Jasa Ukraina-Soviet Tak Terlupakan untuk IndonesiaUkraina berperan penting 
dalam pengakuan masalah Indonesia di PBB pada masa kemerdekaan. PBB harus 
campur tangan atas keadaan bahaya di Indonesia.

Foto: Demo ucapan terimakasih dari rakyat Indonesia kepada Ukraina (Ipphos)

Jumat, 4 Maret 2022
https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20220304/Jasa-Ukraina-Soviet-Tak-Terlupakan-untuk-Indonesia/Menteri
 Luar Negeri Ukraina periode 1944-1952, Dmitry Manuilsky atau Dmytro 
Zakharovych Manuilsky, terbilang gigih ketika memperjuangkan pengakuan 
kemerdekaan Republik Indonesia dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan 
Bangsa-Bangsa (PBB). Pria kelahiran Volhinia, Ukraina Barat, 3 Oktober 1883, 
itu, merupakan Ketua Utusan Republik Soviet Sosialis Ukraina di PBB.
Menurut situs Musnasprok (Museum Nasional Perumusan Naskah Proklamasi), Dmitry 
juga sempat menjadi Duta Besar Ukraina untuk PBB. Posisinya yang strategis 
inilah yang dikemudian kelak membawa pengaruh besar kepada Indonesia yang baru 
lahir. Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir dalam sebuah konferensi pers pada 4 
Desember 1945 menyatakan, perlu campur tangan PBB untuk mencari jalan terbaik 
memecahkan persoalan di Indonesia.
Untuk itu, Sjahrir mengirim surat dan dokumen-dokumen penting kepada Sidang 
Umum PBB yang pertama pada 10 Januari 1946 di Church House Westminster, London, 
Inggris. Mengenai tuntutan Sjahrir tersebut, Menteri Luar Negeri Belanda, Eelco 
van Kleffens, yang turut hadir dalam sidang menerangkan, usul Indonesia dapat 
dilakukan dalam sidang Dewan Keamanan PBB, jika usul itu didukung oleh satu 
negara anggota PBB.
Gayung pun bersambut. Dmitry Manuilsky untuk kali pertama mengajukan masalah 
Indonesia kepada DK PBB pada 21 Januari 1946. Dalam suratnya, Dmitry 
menyatakan, keadaan di Indonesia membahayakan perdamaian dan keamanan dunia. 
Dia mendesak agar Dewan Keamanan PBB segera mengambil tindakan sesuai Pasal 34 
Piagam PBB, yaitu menyelidiki setiap pertikaian yang dapat mengancam perdamaian 
dan keamanan internasional.

 
Dmitry Manuilsky
Foto : sfmuseum.org
Dalam Sidang Umum PBB pada 25 Januari 1946, Dmitry mendapatkan dukungan dari 
Edward Stettinius, utusan Amerika Serikat, dan Abdel Hamid Badawy Pasha, utusan 
dari Mesir. Sidang Dewan Keamanan PBB terkait Indonesia berlangsung alot selama 
enam hari, yaitu dari tanggal 7 hingga 13 Februari 1946.
Usulan Dmitry mendapatkan tambahan dukungan dari delegasi Uni Soviet, Polandia, 
Mexico, dan Tiongkok. Sementara penentangnya adalah delegasi dari Belanda, 
Inggris, Perancis, Brazil, dan Amerika Serikat.
Dalam setiap sidang, Dmitry bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Indonesia dalam 
keadaan berbahaya sehingga PBB harus campur tangan. Ketika Ukraina mengusulkan 
soal Indonesia dibahas dalam sidang DK PBB, sejak itu pula sengketa 
Indonesia-Belanda menjadi sengketa internasional sepenuhnya.
Menurut catatan Kementerian Luar Negeri RI yang diunggah situs Kemenlu.go.id, 
periode 1945-1950 merupakan periode perjuangan diplomasi bangsa Indonesia untuk 
mencari pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan dan kedaulatan bangsa 
setelah proklamasi 17 Agustis 1945. Peran Uni Soviet dalam perjuangan bangsa 
Indonesia ini sangat besar.
Tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan RI mengharapkan dukungan dan bantuan dari Uni 
Soviet. Di PBB, Uni Soviet berkali-kali mengangkat masalah Indonesia dan 
menuntut PBB untuk menghentikan agresi militer Belanda, serta menghimbau dunia 
internasional untuk mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka.
 
Sutan Sjahrir (kanan) dan Presiden Soekarno
Foto: Ipphos/Perpustakaan Nasional 
Dmitry Manuilsky dalam pertemuan DK PBB mengangkat masalah mengenai keadaan di 
Indonesia dan mengecam Agresi Militer Belanda. Selain itu, Uni Soviet membela 
Indonesia dalam pertemuan-pertemuan di organisasi PBB serta organisasi 
internasional lainnya.
Misalnya, pada tahun 1947-1948 dalam sidang United Nations Economic and Social 
Council (ECOSOC) atau Dewan Ekonomi dan Sosial PBB mengajukan sejumlah usulan 
untuk diakuinya kedaulatan Indonesia. Dalam konferensi Delhi bulan Januari 
1949, Uni Soviet mengecam Agresi Militer terhadap Indonesia dan menghimbau 
dunia internasional untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.
Dukungan Uni Soviet tersebut disambut gembira oleh bangsa Indonesia dan 
berbagai ungkapan rasa terima kasih tercermin dari surat atau pidato-pidato 
yang disampaikan antara lain oleh Ali Sastroamidjojo, Djuanda, Sartono, Wilopo 
dan Adam Malik kepada utusan Uni Soviet di PBB, seperti Andrey Andreyevich 
Gromyko, Dmittry Manuilsky, dan Valerian Zorin.
Diplomat Indonesia yang merupakan Wakil Indonesia di PBB, L.N. Palar 
menyampaikan, sejak tahun-tahun pertama keberadaan PBB, sudah terjalin hubungan 
tidak resmi antara delegasi kedua negara di PBB. Ditambahkan, bangsa Indonesia 
menyampaikan ungkapan terima kasih atas dukungan yang diberikan delegasi Uni 
Soviet terhadap delegasi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
 
Sidang perdana PBB yang berlangsung pada 10 Januari 1946 di London, Inggris
Foto : News.un.org
Pada rapat tanggal 1 Mei 1946 di Yogyakarta, Presiden Soekarno menyampaikan, 
pemerintah Indonesia siap menjalin hubungan dengan Uni Soviet dan mendirikan 
perwakilan masing-masing di Jakarta dan Moskow. Untuk memperjuangkan Indonesia 
di wilayah Eropa Timur, Presiden Sokearno memberikan perwakilan Indonesia di 
Praha, Suripno dalam perundingan dan menjalin persahabatan dengan negara-negara 
Eropa Timur pada Desember 1947.
Pada bulan Mei 1948 dilakukan perundingan antara Duta Besar Uni Soviet untuk 
Czechoslovakia, M. Silin dengan Suripno dan disepakati untuk menjalin hubungan 
kedua negara pada tingkat konsul. Persetujuan Konsuler ditandatangani oleh 
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Haji Agus Salim.
Ini menunjukan adanya hubungan antara Indonesia dengan Uni Soviet pada masa 
revolusi di Indonesia. Tetapi kesepakatan tersebut tidak dapat terealisasi 
sehubungan dengan gejolak politik dalam negeri Indonesia, seperti peristiwa 
Madiun dan Agresi Militer Belanda.

--------------------------------------------------------------------------------
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6D3C9501CC894CB4A479FC26B4725A40%40A10Live.

Reply via email to