Written byR53Tuesday, June 28, 2022 22:06

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sby-jk-paloh-taklukkan-megawati/
SBY-JK-Paloh Taklukkan Megawati?
Berbagai pihak menilai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), dan 
Surya Paloh akan membangun koalisi dan menyatukan kekuatan untuk melawan PDIP 
di Pemilu 2024. Berhasilkah ketiga kekuatan itu menaklukkan Megawati?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya kembali. Sempat mengatakan akan berada 
di belakang layar politik, SBY sepertinya mengubah sikap. Akhir-akhir ini, 
Presiden ke-6 RI tidak lagi menunjukkan aktivitas melukisnya, melainkan safari 
politik ke sejumlah tokoh penting.

Dua yang paling menyorot perhatian adalah pertemuan dengan Ketua Umum Partai 
NasDem Surya Paloh di NasDem Tower, dan dengan mantan Wakil Presiden Jusuf 
Kalla (JK) di kediaman SBY di Cikeas, Jawa Barat.

Pentingnya dua pertemuan itu dapat dilihat dari komentar berbagai elite 
politik. Ketika SBY mengunjungi Paloh, misalnya, Ketua Bappilu PDIP Bambang 
“Pacul” Wuryanto menyebutnya sebagai “pertemuan langit”.

Pun demikian dengan kedatangan JK ke Cikeas, lagi-lagi politisi PDIP angkat 
bicara. Politisi PDIP Andreas Hugo menyebut pertemuan itu sebagai ambisi 
menjadi king maker di Pilpres 2024. Apalagi, pada saat yang bersamaan, Ketua 
Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga mengunjungi Paloh di 
NasDem Tower.

Di kesempatan yang berbeda,  Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, 
Adi Prayitno juga menilai pertemuan SBY-JK dan Paloh-AHY demi kepentingan 2024. 
Lebih menarik lagi, Adi menduga ini untuk mengalahkan PDIP. 

Lantas, jika dugaan Adi benar, mampukah trio SBY-JK-Paloh menaklukkan Megawati 
Soekarnoputri di Pemilu 2024? 

Keluar dari Bayang-bayang PDIP
Sebelum menjawabnya, terlebih dahulu harus diulas bagaimana ketiga tokoh 
penting ini dapat bersatu. Untuk kepentingan ini, kita perlu menggunakan metode 
investigasi detektif fiktif Sherlock Holmes yang disebutkan dalam novel A Study 
in Scarlet, yakni menggunakan metode bernalar dari belakang ke depan. 

Memberi sedikit konteks, dalam literasi filsafat, khususnya epistemologi, cara 
bernalar Sherlock Holmes telah digunakan sebagai contoh bagaimana membangun 
argumentasi yang dalam dan tajam.

Metode bernalar dari belakang ke depan memusatkan perhatian pada motif alias 
kenapa suatu fenomena terjadi. Dalam studi hukum dan kriminologi, pencarian 
motif menjadi aspek penting karena merupakan alasan di balik terjadinya tindak 
kejahatan. Dalam penjelasan umum, motif didefinisikan sebagai keinginan yang 
mendorong tindakan.

 
Nah, memetakan motif yang mungkin, ada tiga hal yang dapat menjadi alasan kuat 
bersatunya SBY-JK-Paloh. Pertama, ketiganya memiliki common enemy atau musuh 
bersama, yakni Megawati dan PDIP. Seperti bunyi pepatah kuno, “The enemy of my 
enemy is my friend”. Musuh dari musuh ku adalah teman ku.

Kedua, ketiganya memiliki collective grudges atau dendam bersama – setidaknya 
sejarah buruk yang sama. Terkait SBY, rasa-rasanya kita semua sudah 
mengetahuinya. Ada peristiwa Kudatuli dan “penghianatan” SBY terhadap Megawati 
pada Pilpres 2004. 
Politikus senior PDIP Panda Nababan, dalam bukunya Panda Nababan Lahir Sebagai 
Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Kedua: Dalam Pusaran Kekuasaan, 
mengungkapkan hubungan tidak baik antara SBY-Megawati bermula pada Pilpres 
2004. Salah satu alasannya karena Megawati menilai SBY sebagai pembohong karena 
mengatakan tidak maju di Pilpres 2004, padahal kemudian maju bersama JK. 

Kemudian JK, ini kemungkinan soal jagoannya, yakni Anies Baswedan yang mendapat 
rintangan dari PDIP. Seperti yang diketahui, sejak Pilgub DKI Jakarta 2017, 
terdapat hubungan yang kurang baik antara Anies dengan partai banteng. Terbaru, 
gestur Anies mengundang tukang bakso juga mendapat kritik terbuka dari Sekjen 
PDIP Hasto Kristiyanto.

Sementara Paloh, ini bermula pada Pemilu 2019, di mana berbagai kader potensial 
PDIP berhasil ditarik NasDem. Saat pelantikan anggota DPR RI pada 1 Oktober 
2019, Megawati juga terlihat tidak menyalami Paloh dan AHY.

Baru-baru ini, ada pula gestur saling sindir antara Paloh-Megawati. Pada 
Rakernas NasDem, Paloh sempat menyebut adanya partai sombong. Kemudian di 
Rakernas PDIP, seolah membalas, Megawati mempertanyakan kenapa ada yang 
menyebut partainya sombong. 

Ketiga, berangkat dari dua hal sebelumnya, ketiganya memiliki common interest 
atau kepentingan bersama, yakni terlepas dari bayang-bayang kekuasaan Megawati 
dan PDIP. Julie Beck dalam tulisannya People Want Power Because They Want 
Autonomy, menyebutkan bahwa hasrat atas kekuasaan (power) ternyata lebih 
terpuaskan dengan kondisi berotonomi daripada kondisi mengontrol orang lain.

Dengan kata lain, jika benar SBY-JK-Paloh tengah membangun kekuatan bersama, 
itu merupakan bentuk keseganan mereka untuk berada di bawah kekuasaan PDIP. 
Terkhusus SBY, selama partai banteng berkuasa, Partai Demokrat tidak akan 
mendapatkan kursi kabinet.

Secara tersirat, konteks itu juga bisa dibaca dari pernyataan Deputi Bappilu 
DPP Demokrat Kamhar Lakumani. Ketika mengomentari pernyataan Andreas Hugo, 
Kamhar mengatakan pertemuan itu bukan perkara menang kalah, melainkan lebih 
substantif, yakni semangat perubahan dan perbaikan bangsa.

Jika ada perubahan dan perbaikan, bukankah kondisi saat ini dinilai bermasalah? 
Dan jika membahas kondisi saat ini, yang berkuasa sekarang adalah PDIP. Jika 
benar demikian makna pernyataan Kamhar, maka itu adalah doublespeak atau 
pernyataan ganda. 

 
Siapa yang Menang?
Setelah membahas motif atau apa yang menyatukan ketiganya, sekarang kita akan 
membuat kalkulasi politik kekuatan. Pertama, tentu saja soal akumulasi suara, 
apakah trio ini sudah memenuhi presidential threshold (preshold) 20 persen atau 
tidak. 

Sayangnya, akumulasi suara NasDem (9,05 persen) dan Demokrat (7,77 persen) 
hanya 16,82 persen. Mereka butuh partai tambahan untuk menggenapi 20 persen.

Mengacu pada status JK sebagai mantan Ketua Umum Golkar, partai beringin 
tentunya menjadi jawaban. Namun, dengan sikap tegas Golkar yang ingin mengusung 
Airlangga Hartarto sebagai capres, pilihan yang paling masuk akal sepertinya 
adalah PKS. 

Dengan PKS memiliki 8,21 persen, ketiga partai ini akan memiliki 25,03 persen 
suara alias sudah memenuhi preshold 20 persen. Selain itu, PKS juga akan 
diuntungkan jika mengusung Anies Baswedan. Keduanya memiliki basis massa yang 
sama, PKS akan mendapatkan efek ekor jas dari Anies. 

Di sisi NasDem, nama Anies masuk sebagai capres rekomendasi Rakernas. Surya 
Paloh juga telah mengusulkan duet Anies-Ganjar Pranowo ke Presiden Jokowi.

Kedua, logistik pemenangan. Terkait ini, rasa-rasanya bukan masalah. JK dan 
Paloh merupakan pengusaha besar. Kemudian SBY, dengan absennya Demokrat di dua 
gelaran pilpres, besar kemungkinan partai mercedes menyimpan cadangan logistik 
yang besar.

Ketiga, ini yang terpenting, seberapa kuat pasangan yang diusung. Pada kekuatan 
pertama dan kedua, trio SBY-JK-Paloh dapat dikatakan sejajar dengan Megawati. 
Kedua poros ini sudah mampu mengusung calon dan memiliki logistik pemenangan 
yang besar.  

Yang membedakan adalah kekuatan ketiga. Trio SBY-JK-Paloh sudah mengerucutkan 
nama, yakni antara Anies-Ganjar atau Anies-AHY. Sementara poros Megawati 
bersama PDIP terlihat masih berhitung. Selain itu, berbeda dengan duet 
Anies-Ganjar atau Anies-AHY yang dinilai sangat potensial, Puan Maharani yang 
akan diusung PDIP mendapatkan banyak penilaian pesimis.

Tidak hanya soal elektabilitas Puan yang rendah, komunikasi dan gestur 
politiknya juga mendapat banyak kritik publik. Jika nantinya Puan maju di 
Pilpres 2024, berbagai blunder itu akan dengan mudah diekspos untuk 
menjatuhkannya.  

Well, sebagai penutup, penentuan kemenangan antara trio SBY-JK-Paloh melawan 
Megawati ada pada sosok yang akan mereka usung. Jika Anies-Ganjar atau 
Anies-AHY akan melawan Puan Maharani, kemungkinan besar Megawati akan 
ditaklukkan.

Puzzle terakhir kalkulasi adalah sosok pilihan Megawati. Apakah Ketua Umum 
Partai Gerindra Prabowo Subianto? Apakah Panglima TNI Andika Perkasa? Ataukah 
sosok kejutan? Kita lihat saja. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6B4FB8384389428C969EC1BC714BACDD%40A10Live.

Reply via email to