Written byD74Thursday, June 30, 2022 20:53

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/presiden-2024-harus-dari-militer/
Presiden 2024 Harus dari Militer?
Dinamika isu global yang semakin mendorong negara untuk mengambil peran 
internasional membuat Indonesia perlu pertimbangkan calon presiden (capres) 
yang memiliki pola pikir strategis dan outward-looking dalam Pemilihan Presiden 
2024 (Pilpres 2024). Mungkinkah jawabannya ada di kandidat berlatar militer?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Tidak dipungkiri bahwa dinamika isu internasional dalam tiga tahun terakhir ini 
cukup memprihatinkan dan berhasil mengalihkan perhatian banyak negara dari 
permasalahan domestiknya. 

Dimulai dari pandemi Covid-19 yang membuat banyak negara harus melakukan 
sejumlah manuver diplomasi demi mendapatkan vaksin untuk masyarakatnya, hingga 
imbas konflik antara Rusia dan Ukraina pada alur perdagangan energi dan pangan 
dunia, sepertinya sekarang ini para pemimpin dunia tidak bisa hanya berdiam 
diri jika ingin negaranya survive.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentu menjadi studi kasus yang menarik dalam 
melihat fenomena dunia ini. Seperti yang sudah pernah dibahas dalam artikel 
PinterPolitik berjudul Mungkinkah Putin Diajak Berunding?, Jokowi adalah tipe 
pemimpin yang bisa dibilang lebih menerapkan konsep inward-looking dalam 
politik luar negerinya. 

Sang mantan Wali Kota Solo itu adalah tipe pemimpin yang tidak menyukai 
pertemuan-pertemuan internasional dan lebih memilih mengirim menteri-menterinya 
untuk menjalani kerja sama luar negeri. Menariknya, setelah menjadi buah bibir 
dunia bahwa Indonesia harus berbuat banyak untuk meredam konflik Rusia-Ukraina 
karena menjadi Presiden G20 tahun ini, Jokowi akhirnya terbang ke Ukraina dan 
Rusia.

Menurut beberapa pemberitaan, tujuan Jokowi pergi bertemu dengan presiden dari 
masing-masing negara yang berkonflik ini adalah untuk mempercepat proses 
perdamaian. Ini jelas adalah bukti bahwa di zaman ini pemimpin yang 
inward-looking akan dituntut untuk memainkan peran internasionalnya. 

Semua ini kemudian menjadi catatan penting bagi Indonesia untuk menentukan 
calon presiden (capres) Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024) mana yang paling 
pas terkait perkembangan geopolitik global.

Siapapun pengganti Jokowi nanti, Indonesia tampaknya membutuhkan pemimpin yang 
lebih memiliki pandangan outward-looking atau mempunyai visi yang luas dalam 
dunia internasional, jika Indonesia ingin lebih unggul dari negara-negara lain 
di masa krisis ini.

Lantas, kriteria pemimpin outward-looking seperti apa yang dibutuhkan oleh 
seorang capres Pilpres 2024?

 
Kita Butuh Seorang Diplomat?
Ada dua kisah menarik dari politik luar negeri Jokowi setelah konflik 
Rusia-Ukraina meletus.

Pertama, adalah terkait Presidensi Indonesia di G20. Seperti diketahui, 
semenjak konflik terjadi, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat 
mendorong Indonesia untuk tidak mengundang Presiden Rusia, mereka pun 
mengatakan bahwa Indonesia seharusnya mengundang Ukraina jika ingin pertemuan 
yang dijalankan mendapatkan solusi yang efektif. 

Meski pertama-tama berusaha tidak tampak memihak, Indonesia akhirnya menyetujui 
bahwa Zelensky perlu diundang ke pertemuan 20 negara ekonomi terbesar di dunia 
tersebut, walaupun Ukraina bukanlah negara anggota.

Kedua, adalah saat Jokowi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di AS pada awal Mei lalu. 
Ketika itu, Jokowi tidak disambut oleh pejabat-pejabat AS. Meski ada beberapa 
pembelaan, seperti karena ini adalah pertemuan multilateral maka tidak perlu 
disambut, kenyataannya, negara tetangga kita yakni Singapura justru disambut 
oleh Presiden Joe Biden sendiri.

Beberapa pengamat, seperti Rocky Gerung, mengartikan ini terjadi akibat 
ketidakmampuan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam melobi pejabat 
AS agar Presiden Jokowi bisa diberikan prioritas. 

Dari dua contoh ini saja, kita bisa melihat bahwa penting sekali bagi seorang 
presiden di era krisis ini untuk memiliki citra internasional yang bagus. 
Lantas, bagaimana capres 2024 nanti bisa memperbaiki ini?
Well, setidaknya ada tiga kriteria yang perlu dipenuhi oleh capres “diplomat” 
Indonesia nanti. Pertama, dan hal yang paling mendasar, yakni kelihaian 
berbahasa Inggris. Meski sering dianggap enteng, hal ini sesungguhnya adalah 
keperluan yang sangat krusial. Mantan Presiden AS, Theodore Roosevelt bahkan 
pernah mengatakan, “if you can’t speak English, go home”.

Meski secara sekilas tampak bersifat supremasis, perkataan Roosevelt ini ada 
benarnya karena Bahasa Inggris masih menjadi bahasa utama yang digunakan oleh 
para negara maju. Tentunya, jika ingin menyampaikan dan mendengarkan sesuatu 
dalam diplomasi, kemampuan Bahasa Inggris akan sangat membantu keputusan 
seorang Presiden, karena ia bisa menalarkan logika di balik pernyataan lawan 
bicaranya tanpa menggunakan interpretator atau kamus. 

Di dalam studi bahasa, manfaat ini diberi istilah metalinguistic awareness atau 
kesadaran berbahasa. 

Karen Roehr-Brackin dalam tulisannya Metalinguistic Awareness and Second 
Language Acquisition, menilai bahwa dengan memahami bahasa kedua, khususnya 
Bahasa Inggris, seseorang bisa memiliki kemampuan menjadikan bahasa yang ia 
pelajari sebagai bahan refleksi dan menyusun penilaian yang mendalam tentang 
suatu kalimat, dengan mengikuti intuisi atau pengetahuan linguistik yang ia 
dapatkan. Karena itu, penting sekali bagi capres 2024 untuk memiliki kelihaian 
berbahasa Inggris.

Kedua, capres 2024 juga harus memiliki wawasan geopolitik yang mendalam dan 
luas. Ali Hamdan, pengajar non-residen Studi Geopolitik di Universitas George 
Washington mengatakan bahwa meski saat ini dunia semakin “global”, menjaga 
citra negara dalam geopolitik masih menjadi hal yang penting sekaligus 
bertambah rumit. 

Karena adanya perkembangan zaman, kini untuk benar-benar memahami geopolitik 
seseorang harus juga melihat korelasi politik internasional terhadap aspek 
budaya (geocultural), ekonomi (geoeconomics), baru kemudian hal-hal yang memang 
sejak dulu memang jadi kajian geopolitik, yakni militer dan politik itu 
sendiri. 

Sebagai penjelasan singkat, geopolitik dalam budaya adalah kelihaian seseorang 
dalam memahami nilai dan norma seperti apa yang berlaku di suatu negara atau 
kawasan. Aspek ekonomi bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam 
menelusuri kerja sama dengan negara mana yang lebih strategis dari segi 
geografis. 

Ketiga, capres 2024 pun perlu memiliki strategi internasional atau geostrategi 
yang kuat. Mengapa geostrategi ini penting? Well, ini karena secara geografis 
Indonesia memiliki posisi yang sesungguhnya bisa dijadikan sebagai kekuatan. 

Pemerintah Orde Baru sepertinya menyadari ini, karena pada zaman itu Indonesia 
pernah memiliki formula politik luar negeri yang disebut Concentric Circle atau 
Lingkaran Konsentris.

Sederhananya, Lingkaran Konsentris ini mengarahkan strategi politik luar negeri 
Indonesia melalui beberapa seri lingkaran prioritas. Lingkaran prioritas 
pertama adalah Asia Tenggara, lingkaran kedua adalah tetangga Asia Pasifik – 
seperti Australia dan Kepulauan Pasifik -, lingkaran ketiga adalah Timur Tengah 
dan Afrika, lingkaran keempat baru hubungan dengan negara besar seperti AS dan 
Eropa. 

Mantan Menlu Ali Alatas, sebagai penggagas lingkaran ini, meyakini bahwa 
stabilitas geopolitik dan citra politik Indonesia di panggung global bisa 
terjamin bila kita menjalankan geostrategi yang berlandaskan urutan 
lingkaran-lingkaran tersebut. Jika Indonesia kuat lebih dulu di ASEAN, maka 
strategi-strategi internasional sekiranya akan lebih mantap dan stabil untuk 
dijalankan.
Oleh karena itu, layaknya capres 2024 juga mampu merevitalisasi Lingkaran 
Konsentris.

Itulah tiga kriteria “diplomat” yang perlu dimiliki capres 2024 nanti. Sekarang 
tinggal pertanyaan besarnya, siapa kira-kira yang paling relevan?

Militer Lebih Memenuhi Kriteria? 
Corneliu Bjola dalam tulisannya Diplomatic Leadership in Times of International 
Crisis menyebutkan ada tiga tipe diplomat, yakni maverick diplomat, congregator 
diplomat, dan pragmatist diplomat. 

The maverick adalah pemimpin yang memiliki visi yang kuat, the congregator 
adalah diplomat pemimpin yang bisa membangun konsensus tetapi tidak memiliki 
visi yang kuat, dan the pragmatist adalah yang mengejar hubungan mutual asal 
menguntungkan.

Melihat dinamika global sekarang, ketika dibutuhkan gagasan yang kuat tidak 
hanya untuk menjamin, tetapi juga untuk memperkuat posisi internasional 
Indonesia, maka sepertinya tipe pemimpin maverick-lah yang dibutuhkan di 
Pilpres 2024 nanti. 

Berkaitan dengan itu, secara gamblang, tampaknya pemimpin yang memiliki latar 
belakang militer cukup relevan jika ingin mencari sosok yang mampu membangun 
politik luar negeri yang lebih strategis, tetapi visioner. 

Pertama, karena orang militer familiar dengan keadaan geopolitik, khususnya 
kawasan Asia Tenggara, kedua, karena orang militer juga terbangun untuk punya 
pola pikir yang strategis.

Tom Kolditz dalam tulisannya Why the Military Produces Great Leaders, 
menjelaskan bahwa pemimpin berlatar militer cenderung menjadi pemimpin yang 
lebih baik dari latar belakang lainnya karena mereka dibentuk oleh serangkaian 
tahapan progresif dalam hidupnya, mulai dari pelatihan mental dan fisik, 
pendidikan, dan pengalaman yang membuatnya lebih disiplin dan lebih mampu 
memilih keputusan karena telah beberapa kali mengalami keadaan yang tertekan.

Ini beresonansi dengan apa yang dikatakan oleh penulis ternama AS, Alvin 
Toffler. Dalam bukunya yang berjudul Future Shock, Toffler meyakini bahwa 
perumusan strategi yang baik membutuhkan pola pikir yang terbiasa dihadapkan 
pada situasi pengambilan keputusan. Kalau kita interpretasikan, ini tentunya 
adalah keunggulan yang dimiliki kalangan pemimpin militer.

Oleh karena itu, jika pada Pilpres 2024 nanti Indonesia ingin menjadi negara 
yang lebih besar dan lebih mampu beradaptasi dengan dinamika geopolitik, maka 
sepertinya pemimpin militer kembali menjadi pilihan yang menggiurkan. 

Terkait itu, melihat bursa capres 2024 yang populer, tampaknya sosok seperti 
Prabowo Subianto, Andika Perkasa, Gatot Nurmantyo, dan Agus Harimurti Yudhoyono 
(AHY) perlu kita perhatikan.

Jika Indonesia kembali memiliki Presiden berlatar militer, isu-isu strategis 
seperti Laut China Selatan (LCS) dan konflik Ukraina-Rusia bakal mendapatkan 
perhatian lebih. Isu kerja sama ekonomi mungkin akan tetap menjadi perhatian, 
tetapi itu akan dilandaskan pada pertimbangan geoekonominya, dan jika demikian, 
maka kembali isu keamanan tetap jadi faktor utama dalam perumusan kebijakan 
luar negeri.

Namun ini semua tentu kembali pada pilihan rakyat, sudah siapkah rakyat 
memiliki Presiden berlatar militer lagi? (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D4B6F136CA134AE694BAC7E4664574F4%40A10Live.

Reply via email to