Written byS13Wednesday, March 9, 2022 08:19Jokowi Presiden Terkuat Setelah 
Soeharto?


Periode kedua kekuasaan Presiden Jokowi memang baru separuh jalan. Namun, 
berbagai dinamika yang terjadi beberapa waktu terakhir sudah lebih dari cukup 
untuk menggambarkan warisan politik mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Dihantui 
oleh “kutukan periode kedua” yang umumnya menggambarkan lemahnya kekuasaan di 
periode kedua, nyatanya Jokowi ada di puncak kekuatan politiknya. Berbagai 
ulasan scholar dan pengamat bahkan menyebut periode kekuasaan Jokowi adalah 
yang terkuat sejak Reformasi 1998. Benarkah demikian?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “All things are subject to interpretation whichever interpretation prevails 
at a given time is a function of power and not truth”.

  ::Friedrich Nietzsche::

Menyebut Jokowi sebagai presiden yang kuat sebetulnya bukan tanpa alasan. Jika 
merunut hasil survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas beberapa waktu lalu, 
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi mengalami peningkatan dan ada di 
angka 75 persen.

Menariknya lagi, pencapaian di survei tersebut adalah yang tertinggi sejak 
tahun 2015 lalu. Ya, tertinggi sejak pertama kali Jokowi menjabat.

Fakta itu menjadi hal yang penting untuk dijadikan catatan mengingat dalam 2 
tahun terakhir Indonesia dihadapkan pada periode sulit ketika pandemi Covid-19 
menghantam segala sektor kehidupan dan melahirkan kesulitan di sana-sini. 
Kemampuan Jokowi menekan kemungkinan gejolak dari setiap kebijakan yang diambil 
pemerintah dianggap sebagai pembenaran fakta posisi politiknya yang makin 
stabil dan kuat.

Konteks menguatnya posisi politik Jokowi ini disoroti secara spesifik oleh 
Profesor Greg Fealy dari Australian National University. Dalam ulasannya di 
East Asia Forum, Fealy menyebut pemerintahan Jokowi kini berdiri di dua trend. 
Pertama adalah kecenderungan semakin mengakarnya atau menguatnya posisi politik 
presiden, dan yang kedua adalah adanya fenomena pembalikkan reformasi demokrasi 
dan hak asasi manusia.

- Advertisement -Kondisi-kondisi tersebut beralasan jika melihat bagaimana 
pemerintahan Presiden Jokowi meng-handle berbagai isu yang berkembang di 
masyarakat. Sejak pembubaran ormas-ormas macam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) 
dan Front Pembela Islam (FPI), narasi kontra demokrasi memang menjadi 
interpretasi utamanya.

Sementara pengesahan aturan macam omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja telah 
bergerak keluar dari intisari demokrasi dalam pembuatan kebijakan atau produk 
hukum yang seharusnya mendasarkan diri pada aspirasi masyarakat. Ini belum soal 
hak-hak masyarakat sipil yang kini jadi pergunjingan pasca kasus-kasus macam 
sengketa tambang di Desa Wadas beberapa waktu lalu.

Tentu pertanyaan yang kemudian muncul adalah benarkah Jokowi telah berubah dari 
status presiden terlemah dalam sejarah Indonesia – demikian yang pernah 
diungkapkan oleh Profesor Jeffrey Winters di tahun 2015 lalu – menjadi presiden 
terkuat yang dimiliki Indonesia pasca Reformasi 1998?

 
The Mastery of Jokowi
Status presiden terlemah yang pernah disematkan oleh Jeffrey Winters muncul 
bukan tanpa alasan. Ia berangkat dari predikat Jokowi yang bukan seorang elite 
partai politik nasional katakanlah layaknya Megawati Soekarnoputri.

Bahkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam segala kekurangannya dan 
gonjang-ganjing kekuasaannya adalah pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) – 
hal yang membuat status politiknya juga lebih superior dibandingkan Jokowi yang 
hanya kader partai biasa.
Lalu, Jokowi juga bukan petinggi militer layaknya Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY). Faktor militer ini penting karena menjadi salah satu variabel penentu 
kekuasaan seseorang – meminjam kata-kata pemimpin Tiongkok Mao Zedong: 
“Political power grows out of the barrel of a gun”. Kekuatan politik keluar 
dari balik senjata. Jokowi jelas tak berstatus penguasa senjata dalam konteks 
status kemiliteran.

- Advertisement -Lalu, apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Jokowi sehingga 
posisi politiknya menjadi kuat seperti sekarang ini?

Well, jika berkaca dari para pemikir macam Thomas Hobbes atau Carl Schmitt, 
salah satu faktor penentu pengaruh politik seseorang adalah legitimasi 
politiknya. Hobbes membahasakannya dalam relasi konsep dominium atau dominion 
yang umumnya identik dengan apa yang disebut sebagai controlling power.

Dominium itu sendiri berasal dari kata dominus yang artinya tuan. Dengan 
demikian, political power bisa hadir jika seorang pemimpin mampu mengukuhkan 
status relasi tuan-hamba. Dalam konteks Jokowi, sangat mungkin mantan Wali Kota 
Solo itu memahami konteks controlling power ini.

Sementara Schmitt menekankan pada apa yang disebut sebagai constituent power 
atau kekuasaan konstituen. Ini umumnya mengacu pada legitimasi kepemimpinan 
sebagai akibat dari pemberian suara masyarakat. Jokowi jelas punya modal 
constituent power ini jika berkaca dari popularitas dan bagaimana ia diterima 
di masyarakat luas.

Kalau berkunjung ke wilayah Indonesia Timur – misalnya di Nusa Tenggara Timur – 
Jokowi disambut layaknya raja, idola, mungkin juga ada yang menganggapnya 
sebagai Ratu Adil. Dan Jokowi sadar betul kebesaran citra politiknya tersebut.

 
Jokowi Akan Tetap Kuat
Pada titik ini, Jokowi memang bisa dianggap berhasil mencapai apa yang disebut 
sebagai political mastery. Beberapa penulis macam Colin Gautrey dari Warwick 
Business School menyebutkan bahwa political mastery berdiri di atas beberapa 
pilar.

Pilar-pilar tersebut adalah “motif” yang merujuk pada pemahaman tentang agenda, 
lalu ada “konteks” yang merujuk pada pemahaman keseluruhan situasi, kemudian 
“strategi” yang merujuk pada tujuan dan cara mencapainya, lalu “kesimpulan” 
merujuk pada kemampuan menganalisis secara menyeluruh, kemudian “keputusan” 
yang merujuk pada pembuatan keputusan yang tepat, dan yang terakhir adalah 
“aksi” yang merujuk pada kemampuan untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang 
harus diambil.

Jika mampu mensinergikan semua pilar tersebut, niscaya seseorang akan mampu 
menjadi master atau tuan dalam politik.
Kemudian, sudah jadi rahasia umum bahwa seorang pemimpin yang berkuasa di 2 
periode akan mengalami fenomena pelemahan kekuasaan – hal yang sering 
dibahasakan sebagai lame duck period. Ini terjadi karena di sistem politik yang 
membatasi kekuasaan presiden hanya sampai 2 periode, ada kecenderungan sang 
penguasa dianggap tak lagi menjadi penentu keberlanjutan politik di periode 
berikutnya sebab ia tak bisa lagi mencalonkan diri untuk periode selanjutnya.

Namun, dalam kasus Jokowi, banyak yang menilai bahwa sang presiden tengah 
berusaha untuk menepis status tersebut. Di tengah pandemi Covid-19 dan serba 
ketidakpastian ekonomi misalnya, Jokowi berhasil memaksimalisasi otoritasnya 
sebagai penguasa dan membatasi resistensi yang muncul di masyarakat.

Kemudian, koalisi pemerintahannya saat ini tengah ada di kondisi yang sangat 
kuat. Tercatat mungkin hanya Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera 
(PKS) yang menjadi oposisi kekuasaannya di parlemen. Sedangkan partai-partai 
lain telah menjadi bagian dari kekuasaan politik pemerintah. Artinya, kekuatan 
untuk pembentukan aturan hukum dan pembuatan keputusan-keputusan di ranah 
legislatif menjadi sangat terkontrol.

Jokowi juga akan tetap kuat di akhir periode kekuasaannya karena narasi politik 
jelang Pemilu dan Pilkada Serentak di 2024. Pasalnya, beberapa kepala daerah 
yang memimpin daerah lumbung suara macam Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur 
akan habis masa jabatannya sekitar 6 bulan jelang pemungutan suara.

Nah, otoritas untuk memilih pejabat sementara atau pelaksana tugas kepala 
daerah ini akan ada di tangan Jokowi. Dengan demikian, jika membaca relasi 
politik kekuasaan di daerah dan efeknya terhadap perolehan suara dari 
masyarakat di daerah tersebut terhadap kandidat atau partai tertentu, jelas 
siapa-siapa yang dipilih untuk menjadi pejabat sementara kepala daerah itu bisa 
ikut menentukan peta politik pasca 2024.

Hal lain yang juga penting adalah endorsement politik Jokowi sendiri. 
Partai-partai dan kandidat jelas akan diuntungkan jika Jokowi memberikan 
dukungannya pada mereka. Ini tentu akan membuat posisi politik Jokowi tetap 
diperhitungkan hingga selesai masa jabatannya. Apalagi, kalau ternyata narasi 
“Jokowi 3 Periode” pada akhirnya mewujud nyata – hal yang tentu akan negatif 
sifatnya, tapi menguatkan pandangan soal posisi politik Jokowi.

Pada akhirnya, perdebatan apakah Jokowi masih kuat atau sudah melemah 
kekuasaannya memang tak pernah bisa disimpulkan secara utuh. Masyarakat hanya 
bisa membaca variabel-variabel yang ditampilkan saat ini. Sebab, seperti kata 
Friedrich Nietzsche di awal tulisan: semuanya adalah tentang interpretasi. 
Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/50576CAEC70C4FB5A41D360A5068EAC2%40A10Live.

Reply via email to