Written byI76Friday, April 8, 2022 08:56
Andika Hapus Mitos PKI?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/andika-hapus-mitos-pki/
Kebijakan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa terkait keluarga keturunan 
Partai Komunis Indonesia (PKI) dapat menjadi anggota TNI, menuai perdebatan. 
Masyarakat belum melupakan sejarah di masa lalu terkait pemberontakan PKI. 
Lantas, mengapa kebijakan sensitif ini diambil Andika?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Tradisi dalam tubuh TNI, khususnya dalam proses seleksi prajurit, di mana 
keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI) dilarang mengikuti proses seleksi 
diubah oleh Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Hal ini  ditempuh Andika 
dengan mencabut ketentuan yang selama telah berlangsung lama.

Berselang dari pemberitaan kebijakan Jenderal Andika, spanduk bergambar 
Jenderal Andika berkaos palu arit lambang PKI dipasang di Tanah Abang dan 
Menteng, Jakarta Pusat. Spanduk provokatif ini dapat dianggap sebagai penolakan 
terhadap langkah tersebut.

Menjadi cerita umum, mendengar kata PKI sampai saat ini masih menjadi momok 
bagi sebagian atau bahkan mungkin kebanyakan dari penduduk bangsa ini. Narasi 
PKI juga dijadikan komoditas politik tiap tahun, khususnya saat peringatan 
G30S/PKI pada 30 September.

Jika melihat data, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) 
yang dirilis pada Oktober 2021, sebanyak 84 persen responden mengaku tidak 
mempercayai isu kebangkitan PKI yang kerap dihembuskan segelintir kelompok pada 
setiap September. Hanya 14 persen responden yang percaya isu tersebut.

Wacana PKI seolah telah menjadi komoditas yang membudaya dalam perhelatan 
politik. Berbagai pihak mencoba memanfaatkan isu tersebut, baik sebagai 
kepentingan politik jangka pendek, hingga menjadikannya seakan tidak akan habis 
jadi amunisi setiap kontestasi politik.

Berkenaan dengan kebijakan Andika, Bambang Soesatyo sebagai Ketua Majelis 
Permusyawaratan Rakyat (MPR), mengaku sepakat dengan keputusan Panglima TNI 
tersebut. Tapi dia tetap memberikan masukan agar Andika dan jajarannya tak 
boleh lengah, mereka harus pastikan keturunan PKI yang mendaftar adalah yang 
setia terhadap Pancasila dan NKRI.

Prof. Salim Haji Said, Guru Besar Universitas Pertahanan Republik Indonesia 
(Unhan RI), mengatakan belum melihat peraturan tertulis, hukum tertulis, yang 
melarang atau yang mencegah anak-anak keturunan PKI untuk mendaftar masuk 
menjadi anggota ABRI atau TNI.

Salim Said ingin menjelaskan persoalan ini dalam konteks historis, di mana dia 
mengungkap bahwa dulu saking alerginya ABRI atau TNI terhadap PKI, anak-anak 
PKI pun tidak mungkin masuk menjadi anggota ABRI atau TNI. Hal itu disebut 
sebagai bersih lingkungan.

Bahkan, anggota TNI yang ketahuan sebagai keturunan PKI akan langsung 
dikeluarkan karena dinilai tidak bersih lingkungan. Dan tradisi ini telah 
berlangsung lama hingga saat ini. Oleh karenanya, keputusan Jenderal Andika 
seolah ingin menghapus stigma tersebut di institusinya.

Lantas, seperti apa dendam terhadap PKI yang tiada habis habisnya, hingga 
melibatkan Panglima TNI  Jenderal Andika untuk membuat kebijakan tentang PKI 
tersebut?
 
PKI Akan Bangkit?
Sebagai realitas sosial yang  senantiasa mengundang kontroversi, wacana tentang 
PKI akan senantiasa menarik bagi siapapun, termasuk media dan akademisi. Oleh 
karena itu, ketika isu PKI  menguat karena berbagai faktor, berbagai akademisi 
yang memberikan komentar tidak pernah lepas untuk menyiarkan dan 
menginterpretasikan isu  tersebut.

Banyak kritik sebenarnya tentang peristiwa pemberontakan yang didalangi PKI 
pada 1965. Hal ini terbukti dengan munculnya berbagai versi atas peristiwa 
tersebut dengan berbagai perspektif yang satu sama lain tidak jarang bertolak 
belakang.

Versi pertama, dikemukakan akademisi Universitas Cornell, Amerika Serikat (AS) 
yang menyatakan peristiwa G30S 1965  adalah masalah internal AD, khususnya  
kelompok militer yang berasal dari divisi Diponegoro.

Kedua, versi yang ditulis Antonie C.A. Dake yang menyatakan bahwa tidak menutup 
kemungkinan dalang utama peristiwa tersebut merupakan Presiden Soekarno sendiri.

Ketiga, versi sosiolog  dan sejarawan Belanda, W.F. Wertheim, yang menyatakan 
dalang peristiwa tersebut adalah Jenderal Soeharto.

Keempat, versi mantan intelijen AS, Peter Dale Scott, yang menyatakan peristiwa 
tersebut merupakan bagian dari upaya menjatuhkan Presiden  Soekarno yang 
didalangi CIA. Hal ini berkaitan erat dengan kebijakan luar negeri Soekarno 
saat itu yang anti AS dan Inggris.

Meski peristiwa 1965 sudah terjadi lebih dari 50 tahun dan mereka yang 
merupakan keturunan PKI dan simpatisannya saat ini merupakan generasi ketiga 
(cucu) dan keempat (cicit), tapi riuh kemunculan kembali PKI selalu terangkat.

Sejarawan senior Azyumardi Azra, meyakini isu kebangkitan PKI hanya isapan 
jempol. Tak ada indikator terpercaya yang menunjukkan PKI akan bangkit. Yang 
muncul hanyalah semacam gerakan yang dimotivasi dendam masa lalu seperti dendam 
seseorang karena orangtua yang terbunuh di masa PKI yang kemudian membawa 
dirinya paranoid akan komunisme.

Siti Hasanah dalam tulisannya Sejarah Partai Komunis (PKI) dan Bahayanya, 
mengatakan, setelah PKI terpuruk karena peristiwa di Madiun, banyak yang 
menganggap PKI telah menghilang. Namun, pada tahun 1950, PKI memulai kembali 
kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya, yaitu Harian Rakjat dan 
Bintang Merah.

PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, 
dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil 
oleh Presiden Soekarno. Secara perlahan PKI bangkit  kembali setelah sempat 
dihancurkan pada pemberontakan sebelumnya.

Kemungkinan pengalaman akan sejarah kebangkitan PKI yang pernah berhasil 
dilakukan, jadi semacam pembenaran bahwa kemungkinan-kemungkinan bangkit itu 
mungkin masih ada. Hal ini juga yang menjawab bahwa isu kebangkitan tidak semua 
bersandar pada isu politik saja, bahkan sikap paranoid korban akan masa lalu 
yang kelam.

Tentunya dua pandang tentang kebangkitan PKI punya argumentasi yang saling 
mendekonstruksi satu dengan lainnya.
Yang menjadi perhatian penting saat ini adalah keluarga PKI yang telah menjadi 
korban. Mungkinkah mereka yang telah melintasi beberapa generasi masih 
mendapatkan dosa pendahulunya? 

Mungkinkah kebijakan Andika terkait rekrutmen keturunan PKI yang diperbolehkan, 
merupakan kebijakan yang beranjak dari cara berpikir bahwa tidak manusiawi jika 
keluarga korban tetap menanggung ‘dosa turunan’ dan diperlakukan tidak setara 
sebagai warga negara?

Lantas, seperti apa memahami kebijakan kontroversial Jenderal Andika ini?

 
Andika Ingin Netralisir?
Indra Wibisana dalam tulisannya Benarkah Kekejaman dan Keganasan PKI adalah 
Mitos?, mengatakan hingga saat ini masih terdapat warga negara Indonesia yang 
mengalami ketidakadilan karena orang tuanya atau kakek-neneknya adalah anggota 
PKI, ormas PKI atau simpatisan PKI.

Tindakan seperti pengucilan dan diskriminasi di beberapa tempat terlihat jelas. 
Mereka masih dilarang untuk menjadi aparatur sipil negara atau meniti karier 
dalam kemiliteran. Stigma komunis dapat digunakan dalam kampanye hitam terhadap 
seseorang, bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun pernah dicap sebagai 
komunis oleh lawan politiknya.

Ketidakadilan akan membuahkan dendam, dan rekonsiliasi nasional terhadap 
orang-orang yang menderita karena orang tua atau kakek-neneknya terkait PKI 
perlu dilakukan.

Kalau rekonsiliasi nasional dilakukan, negara dan bangsa bisa mendapatkan aset 
yang berharga untuk kemajuan bangsa. Sudah saatnya mata rantai stigma dan 
banalitas diakhiri. Termasuk juga upaya untuk menjadikan peristiwa 1965 sebagai 
komoditas kelompok tertentu untuk menyudutkan kompetitor politik.

Kemungkinan akar kebijakan Andika berasal dari fenomena di atas, yaitu sebuah  
upaya untuk memutus mata rantai stigma dan banalitas orang-orang yang 
mengucilkan keturunan PKI. Dengan melakukan terobosan yang tentunya akan 
kontroversial, keputusan Andika perlu diapresiasi.

Di tengah perdebatan usang soal bahaya komunisme, Andika dengan kebijakannya 
sebenarnya ingin menyentuh korban dari polemik ini. Hingga kini mereka terus 
memperjuangkan hak-hak politik, sosial, dan ekonomi yang seharusnya diterima 
sebagai warga negara Indonesia.

Diharapkan kebijakan Andika adalah upaya untuk menetralisir secara konstruktif, 
luka yang telah lama mereka emban sebagai orang yang termarjinalkan.

Sebagai penutup, apa yang diusahakan Andika, selain sebagai netralisasi, 
tampaknya juga untuk melawan mitos stigma bahwa keturunan PKI pasti akan 
membangkitkan PKI. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7DA75C2367764503A8451316A336E5F2%40A10Live.

Reply via email to