Zaman itu USSR mempunyai 3 suara di PBB, yaitu Soviet Rusia, Belarus (White Russia) dan Ukrania.
On Sat, Mar 5, 2022 at 12:52 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > Jasa Ukraina-Soviet Tak Terlupakan untuk Indonesia > > Ukraina berperan penting dalam pengakuan masalah Indonesia di PBB pada > masa kemerdekaan. PBB harus campur tangan atas keadaan bahaya di Indonesia. > > Foto: Demo ucapan terimakasih dari rakyat Indonesia kepada Ukraina (Ipphos) > Jumat, 4 Maret 2022 > > https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20220304/Jasa-Ukraina-Soviet-Tak-Terlupakan-untuk-Indonesia/ > > Menteri Luar Negeri Ukraina periode 1944-1952, Dmitry Manuilsky atau > Dmytro Zakharovych Manuilsky, terbilang gigih ketika memperjuangkan > pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia dalam sidang Dewan Keamanan > Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pria kelahiran Volhinia, Ukraina Barat, 3 > Oktober 1883, itu, merupakan Ketua Utusan Republik Soviet Sosialis Ukraina > di PBB. > > Menurut situs Musnasprok (Museum Nasional Perumusan Naskah Proklamasi), > Dmitry juga sempat menjadi Duta Besar Ukraina untuk PBB. Posisinya yang > strategis inilah yang dikemudian kelak membawa pengaruh besar kepada > Indonesia yang baru lahir. Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir dalam sebuah > konferensi pers pada 4 Desember 1945 menyatakan, perlu campur tangan PBB > untuk mencari jalan terbaik memecahkan persoalan di Indonesia. > > Untuk itu, Sjahrir mengirim surat dan dokumen-dokumen penting kepada > Sidang Umum PBB yang pertama pada 10 Januari 1946 di Church House > Westminster, London, Inggris. Mengenai tuntutan Sjahrir tersebut, Menteri > Luar Negeri Belanda, Eelco van Kleffens, yang turut hadir dalam sidang > menerangkan, usul Indonesia dapat dilakukan dalam sidang Dewan Keamanan > PBB, jika usul itu didukung oleh satu negara anggota PBB. > > Gayung pun bersambut. Dmitry Manuilsky untuk kali pertama mengajukan > masalah Indonesia kepada DK PBB pada 21 Januari 1946. Dalam suratnya, > Dmitry menyatakan, keadaan di Indonesia membahayakan perdamaian dan > keamanan dunia. Dia mendesak agar Dewan Keamanan PBB segera mengambil > tindakan sesuai Pasal 34 Piagam PBB, yaitu menyelidiki setiap pertikaian > yang dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional. > > Dmitry Manuilsky > *Foto : sfmuseum.org <http://sfmuseum.org>* > > Dalam Sidang Umum PBB pada 25 Januari 1946, Dmitry mendapatkan dukungan > dari Edward Stettinius, utusan Amerika Serikat, dan Abdel Hamid Badawy > Pasha, utusan dari Mesir. Sidang Dewan Keamanan PBB terkait Indonesia > berlangsung alot selama enam hari, yaitu dari tanggal 7 hingga 13 Februari > 1946. > > Usulan Dmitry mendapatkan tambahan dukungan dari delegasi Uni Soviet, > Polandia, Mexico, dan Tiongkok. Sementara penentangnya adalah delegasi dari > Belanda, Inggris, Perancis, Brazil, dan Amerika Serikat. > > Dalam setiap sidang, Dmitry bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Indonesia > dalam keadaan berbahaya sehingga PBB harus campur tangan. Ketika Ukraina > mengusulkan soal Indonesia dibahas dalam sidang DK PBB, sejak itu pula > sengketa Indonesia-Belanda menjadi sengketa internasional sepenuhnya. > > Menurut catatan Kementerian Luar Negeri RI yang diunggah situs > Kemenlu.go.id, periode 1945-1950 merupakan periode perjuangan diplomasi > bangsa Indonesia untuk mencari pengakuan dunia internasional atas > kemerdekaan dan kedaulatan bangsa setelah proklamasi 17 Agustis 1945. Peran > Uni Soviet dalam perjuangan bangsa Indonesia ini sangat besar. > > Tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan RI mengharapkan dukungan dan bantuan dari > Uni Soviet. Di PBB, Uni Soviet berkali-kali mengangkat masalah Indonesia > dan menuntut PBB untuk menghentikan agresi militer Belanda, serta > menghimbau dunia internasional untuk mengakui Indonesia sebagai negara yang > merdeka. > > Sutan Sjahrir (kanan) dan Presiden Soekarno > *Foto: Ipphos/Perpustakaan Nasional * > > Dmitry Manuilsky dalam pertemuan DK PBB mengangkat masalah mengenai > keadaan di Indonesia dan mengecam Agresi Militer Belanda. Selain itu, Uni > Soviet membela Indonesia dalam pertemuan-pertemuan di organisasi PBB serta > organisasi internasional lainnya. > > Misalnya, pada tahun 1947-1948 dalam sidang United Nations Economic and > Social Council (ECOSOC) atau Dewan Ekonomi dan Sosial PBB mengajukan > sejumlah usulan untuk diakuinya kedaulatan Indonesia. Dalam konferensi > Delhi bulan Januari 1949, Uni Soviet mengecam Agresi Militer terhadap > Indonesia dan menghimbau dunia internasional untuk mengakui kemerdekaan > Indonesia. > > Dukungan Uni Soviet tersebut disambut gembira oleh bangsa Indonesia dan > berbagai ungkapan rasa terima kasih tercermin dari surat atau pidato-pidato > yang disampaikan antara lain oleh Ali Sastroamidjojo, Djuanda, Sartono, > Wilopo dan Adam Malik kepada utusan Uni Soviet di PBB, seperti Andrey > Andreyevich Gromyko, Dmittry Manuilsky, dan Valerian Zorin. > > Diplomat Indonesia yang merupakan Wakil Indonesia di PBB, L.N. Palar > menyampaikan, sejak tahun-tahun pertama keberadaan PBB, sudah terjalin > hubungan tidak resmi antara delegasi kedua negara di PBB. Ditambahkan, > bangsa Indonesia menyampaikan ungkapan terima kasih atas dukungan yang > diberikan delegasi Uni Soviet terhadap delegasi Indonesia dalam > memperjuangkan kemerdekaan. > > Sidang perdana PBB yang berlangsung pada 10 Januari 1946 di London, Inggris > *Foto : News.un.org <http://News.un.org>* > > Pada rapat tanggal 1 Mei 1946 di Yogyakarta, Presiden Soekarno > menyampaikan, pemerintah Indonesia siap menjalin hubungan dengan Uni Soviet > dan mendirikan perwakilan masing-masing di Jakarta dan Moskow. Untuk > memperjuangkan Indonesia di wilayah Eropa Timur, Presiden Sokearno > memberikan perwakilan Indonesia di Praha, Suripno dalam perundingan dan > menjalin persahabatan dengan negara-negara Eropa Timur pada Desember 1947. > > Pada bulan Mei 1948 dilakukan perundingan antara Duta Besar Uni Soviet > untuk Czechoslovakia, M. Silin dengan Suripno dan disepakati untuk menjalin > hubungan kedua negara pada tingkat konsul. Persetujuan Konsuler > ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Haji Agus Salim. > > Ini menunjukan adanya hubungan antara Indonesia dengan Uni Soviet pada > masa revolusi di Indonesia. Tetapi kesepakatan tersebut tidak dapat > terealisasi sehubungan dengan gejolak politik dalam negeri Indonesia, > seperti peristiwa Madiun dan Agresi Militer Belanda. > ------------------------------ > > *Penulis:* M Rizal > *Editor:* Irwan Nugroho > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6D3C9501CC894CB4A479FC26B4725A40%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6D3C9501CC894CB4A479FC26B4725A40%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Cc5ihon-5VRq3mZt0rfp-PJiQ305Yyuq1x%2Bu8VPOabCQ%40mail.gmail.com.
