
berapa tahun orang Belanda ditahan Jepang? Hanya tiga tahun! Dan mereka 
menuntut Jepang untuk minta maaf dan kompensasi.. Seandainya saya minta 
kompensasi kepada Belanda karena mereka mengurung lebih dari 20 orang anggota 
keluarga saya selama 20 tahun, sampai matipun saya tidak perlu bekerja!!!
 
Kuba, negeri miskin yang sejak 1961 diblokade oleh AS, juga memberi Pendidikan 
dan layanan gratis kepada penduduknya. Lain dengan Belanda, Swedia dan Negera 
Eropa barat lainnya yang membangun sistim kapitalis industry dengan memiliki 
koloni di Asia dan Afrika, Kuba sama sekali tidak menjajah negeri dan rakyat 
lain! Seharusnya anda pelajari sejarah blockade AS terhadap Kuba, supaya paling 
sedikit bias tahu (saya tidak mengharapkan anda menerimanya) bukan hanya 
negeri-negeri Eropa barat yang memberi Pendidikan gratis!! 
 
Saya mengerti sekali anda menganggap ide-ide yang memperjuangkan masyarakat 
adil dan makmur sebagai ide yang kedawularasa. Itu disebabkan anda dan saya 
tidak sama keberpihakannya, dan juga yang anda baca tidak sama dengan apa yang 
saya baca. Buktinya , anda sudah dengan serampangan dan ngawur menghakimi Karl 
Marx, seolah-olah dia goblok dan tidak tahu apa yang terjadi di Indonesia pada 
abad XIX..
 
Mao bilang kalua anda tidak tahu seluk beluk satu hal ihwal, anda tidak punya 
hak bicara tentang hal itu… apakah tidak betul dan logis kata-kata Mao ini? 
Apakah sudah kedaluwarsa ajaran itu? Kan sama dengan orang yang suka bilang, 
“jangan sok tahu!”
 
Anda tahu bagaimana kaum tani sekarang berjuang mempertahankan tanahnya dan 
menentang pertambangan di desa Wadas, Purwokerto? Jangan hanya mendongak 
keatas, sekali-sekali lihat juga ke bawah, ke pelosok tanah air dan lihat 
bagaimana kehidupan rakyat yang terpuruk!!!
 
 
 

 
Sent from Mail for Windows
 
From: 'B.H. Jo' via GELORA45
Sent: Saturday, February 12, 2022 11:27 AM
To: [email protected]; Tatiana Lukman; Tatiana Lukman' via GELORA45; Jaya 
Suprana; Chan CT
Subject: RE: [GELORA45] Warisan generasi aktual China kepada generasi yang akan 
datang
 
Pendapat Mbak Siti "jitu sekali" sesuai dgn pendapat saya dari dulu dimana 
Tatiana selalu gembar-gembor benci kapitalis tetapi maunya tinggal di negara 
kapitalis Belanda daripada di Cuba. Tetapi mana ada orang yg tidak mau utk 
hidup yg lebih enak. Ini yg namanya "munafik". Selain itu selalu gembar-gembor 
anti Tiongkok (yg telah bisa maju sekali karena sistim pemerintahannya yg 
sekarang ini). Sifat/tindakan seperti ini yg namanya "obsessi (obsession)" atau 
delusi (delusion) yg kemungkinan sekali karena sakit hati yg traumatis 
(traumatic).

BH Jo

Sent from Yahoo Mail on Android

On Sat, Feb 12, 2022 at 2:52 AM, Siti Sukrisno
<[email protected]> wrote:
Mbak, kalo benci kapitalis, kok tinggal di Belanda negara kapitalis ja? Kenapa 
nggak tinggal terus saja di Cuba atau milih Korea Utara? Uang tunjangan yg. 
mbak dapat di Belanda itu manis ja, lupa kalo uang tunjangan itu hasil dari 
sistem demokrasi negara2 dibarat, yg. nggak ditulis dibuku Karl Marx abad 
ke-19? Dan gimana dengan di Swedia, yg. juga negeri kapitalis tapi sampe 
sekolahpun digratiskan dan lain2 tunjangan sosial yg. lebih baik dari sistem 
sosialisnya Mao Tje-dong? Mbak, menurut saya pikiran mbak tsb. sudah 
kedaluwarsa, alias nggak sesuai dengan zaman sekarang, dan mungkin kalo di 
Indonesia, dampaknya utk. perjuangan rakyat Indonesia, sangat negatief sekali, 
karena baik extrem kiri maupun kanan nggak akan berhasil memperjuangkan 
masyarakat adil dan makmur di Indonesia.
Op 08-02-2022 20:18 schreef 'Tatiana Lukman' via GELORA45 
<[email protected]>:


OOOOh, betapa mulianya kaum kapitalis china yang menggelontorkan modalnya di 
Afrika!! Betapa besar kecintaan Nigeria pada Kaisar Xi Jinping yan dating 
menyebar sosialisme kakek deng Xiaoping melalui produknya termasuk yang palsu!! 
Ha…ha.. Oh, terima kasih, China yang sudah mengalahkan dan “mematikan”para 
saingan lokalnya. Penduduk yang berdemo menentang China yang menghilangkan 
pekerjaan mereka itu SALAH BESAR! Wong anjing budukannya sudah menjunjung 
tinggi sosialismenya kakek Deng, ah tidak betul itu menyalahkan china.. 
chinanya Xi Jinping itu selalu benar, mendatangkan perkembangan bagi penduduk 
Afrika.. ha…ha.. pepesan kosongnya anjing budukan!
Sudah tentu Kaisar Xi harus berusaha keras melawan kritik-kritik yang tak 
menguntungkannya,  termasuk para anjing-anjingnya yang juga selalu membela, 
walaupun dengan pepesan kosong !! 
Menjiplak seni orang Afrika, membawanya ke tanah airnya dan memproduksi untuk 
kemudian dijual balik ke Afrika.. Nah, itulah keahlian orang china didikan 
kakek Deng Xiaoping dalam cari duit untuk memperkaya diri..Kan menjadi kaya 
adalah MULIA.. Itulah mengabdi rakyatnya kakek Deng Xiaoping!!
Sudah tentu anjing budukan STT tak akan eprnah emngakui bahwa China memerlukan 
Afrika sebagai PASARNYA, DISEBABKAN OLEH EKONOMI CHINA SENDIRI YANG SEDANG 
MELAMBAT!! Salah satu issue yang menjadi rebutan kaum imperialis dunia adalah 
PASAR bagi produknya yang sudah kelebihan!!
Inilah penerapan Sosialisme dan solidaritasnya kakek Deng di Afrika!!!
In Nigeria, Chinese Investment Comes With a Downside
A Friendship That Comes With a Toll
9 Photos
View Slide Show›


Tyler Hicks/The New York Times
By Keith Bradsher and Adam Nossiter
•         Dec. 5, 2015
•          
o     
Emeka Ezelugha was excited to open a computer training center. He could teach 
his countrymen some skills and earn a living.
But soon after the center opened in a rough, two-story concrete building in 
Lagos, a blaze broke out in the main classroom. The flames incinerated 30 
desktop computers, as well as televisions and air-conditioners.
The culprit was unmistakable: one of two dozen power strips in the classroom. 
The faulty equipment was made in China, even though the salesman said it was 
British.
“The guy tried to convince me it was from the U.K. — I was surprised when it 
happened,” Mr. Ezelugha said.
 
Across this populous African nation, low-cost Chinese goods are everywhere, 
evidence of Beijing’s growing dominance in global trade. The trade flow has 
helped keep life affordable for millions of Nigerian families, at a time when 
the country is struggling with economic stagnation and plunging prices, as well 
as the deadly costs of the Boko Haram insurgency.
But shoddy or counterfeit products are a national problem in Nigeria, Africa’s 
largest economy, where impoverished consumers have few alternatives. Some 
shoddy goods are benign, like the Chinese-made shirts, trousers and dresses 
with uneven stitching and stray threads that fill street markets. But 
electrical wiring, outlets and power strips from China, ubiquitous in new homes 
and offices, are connected to dozens of fires a year in Lagos alone.
The relationship between China and Nigeria is a complex web of dependency, one 
replicated in dozens of developing countries around the world, like Chile, 
Ethiopia and Indonesia. Such ties are integral to China’s global ambitions. 
President Xi Jinping of China, who was in Africa this week emphasizing economic 
diplomacy, just committed $60 billion in development assistance to the 
Continent.
But such efforts also pose new and unpredictable challenges for Beijing. China 
has lent heavily to commodity-exporting countries, which are now struggling 
with low commodity prices. At the same time, China’s highly competitive 
manufacturing sector has devastated many smaller-scale rivals across Africa, 
Asia and Latin America. 
 
Mr. Xi’s pledge in Africa, in part, seemed aimed at quelling criticism over 
what some see as a lopsided relationship that largely benefits China.
To support its swelling trade in Nigeria, China is funneling billions of 
dollars to build roads, rail lines, airport terminals, power plants and other 
desperately needed infrastructure. China is the top lender to Nigeria, where 
political instability and violence have made Western interests skittish.
 
Nigeria, in turn, has become the biggest overseas customer of Chinese 
construction companies. It is an important market for Beijing, at a time when 
China’s own growth is slowing.
But China’s extensive reach is now meeting resistance in Nigeria, part of the 
broader risks for Beijing’s global strategy.
 
In Abuja, the capital, the new government is conducting anticorruption 
investigations into large Chinese construction contracts signed by the previous 
leadership. Nigerian state governments are struggling to pay for many of those 
projects, exposing China to potentially heavy losses.
 
In Kano, angry protesters in the streets blame widespread joblessness on China, 
which is manufacturing African fabric designs in shimmering hues more cheaply 
than Nigeria. Employment in Nigeria’s textile and apparel sector has plummeted 
to 20,000 people, from 600,000 two decades ago.
 
In Lagos, authorities are trying to stamp out subpar Chinese electric goods. 
Imported power strips and wiring have inadequate copper to handle Nigeria’s 
240-volt system, said Wanza Kussiy, the chief safety officer of the Nigerian 
government’s Standards Organization.
Zhang Sen, the vice secretary general of China’s government-controlled 
Electronic Product Association, said that the group was reviewing Nigeria’s 
fires. “We still need to do some research before we can say the quality of the 
Chinese products is to blame,” he said.
 
Nigerian authorities are stymied. Corruption is endemic, making it more 
difficult to enforce safety standards. And Chinese goods are so dominant that 
consumer have few other choices.
 
In Lagos, Mr. Ezelugha borrowed heavily to reopen his computer training center 
after the fire. But the power strips are still made in China. He couldn’t find 
anything else.
Idle Factories, Idle Hands
Kano’s cloth industry started in the walled ancient city, a labyrinth of mud 
brick houses and dirt roads.
The city’s blue dye has long been made from the leaves of local indigo plants, 
which are crushed and mixed with cooking ashes and potassium. Swaths of white 
cotton fabric are dunked in the dye, which fills six-foot-deep pits lined with 
animal skins.
 
But employment at the centuries-old dye pits has dropped to 250 people, from 
nearly 1,500 a decade ago. Chinese companies produce virtually identical 
patterns of fabrics using synthetic dyes, and their sales now dominate in 
Kano’s open-air market.
 
“They are learning our arts and taking them to their country and doing them 
similarly to us, and bringing the goods back to Nigeria and selling them to our 
people,” said Bala Ibrahim, 45, who has labored in the pits since his early 
teens. Now he spends whole days idle.
 
Such stories are common across Nigeria’s garment industry. The city’s 
tanneries, which made Moroccan leather from goatskins for centuries, have laid 
off most of their staffs. Dozens of modern fabric factories on the outskirts of 
Kano have closed.
 
In theory, Nigeria should have a manufacturing edge, at least in 
labor-intensive industries like sewing.
With high unemployment in Nigeria, factory owners can easily find workers 
willing to accept the minimum wage, just $80 a month. By comparison, garment 
factories in coastal China now pay around $550 a month and still can’t find 
enough workers.
Despite the high cost of labor, it remains cheaper and easier to mass-produce 
garments in China.
One obstacle to setting up a large-scale sewing industry like Bangladesh’s is 
that Nigeria imposes significant tariffs on imported fabric, a legacy of its 
past as a big producer of hand-woven fabric and as a large grower of cotton. 
Another challenge is that electricity from Nigeria’s national grid is 
unreliable. So operations must rely on diesel generators, buying fuel at a cost 
per kilowatt-hour generated that is six times what garment makers in China pay.
 
The Nigerian government wants to revive manufacturing, particularly given low 
prices now for its oil exports. Abdulkadir Musa, the recently retired permanent 
secretary of Nigeria’s ministry of industry, trade and investment, said the 
government was mulling reductions in tariffs on garment materials that are not 
produced in Nigeria, possibly including buttons. “We want to start that all 
over now that oil is no longer at a high price,” Mr. Musa said, adding that 
overreliance on oil exports “has been more of a problem for us than a solution.”
For now, Nigerians just can’t compete.
Chimezie Cyril Okwuosa scrimped for years to set up his own small garment 
factory near Lagos in 2005. He had 25 sewing machines, 30 workers and a noisy 
diesel generator. The factory failed within five years.
“I was spending so much on diesel that at the end of the day, I had no profit — 
and some days, there was no diesel at all, and I could not operate,” Mr. 
Okwuosa said.
Mr. Okwuosa now runs Greentomato Apparels, a small-scale importer of children’s 
trousers. He pays $2.50 a pair to a factory in Guangzhou, China, and then only 
10 or 12 cents a pair for shipping. He sells the pants for about $3.25 a pair, 
leaving him a small profit margin.
The collapse of manufacturing is more than just a financial issue.
It has also fanned worries about the possible spread of Boko Haram, an 
insurgency condemned for its large-scale abductions and sexual enslavement of 
women and girls. Boko Haram has drawn young men to its ranks in destitute 
northeastern Nigeria, the country’s poorest region.
Emir Muhammadu Sanusi II, the traditional ruler of Kano in northern Nigeria, 
has seen the devastation up close. Outside his palace, a low maroon building 
with battlements, is a large burn mark. Late last year, a group linked by the 
government to Boko Haram set off three bombs in a large crowd and then used 
automatic weapons to spray bullets at the survivors. As many as 500 people were 
killed.
 
“The Chinese basically copy every textile product in Nigeria,” Emir Sanusi 
said. “I worry about what could happen to Kano when we have a large number of 
youths and large numbers of industries are down.”
A Flood of Chinese Steel
At a Lagos steelyard of Dorman-Long Engineering, the only activity on a recent 
afternoon was the welding of an oil storage tank. With the steep drop in world 
oil prices, longtime customers like Exxon Mobil and Royal Dutch Shell are no 
longer commissioning as many helipads and footbridges for their offshore 
drilling platforms.
The locally owned engineering firm had expected Chinese construction companies 
operating in Nigeria to help offset the slump. But Chinese construction 
companies, mostly state-owned, have largely imported their steel girders, 
reinforcing beams and other materials from home.
“I just don’t see a lot of local content in what they do,” said Timi 
Austen-Peters, the company’s chairman.
Infrastructure financed and built by China was supposed to be the great hope 
for Nigeria.
Nigeria endured coups and a civil war in the 1960s, then effectively 
nationalized many foreign-owned companies in the 1970s. Nigeria developed a 
reputation for breaking or renegotiating contracts, antagonizing many foreign 
partners.
The risks have prompted Western companies to demand very fat profits before 
putting money into the country — returns on the order of 25 to 40 percent a 
year. Their Chinese counterparts have been willing to accept 10 percent or less.
“Unless the West changes its risk assessment, the Chinese will beat them to the 
African market,” said Osadebe Osakwe, a former Nigerian banker who is now the 
managing director of North China Construction Nigeria. The company is a 
subsidiary of a state-owned enterprise in Beijing. “The Chinese are trying to 
prove that they can do what the Western companies can do and they can do it 
better.”
 
Chinese companies have piled into the country. Mostly state-owned Chinese 
construction companies have started $24.6 billion worth of projects since 2005, 
the highest of anywhere in the world, according to the American Enterprise 
Institute, a Washington research group.

The World According to China
China’s enormous overseas spending has helped it displace the United States and 
Europe as the leading financial power in large parts of the developing world.
 
“Africa has a real demand for infrastructure and industrial developments — in 
those areas, China has strong ability and surplus capacity to invest and 
build,” China’s prime minister, Li Keqiang, said during a visit to Nigeria last 
year.
 
But as demand at home falters, Chinese companies have been shipping huge 
quantities of steel girders, piping and other industrial materials at extremely 
low prices to emerging markets like Nigeria. So there is little benefit for 
local players like Dorman-Long Engineering that used to fabricate much of this 
equipment.
Executives at Chinese construction companies say they do buy some local 
materials. But they add that China’s exports are often more readily available 
and better made, so they can be quickly and reliably included in complex 
projects.
 
The new Nigerian government is starting to question whether all the 
construction projects are in the country’s best interest. Many projects, like 
new international or refurbished airport terminals in Lagos, Abuja, Kano and 
Port Harcourt, help the country’s elite but may do less for the poor.
 
The new government is now searching for signs of fraud, corruption or other 
misconduct in existing contracts. President Muhammadu Buhari of Nigeria 
announced on Aug. 10 that his government had already found that hundreds of 
millions of dollars were mysteriously diverted from one Chinese-backed rail 
project to other government projects, although it was not immediately clear if 
corruption was involved.
Bullet Train Boondoggle
The pride of the previous Nigerian administration, which left office in May, 
was supposed to be a new passenger train line that links Abuja to Kaduna. With 
trains traveling at nearly 120 miles per hour, the $874 million line is 
supposed to cut the three-hour highway trip in half.
But the line may not draw many passengers.
A graceful new train station is a 40-minute drive from downtown, surrounded by 
cornfields and cow pastures. The extension of the line into downtown Abuja has 
been severely delayed, and money is running short for its completion. And even 
though Nigeria desperately needs more freight trains, the rail line with its 
fragile-looking bridges is too lightly built to support heavily laden cargo 
cars.
 
The fate of the line — like dozens of Chinese projects around Nigeria — is a 
potential problem for Beijing.
Infrastructure projects in Nigeria have been fueled by the same manic lending 
that has also created mountains of debt for China’s economy at home. 
State-controlled Chinese banks have lent money at rock-bottom interest rates in 
deeply indebted Nigeria.
They have done so based on the assumption that the Chinese government will 
repay them if Nigeria cannot.
A little-known Chinese government agency, Sinosure, has guaranteed the loans. 
Sinosure insured $427 billion worth of Chinese exports and overseas 
construction projects around the world in 2013, the most recent year available. 
The Export-Import Bank of the United States, by comparison, issued just $5 
billion worth of credit in each of the last two years.
Nigeria is a particularly shaky bet for China. The corruption investigations 
could prompt the government to cancel contracts outright. Government revenue 
has dropped by more than half since the fall in world oil prices, so the 
country may not have the money to make good on the Chinese deals.
 
The riskiest projects of all may be those like the high-speed rail line that 
are widely viewed as the previous administration’s vanity projects.
A Chinese construction manager at the new station on Abuja’s outskirts, who 
identified himself only as Mr. Zhang, said the project would be finished by 
next March. It was only behind schedule, he added, because of shipping delays.
“We’re waiting for materials from China,” Mr. Zhang said, “like toilets.”
Owen Guo contributed research from Beijing.
A version of this article appears in print on Dec. 6, 2015, Section BU, Page 1 
of the New York edition with the headline: A Friend With Detriments. Order 
Reprints | Today’s Paper | Subscribe
 
 
Sent from Mail for Windows
 
From: Jaya Suprana
Sent: Tuesday, February 8, 2022 1:35 AM
To: Chan CT
Cc: GELORA45_In; Tatiana Lukman
Subject: Re: [GELORA45] Warisan generasi aktual China kepada generasi yang akan 
datang
 
Saya mengagumi debat antara kakek Chan dan nenek Tiana yang dengan penuh 
semangat kearifan membela keyakinan masing-masing dengan penuh humor tanpa 
horror kebencian. 

On Tue, 8 Feb 2022 at 07.29 Chan CT <[email protected]> wrote:
Apa yang hendak dikatakan nenek Tatiana ini, ...??? Dari apa yang dinyatakan 
Prof. Sun ini sudah bisa membuat kesimpulan RRT PASTI BANKRUT? Begitulah mimpi 
INDAH nenek dalam tempurung selama puluhan tahun ini, menjadi makin berang 
setelah harapannya berulang kali GAGAL, di Tahun Macan ini, begitu mendengar 
pernyataan Prof. Sun yang mengungkap sisi negatif yang terjadi di Tiongkok, 
segera saja disamber mimpi selama ini segera akan terwujudkan menjadi 
kenyataan! RRT bankrut! Hehehee, ...
 
Iyaaa, ... kalau saja pemerintah Tiongkok TIDAK BERHASIL menangani dan 
mengatasi masalah-masalah konkrit yang diterjadi sebagaimana diajukan Prof. Sun 
itu, dan kalau saja PKT betul-betul meninggalkan 4 Prinsip Jalan Sosialisme, 
sepenuhnya MENGABDI RAKYAT, menjadikan KEPENTINGAN RAKYAT yang diutamakan, ... 
Tentu mimpi nenek satu ini akan menjadi kenyataan. RRT akan roboh sebagaimana 
PKUS roboh dengan sendirinya ditahun 1991, ... Itulah perjuangan BENAR dan 
SALAH yang selalu dan setiap saat terjadi didalam PKT! Disetiap langkah 
kemajuan selalu terjadi perjuangan antara pendapat yang BENAR dan SALAH, dan 
adalah juga kenyataan dalam setiap proses kemajuan akan terjadi segi positif 
dan segi negatif! Yang menjadi masalah, bagaimana PKT bisa memanangkan 
pendapat/pemikiran yang BENAR dan mendorong maju segi POSITIF untuk TERUUUS 
MAJUUU lebih baik dan lebih cepat!
 
Perubahan kondisi pandemi yang melanda dunia, termasuk di Tiongkok sendiri, 
berdampak cukup serius! Sementara pengusaha UMKM, bahkan konglomerat macam Grup 
Evergrande menghadapi krisis keuangan terancam bankrut dan mengakibatkan 
belasan juta penganggur adalah kenyataan yang harus dihadapi dan diatasi 
pemerintah, ... Dari pengalaman menghadapi krisis ekonomi yang juga menerjang 
Tiongkok diakhir tahun 1997, 2008, ... cara RRT menangani dengan memilah pantas 
dan perlu tidak perusahaan bankrut itu diselamatkan demi kepentingan rakyat 
banyak! Tentu saja diselamatkan menjadi BUMN! Yang terjadi puluhan tahun itu, 
BUMN jadi makin besar dan kuat, ... Mendorong maju ekonomi nasional! Banyak 
pakar ekonomi menyatakan, RRT akhirnya akan menelan semua kapitalis 
perseorangan menjadi BUMN, ... Benar begitu?
 
Tidak juga, kenyataan tetap saja kapitalis perseorangan bahkan modal asing 
masuk menanamkan modalnya di Tiongkok, ... Tiongkok tetap saja merupakan pasar 
terbesar didunia dan usaha AS, khususnya Trump mencabut pengusaha AS dari RRT 
juga nampak tidak berhasil! RRT TETAP menjadi pabrik dunia, belum ada negara 
lain yang berhasil menggantikan posisi rantai produksi yang cukup menyeluruh, 
... Menjadi DASAR landasan RRT yang kuat untuk teruuus MAAAJUUUUUU!!!
 
 
 
From: 'Tatiana Lukman' via GELORA45 
Sent: Tuesday, February 8, 2022 2:25 AM
To: 'Jonathan Goeij' via GELORA45 
Subject: [GELORA45] Warisan generasi aktual China kepada generasi yang akan 
datang
 
 

https://youtu.be/JM6JCXcmVNo
 

[China-WTO Part 2] Foretelling China’s legacy in the future, the price of 
economic growth
 
Anjing jaga remo STT sering menantang kita bahwa sejarah akan membuktikan 
“kejayaan” China yang dibangun oleh reform kapitalis kakek Deng Xiaoping. Saya 
masih hidup dan sudah menyaksikan dampak dari integrasi ekonomi Tiongkok ke 
dalam sistim kapitalis dunia yang membuatnya tidak terlindungi dari krisis 
finans dan ekonomi dunia. Lain dengan sosialisme zaman Mao yang dibangun dengan 
berdikari, tanpa satu senpun dari IMF, Bank Dunia atau korporasi multinasional, 
yang mana melindunginya dari segala macam goncangan dan krisis dunia. 
 
Anjing bulldog remo serta konco2nya, penganut ideologi neoliberal melihat 
perkembangan atau pertumbuhan ekonomi hanya dari per-tumbuhan GDP, eksport, 
surplus dalam perdagangan dan besarnya reserve devisa. Reform kapitalis kakek 
Deng Xiaoping telah mengu-bah Tiongkok menjadi pabrik dunia. 
 
Mereka bangga dengan produk made in china, walaupun tetap menyandang nama Dell, 
Apple, etc. Penderitaan kaum buruh migran, penyusutan tanah pertanian karena 
dialihfungsikan menjadi infrastruktur raksasa, pusat-pusat perdagangan dan 
perumahan mewah, polusi udara, tanah dan air sebagai akibat dari pembangunan 
infrastruktur dan pabrik-pabrik padat karya yang sama sekali tidak mengindahkan 
masalah lingkungan telah menimbulkan berbagai penyakit bagi pekerja dan 
penduduk. Tapi sudah tentu bagi anjing budukan remo, semua itu diremehkan, sama 
dengan semua kaum kapitalis monopoli /imperialis dalam memandang climat change.
 
Pembungkaman pendapat, penindasan terhadap mereka yang berani bicara sudah 
menjadi pengetahuan umum dan ini membuat orang takut akan konsekwensinya kalau 
mau dengan jujur mengemukakan keadaan yang sebenarnya atau pendapatnya yang 
bertentangan dengan versi resmi. Persis seperti zaman ORBA Suharto. Tapi ada 
juga orang-orang yang berani mengambil resiko. Anjing remo STT sangat 
meremehkan orang-orang seperti itu, karena jumlahnya masih sedikit, maka dengan 
menghina dia bisa bilang “segelintir” orang. Dia lupa PKT didirikan oleh 
segelintir orang, hanya 12 orang. 
 
Di antara mereka yang berani mengemukakan pendapatnya  adalah prof. Sun Liping 
yang mengajar sosiologi di Universitas Peking dan Tsinghua. Pastilah, anjing 
remo ini akan melihat prof. Sun sebagai orang yang liberal dan pro AS. Seperti 
biasa, anjing remo STT tidak pernah mau membicarakan “apa yang dikemukakan”oleh 
seseorang, yang dia persoalkan hanya “siapa yang mengemukakan pendapat itu”. 
Dengan memberi cap kepada “pembawa berita”, selesailah soalnya. Seperti 
B(urhanudin) H(arahap) Jo yang dengan sewenang-wenang menuduh orang “agen CIA”, 
etc. Begitu picik dan kerdilnya cara berpikir para pendukung rezim 
kapitalis-imperialis China.
 
Yang menarik perhatian, peran prof. Sun dalam pemberian PHD kepada sang kaisar 
Xi!!! Silahkan nonton video di mana prof. Sun bicara tentang warisan generasi 
sekarang kepada generasi 30 sampai 75 tahun yang akan datang! Bertolak belakang 
dengan impian anjing remo STT yang masih terus ngeloni bangkai PKT!
 
Sent from Mail for Windows
 
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1267680413.646840.1644258308283%40yahoo.com.
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/484D742660704FE8AA79DED5D9216467%40A10Live.
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CALcuTPR5Q%3D0b_6e%3DbM30G5TB7ioj57_OTznuZEnaEmgc%2BW%3DVjg%40mail.gmail.com.
 

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. 
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected]. 
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1790999506.614258.1644347915534%40yahoo.com.

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1801195507.1275479.1644655916199%40kpc.webmail.kpnmail.nl
.
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1254232955.551707.1644661236307%40mail.yahoo.com.
 

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. 
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected]. 
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/56997986.32238.1644679633468%40yahoo.com.
 
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2053383364.1338737.1644707118044%40kpc.webmail.kpnmail.nl.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1541404129.59383.1644782347158%40yahoo.com.

Reply via email to