Sukarno di Antara Muhammadiyah dan NU
Sejak era pergerakan nasional, Sukarno telah menjadi kader Muhammadiyah. Tetapi 
ia juga sangat mencintai NU.
https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20220504/Sukarno-di-Antara-Muhammadiyah-dan-NU/


Foto: Presiden Sukarno saat menghadiri Muktamar ke-23 NU di Solo tahun 1962 
(Foto: NU.or.id) 

Rabu, 04 Mei 2022“Jadi aku adalah orang yang takut kepada Tuhan dan cinta 
kepada Tuhan sejak dari lahir, dan keyakinan ini telah bersenyawa dengan 
diriku,” begitu ucap Presiden Sukarno kepada Cindy Adams yang mewawancarainya, 
seperti dikutip dalam buku Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966).
Sukarno mengaku sejak kecil tak pernah mendapatkan pendidikan agama dari 
orangtuanya, walaupun ayahnya, Raden Soekemi Sosorodiharjo, seorang guru. 
Begitu pula ketika Sukarno kecil sakit-sakitan dan dititipkan kepada kakeknya, 
Raden Hadjodikromo, di Tulung Agung. Ia tak pernah belajar agama dengan baik 
walau kakeknya memiliki ilmu hikmah dan dikenal sebagai ahli kebatinan.
“Aku tak pernah mendapat didikan agama yang teratur, karena bapak tidak 
mendalam di bidang itu. Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, 
ketika aku menemani keluarga Tjokro (Raden Haji Oemar Said Cokroaminoto),” 
terang Sukarno lagi.
Kala itu, Sukarno sekolah di Hogere Burger School (HBS), setingkat sekolah 
menengah umum, di Surabaya, tahun 1917 dan tinggal di rumah Cokroaminoto. 
Selama tinggal di rumah Cokroaminoto, Sukarno tak menyia-nyiakan kesempatan 
belajar di bidang politik. Sebab, Cokroaminoto merupakan seorang pemimpin 
politik orang Jawa dan dijuluki sebagai ‘Raja yang tidak dinobatkan’.
Seperti dikutip dari Buku Nasionalisme Soekarno dan Konsep Kebangsaan Mufassir 
Jawa karya Ali Fahrudin (2020), Cokroaminoto sebagai pemimpin Sarekat Islam 
(SI), partai terbesar saat itu, sering dikunjungi sejumlah tokoh pergerakan 
nasional untuk berdiskusi terkait masalah politik. Sukarno sering menemani 
Cokroaminoto ketika diundang ke sejumlah tempat untuk menyampaikan pidato 
politik.
“Hal itu memberikan pelajaran sangat penting dalam kehidupannya kelak. Karena 
itu, tidak mengherankan bila Sukarno mengatakan bahwa Cokroaminoto sangat 
mempengaruhi hidupnya, bahkan dialah orang yang mengubah seluruh hidupnya,” 
tulis Ali Fahrudin dalam bukunya itu.

 
Bung Karno di halaman rumah tempat pengasingannya di Bengkulu tahun 1938
Foto : Dok Kemendikbud
Tak hanya pelajaran politik, Sukarno juga mulai mendalami agama. Ia mulai 
mengikuti kegiatan organisasi agama dan sosial seperti Muhammadiyah. Ia sering 
mengikuti pengajian di sebuah gedung di sebarang rumah Cokroaminoto di Gang 
Peneleh, Surabaya. Pengajian itu diselenggarakan setiap bulan yang dihadiri 100 
orang. Pengajian biasa dimulai pukul 20.00 hingga larut malam. Bahkan, Sukarno 
sempat ikut pengajian itu ketika dihadiri KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
“Sungguh pun aku asyik mendengarkan, tapi belumlah aku menemukan Islam dengan 
betul-betul dan sungguh-sungguh sampai aku masuk penjara. Di dalam penjaralah 
aku menjadi penganut (Islam) yang sebenarnya,” ungkap Sukarno lagi kepada Cindy 
Adams.
Beberapa kali Sukarno harus masuk penjara kolonial Belanda. Setelah lulus 
pendidikan di Tehnische Hoge School (THS), yang dikemudian hari menjadi 
Institut Teknologi Bandung (ITB), Sukarno semakin aktif dalam organisasi 
pergerakan, seperti Jong Java dan Jong Indonesia. Puncaknya ia mendirikan 
Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927. Saat itu pemerintah Hindia Belanda 
menuduhnya telah melakukan makar dan memenjarakannya di Sukamiskin, Bandung, 
tahun 1930.
Selepas keluar dari penjara, Sukarno mendirikan Partai Indonesia (Partindo). 
Lagi-lagi, pemerintah kolonial Hindia Belanda tak suka dengan Partindo yang 
makin besar bersama PNI yang kala itu sudah dipimpin Muhammad Hatta. Kembali 
Sukarno akhirnya dibuang ke Ende (Pulau Flores), sekarang provinsi Nusa 
Tenggara Timur. Di tempat pembuangannya, Sukarno aktif kembali mempelajari 
agama Islam.
Namun, secara resmi Sukarno menjadi kader Muhammadiyah tercatat sejak tahun 
1938, yaitu ketika ia menjalani pembuangan dan tahanan rumah di Bengkulu. 
Dikutip dari buku K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) terbitan Museum Kebangkitan 
Nasional (2015), Sukarno menjadi calon anggota Muhammadiyah cabang Bengkulu 
pada 1 Juni 1938. Namun, sejak 1 Agustus 1938, Sukarno telah menjadi anggota 
secara definitif di organisasi keagamaan tersebut.
Aktifnya Sukarno di Muhamamdiyah cabang Bengkulu tercatat dalam surat Kepala 
Pemerintah Daerah J. Bastiaans kepada Residen Bengkulu bernomor 7147/20 
tertanggal 14 September 1938. Di kota itu, Sukarno ikut duduk dalam Komisi 
Kurikulum sekolah Muhammadiyah. Pada 20 Agustus sempat diangkat menjadi anggota 
Dewan Pengajaran Muhammadiyah. Disebutkan, sejak Sukarno berada di Bengkulu, 
organisasi Muhammadiyah lebih hidup.
 
Presiden Sukarno saat berada di Blitar tahun 1952
Foto: ANRI.go.id 
Pengaruh Sukarno di Muhammadiyah mulai terasa di luar organisasi. Misalnya, 
sejumlah pengurus organisasi Jamiatul Khair dan Taman Siswa yang mulai meminta 
nasehat dalam berbagai bidang kepada Sukarno. Aktivitas Sukarno itu dilaporkan 
oleh Residen Bengkulu P.M Hooykas kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di 
Batavia (sekarang Jakarta) Alidius Tjarda van Starkenborgh Stachouwer 
(Jonkheer).
Laporan juga disampaikan oleh Pejabat Penasehat Urusan Bumi, G.F. Pijper kepada 
Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan surat nomor K-75/K-II tanggal 31 
Desember 1938. “Sukarno adalah penganut Islam yang aktif. Hal ini sudah 
diketahui sejak dahulu, yakni ketika Sukarno menjadi tahanan di Flores,” tulis 
Pijper dalam laporannya. Ujungnya, pemerintah kolonial Belanda meminta Sukarno 
menghentikan aktivitasnya dan mencabut jabatan di kepengurusan Muhammadiyah.
Sukarno pun ternyata dekat dengan kalangan ulama Nahdlatul Ulama (NU), 
organisasi keagamaan besutan KH Hasyim Asy’ari. Dikutip dari buku KH. Hasyim 
Asy’ari, Pengabdian Seorang Kyai untuk Negeri terbitan Museum Kebangkitan 
Nasional (2017), Sukarno pernah menjadi santri KH. Ahmad Basari atau Kiai 
Sukanegara, Cianjur, Jawa Barat pada tahun 1940-an. Kai Basari merupakan murid 
dari KH. Hasyim Asy’ari.
Kedekatan Sukarno dengan kalangan NU pun semakin terjalin pasca proklamasi 
kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Mendengar pasukan sekutu 
(agresi militer Belanda I) akan mendarat, Sukarno yang sudah menjadi presiden 
mengirimkan utusannya untuk menemui Kiai Hasyim untuk minta fatwa bagaimana 
warga negara dalam menghadapi musuh yang akan menjajah Indonesia kembali.
Mendapat permintaan dari Presiden Sukarno, Kiai Hasyim bersama para ulama NI 
se-Jawa dan Madura membuat fatwa dan resolusi jihad di kantor GP Ansor, Jalan 
Bubutan, Surabaya pada 22 Oktober 1945. Dalam seruannya fatwa jihad fi 
sabilillah, Kiai Hasyim menetapkan hukum fardu ‘ayin (wajib) bagi umat Islam 
untuk membela tanah airnya yang diserang musuh dalam jarak 94 kilometer.
 
Presiden Sukarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, dan beberapa tokoh melakukan 
salat Idul Fitri 1369 Hijriyah. Menteri Agama Wahid Hasyim terlihat menjadi 
imam salat tersebut.
Foto: ANRI.go.id 
Titik temu Sukarno dan NU sebenarya mulai intens terjalin sejak rapat-rapat 
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) tahun 1945. Dari 62 
orang anggota, 15 orang di antaranya adalah kiai perwakilan NU, seperti KH. 
Masykur dan KH. Wahid Hasyim. Dari keduanya lah, Sukarno mengenal pesantren 
lebih dekat. Hal itu terjadi karena para kiai menunjukan simpati yang besar 
terhadap nasionalime berdasarkan kerakyatan yang diusung Sukarno.
Hubungan Presiden Sukarno dengan NU semakin erat, ketika pemerintahan RI tengah 
dirongrong kekuatan pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) 
dan Pemrintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)–Perjuangan Semesta 
(Permesta). Salah satu kedetakan Sukarno dengan NU, ketika ia datang menghadiri 
Muktamar NU ke-23 di Kota Surakarta, Jawa Tengah, 28 Desember 1962.
“Saya sangat cinta sekali dengan NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang 
mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan 
tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada 
NU,” tegas Sukarno.
Saat itu, Sukarno juga memberikan apresiasi kepada NU dan Rais Aam PBNU, KH. 
Wahab Hasbullah atas gagasannya merebut Irian Barat. “Baik ditinjau dari sudut 
agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang 
sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama 
saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian 
Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang 
bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil 
saudara-saudara,” kata Sukarno.

--------------------------------------------------------------------------------
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/93B171B535044281A0E5C8A3DA149B31%40A10Live.

Reply via email to