"Meskipun lintas sejarah politik Indonesia sangat dipengaruhi oleh visi besar politik Jawa", jelas ini yang disebut "neo-Mojopahit" dengan sumpah gajah Madanya. Jadi jangan kaget kalau perkembangan dan pembangunan NKRI terkonsentrasi di pulau Jawa. hehehehe dan Allahu Akbar!
On Sun, May 15, 2022 at 3:44 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > Written by*I76* <https://www.pinterpolitik.com/author/i76/> > Friday, May 13, 2022 10:00 > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tradisi-politik-baru-ala-jokowi/ > Tradisi Politik Baru ala Jokowi? > [image: Tradisi Politik Baru ala Jokowi?] > > *Peristiwa ketika Presiden Jokowi menanyakan para menterinya yang ingin > maju di pilpres ditafsirkan sebagai tekad RI-1 untuk membawa kultur baru > dalam suksesi kepemimpinan nasional 2024. Lantas, mungkinkah Jokowi mampu > mewujudkan tradisi baru dalam politik Indonesia?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > Komunikasi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) > <https://www.pinterpolitik.com/celoteh/jokowi-mengubah-politik-indonesia/> > dengan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju terlihat sangat terbuka > dan cair. Hal ini dibuktikan dengan adanya penyampaian keinginan para > menteri mencalonkan diri pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. > > Pernyataan para menteri yang terbuka menyatakan ingin maju di Pilpres 2024 > dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Jokowi dalam mengelola kabinetnya. > Jokowi mengingatkan para menterinya untuk tetap fokus bekerja meski tahapan > Pemilu 2024 dimulai sebentar lagi. > > Arsul Sani, Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), melihat > fenomena tersebut sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya, semakin banyak > orang yang menyatakan kesiapan maju nyapres justru semakin bagus. > > Panda Nababan, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pdip-nasdem-perebutkan-jokowi/>, > membenarkan informasi tentang para menteri yang mempunyai keinginan maju > menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Mereka telah menyatakan > kesiapannya saat ditanya langsung oleh Jokowi. > > Diketahui dalam sebuah pertemuan, Jokowi bertanya kepada empat menteri, > yaitu Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian), Sandiaga Uno (Menparekraf), > Erick Thohir (Menteri BUMN), dan Prabowo Subianto (Menhan). Tak hanya > menteri, Ketua DPR RI Puan Maharani juga mendapatkan pertanyaan yang sama. > > Saat Jokowi menanyakan pencapresan kepada Prabowo, terdapat jawaban yang > berbeda dibanding jawaban menteri lainnya. Dengan diplomatis, Prabowo > mengatakan akan maju dengan seizin Jokowi. Seolah Prabowo ingin > menyampaikan dua hal sekaligus. *Pertama*, informasi akan maju; dan > *kedua *adalah pernyataan untuk meminta restu atau izin dari Jokowi. > > Dialog antara Jokowi dan Prabowo ini bukanlah peristiwa biasa. Peristiwa > ini menarik dikarenakan di era Jokowi terkesan ada fenomena saling meminta > restu antara pemimpin sebelumnya dengan calon pemimpin berikutnya. > > Lantas, apakah peristiwa yang memperlihatkan saling memberikan restu ini > hanya ditampilkan di era Jokowi? Kemudian, seperti apa suksesi kepemimpinan > pada era presiden-presiden Indonesia sebelumnya? > [image: jokowi tahu menteri ingin nyapres ed.]Jokowi Tahu Menteri Ingin > Nyapres *Suksesi Presiden Indonesia* > > Meskipun lintas sejarah politik Indonesia sangat dipengaruhi oleh visi > besar politik Jawa, tapi untuk perihal suksesi kepemimpinan di Indonesia > terlihat sangat berbeda dengan tradisi peralihan politik Jawa itu sendiri. > > Kita mengenal peralihan kekuasan dalam politik Jawa dilakukan secara turun > temurun. Peralihan suatu jabatan atau kewenangan dilakukan kepada keturunan > atau keluarga pemegang jabatan terdahulu. Hal ini biasanya terjadi pada > pemerintahan otokrasi tradisional. > > Suksesi yang dimaksud ialah sebuah rotasi atau regenerasi elite yang > merupakan keharusan dalam sebuah sistem demokrasi. Ini ditandai dengan > tingginya partisipasi rakyat atau legitimasi, juga pengaruh pemimpin > sebelumnya dalam lingkup elite. > > Benedict Anderson dalam bukunya *The Idea of Power in Javanese Culture. > From the book Culture and Politics in Indonesia*, menggaris bawahi bahwa > permasalahan suksesi yang dimaksud bukan hanya terkait pergantian kekuasaan > semata, tetapi legitimasi yang hadir dalam suksesi. Dalam tataran elite, > legitimasi ini sangat dipengaruhi oleh restu pemimpin sebelumnya. > Suksesi ini akan sangat mempengaruhi dan juga menentukan kedudukan > seorang pemimpin ataupun pengambilan keputusan kebijakan negara. Dan dalam > konteks Indonesia, presiden sebelumnya dianggap gagal memberikan dukungan > politik mereka bagi presiden selanjutnya. Hal ini dapat dilacak dari > deretan presiden Indonesia terdahulu. > > Bambang Supriyadi dalam tulisannya *Suksesi Kepemimpinan di Indonesia*, > mengatakan bahwa kepemimpinan pasca Soekarno di Indonesia diwarnai dominasi > militer, khususnya Angkatan Darat yang beraliansi dengan teknokrat. > > Soeharto bukanlah produk politik era sebelumnya. Bahkan sebaliknya, > pemerintahan Orde Baru adalah antitesis dari pemerintahan Orde Lama. > Terjadi suksesi politik secara demokratis melalui lembaga politik, tapi > restu politik tidak didapatkan rezim ini. > > Di era Soekarno dan Soeharto, efektivitas pemerintahan terlaksana akibat > akumulasi kekuasaan yang besar di tangan presiden. Karena Soekarno dan > Soeharto merupakan pemimpin otoriter, kekuasaan besar keduanya tidak > digunakan untuk mempersiapkan pemimpin selanjutnya. > > Sistem politik pun berubah di era Reformasi, tapi restu dalam proses > suksesi pun tidak ditemukan di era ini. Pada kasus BJ Habibie dan > Abdurrahman Wahid (Gus Dur), alih-alih memberikan restu kepada pemimpin > selanjutnya, keduanya justru gagal mempertahankan kursi kekuasaannya. > > Kasus Megawati Soekarnoputri sekiranya lebih baik. Sama seperti Jokowi, > Megawati justru disebut bertanya kepada menteri yang ingin maju. Namun, > tradisi restu tidak terjadi karena Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut > mengatakan tidak maju kepada Megawati. > > Sementara SBY, meskipun memimpin selama dua periode alias paling lama di > era Reformasi, sang Jenderal nyatanya gagal meletakkan tradisi restu bagi > pemimpin selanjutnya. Saat ini, Partai Demokrat bahkan turun kasta menjadi > partai tengah. > > Dalam konteks politik hari ini, pola komunikasi politik yang diperlihatkan > oleh Presiden Jokowi dengan para menterinya yang ingin menjadi capres, > dapat ditafsirkan sebagai tekad Presiden Jokowi untuk membawa kultur baru > dalam suksesi kepemimpinan nasional 2024. > > Ini sebuah angin segar dan harus didukung oleh semua elemen bangsa. > Suksesi kepemimpinan nasional memang mestinya demikian. Berakhir dengan > damai, berjalan mulus, dan tidak meninggalkan konflik apa pun. > > Selain kita terhindar dari luka dan beban sejarah, suksesi yang mulus akan > menjamin keberlangsungan program-program pembangunan yang penting bagi > kemajuan bangsa ini. Dengan adanya suksesi yang damai, program-program yang > bagus dari pemerintahan sebelumnya bisa diteruskan oleh pemerintahan > berikutnya. > > Semua bisa terlaksana jika terdapat restu atau dukungan politik yang > merupakan preseden politik bagi era selanjutnya. Dukungan publik dipercaya > sebagai modal politik berharga bagi para kandidat yang ingin maju di > pilpres. Dan dukungan pemimpin sebelumnya dapat membuat dukungan publik > lebih meningkat. > Pada kasus Jokowi, citra dan dukungan masyarakat terhadapnya yang masih > besar dapat menjadi modal penting bagi kandidat yang berlaga di Pilpres > 2024. Kita semua tentu dapat melihat, berbagai relawan terlihat menarasikan > kandidat dukungannya sebagai penerus Jokowi. > > Lantas, mampukah Jokowi merealisasi hadirnya tradisi baru dalam proses > suksesi kepemimpinan politik di Indonesia? > [image: infografis jokowi on a hot streak]Jokowi On A Hot Streak *Warisan > Tata Krama Jokowi* > > Gestur politik berbeda yang diperlihat Jokowi baru-baru ini tampaknya > membantah pernyataan sejumlah pihak yang meragukan sosok Jokowi sejak awal > kemunculannya. > > Jeffrey Winters, pengamat politik Indonesia asal Northwestern University, > misalnya, pernah mengatakan Jokowi merupakan presiden terlemah secara > politik sejak masa Gus Dur. > > Menurut berbagai pihak, kesalahan utama Jokowi karena bergerak terlalu > cepat dari seorang wali kota menjadi pemimpin negara besar seperti > Indonesia. > > Akibat dari akselerasi jabatan yang begitu cepat, Jokowi dinilai tidak > mampu untuk memilah siapa pemain politik pada level nasional, bagaimana > mereka menjalin jaringan, serta apa agenda dan bagaimana integritas mereka. > > Dampak dari lemahnya pengaruh Jokowi ini terlihat dari hubungan Jokowi dan > Ketua Umum PDIP Megawati yang begitu kompleks. Walaupun Mega tidak memiliki > posisi formal dalam pemerintahan, tetapi dia disebut-sebut sangat > mempengaruhi pemerintahan Jokowi. > > Akselerasi politik Jokowi yang seolah menerabas jenjang politik mapan > rupanya dianggap positif oleh ilmuwan politik lainnya. Sebut saja seperti > Marcus Mietzner yang melihat akselerasi politik Jokowi merupakan fenomena > kebangkitan kekuatan politik di Indonesia. > > Dengan tren populisme yang dibawa oleh Jokowi, Mitzner melihat Jokowi > dapat mengambil peluang untuk mengakumulasi kekuatan politik untuk tunduk > pada dirinya, termasuk kekuatan politik yang berjejaring dalam kelompok > yang biasa disebut oligarki. > > Lebih jauh, Jokowi dapat dianggap sebagai pemimpin kuat dikarenakan mampu > merangkul kekuatan politik yang berseberangan dengannya. Hingga saat ini > kita tidak melihat oposisi yang benar-benar murni di era pemerintahannya. > > Jika tradisi baru yang digagas Jokowi tentang peralihan kekuasaan, tidak > hanya suksesi kepemimpinan tetapi juga mendapatkan restu politik pemimpin > sebelumnya terjadi, maka Jokowi dapat dikatakan meletakkan “tata krama” > politik baru. > > John Pamberton dalam bukunya *Notes on the 1982 General Election in Solo*, > membahas secara khusus istilah “pesta demokrasi” untuk menjuluki pemilu di > Indonesia. Menurutnya, kata “pesta” di situ tidak tepat diterjemahkan ke > dalam bahasa Inggris menjadi “festival”. Kata pesta lebih pas bila dirujuk > ke kegiatan jamuan resmi terkait upacara umum atau ritual domestik. > > Dalam jamuan ritual domestik Jawa, tata krama penting dalam pelaksanaan > acara. Ritual yang khidmat dalam tradisi Jawa, substansi sejatinya yaitu > restu, dan restu didapatkan dari tiap orang yang hadir untuk empunya acara. > > Walhasil, restu atau *endorsement* politik merupakan bagian dari adab > politik yang terejawantahkan dari fenomena pesta pernikahan, khususnya yang > berlangsung dalam adat Jawa. Mungkin ini akan menjadi warisan politik dari > kepemimpinan Jokowi. (I76) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4506CDEC84754F5298A07A2DE7932974%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4506CDEC84754F5298A07A2DE7932974%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CFkEAh37sxJmJ3%3Dab_oHgDQHesc_coMpny0SoRhSSSqg%40mail.gmail.com.
