Written byY79Sunday, March 13, 2022 22:17
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/luhut-kunci-kekuasaan-jokowi/
Luhut ‘Kunci’ Kekuasaan Jokowi?
Sosok Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) menjadi perhatian utama dalam periode kedua 
pemerintahan Jokowi. Banyaknya posisi serta jabatan penting yang dipegang Luhut 
membuatnya mendapatkan julukan “menteri segala urusan” hingga “orang terdekat 
Jokowi”. Berangkat dari hal tersebut, benarkah bahwa seorang Luhut merupakan 
kunci dari kekuasaan Jokowi saat ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a men’s 
character, give him power”.

  ::Abraham Lincoln::

Belakangan ini sosok Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi 
(Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menjadi sorotan, mulai dari isu 
penundaan Pemilu serentak 2024 hingga keputusannya menghapus syarat negatif PCR 
ataupun rapid test bagi pelaku perjalanan domestik menjadi pembicaraan arus 
utama pada sepekan ke belakang.

Menko Marves disibukkan oleh dua pekerjaan utama yang diberikan kepadanya. 
Pekerjaan seperti mengurusi proyek kerja sama dan investasi asing bagi 
percepatan proyek pembangunan ibu kota negara baru dan menjadi Koordinator PPKM 
Darurat untuk Pulau Jawa dan Bali menjadi tanggung jawab yang diemban Luhut 
saat ini.

Bukan tanpa alasan, dua tugas Luhut tersebut menjadi fokus utama yang digiatkan 
oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini di tengah pandemi COVID-19.

Dilansir dari situs Menpan RB, terdapat 5 prioritas kerja Presiden di masa 
kedua kepemimpinannya. Dua di antaranya adalah percepatan pembangunan 
infrastruktur dan membuka keran investasi seluas-luasnya guna menambah lapangan 
kerja.

Sejalan dengan itu, banyak proyek pemerintahan era Jokowi yang menjadi 
prioritas utama diamanatkan kepada Luhut. Sang Menko Marves seakan menjadi 
menteri dalam kabinet yang paling dipercaya oleh Jokowi.

Menurut berbagai pihak, Luhut menjadi orang terdekat Jokowi yang memainkan 
peranan sentral dalam mengurusi berbagai program kerja, serta kebijakan 
strategis yang dicanangkan pemerintahan Jokowi.

Tentu menjadi perhatian terkait kedekatan Jokowi dengan Luhut. Untuk itu, 
terdapat pertanyaan yang dapat diajukan, bagaimana asal-usul serta pengaruh 
kedekatan Luhut-Jokowi dalam konteks kekuasaan?

 
Luhut dalam Relasi-Kekuasaan
Sosok Luhut Binsar Pandjaitan tentu bukanlah nama baru dalam catur perpolitikan 
nasional. Tokoh politik yang berlatarbelakang militer dengan lulusan terbaik 
akmil angkatan 1970 ini tidak hanya berkecimpung dalam dunia 
politik-pemerintahan, namun juga dalam bidang bisnis.

Pasca non-aktif dari militer serta lengsernya Soeharto, Luhut ditarik ke dalam 
dunia pemerintahan. Awal karier Luhut dalam pemerintahan ditandai dengan 
menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura selama setahun pada era Habibie. 
Setelah itu, Luhut diangkat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di 
era Gus Dur.

Setelah tidak menjabat sebagai menteri, Luhut mulai merintis bisnis dengan 
mendirikan PT Toba Sejahtera Group, yang bergerak di sektor pertambangan batu 
bara. Ia juga terjun ke dunia politik dan tercatat pernah bergabung dengan 
Partai Golkar – era kepemimpinan Akbar Tanjung – dan menjabat sebagai Wakil 
Ketua Dewan Pertimbangan.

Baca juga :  Jokowi: Persiapan Pemilu Harus MatangMenurut Aaron L Connelly 
dalam tulisannya Indonesian Foreign Policy Under President Jokowi, pertemuan 
Luhut dengan Jokowi terjadi pada tahun 2008. Saat itu, Luhut tengah mencari 
pihak yang dapat mengubah kayu mentah dari konsesi hutannya di Kalimantan 
menjadi produk jadi. Seorang kenalan kemudian memperkenalkannya dengan Jokowi, 
pengekspor furnitur yang baru terpilih sebagai Wali Kota Solo.

Menurut Connelly, itu lah awal hubungan dekat keduanya. Sejak itu, Luhut 
disebut banyak membantu karier politik Jokowi.

Hubungan Luhut-Jokowi terlihat intens setelah Jokowi maju bersama Jusuf Kalla 
(JK) pada Pilpres 2014. Menariknya, Luhut yang saat itu berposisi sebagai 
“orang Golkar” yang seharusnya mendukung pasangan Prabowo-Hatta, justru menaruh 
dukungan kepada Jokowi. Luhut juga masuk ke dalam daftar tim pemenangan Joko 
Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.

Jokowi yang akhirnya keluar sebagai pemenang kala itu mengajak Luhut masuk ke 
dalam susunan pemerintahannya dan memberikan jabatan Kepala Staf Kepresidenan 
pada Desember 2014. Tidak lama berselang, ketika pengumuman reshuffle kabinet I 
kala itu, Luhut dipercayakan sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, 
dan Keamanan (Menko Polhukam) pada 2015-2016.

Pada reshuffle tahun 2016, Jokowi kembali mempercayakan posisi penting kepada 
Luhut, yaitu sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) 
hingga 2019.

Pada periode kedua, Jokowi semakin terlihat memberikan posisi penitng kepada 
Luhut. Mulai dari Menko Marves (2019-sekarang), jabatan ad interim sebagai 
Menteri Perhubungan dan juga Menteri Kelautan dan Perikanan, hingga berperan 
sebagai Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional 
(KPCPEN).

Di tengah proyek pembangunan IKN, Luhut juga disebut menjadi orang kepercayaan 
Jokowi dalam mencari investasi asing, mulai dari Arab Saudi, UEA, hingga 
Tiongkok. Posisi-posisi strategis yang diisi oleh Luhut sekiranya menjadikan 
beliau sebagai seorang aktor politik-pemerintahan yang memiliki kekuasaan yang 
besar.

Melihat konteks Luhut dalam pusaran pemerintahan Jokowi dapat dikaitkan dengan 
perspektif kekuasaan. Jika berkaca pada pemikir seperti Harold D. Laswell dan 
Abraham Kaplan, kekuasaan dapat berarti pola hubungan di mana seseorang dapat 
menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain ke arah tujuan dari pihak 
pemberi kuasa.

Akademisi politik lainnya, seperti Ramlan Surbakti juga melengkapi konsepsi 
terhadap kekuasaan. Surbakti dalam bukunya Memahami Ilmu Politik menyebutkan 
sumber kekuasaan pada umumnya dapat berupa ekonomi, jabatan, keahlian, status 
sosial, dan popularitas pribadi.

 
Banyak akademisi politik yang mengatakan kekuasaan sejalan dengan pengaruh. 
Ketika seseorang berkuasa, ia secara tidak langsung dapat memberikan pengaruh 
kepada orang yang dituju. Well, apakah Luhut memiliki karakteristik minimal 
dari kekuasaan itu sendiri?

Baca juga :  Anwar Abbas: Jokowi Jangan Dijerumuskan!Berkaca pada rekam jejak 
seorang Luhut, ia dapat diklaim sebagai orang yang berkuasa. Kekuasaan yang ada 
pada Luhut tidak hanya bersifat formal – seperti jabatan menteri dan jabatan 
lain setingkat menteri – namun juga informal, yang berasal dari aspek sumber 
daya ekonomi dan kepemilikan bisnis.

Muncul pertanyaan lanjutan, apakah terdapat maksud dan tujuan lain di balik 
kekuasaan yang diberikan Jokowi kepada Luhut?

Luhut is the Key?
Margaret Levi & Laura Stoker dalam tulisannya yang berjudul Political Trust and 
Trustworthiness menjelaskan bahwa suatu “kepercayaan” berada pada ikatan 
relasional. Ketika terdapat dorongan dari satu individu untuk memberikan 
atribut yang dapat dipercaya, ia berusaha meyakinkan calon pemberi kepercayaan 
bahwa ia tidak akan mengkhianati kepercayaan yang akan diberikan.

Dengan demikian, dengan bertambahnya posisi yang diberikan Jokowi ke Luhut, 
mungkin dapat disimpulkan bahwa Luhut telah bekerja secara memuaskan. ini 
kemudian menjawab mengapa Luhut lagi yang diberikan kepercayaan pada proyek 
strategis yang akan menjadi legacy Jokowi.

Jokowi dan Luhut juga terlihat memiliki persepsi yang mana, di mana ini 
terlihat pada Omnibus Law UU Ciptaker yang disahkan pada 2020 silam. Keduanya 
sepakat UU Ciptaker akan mendorong efisiensi regulasi, serta menyederhanakan 
aturan yang dinilai tumpang tindih. Luhut mengklaim, UU tersebut akan menjawab 
keraguan para investor ketika ingin menanamkan modal di Indonesia.

Kemudian, pada pembangunan IKN di Kalimantan Timur, Luhut menjadi orang yang 
diutus oleh Jokowi untuk melobi investor asing guna berkontribusi di dalam 
proyek pembangunan tersebut. Disebutkan, Luhut turun tangan dalam melakukan 
hubungan kerja sama dan negosiasi ke Uni Emirat Arab hingga Arab Saudi guna 
mencari pendaaan bagi pembangunan IKN Baru.

Dengan banyaknya posisi dan tugas yang dijalankan Luhut dinilai sebagai bentuk 
kepuasan Jokowi terhadapnya. Seperti yang dikatakan pakar komunikasi politik 
Universitas Paramadina Hendri Satrio (Hensat), Luhut memiliki kapabilitas lebih 
dalam konteks ide dan pemikiran ketimbang menteri yang lainnya. Hesat menilai, 
ketika Luhut diberikan tugas tambahan oleh Jokowi, hal itu merupakan salah satu 
bentuk kepercayaan Jokowi kepadanya.

Dapat kita lihat bahwa posisi Luhut sampai saat ini vital dalam pemerintahan 
Jokowi. Masih tersisa dua tahun lagi bagi Jokowi dalam mengakhiri masa 
jabatannya. Apakah kepercayaan terhadap Luhut dalam pusaran kekuasaan Jokowi 
akan bertahan sampai akhir periode?

Well, menarik untuk melihat kelanjutan fenomena hubungan “dua sekawan” 
tersebut. (Y79)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D7E5994F332641FE952C8B414B708513%40A10Live.

Reply via email to