Written byR53Sunday, March 13, 2022 
23:24https://www.pinterpolitik.com/in-depth/airlangga-butuh-nasdem-untuk-rebut-jokowi/

Airlangga Butuh NasDem untuk Rebut Jokowi?
Sejak awal tahun 2021 lalu, Golkar santer dikabarkan akan berkoalisi dengan 
NasDem di Pilpres 2024. Namun dengan perbedaan pandangan soal penundaan Pemilu 
2024, koalisi kedua partai ini dikabarkan menemui ganjalan. Lantas, apakah 
kedatangan Airlangga Hartarto ke kantor DPP NasDem baru-baru ini menjadi sinyal 
betapa pentingnya Surya Paloh bagi partai beringin?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

“Karena tadi saya mengingatkan beliau (Surya Paloh), sampai saat ini masih 
lebih lama di Partai Golkar daripada di Partai NasDem,” canda Airlangga 
Hartarto ketika mengunjungi Surya Paloh di Kantor DPP NasDem, Cikini, Jakarta 
Pusat, pada 10 Maret.

Melihat riwayat perjalanan politik Surya Paloh, pernyataan Airlangga bukan 
kelakar semata. Surya Paloh menjadi bagian Partai Golkar dari tahun 1968 sampai 
tahun 2011 (sekitar 48 tahun). Sementara di partainya saat ini, NasDem, baru 
sejak tahun 2011 (sekitar 11 tahun).

Seperti yang dibaca di berbagai pemberitaan, kunjungan Airlangga ke Kantor DPP 
NasDem membahas berbagai topik, mulai dari Pilkada DKI Jakarta 2024, penundaan 
Pemilu 2024, hingga melanjutkan pembahasan rencana koalisi.

Melihat gelagat Airlangga, pendekatannya ke Partai NasDem sudah dibaca publik 
sejak Maret 2021, bahkan mungkin lebih awal. Sejak pertemuan tersebut, berbagai 
pihak mulai membaca sinyal bahwa Golkar dan NasDem tampaknya ingin berpasangan 
di Pilpres 2024. 

- Advertisement -Namun, melihat gestur terbaru keduanya, wacana koalisi 
tersebut tampaknya tengah menemui jalan terjal. Pasalnya, seperti yang 
disebutkan Ivan Doherty dalam tulisannya Coalition Best Practices, faktor 
esensial dalam pembentukan koalisi, yakni kesamaan persepsi tampaknya tidak 
terjadi.

Berbeda dengan Airlangga yang mendukung penundaan Pemilu 2024, Surya Paloh 
justru dengan keras menolak. Bahkan setelah kunjungan Airlangga ke Kantor DPP 
NasDem, Surya Paloh masih pada komitmennya untuk menolak penundaan pemilu.

Kemudian, ada pula berita dari NasDem yang membatalkan konvensi Capres 2024. 
Menurut Wakil Ketua Umum NasDem Ahmad Ali, tidak mungkin konvensi dilakukan 
karena partai-partai yang dianggap menjadi mitra strategis ingin mengusung 
ketuanya masing-masing.

“Untuk itulah kemudian tidak bisa melaksanakan konvensi, karena konvensi yang 
kemudian harus memenuhi syarat elektoral, presidential threshold itu sama saja 
konvensi lucu-lucuan kan,” ungkap Ahmad Ali pada 10 Maret.

Mengacu pada gestur kentara Airlangga yang ingin maju di Pilpres 2024, mudah 
terbaca bahwa pernyataan Ahmad Ali sekiranya juga menyasar Partai Golkar.

Lantas, dengan pembelahan yang sudah terlihat sejak awal, apakah Golkar akan 
tetap berusaha mendekati NasDem? Jika benar demikian, mengapa itu dilakukan? 
Apakah sepenting itu dukungan Surya Paloh bagi Airlangga?

 
Hasrat Berkuasa Golkar 
- Advertisement -Sebelum membedahnya lebih lanjut, kita perlu melirik 
penjelasan ilmuwan politik Francis Fukuyama tentang akar aktivitas politik. 
Dalam berbagai buku, artikel, dan pidatonya, Fukuyama kerap mengutip konsep 
thumos atau thymos dari Plato dalam buku Republic. 

Baca juga :  Surya Paloh Teman Curhat JokowiThymos adalah istilah Latin yang 
menjelaskan bahwa psikologi manusia membutuhkan pengakuan akan martabat. 
Singkatnya, sangat mendasar dan naluriah apabila manusia ingin diakui oleh 
manusia atau kelompok lainnya. Yang menarik, thymos memiliki dua turunan, yakni 
isothymia dan megalothymia.

Isothymia adalah hasrat untuk diakui secara setara dengan yang lainnya. 
Sementara megalothymia adalah hasrat untuk diakui sebagai yang lebih unggul 
dari yang lainnya. Yang menjadi masalah, menurut Fukuyama, aktivitas politik 
kita lebih sering berdiri di atas megalothymia.

Julie Beck dalam tulisannya People Want Power Because They Want Autonomy, 
menunjukkan bahwa kajian psikologi terbaru telah mengafirmasi megalothymia. 
Mengutip studi gabungan dari University of Cologne, University of Groningen, 
dan Columbia University, ditemukan bahwa seseorang merasa hasratnya atas 
kekuasaan lebih terpuaskan dengan kondisi berotonomi daripada kondisi 
mengontrol orang lain.

Dengan kata lain, gelagat Airlangga yang melakukan safari politik sedari dini 
merupakan bentuk dari megalothymia alias keinginan berkuasa secara independen, 
tanpa perlu lagi berada di bawah bayang-bayang PDIP. Gelagat ini bahkan telah 
terbaca sebelum Airlangga aktif melakukan safari politik pada awal 2021. 

Pada Munas Golkar yang digelar Desember 2019, telah ditegaskan bahwa Airlangga 
adalah capres partai beringin di 2024. Dengan demikian, tidak mungkin Golkar 
berkoalisi lagi dengan PDIP karena partai banteng akan mengusung kandidatnya 
sendiri di 2024. Apalagi, PDIP adalah satu-satunya partai yang mampu mengusung 
sendiri calonnya karena mendapatkan 22 persen kursi DPR.

Lantas, apakah NasDem adalah kunci untuk melawan PDIP?

Surya Paloh adalah Puzzle Penentu?
Untuk kepentingan melawan PDIP, Golkar membutuhkan partai yang setidaknya 
memiliki dua kualifikasi. Pertama, partai tersebut memiliki suara cukup besar 
untuk memenuhi presidential threshold (preshold). Kedua, partai tersebut juga 
memiliki hubungan tidak harmonis dengan PDIP.  

Nah, sejauh ini yang memenuhi kedua kualifikasi itu adalah NasDem. Pertama, 
partai-partai yang memperoleh suara besar lainnya, seperti Gerindra dan PKB, 
terlihat dekat dengan PDIP. Terkhusus Gerindra, Prabowo santer dikabarkan akan 
berduet dengan Puan Maharani.

Kedua, NasDem terlihat memiliki gesekan dengan PDIP. Perseteruan keduanya 
disebut bermula dari isu perekrutan kader PDIP oleh NasDem. Ini misalnya 
disebutkan oleh pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio yang 
menyebut Megawati kecewa karena banyak kepala daerah dari PDIP yang pindah ke 
NasDem. Pada tahun 2018, misalnya, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan 
berpindah ke partai pimpinan Surya Paloh tersebut.

Baca juga :  PDIP-NasDem Perebutkan Jokowi?Simbol ketegangan ini terlihat jelas 
saat momentum rapat paripurna pelantikan anggota DPR/MPR/DPD pada tahun 2019 
lalu ketika Megawati tidak menyalami Surya Paloh. Singkatnya, ini adalah 
aktualisasi dari adagium kuno, “The enemy of my enemy is my friend“. Musuh dari 
musuh ku adalah teman ku.

 
Melihat perkembangan gestur politik nasional, gesekan PDIP dengan NasDem 
tampaknya masih akan berlanjut seiring dengan usaha NasDem mendekati Joko 
Widodo (Jokowi), yang merupakan kader terbaik PDIP saat ini. 

Kentara terbaca bahwa berbagai partai dan politisi tengah memburu dukungan 
politik Jokowi untuk Pilpres 2024. Dengan citra dan dukungan publik yang masih 
sangat kuat, dukungan politik Jokowi dinilai sangat berpengaruh dalam 
mendongkrak keterpilihan.

Lantas, apakah berkoalisi dengan NasDem adalah kunci mendapatkan dukungan 
politik Jokowi?

Jokowi Jadi Rebutan 
Dengan mendekati NasDem, Airlangga akan memiliki kekuatan tambahan untuk 
mendapatkan dukungan politik Jokowi. Pasalnya, sama dengan NasDem, Golkar juga 
telah lama menjadi partai yang paling mendukung pemerintahan sang RI-1.

Menurut Leo Suryadinata dalam tulisannya Golkar’s Leadership and the Indonesian 
President, karena sadar berbagai petinggi PDIP tidak menyukainya sejak 2014, 
Jokowi memainkan manuver politik cerdik dengan membangun relasi baik dengan 
partai besar lainnya seperti Golkar.

Hubungan baik tersebut jelas terlihat pada pujian tinggi Jokowi terhadap 
Airlangga dalam acara HUT ke-55 Golkar pada 6 November 2019. Menurut berbagai 
pihak, khususnya kubu Bambang Soesatyo (Bamsoet), itu adalah dukungan kepada 
Airlangga untuk maju sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Sekarang mari buat sedikit perandaian. Katakanlah Golkar dan NasDem berkoalisi. 
Jika keduanya berhasil mendapatkan dukungan politik Jokowi, ini merupakan 
aktualisasi dari strategi nomor dua dari Thirty-Six Stratagems, yakni 36 
strategi Tiongkok kuno yang digunakan dalam politik, perang, dan interaksi 
sipil.   

Strategi nomor dua berbunyi, “Besiege Wèi to rescue Zhào” (圍魏救趙, Wéi Wèi jiù 
Zhào). Artinya, ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu 
yang berharga yang dimilikinya. 

Nah, dengan fakta PDIP sangatlah tangguh saat ini. Bahkan elektabilitasnya 
masih yang tertinggi dalam berbagai survei, koalisi Golkar-NasDem perlu 
menyerang atau mengambil salah satu senjata pamungkas partai banteng, yakni 
Jokowi. Selain menambah daya tempur Golkar-NasDem, ini sekaligus melemahkan 
daya tempur PDIP.

Well, sebagai penutup, kita lihat saja kelanjutan usaha Airlangga dalam 
mendekati Surya Paloh. Sekalipun saat ini Golkar-NasDem tengah mengalami 
pembelahan persepsi, kita perlu kembali pada rumus dasar aktivitas politik. 
Tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang sama. 
(R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AAA2100D7C2642E380C4FE24CB4F035B%40A10Live.

Reply via email to