Written byJ61Friday, June 24, 2022 14:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/operasi-bawah-tanah-hantui-megawati/
Operasi Bawah Tanah Hantui Megawati?
Target meraup suara kaum muda digaungkan di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 
PDIP yang secara kepemimpinan justru kontras dengan upaya representasi ceruk 
pemilih tersebut. Lantas, seberapa mendesak regenerasi Ketua Umum (Ketum) 
Megawati Soekarnoputri saat ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP telah berlangsung sejak 21 Juni lalu dan 
rencananya akan berakhir hari ini. Acara yang bertempat di Jakarta itu dihadiri 
petinggi partai dan sejumlah sosok kunci.

Selain Ketua Umum (Ketum) Megawati Soekarnoputri dan sang putri yang juga Ketua 
DPP PDIP Puan Maharani, Rakernas turut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo 
(Jokowi), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki 
Hadimuljono, serta Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan.

Secara umum, rapat partai banteng membahas strategi pemenangan Pemilihan Umum 
(Pemilu) 2024, khususnya mengenai struktur dan kerangka operasional pemenangan. 
Satu yang menarik tak lain adalah soal calon presiden (capres) yang akan 
diusung mengingat PDIP seolah tertinggal dari partai politik (parpol) lain 
terkait hal itu.

Salah satu upaya memenangkan pemilu yang digemakan di Rakernas adalah menyasar 
suara kelompok usia muda. Ihwal itu menjadi penekanan kader PDIP Bane Raja 
Manalu saat menjadi narasumber dalam Rakernas kemarin.

 
Menengok ke Pemilu 2019, Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu serentak kala itu 
menunjukkan bahwa pemilih berusia 20 tahun mencapai 17.501.278 orang, sedangkan 
yang berusia 21-30 tahun sebesar 42.843.792 orang.

Sementara untuk Pemilu 2024, jumlah pemilih milenial dan generasi Z 
diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 60 persen dari total suara pemilih. 
Tentu, data statistik ini sebuah sangat menggiurkan bagi aktor politik yang 
akan berkontestasi kelak.

Akan tetapi, target PDIP untuk mengkapitalisasi ceruk pemilih muda kiranya 
bertolak belakang dengan bagaimana kepemimpinan dan gestur politik mereka saat 
ini.

Sebagai personalized party atau parpol yang mengutamakan ketokohan satu figur, 
sosok kawakan Megawati dan gaya kepemimpinannya seolah kurang mendapat respons 
positif dalam sejumlah kesempatan.

Pernyataan maupun intensi candanya berulang kali justru menjadi bahan kritik 
dan gurauan dari para netizen yang didominasi kelompok muda. Teranyar, lelucon 
Megawati di Rakernas yang tidak mau menantu tukang bakso dan “kopi susu” 
mendapat reaksi minor dari rakyat linimasa.

Di titik ini, rangkaian sentimen kurang positif itu agaknya memiliki korelasi 
dengan urgensi ceruk pemilih suara kaum muda yang kian mendominasi plus urgensi 
lainnya dari internal PDIP dalam hal regenerasi yang tak menutup kemungkinan 
dapat memperbaiki citra partai.

Akan tetapi, “daya magis” dan kekuatan putri Presiden RI pertama Soekarno itu 
tampak masih terlalu tangguh untuk digantikan. Bahkan, prospek penggantinya pun 
diperkirakan tak jauh-jauh dari nama Puan Maharani.

Lantas, apakah mustahil PDIP dipimpin oleh trah non-Soekarno atau non-Megawati?

 
Trah Jokowi Balikkan Mitos?
Diskursus mengenai pengganti Megawati dalam kepemimpinan PDIP kiranya memang 
bukanlah barang baru. Akan tetapi, membahas siapa pengganti beliau dari 
non-trah Soekarno atau selain ahli waris Megawati sepertinya menjadi hal tabu 
di internal partai, paling tidak sejak peristiwa kerusuhan dua puluh tujuh Juli 
(Kudatuli).

Kala itu, PDIP yang masih bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berhasil 
melengserkan Megawati dari kursi pimpinan melalui kongres luar biasa (KLB) 
pimpinan Soerjadi yang berlangsung pada 22 Juni 1996 di Medan, Sumatera Utara.
Upaya pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro 58 
Jakarta Pusat lantas berujung kekerasan tak terhindarkan. Markas yang saat itu 
dikuasai pendukung Megawati diserbu oleh massa pendukung Soerjadi. Sikap kritis 
Mega kepada rezim Soeharto ditengarai kuat menjadi penyebab kudeta PDI.

Kendati demikian, massa partai tampak lebih loyal kepada kepemimpinan Megawati 
dan terlihat dari hasil Pemilu 1997 yang mencatatkan penurunan suara secara 
drastis PDI pimpinan Soerjadi.

Pasca Soeharto tumbang dan Pemilu 1999 dilangsungkan, PDI Megawati berubah nama 
menjadi PDI Perjuangan (PDIP) serta berhasil memenangkan pemilu. Sejak saat 
itulah kiranya, karakteristik personalized party yang disinggung Indonesianis 
Marcus Mietzner tersemat pada PDIP.

Kendra Cherry dalam tulisannya Autocratic Leadership: Key Characteristics, 
Strengths, and Weaknesses menyebut bahwa gaya kepemimpinan autocratic atau 
otokratis ditandai dengan sosok pemimpin yang mengontrol semua keputusan tanpa 
dipengaruhi anggota kelompok.

Karakteristik autocratic leadership dalam personalized party itu yang kiranya 
menasbihkan semacam “mitos” bahwa Megawati dan trah-nya sulit untuk tergantikan 
dalam aspek kepemimpinan.

Dalam sebuah publikasi di The Economist berjudul Dynasties, konsep family power 
muncul untuk melihat fenomena dinasti politik, yang nyatanya dalam realita 
politik dan pemerintahan di berbagai belahan dunia, telah menjadi bagian yang 
tak terpisahkan.

Mulai dari “marga” Clinton dan Bush di Amerika Serikat, ketokohan Trudeau di 
Kanada, hingga kecenderungan serupa di Filipina, menggambarkan bagaimana family 
power bekerja dan memperoleh kekuatan esensial dari spotlight atau publisitas.

Nah, yang menarik dalam konteks PDIP saat ini, selain trah-Soekarno ada satu 
lagi yang mendapat panggung kekuasaan dan spotlight, yakni trah-Jokowi yang 
diteruskan oleh sang putra Gibran Rakabuming Raka yang menjadi Wali Kota Solo.

Sayangnya, Presiden Jokowi kerap dilabeli oleh elite internal PDIP sebagai 
sosok yang hanya petugas partai. Terbaru, dalam agenda Rakernas, mantan 
Gubernur DKI Jakarta itu dinilai oleh khalayak kurang mendapat penghormatan 
etis sebagaimana mestinya seorang Presiden kala tertangkap kamera duduk di 
hadapan Megawati, tetapi Puan justru sibuk membuat vlog di ruangan yang sama.

Namun, mengacu pada konsep sirkulasi elite dari filsuf Italia, Vilfredo Pareto, 
cepat atau lambat Megawati akan lengser dari pucuk pimpinan PDIP. Termasuk pula 
berbagai aktor penyokongnya.

Lantas, mungkinkah sosok Jokowi menghimpun kekuatan bawah tanah untuk melakukan 
probabilitas pembalasan itu pada PDIP? Atau dalam derajat ekstremnya yakni 
melakukan “kudeta”?
Sebagai seorang Presiden, jika menginginkannya, bukan tidak mungkin Jokowi bisa 
saja memanfaatkan koneksi relawan hingga militer yang telah dibangunnya selama 
ini untuk menggagas operasi rahasia mengambil alih PDIP sepeninggal Megawati.

Namun, apakah hal itu memungkinkan?

 
PDIP Partai Beringin?
Jawabannya dari pertanyaan terakhir yang mengemuka kiranya bisa saja. Akan 
tetapi skenario radikal itu agaknya hampir mustahil untuk terjadi saat ini. 
Mengapa demikian?

Berdasarkan telaah dari tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) 
PinterPolitik, PDIP merupakan parpol simbolis yang memiliki cara kerja layaknya 
pohon beringin.

Jika dilihat dari jauh akan terlihat besar, dan jika dari dekat akan tampak 
karakteristik akar yang merepresentasikan kader, batang yang mewakili para 
pemilik modal, serta dahan serta daun yang mewakili ahli taktik dan strategi 
partai.

Selain itu, Francis Fukuyama dalam bukunya State-Building: Governance and World 
Order in the 21st Century mengatakan bahwa individu-individu dalam organisasi 
memiliki rasionalitas yang terbatas.

Itu pula yang agaknya terjadi pada PDIP. Partai membutuhkan simbolisasi dan 
“mitos” sosok berdarah Soekarno, bukan karena tidak rasional, melainkan 
tanpanya PDIP berpotensi mengalami disintegrasi.

Sri Iswidayati dalam The Function of Myth in Social Cultural Life of Its 
Supporting Community mengatakan mitos digunakan sebagai pegangan bagi individu 
dalam suatu kelompok untuk menciptakan persatuan membina kesetiakawanan sosial.

Berdasarkan sejarahnya, trah-Soekarno – atau dapat dikatakan trah Megawati – 
dapat dikatakan merupakan the chosen one dalam grand design politik.

Dalam dinamika permulaan, nama Guntur Soekarnoputra semestinya lebih 
representatif dari aspek sosial-politik maupun religiositas untuk menjadi 
pemimpin mengingat dirinya adalah putra tertua Soekarno dan Fatmawati.

Akan tetapi dugaan adanya operasi intelijen di balik kemunculan Megawati di PDI 
pada tahun 1986-1987, hingga puncaknya pada naiknya ia sebagai Ketum pada 1993, 
membuat eksistensi Mega kiranya bukan skenario biasa.

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Operasi Intelijen di Balik Lahirnya 
PDIP, telah dijabarkan bahwa berbagai aktor intelijen seperti Benny Moerdani, 
Hendropriyono, dan Syamsir Siregar merupakan sosok yang membantu Megawati 
menjadi Ketua Umum PDI. Ihwal ini kiranya yang membuat kiranya akar pohon 
Beringin beringin PDIP itu cukup sulit “membusuk” hingga kini.

Selain itu, kemungkinan operasi bawah tanah yang bisa saja dilakukan Jokowi 
agaknya tak menemui relevansinya. Hal itu berkaca pada riwayat kegagalan 
“kudeta” Partai Demokrat beberapa waktu lalu, serta personalitas politik Jawa 
mantan Wali Kota Solo itu yang mengutamakan harmoni.

Oleh karena itu, akan cukup menarik untuk menantikan seperti apa regenerasi 
dalam konteks sirkulasi elite di PDIP setelah Megawati kelak. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EEE5DD89FD614AC5AD683708E00F9863%40A10Live.

Reply via email to