https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2444-ki-hajar-dewantara-yang-membebaskan


Rabu 04 Mei 2022, 05:00 WIB 

Ki Hajar Dewantara yang Membebaskan 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Ki Hajar Dewantara yang Membebaskan MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media 
Group. MENGAPA Ki Hajar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan 
Indonesia? Mengapa pula tanggal kelahirannya, 2 Mei, dijadikan sebagai Hari 
Pendidikan Nasional? Pertanyaan itu, hari-hari ini, kembali mencuat seiring 
dengan diperingatinya Hari Pendidikan Nasional, yang tahun ini bertepatan 
dengan Idul Fitri. Jawabannya simpel, yakni karena sejarah kehidupan Ki Hajar 
Dewantara dari sejak remaja hingga meninggal nyaris tidak pernah beringsut dari 
ikhtiar keras memperjuangkan pendidikan untuk anak bangsa lainnya. Jalan 
hidupnya seolah ditakdirkan untuk memperjuangkan pendidikan, betapa pun rumit 
dan sulitnya keadaan. Ki Hajar Dewantara seperti tidak pernah kehabisan energi. 
Hasratnya untuk membebaskan kaumnya sebangsa dan setanah air dari cengkeraman 
Belanda terus meledak meletup. Itu pula yang ia lakukan saat menjadi penulis. 
Ia berjuang dengan penanya. Pada 1913, pemilik nama asli Raden Mas Soewardi 
Soeryaningrat itu membentuk Komite Bumiputera. Lewat komite tersebut, Ki Hajar 
mengkritik pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya 
negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik pajak dari rakyat Hindia 
Belanda. Ki Hajar Dewantara mengkritik penarikan upeti untuk perayaan tersebut 
melalui dua tulisan. Pertama, tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was 
(Seandainya Aku Seorang Belanda). Kedua, Een voor Allen maar Ook Allen voor Een 
(Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Dua tulisan itulah yang 
mengantar Ki Hajar Dewantara ke penjara. Ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda 
untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Namun, ia menegosiasikan diri agar bisa 
dikirim ke Belanda. Sepakat, pemerintah pun mengizinkannya pergi ke Belanda. Di 
'Negeri Kincir Angin' itulah ia belajar tentang pendidikan dan pengajaran. Ia 
meraih prestasi tinggi dengan memperoleh Europeesche Akter. Sekembalinya dari 
pengasingan, pada 1918, Ki Hajar Dewantara pun bertekad membebaskan rakyat 
Indonesia dari kebodohan. Sebuah perjuangan meraih kemerdekaan melalui jalur 
pendidikan. Lewat pendidikan, ia membuka kesadaran rakyat tentang pentingnya 
merdeka. Untuk tujuan itu, di usia 40 tahun, ia rela menanggalkan atribut 
kebangsawanannya demi bisa lebih dekat dengan sesama anak bangsa agar 'virus' 
pendidikan cepat menyebar. Ia tidak ingin gelar raden menjadi tabir 
perjuangannya. Ki Hajar Dewantara juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan 
kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisannya tersebut, dia berhasil 
meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia untuk jangka 
panjang. Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara pun diangkat menjadi 
menteri pendidikan pertama. Nama kementeriannya Menteri Pendidikan, Pengajaran, 
dan Kebudayaan. Saat itulah, Ki Hajar Dewantara meletakkan dasar-dasar penting 
pendidikan untuk Indonesia. Kini, saat usia Republik ini hampir 77 tahun, kita 
masih harus terus berjuang menaikkan kualitas pendidikan yang masih belum 
memuaskan. Posisi Indonesia di tingkat dunia dari segi sistem dan kualitas 
pendidikan masih jauh dari peringkat terbaik. Berdasarkan data yang 
dipublikasikan World Population Review, pada 2021 Indonesia masih berada di 
peringkat ke-54 dari total 78 negara yang masuk pemeringkatan tingkat 
pendidikan dunia. Namun, setidaknya posisi tersebut naik satu peringkat jika 
dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang ada di peringkat ke-55. Dari acuan 
tersebut pula, Indonesia masih kalah unggul dengan berada di posisi ke-4 jika 
dibandingkan dengan sesama negara yang berada di kawasan Asia Tenggara seperti 
Singapura di peringkat ke-21, Malaysia di peringkat ke-38, dan Thailand di 
peringkat ke-46. Bukan perkara baru, permasalahan itu sudah disorot sejak lama. 
Hulunya sudah diketahui, yakni masih tambal sulamnya sistem pendidikan dan 
standar kualitas pengajar yang belum memuaskan. Kompetensi guru di Indonesia, 
kata sejumlah pengamat pendidikan, masih sangat rendah. Hasil Uji Kompetensi 
Guru (UKG), misalnya, mengonfirmasikan penilaian tersebut. Nilai UKG yang 
diperoleh rata-rata masih di bawah 5. Padahal, kualitas murid di kita masih 
dipengaruhi tenaga pengajar yang kompeten. Kondisi itu masih ditambah perkara 
guru honorer yang belum kunjung tuntas. Penghargaan terhadap guru, meski 
membaik dari waktu ke waktu, belum bisa dikatakan maksimal. Sistem 
pembelajaran, atau kurikulum, juga masih baku dan membelenggu. Kurikulum 
pendidikan masih membatasi kreativitas dan perluasan wawasan murid karena angka 
pada nilai masih menjadi satu-satunya indikator dan patokan kecerdasan, selain 
masih pula kuatnya pengotak-ngotakan minat. Pendidikan yang membebaskan, 
memerdekakan, tidak cukup sebagai slogan. Bukan perkara mudah mewujudkannya, 
tapi ia merupakan langkah yang benar. Butuh ikhtiar superkeras untuk 
mewujudkannya. Perlu kesabaran untuk membongkar cara berpikir yang kelewat kaku 
dan beku. Selamat berjuang, selamat Hari Pendidikan Nasional.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2444-ki-hajar-dewantara-yang-membebaskan








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220504223138.d38e0cde79db8aa66e5d7096%40upcmail.nl.

Reply via email to