Written byA43Tuesday, May 31, 2022 21:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/putin-sakit-kemenangan-as/
Putin Sakit, ‘Kemenangan’ AS?
Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan harus melalui sejumlah perawatan medis 
karena dirumorkan mengidap penyakit yang cukup parah, yakni kanker darah. 
Mengapa kabar sakitnya Putin ini bisa berimplikasi pada situasi geopolitik dan 
hubungan Rusia dengan Amerika Serikat (AS)?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Doctors say I’m the illest ’cause I’m suffering from realness” – Kanye West, 
“N***as in Paris” (2011)

Penyakit memang sudah lama jadi bagian dari kehidupan umat manusia. Ada 
penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan bakteri, seperti Covid-19. Ada 
juga penyakit yang timbul dari kelainan atau gagal fungsi organ manusia sendiri.

Entah apapun itu penyebabnya, penyakit dianggap menjadi hal yang merugikan bagi 
manusia. Kala teknologi kesehatan dan medis belum semutakhir sekarang, 
datangnya penyakit yang parah pun langsung dikaitkan dengan kematian.

Untungnya, di era kontemporer saat ini, pengobatan hingga tingkat tertentu bisa 
dilakukan. Bahkan, orang awam pun bisa belajar sedikit soal dunia medis dari 
produk-produk budaya populer layaknya series yang berjudul The Good Doctor 
(2017-sekarang) dan Grey’s Anatomy (2005-sekarang).

Tidak hanya itu, perkembangan ini juga menjadi berkah bagi umat manusia secara 
luas. Para pejuang kesehatan – mulai dari tenaga kesehatan hingga peneliti 
vaksin – juga berjasa dalam membantu membangun kesehatan masyarakat Indonesia 
yang beberapa waktu lalu sempat amburadul akibat pandemi Covid-19.

Dengan pengobatan juga, seseorang juga tidak perlu khawatir bila terkena flu. 
Kala sakit pun, orang-orang tersayang pasti juga senantiasa membantu agar 
individu tersebut lekas sembuh. Rasa empati dan simpati tidak jarang turut 
menyertai.

Namun, kasusnya akan berbeda bila individu yang sakit adalah seorang pemimpin – 
khususnya pemimpin negara. Bagaimana tidak? Ketika pemimpin Korea Utara 
(Korut), Kim Jong-un, dirumorkan sakit, media dan publik dari berbagai negara 
langsung heboh menyoroti kabar tersebut.

Bukan hanya Kim, kabar sakitnya Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnopurtri 
juga sempat membuat heboh publik dan media Indonesia. Bahkan, kabar-kabar soal 
kondisi Presiden ke-5 RI tersebut meruak lebih dari satu kali.

Kini, giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang dikabarkan sakit. Berdasarkan 
rekaman suara yang disebut berasal dari seorang oligark yang dekat dengan 
Kremlin, Putin dikabarkan menderita sakit punggung dan kanker darah – 
membuatnya semakin jarang terlihat di publik sejak dekade 2010-an.

 
Hebohnya kabar-kabar soal sakit yang diderita oleh politisi, pejabat, hingga 
pemimpin dunia ini menandakan bahwa terdapat unsur politik juga yang menyertai 
kondisi kesehatan mereka. Mengapa sebenarnya persoalan kesehatan seperti ini 
bisa berimplikasi pada diskursus politik? Lantas, apa dampaknya bila diamati 
dalam kasus kabar sakitnya Putin?

Politik Kesehatan Bayangi Putin?
Semua orang sepakat apabila kesehatan menjadi salah satu aspek penting dalam 
kehidupan setiap individu. Bahkan, terdapat sebuah ungkapan populer yang 
berasal dari Bahasa Latin berbunyi, “Mens sana in corpore sano.” Ungkapan ini 
memiliki arti bahwa, dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.

Mungkin, istilah Latin itu cukup menjelaskan bahwa jiwa seorang pemimpin turut 
dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tubuhnya. Secara tidak langsung, hal ini 
turut dijelaskan oleh David Burkus dalam tulisannya yang berjudul For Leaders, 
Looking Healthy Matters More than Looking Smart.

Burkus mengemukakan bahwa publik memiliki preferensi tersendiri soal pemimpin 
mereka. Mengacu pada survei yang disebutkan dalam tulisannya, Burkus 
menjelaskan bahwa publik lebih menyukai sosok pemimpin yang terlihat sehat – 
bahkan lebih disukai dibandingkan pemimpin yang terlihat pintar.

Padahal, pemimpin yang terlihat sehat belum tentu memiliki kapabilitas yang 
cukup untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak jarang, publik kerap menginginkan 
pemimpin yang memiliki kecerdasan pada tingkat tertentu agar bisa menciptakan 
kebijakan-kebijakan yang bermanfaat.

Lantas, bila mengacu pada tulisan Burkus tadi, muncul sebuah pertanyaan 
lanjutan. Mengapa kesehatan pemimpin menjadi penting di mata masyarakat?

Guna menjawab pertanyaan tersebut, mungkin perlu dipahami juga sebenarnya 
mengapa kesehatan menjadi faktor krusial. Mengacu pada tulisan Julian M. Saad 
dan James O. Prochaska yang berjudul A Philosophy of Health: Life as Reality, 
Health as a Universal Value, terdapat sejumlah filosofi yang menjelaskan 
persoalan kesehatan manusia.

 
Namun, dengan mengutip S. Andrew Schroeder, Saad dan Prochaska menjelaskan 
bahwa segala filosofi kesehatan menekankan pada satu hal, yakni fungsionalisme. 
Diskusi mengenai filosofi kesehatan ini berpusar pada bagaimana fungsi 
seseorang bisa berjalan dalam kondisi tubuh (body state) mereka.

Menjadi masuk akal apabila seorang pemimpin yang diekspektasikan untuk bisa 
menjalankan perannya tidak memiliki kondisi kesehatan yang cukup. 
Fungsionalisme inilah yang mungkin menjadi fokus utama publik terkait kondisi 
tubuh pemimpin mereka.

Lantas, bagaimana dampaknya terhadap situasi politik? Apakah isu kesehatan 
Putin bisa berdampak pada kebijakan luar negeri dan ketegangan politik Rusia 
dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya?

Akhir Kuasa Putin, ‘Kemenangan’ AS?
Pemimpin, dalam sektor apapun, tentunya diharapkan bisa menjalankan peran dan 
fungsinya. Hal ini pun berlaku dalam bidang politik dan pemerintahan.

Namun, bila fungsi dan peran tersebut tidak bisa berjalan seperti yang 
diharapkan, tentu jalannya pemerintahan akan terhambat. Menjadi wajar apabila 
akhirnya diskursus politik yang muncul kemudian adalah untuk mencari pengganti 
sang pemimpin.
Bukan tidak mungkin, ini juga berpengaruh pada dinamika politik yang berpusar 
pada pemimpin tersebut. Perubahan dan pergeseran tertentu bisa saja terjadi 
pada para politikus dan pejabat yang dekat dengan sang pemimpin.

Bruce Bueno de Mesquita dan Alastair Smith dalam tulisan mereka yang berjudul 
Political Loyalty and Leader Health menjelaskan bahwa kondisi sakit seorang 
pemimpin bisa mempengaruhi kesetiaan para pendukungnya – bahkan bisa berujung 
pada pencabutan sang pemimpin dari jabatannya dan suksesi.

 
Tendensi pergeseran kesetiaan ini – mengacu pada de Mesquita dan Smith – akan 
semakin besar ketika pemimpin berada dalam pemerintahan yang otokratik – suatu 
sistem politik yang hanya membutuhkan koalisi kecil. Alhasil, dengan kabar 
Putin sakit, bukan tidak mungkin para silovarchs – sebutan untuk orang kaya 
yang memiliki pengaruh hingga organisasi mata-mata Dinas Keamanan Federal (FSB) 
– seperti Aleksander Bortnikov dan Nikolai Patrushev akan memiliki dorongan 
untuk segera mencari pengganti presiden Rusia tersebut. 

Alhasil, menjadi sebuah kepentingan strategis bagi seorang pemimpin – khususnya 
mereka yang memimpin secara otokratik – untuk merahasiakan kondisi kesehatannya 
yang buruk. Pasalnya, kekuasaan dan kewenangan di negara semacam ini biasanya 
berpusat pada satu sosok orang kuat, yakni pemimpin strongman.

Kepentingan strategis seperti ini mungkin tidak hanya terbatas pada ranah 
politik domestik, melainkan juga dalam politik internasional. Seperti yang 
dijelaskan sebelumnya, pola pemerintahan dalam negara otokrasi biasanya 
berpusat pada satu orang pemimpin utama.

Bila pemimpin tersebut sakit, bukan tidak mungkin, pengganti berikutnya lah 
yang akan mengambil tampuk kekuasaan. Dengan kebijakan luar negeri yang 
biasanya terpusat pada sang strongman, perubahan arah kebijakan bisa saja 
terjadi.

Lantas, bagaimana dengan nasib Rusia bila seandainya Putin benar-benar sakit? 
Bukan tidak mungkin, perubahan kebijakan itu terjadi. Pasalnya, banyak rumor 
yang mengatakan bahwa para silovarchs mulai tidak sepakat dengan kebijakan luar 
negeri Putin, khususnya terkait konflik yang berlangsung di Ukraina.

Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin, bila kabar ini benar, AS dan negara-negara 
Eropa memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mempengaruhi kebijakan luar 
negeri Rusia – tentunya dengan sosok pengganti Putin yang bisa saja lebih mudah 
untuk diajak bernegosiasi. Menarik untuk diamati kelanjutannya. (A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E325F1110CCE47F2866A0E03892A658E%40A10Live.

Reply via email to