Written byA43Thursday, June 16, 2022 09:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-telah-durhaka-ke-megawati/
Jokowi Telah “Durhaka” ke Megawati?
Di tengah rumor soal ketegangan politik dengan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati 
Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan bahwa dirinya 
menganggap sang Ketum bagaikan “ibunya” sendiri. Apakah ini artinya Jokowi 
telah bersikap “durhaka” kepada Megawati?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  Mama dearest, spare your feelings” – Kendrick Lamar, “goosebumps” (2016)

Bagi sebagian orang, masa kecil terkadang menjadi masa-masa yang lebih mudah 
dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Saat masih anak-anak, masalah-masalah 
kehidupan seperti target pekerjaan, deadline, kompetisi, dan asmara merupakan 
hal-hal yang tidak perlu dipikirkan.

Bagi mereka yang tergolong dalam generasi milenial, kehidupan masa kecil justru 
lebih banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menghibur. Setiap hari Minggu, 
misalnya, kartun dan anime senantiasa mengisi keseharian di akhir pekan.

Salah satu anime yang populer di awal dekade 2000-an adalah Petualangan Hachi 
si Lebah Madu yang tayang di televisi Indonesia sekitar tahun 2002 hingga tahun 
2004. Anime satu ini menceritakan perjalanan seekor lebah madu bernama Hachi 
yang terpisah dari ibunya, sang Ratu Lebah.

Sesulit apapun tantangan yang dihadapinya dan sedekat apapun kesempatan yang 
didapatkannya, Hachi tetap berusaha untuk bertemu dengan ibunya. Mungkin, 
kebutuhan akan sosok induk membuat Hachi pantang menyerah.

Tanpa disadari, jalan cerita (storyline) yang disajikan dalam anime satu ini 
bisa juga merefleksikan kehidupan di dunia nyata. Faktanya, hampir semua biota 
di muka bumi ini – khususnya lebah seperti Hachi – selalu membutuhkan sosok 
induk agar bisa bertahan hidup.

Mungkin, hal yang sama juga berlaku bagi manusia. Sejak kecil, tidak dapat 
dipungkiri orang tua selalu menjadi pihak yang menyediakan apapun yang 
dibutuhkan oleh sang anak.

Dalam psikologi sosial, hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak ini 
biasa disebut sebagai storge. Biasanya, cinta dalam bentuk ini juga disertai 
dengan perasaan untuk peduli (care) dengan orang lain.

Boleh jadi, hal yang sama juga tengah dirasakan oleh Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) dan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri. Bagaimana tidak? 
Meski sempat dirumorkan ada ketegangan politik dalam hubungan mereka, Jokowi 
malah menyebutkan bahwa dirinya menganggap sang Ketum bagaikan “ibunya” sendiri.

 
Hubungan interpersonal antara Jokowi dan Megawati yang mereka setarakan 
layaknya ibu dan anak ini sebenarnya juga merefleksikan dinamika sosial dan 
politik yang ada di Indonesia. 

Namun, tentunya, Megawati jelas bukanlah ibu Jokowi. Bila demikian, mengapa 
Jokowi sampai harus menganggap Megawati bak “ibunya” sendiri? Mungkinkah 
hubungan layaknya “ibu” dan “anak” ini turut mempengaruhi dinamika politik dan 
pemerintahan di Indonesia?

Megawati Adalah Sang “Ibu”?
Berkaca dari kisah Hachi dalam anime tersebut, bisa dibilang sang ibu adalah 
segalanya bagi lebah kecil tersebut. Bahkan, kasih sayang ibu adalah tujuan 
utama yang terus dikejar.

Di dunia nyata, ratu lebah (queen bee) juga memiliki peran yang krusial. Selain 
sebagai satu-satunya lebah betina yang bertelur, ratu lebah juga memproduksi 
zat yang meregulasi kesatuan koloni lebah. 

Boleh jadi, sebuah koloni lebah – baik dalam anime maupun di dunia nyata – 
turut menggambarkan bagaimana sebuah masyarakat (society) bekerja, setidaknya 
dalam kebudayaan tertentu. Agar tercipta keteraturan dan ketertiban, diperlukan 
sosok “induk” – dalam hal ini pemimpin – yang memandu kohesi masyarakat secara 
luas.
Peran pemimpin bak ratu lebah ini bisa dibilang mirip dengan sebuah nilai yang 
diyakini di budaya Timur. Di Jepang, misalnya, pemimpin perlu dihormati 
layaknya “orang tua” bagi masyarakatnya. 

Inilah mengapa rekomendasi pemerintah soal pembatasan sosial kala pandemi 
dipatuhi dengan baik oleh masyarakat Jepang. Terdapat sebuah konsep nilai yang 
disebut dengan filial piety (seperti kazuko kokka atau kokkashugi) – di mana 
“anak” harus patuh dan berbakti kepada “orang tua” mereka.

Konsep filial piety dalam kehidupan sosial dan politik ini nyatanya tidak hanya 
berlaku di Jepang, melainkan juga di negara-negara Asia Timur – dan mungkin 
Asia Tenggara – seperti Tiongkok dan Korea. Nilai ini diyakini merupakan bagian 
dari tata nilai Konfusianisme.

 
Gagasan juche di Korea Utara (Korut), misalnya, didasarkan pada kehidupan 
bernegara yang menempatkan masyarakat luas sebagai komponen utamanya. 
Menariknya, pemimpin ditempatkan sebagai inti tengah dari masyarakat – 
menjadikan pemimpin sebagai pusat society Korut.

Tidak hanya Korut, filial piety juga berlaku di Tiongkok – biasa disebut 
sebagai xiào yang mengatur hubungan antara lao (orang tua) dan zi (anak). Yue 
Du dalam bukunya yang berjudul State and Family in China menjelaskan bahwa 
ideologi soal filial piety juga mempengaruhi jalannya pemerintahan dan politik 
di negara tersebut.

Bila filial piety hadir dalam dunia politik dan pemerintahan negara-negara Asia 
Timur, bagaimana dengan di Indonesia? 

Menariknya, David Bourchier dalam bukunya yang berjudul Illiberal Democracy in 
Indonesia menjelaskan bahwa gagasan negara keluarga (family state) yang 
didasarkan pada filial piety merupakan salah satu hal yang diidamkan oleh 
pemerintahan Orde Baru – di mana Soeharto menjadi semacam “bapak” bagi 
masyarakat luas.

Lantas, bila konsep ide filial piety dan family state ini pernah hidup di era 
Orde Baru, bagaimana dengan sekarang? Mungkinkah pola yang sama juga ada dalam 
hubungan politik antara Megawati dan Jokowi?

Jokowi Terjebak Bakti ke Megawati?
Meskipun tidak sepenuhnya sama dengan gagasan filial piety ala tradisi 
Konfusianisme di Asia Timur, konsep “harus berbakti kepada orang tua” juga 
menjadi nilai yang diyakini oleh masyarakat Indonesia. Dalam nilai agama, 
gagasan ini turut dianggap penting.

Tidak jarang, skenario sinetron yang menceritakan keputusan sang anak untuk 
memasukkan orang tua mereka ke panti jompo digambarkan sebagai keputusan yang 
tidak sejalan dengan nilai masyarakat. Cap “durhaka” bakal disematkan pada 
karakter sang anak tersebut.

Mengacu pada tulisan Elizabeth Wianto dan rekan-rekannya yang berjudul 
Authoritative Parents and Dominant Children as the Center of Communication for 
Sustainable Healthy Aging, nilai yang digambarkan dalam sinetron itu merupakan 
realitas yang ada di masyarakat. Filial piety berupa bakti dan rasa hormat 
kepada orang tua merupakan bagian dari nilai masyarakat Indonesia.

Oleh sebab itu, menjadi wajar bila nilai filial piety ini turut tersalurkan 
dalam lingkaran-lingkaran sosial lainnya, seperti dunia politik. Tidak jarang, 
label “orang tua” sebagai induk dan “anak” sebagai anggota lingkaran sosial 
partai politik (parpol) juga eksis.
Mari kita ambil PKB sebagai salah satu contohnya. Kala konflik internal antara 
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) terjadi di parpol 
itu pada tahun 2008 silam, label yang berkaitan dengan konsep hubungan antara 
“orang tua” dan “anak” turut mencuat.

 
Bagaimana tidak? Gus Dur sebagai pendiri parpol yang identik dengan Nahdlatul 
Ulama (NU) tersebut kerap dianggap semacam “orang tua” yang melahirkan PKB. 
Pada akhirnya, Cak Imin yang merupakan keponakan Gus Dur mendapatkan 
label-label bernada negatif seperti Malin Kundang dan Brutus.

Bukan tidak mungkin, filial piety dalam lingkaran parpol yang serupa juga hadir 
dalam pernyataan Jokowi yang menyebut Megawati bak “ibunya” sendiri. Pasalnya, 
Megawati sendiri menjadi sosok yang di-tua-kan di parpol berlambang kepala 
banteng tersebut.

Tidak hanya Jokowi, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo juga 
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan hubungan “anak” dan “orang 
tua” soal Megawati. Beberapa waktu lalu, Ganjar menyebutkan bahwa dirinya kerap 
“dijewer” oleh sang “ibu” ketika terdapat persoalan di Jateng.

Masih mengomentari Ganjar, politikus PDIP lainnya yang bernama Trimedya 
Panjaitan juga mengeluarkan narasi “ibu-anak”. Kala mengkritik Ganjar, Trimedya 
mengatakan bahwa Gubernur Jateng itu tidak menghormati sang “ibu”.

Dari pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan para politisi PDIP, bukan tidak 
mungkin filial piety serupa turut menjadi nilai yang dipegang dalam lingkungan 
parpol tersebut. Apalagi, keputusan-keputusan strategis juga sepenuhnya 
dipegang oleh Megawati.

Tidak hanya itu, sosok Megawati juga kerap disebut sebagai kunci utama di balik 
kohesi internal parpol banteng itu – layaknya peran ratu lebah dalam koloninya. 
Wajar apabila pada akhirnya Jokowi mengeluarkan pernyataan soal Megawati 
bagaikan “ibu” sendiri.

Namun¸ mengapa sekarang? Mengapa Jokowi merasa perlu mengatakannya secara 
gamblang di depan publik dan media?

Bisa jadi, ini adalah bentuk upaya Jokowi untuk menjaga harmoni dalam 
kekuasaannya hingga tahun 2024. Bagaimana pun, Jokowi masih memerlukan restu 
sang “ibu” yang menjadi induk bagi “koloni” politik terbesar di Indonesia.

Mungkin, layaknya Hachi yang berjuang mencari ibunya, Jokowi juga masih 
membutuhkan sosok “ibu” dari Ketum PDIP tersebut. Namun, seiring berjalannya 
waktu, Hachi bisa berpetualang secara mandiri setelah bertemu banyak teman 
baru. Mungkinkah Jokowi bisa seperti Hachi si lebah kecil yang mandiri? Who 
knows? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2A11F46F7EDD4D5AB18A60F6A28F6AC9%40A10Live.

Reply via email to