Debt Stock (by Major Lenders, US$ million)

[image: DebtStock2019]
[image: image.png]



On Sun, May 15, 2022 at 3:41 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Written by*D74* <https://www.pinterpolitik.com/author/d74/>
> Saturday, May 14, 2022 07:00
> Perang! IMF Lebih Kejam Dari Tiongkok?
> [image: dilanda krisis besar besaran warga sri lanka murka 9 169]
>
> *Krisis ekonomi Sri Lanka membuat banyak pihak memprediksi negara itu akan
> menjadi negara hancur. Banyak yang menduga bahwa utangnya pada Tiongkok
> yang menjadi pemicunya. Benarkah demikian?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>*
>
> Ketegangan politik luar biasa tengah terjadi di Sri Lanka. Perdana Menteri
> (PM) Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri dari jabatannya setelah didesak
> oleh para demonstran yang terdiri dari jutaan warga yang muak atas krisis
> ekonomi yang terjadi di negara itu.
>
> Menurut laporan yang ada, kerusuhan yang terjadi telah menewaskan
> setidaknya 9 orang dan menyebabkan sebanyak 200 orang luka-luka. Salah satu
> dari korban tewas pun dikabarkan adalah seorang anggota parlemen bernama
> Amarakeerthi Athukorala.
>
> Ya, Sri Lanka saat ini sedang dalam keadaan ekonomi terburuk sepanjang
> sejarahnya. Besarnya hutang luar negeri membuat negara kepulauan ini
> kesulitan memenuhi kebutuhan makanan dan energi, karena selama ini Sri
> Lanka selalu mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
> esensialnya.
>
> Menanggapi fenomena ini, seluruh media dan banyak pengamat menilai bahwa
> bencana besar Sri Lanka sesungguhnya terjadi akibat utang pemerintah
> Rajapaksa pada Tiongkok. Media Times of India, misalnya, mengatakan Sri
> Lanka telah masuk ke perangkap utang Tiongkok, karena menurut mereka
> Tiongkok adalah pemberi utang terbesar.
>
> Memang, tidak dipungkiri Tiongkok terlibat dalam pendanaan sejumlah proyek
> infrastruktur di Sri Lanka. Salah satu yang paling disorot adalah proyek
> pelabuhan Hambantota yang saat ini telah menjadi proyek gagal.
>
> Para analis ekonom juga menyalahkan ketidakmampuan Rajapaksa dalam
> mengatur keuangan negaranya. Dengan menerbitkan sejumlah kebijakan
> kontroversial, Rajapaksa membuat pengeluaran nasional Sri Lanka melebihi
> pendapatannya. Sementara kuantitas produksi barang dan jasa yang dapat
> diperdagangkan tidak pernah memadai.
>
> Prasangka buruk terhadap utang Tiongkok memang bisa dikatakan mulai
> menjadi tren di banyak negara. Istilah *debt-trap diplomacy* atau
> diplomasi jebakan utang sangat familiar digunakan banyak orang, termasuk
> para pengamat ketika berbicara tentang investasi Tiongkok.
>
> Tapi, apakah memang betul penyebab Sri Lanka runtuh adalah murni karena
> utangnya pada Tiongkok? Benarkah utang Tiongkok memang sekejam itu?
> *Jatuh Bukan Karena Tiongkok?*
>
> *Debt-trap diplomacy* yang dirumorkan dilakukan Tiongkok melalui beberapa
> skema investasinya telah menjadi momok menyeramkan bagi banyak negara
> berkembang, termasuk Indonesia.
>
> Bahkan banyak dari kita yang menyebut Indonesia perlu menyeimbangkan
> investasi Tiongkok dengan investasi dari Amerika Serikat (AS) agar bisa
> menyeimbangkan ketergantungan. Jika kita berpandangan demikian, mungkin
> kita akan menjadikan kasus Sri Lanka sebagai salah satu bukti kekhawatiran.
>
> Namun, benarkah asumsi demikian?
>
> *Well*, berdasarkan data dari situs *Public Finance
> <https://publicfinance.lk/en/topics/Who-Are-the-Major-Foreign-Lenders-for-Sri-Lanka%C2%A0-1627381756>*,
> yang dikumpulkan oleh Verité Research, sebuah lembaga* think tank* yang
> bergerak di bidang ekonomi dan politik, kita akan menemukan suatu hal yang
> menarik.
>
> Ternyata, per tahun 2020, Tiongkok bukanlah pemberi utang terbesar pada
> Sri Lanka. Negeri Tirai Bambu hanya berkontribusi sebanyak 10 persen dari
> total utang luar negeri yang dimiliki Sri Lanka. Sementara itu, utang
> terbesar Sri Lanka sesungguhnya berasal dari *International Sovereign
> Bonds* (ISBs), yakni sebesar 30 persen. ISBs ini berasal dari pasar modal
> internasional yang didominasi negara-negara Barat.
> Tiongkok pun bahkan tidak termasuk peminjam utang tiga terbesar, karena di
> posisi kedua ditempati oleh gabungan dari pinjaman beberapa institusi
> internasional, seperti International Monetary Fund (IMF). Lalu posisi
> ketiga dari Asian Development Bank (ADB). Keempat adalah Jepang, baru
> kemudian posisi kelima diisi oleh Tiongkok.
>
> Dilihat dari sejarahnya, Sri Lanka sebenarnya sudah memulai akar
> permasalahan utang dengan Barat. Menurut data yang diperoleh profesor
> ekonomi, Prema-Chandra Athukorala dalam artikelnya *Sri Lanka and the
> IMF: Myth and Reality*, Sri Lanka telah menjadi langganan pinjaman IMF
> sejak tahun 1965 dengan memperoleh sebanyak 16 program pinjaman utang.
>
> Karena ini, kita sepertinya perlu mencurigai bahwa mungkin bukan Tiongkok
> lah yang jadi antagonis utama dalam krisis Sri Lanka. Bisa jadi, itu
> sesungguhnya merupakan IMF dan Barat.
>
> Kecurigaan terhadap jeratan utang IMF sebagai katalis krisis juga
> diungkapkan oleh R. Ramakumar dalam tulisannya *What’s Happening in Sri
> Lanka and How Did the Economic Crisis Start?.* Ramakumar mengungkapkan
> bahwa masing-masing pinjaman yang diberikan IMF datang dengan persyaratan
> bahwa Sri Lanka harus mengurangi defisit anggaran mereka.
>
> Selain itu, Sri Lanka juga perlu melakukan pemotongan subsidi pemerintah
> untuk makanan bagi rakyat Sri Lanka, dan juga melakukan depresiasi mata
> uang. Kondisi-kondisi ini, menurut Ramakumar, telah membuat Sri Lanka
> sangat kesulitan dalam mendirikan kemandirian finansialnya.
>
> Oleh karena itu, bisa diinterpretasikan bahwa kehancuran ekonomi Sri Lanka
> sesungguhnya bukan disebabkan oleh *debt-trap diplomacy* Tiongkok,
> melainkan muncul dari permasalahan pinjaman berlebihan pada IMF dan
> negara-negara Barat.
>
> Pendapat tentang adanya antagonisme terhadap utang Tiongkok disampaikan
> pula oleh pengamat internasional dari Murdoch University, Shahar Hameiri
> dalam tulisannya *Debunking the Myth of China’s “Debt-Trap Diplomacy”. 
> *Hameiri
> menilai bahwa gembar-gembor tentang kekejaman utang Tiongkok adalah sebuah
> mitos besar.
>
> Hameiri mencontohkannya dengan kasus pelabuhan Hambantota. Proyek ini
> secara umum diakui sebagai akal-akalan Tiongkok untuk menjebak Sri Lanka
> dalam utang, lalu memanfaatkan keputusasaan Sri Lanka sebagai cara Tiongkok
> bisa membangun hegemoninya dan menjadikan pelabuhan tersebut sebagai
> pangkalan angkatan laut yang dikomandoi Presiden Xi Jinping.
>
> Padahal kenyataannya tidak demikian. Hambantota adalah proyek yang
> diinisiasi oleh Rajapaksa, lalu ketika kekurangan dana, Rajapaksa beralih
> ke Tiongkok dan mendapatkan pinjaman sebesar lebih dari US$1 miliar.
>
> Dan sama seperti Ramakumar, Hameiri juga menyalahkan utang Sri Lanka yang
> berlebihan pada IMF dan Barat sebagai penyebab sesungguhnya dari krisis
> ekonomi.
>
> Selain itu, krisis Sri Lanka juga sebenarnya mengajarkan kita tentang
> sebuah fenomena politik menarik, yakni banalisasi kejahatan utang
> internasional Tiongkok, atau pewajaran tentang dugaan kejahatan skema utang
> Tiongkok sebagai penyebab krisis ekonomi.
>
> Tanpa melakukan banyak penyelidikan yang mendalam, banyak pengamat dan
> media langsung memiliki satu suara dalam menvonis Tiongkok sebagai pihak
> yang jahat. Meski memang skema investasi Tiongkok memiliki kekurangannya
> sendiri, banyak orang mengabaikan faktor-faktor lain yang sesungguhnya
> berkontribusi lebih besar dalam runtuhnya perekonomian Sri Lanka.
> *Well*, kalau kita ingat-ingat, tidak heran sebenarnya antagonisasi utang
> Tiongkok bisa cepat diamini banyak negara, karena narasi *debt-trap
> diplomacy* sesungguhnya juga dipopulerkan oleh AS ketika masa
> pemerintahan mantan Presiden Donald Trump.
>
> Lantas, mengapa kira-kira narasi horor tentang utang internasional
> Tiongkok perlu digemborkan?
> *Lagi-Lagi Propaganda Barat?*
>
> Sebagai negara adidaya, AS memiliki kekuatan dalam menjadikan apa yang
> dikatakannya sebagai agenda politik yang perlu diikuti oleh banyak negara.
> Bisa dikatakan, AS mampu menciptakan realitas politik internasional sesuai
> kehendaknya sendiri.
>
> Tidak terkecuali dalam persoalan penggembar-gemboran bahaya utang
> Tiongkok. David Dodwell, seorang pengamat ekonomi internasional, dalam
> artikelnya *The Myth of China’s ‘Debt-Trap’ Diplomacy Must be Put to Bed
> Once and For All*, menilai narasi jebakan utang Tiongkok adalah sebuah
> propaganda besar yang sedang dimainkan AS.
>
> Mulai dari era Trump, AS selalu mengatakan utang Tiongkok yang dijalankan
> melalui skema seperti Belt and Road Initiative (BRI) adalah sebuah rencana
> besar dalam menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai negara hegemon yang akan
> menghancurkan sistem perekonomian dunia.
>
> Padahal, BRI sendiri sesungguhnya diciptakan Tiongkok untuk mengatasi
> permasalahan ekonomi domestik. BRI dilakukan untuk mengeksternalisasi utang
> besar yang dimiliki Tiongkok dan masalah kelebihan kapasitas industri dalam
> negeri dengan merangsang permintaan eksternal untuk barang, jasa, dan modal.
>
> Oleh karena itu, proyek yang disetujui dalam BRI mengikuti logika ekonomi,
> bukan geopolitik. Dengan demikian, narasi yang mengatakan bahwa BRI adalah
> cara Tiongkok untuk menjadi hegemon adalah narasi yang kurang tepat.
>
> Pemberitaan yang mengatakan bahwa utang Tiongkok begitu menyeramkan dapat
> kita artikan sebagai skenario drama yang dimainkan AS dalam memosisikan
> dirinya sebagai protagonis, sementara Tiongkok menjadi antagonis. Dengan
> menyebarkan kekhawatiran jebakan utang, AS bisa membuat banyak negara
> merasa tidak percaya dengan perjanjian ekonomi yang akan dilakukannya
> dengan Tiongkok.
>
> Lalu, mengapa hal ini dilakukan AS?
>
> *Well*, kita bisa menginterpretasikannya dengan menggunakan *power
> transition theory* yang digagas A. F. K Organski. Teori ini menekankan
> bahwa munculnya suatu kekuatan baru di sistem internasional akan menjadi
> tantangan bagi kestabilan sistem yang sebelumnya dibuat oleh satu negara
> hegemon.
>
> Untuk menjaga agar kekuatannya tidak terkikis, maka negara hegemon
> tersebut perlu berupaya agar peningkatan kekuatan kompetitornya bisa
> dikontrol. Di era modern ini, salah satunya adalah dengan menggunakan
> kekuatan propaganda.
>
> Dari sini, bisa disimpulkan bahwa persoalan tentang jebakan utang
> internasional ini semua sesungguhnya adalah peperangan narasi antara Barat
> dan Tiongkok.
>
> Akhir kata, kita perlu mulai sadar bahwa meski utang Tiongkok memang
> memiliki risikonya sendiri, narasi tentang kekejamannya adalah sebuah
> tindakan yang berlebihan. Segala bentuk utang pasti memiliki kerugiannya.
> Dan khusus dalam kasus Sri Lanka, utang yang paling berbahaya berasal dari
> ketergantungannya pada IMF dan sistem keuangan Barat. (D74)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/201D5C90E4164D38833770430C6DF087%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/201D5C90E4164D38833770430C6DF087%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DON039Qyjf4Pt5p-wwQWLdd2fH-NdPb_7miGmdnVTtEA%40mail.gmail.com.

Reply via email to