Written byA43Monday, July 4, 2022 17:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/projo-bunuh-diri-tantang-pdip/
Projo Bunuh Diri Tantang PDIP?
Sebanyak 14 organisasi relawan Joko Widodo (Jokowi) – seperti Projo, Seknas 
Jokowi, dan BaraJP – berencana menghelat Musyawarah Rakyat (Musra) yang dimulai 
dari Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah (Jateng) pada Agustus 2022 mendatang. 
Apakah ini bentuk tantangan Projo dkk terhadap dominasi PDIP? Jika benar, 
mengapa tantangan itu berani dilakukan?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Avengers, assemble!” – Steve Rogers, Avengers: Endgame (2019)

Ada satu kebiasaan manusia yang kerap muncul ketika ancaman yang lebih besar 
hadir, yakni kecenderungan untuk bekerja sama. Logika ini sebenarnya cukup 
sederhana. Kemungkinan untuk berhasil menjadi lebih besar ketika banyak orang 
menyatukan kekuatan dibandingkan hanya bergerak sendiri.

Ini bisa diamati dari banyak hal. Tema yang sering muncul dalam film dan seri, 
misalnya, kerap mengandung pesan-pesan kerja sama dan kolaborasi.

Pesan-pesan seperti ini bisa terlihat dalam salah satu franchise film paling 
populer akhir-akhir ini, yakni Avengers. Film bertemakan pahlawan super 
tersebut menceritakan bagaimana penyatuan kekuatan bisa meningkatkan peluang 
keberhasilan dalam mengalahkan lawan-lawan yang tidak kalah kuat.

Seorang villain yang bernama Thanos, misalnya, memiliki kekuatan yang sangat 
besar sekaligus mampu mengancam seluruh jagat alam semesta. Tujuan yang dibawa 
pun dinilai bisa membawa malapetaka bagi separuh populasi alam semesta.

Para pahlawan super seperti Iron Man, Captain America, Thor, Black Panther, 
Captain Marvel, Black Widow, Wanda, dan sebagainya akhirnya tidak memiliki 
banyak pilihan. Mau tidak mau, mereka pun harus menyatukan kekuatan guna 
mengalahkan Thanos.

Kebiasaan umat manusia yang seperti ini juga terlihat di dunia nyata, termasuk 
dalam dinamika politik di Indonesia. Baru-baru ini, misalnya, Projo dinilai 
bermanuver secara politik untuk mengusung calon presiden (capres) yang mereka 
mau. Sontak saja, partai politik (parpol) besar seperti PDIP berusaha menghalau 
keinginan Projo.

Mungkin, inilah mengapa akhirnya Projo berinisiatif untuk menggandeng 
organisasi-organisasi relawan Joko Widodo (Jokowi) lainnya – seperti Seknas 
Jokowi, BaraJP, Kornas Jokowi, dan sebagainya – untuk mengadakan rangkaian 
kegiatan yang mereka sebut sebagai Musyawarah Rakyat (Musra). “Presiden-Wakil 
Presiden 2024 bukan hanya urusan segelintir elite,” pungkas Ketua Dewan 
Pengarah Musra Indonesia Andi Gani.

Seakan tidak terima dengan pengaruh besar PDIP dalam menentukan bakal capres 
yang diusung, Musra berencana untuk berkeliling Indonesia dan mengadakan 
kegiatan besar yang dihadiri oleh banyak rakyat. Presiden Jokowi sendiri 
dikabarkan akan hadir di pembukaan rangkaian kegiatan tersebut di Stadion 
Manahan, Solo, Jawa Tengah (Jateng), pada Agustus 2022 mendatang.

Manuver Projo dkk ini tentu cukup menarik untuk diamati. Dengan kegiatan yang 
diklaim akan dihadiri oleh 40.000 massa, kekuatan politik mereka bisa jadi 
makin krusial untuk diperhitungkan.

 
Lantas, mengapa Projo dkk akhirnya bermanuver melalui Musra? Bagaimana manuver 
ini bisa membawa keuntungan strategis bagi relawan-relawan Jokowi? Kemudian, 
apakah mereka benar-benar mampu untuk “menggulingkan” pengaruh besar PDIP?

Bersatu, Projo dkk Teguh?
Tidak dipungkiri lagi bahwa ketegangan dalam penentuan capres yang diusung 
terjadi antara kelompok-kelompok relawan dan parpol, khususnya antara Projo dan 
PDIP. Bagaimana tidak? Projo ditengarai ingin mengusung Gubernur Jawa Tengah 
(Jateng) Ganjar Pranowo – seorang kader PDIP – meskipun kader tersebut belum 
tentu akan diusung oleh partai banteng.

Tentu saja, Projo sekilas bukanlah lawan yang sepadan bila menghadapi parpol 
penguasa tersebut. Projo juga bukan merupakan parpol yang secara peraturan 
justru menjadi pihak utama yang berhak mengusung pasangan capres-cawapres.
Apalagi, PDIP semakin percaya diri dengan perolehan suaranya setelah Presiden 
Jokowi berhasil memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 untuk periode 
pemerintahannya yang kedua.

Namun, permainan bisa dibilang belum usai. Masih ada sejumlah selisih waktu 
dari sekarang hingga penentuan akhir pada tahun 2024 mendatang.

Oleh karena itu, bukan tidak mungkin Projo dan kelompok-kelompok relawan Jokowi 
akan menggunakan taktik-taktik tertentu untuk menambah peruntungannya agar bisa 
turut menentukan siapa-siapa yang maju dalam Pilpres 2024.

Taktik yang mungkin akan diambil oleh Projo dkk melalui Musra adalah taktik 
unjuk kekuatan (show of force). Taktik seperti ini biasa digunakan dalam 
operasi-operasi militer antar-negara.

Biasanya, taktik ini dijalankan dengan menunjukkan kapasitas sebuah negara guna 
mewanti-wanti atau mengintimidasi pihak lain. Operasi militer ini umumnya 
dilakukan dengan menunjukkan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dan 
teknologi pertahanan yang dimiliki oleh negara tersebut.

Contoh yang paling terlihat di masa kontemporer ini adalah ketika Korea Utara 
(Korut) melakukan berbagai uji coba rudal nuklir balistik. Tujuan utamanya 
adalah membuat lawan-lawannya – seperti Korea Selatan (Korsel), Jepang, dan 
Amerika Serikat (AS) – untuk berpikir dua kali bila ingin mencampuri urusan 
negara tersebut.

 
Tujuan membuat lawan berpikir dua kali inilah yang disebut sebagai deterrence. 
Dengan jumlah massa besar yang ditunjukkan oleh Projo dkk melalui Musra, bukan 
tidak mungkin ini menjadi strategi deterrence agar PDIP berpikir dua kali bila 
ingin mengusung Puan Maharani – atau kader lain selain Ganjar – dalam Pilpres 
2024.

Selain itu, bukan tidak mungkin political rallies seperti Musra akan 
menciptakan perilaku bandwagon (mengikuti mayoritas) di masyarakat. Dengan 
pertunjukan massa, Projo dkk bisa memperkuat momentum politik mereka untuk 
menjaring massa di Pilpres 2024.

Namun, pertanyaan lanjutan pun kemudian mencuat. Apakah strategi show of force 
ini akan efektif bila menjadikan PDIP sebagai target utama? Mungkinkah ini 
hanya akan berakhir menjadi sebuah futilism?

Bunuh Diri Projo dkk?
Pernahkah kalian merasa kecewa ketika tujuan kalian tidak berhasil diraih 
meskipun sudah memberikan upaya semaksimal mungkin? Bisa dibilang, upaya 
tersebut menjadi futile (sia-sia) dan percuma bila ujungnya sama saja.

Kondisi dan upaya seperti ini mungkin bisa dibilang menjadi sebuah futilism 
(futilisme). Meg Holden dalam tulisannya yang berjudul The Rhetoric of 
Sustainability menjelaskan bahwa futilism berangkat dari sebuah ungkapan dalam 
Bahasa Prancis, “plus ça change, plus c’est la même chose” yang artinya adalah 
“semakin banyak perubahan, semakin banyak juga yang menjadi tetap sama saja.”

Holden mencontohkannya dengan gerakan lingkungan yang mendukung sustainability. 
Seiring berkembangnya zaman, semakin banyak juga orang yang memperjuangkan 
isu-isu ini, seperti isu perubahan iklim dan gagasan pembangunan berkelanjutan.

Namun, bagi Holden, peningkatan partisipasi yang ada dalam isu ini tidak 
berarti banyak dan tidak memberikan perubahan secara signifikan. Alasannya 
satu, yakni partisipasi mereka tidak mengubah kekuatan yang mendasarinya dan 
tidak mempengaruhi struktur pengambilan keputusan di pemerintahan.
Futilism serupa bisa jadi juga berlaku bagi Projo dkk yang ingin menghelat 
Musra di banyak kota di Indonesia. Jika ingin melakukan strategi deterrence 
kepada PDIP, tentu diperlukan sejumlah pertimbangan lebih lanjut.

Pasalnya, bagaimana pun juga, mengacu pada buku berjudul Deterrence Now karya 
Patrick M. Morgan, rasionalitas juga berpengaruh pada bagaimana strategi 
deterrence berjalan. Dalam hal ini, pertimbangan rasional juga diperlukan.

 
Bila ingin strategi deterrence Projo dkk berhasil, ada beberapa faktor yang 
perlu diperhitungkan dari PDIP itu sendiri. Pertama, Projo dkk sebagai 
organisasi non-parpol tidak memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan parpol 
dalam menentukan capres-cawapres.

Pasal 1 Ayat (28) Undang-Undang (UU) No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum 
(Pemilu) menyatakan bahwa hanya parpol dan/atau gabungan parpol yang bisa 
mengusung pasangan capres-cawapres. Artinya, Projo dkk tidak memiliki daya 
tawar (leverage) yang besar dalam permainannya melawan PDIP.

Kedua, unjuk kekuatan massa yang besar juga belum tentu bisa menyisihkan PDIP 
dalam politik akar rumput (grass roots). Tentu, manuver Musra bisa saja 
melahirkan gerakan akar rumput yang kuat bagi Projo dkk.

Namun, upaya show of force ini belum tentu juga tanpa “perlawanan” dari 
kelompok akar rumput PDIP. Partai berlambang banteng tersebut merupakan partai 
yang dominan dalam politik akar rumput.

Edward Aspinall dalam bukunya yang berjudul Opposing Soeharto menjelaskan 
bagaimana Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri memanfaatkan gerakan 
akar rumput dalam upaya perlawanannya terhadap Presiden Soeharto pada era Orde 
Baru. Ini juga yang membuat PDIP akhirnya kini tetap kuat dengan pengalamannya 
bermain di akar rumput.

Selain itu, PDIP juga memiliki banyak organisasi yang bergerak di level ini. 
Dalam bukunya berjudul (Un) Civil Society and Political Change in Indonesia, 
Verena Beittinger-Lee menjelaskan bahwa terdapat sejumlah organisasi akar 
rumput – seperti Satgas PDIP – yang turut mengisi dinamika politik di Indonesia.

Dengan dua faktor itu, bukan tidak mungkin strategi deterrence malah berbalik 
arah ke Projo dkk sendiri. Justru, PDIP bisa memberikan deterrence balik kepada 
kelompok-kelompok relawan ini.

Lagipula, akan menjadi cukup sulit juga bagi Projo untuk bisa merebut basis 
akar rumput PDIP yang terlanjur kuat. Berbeda dengan AS dan Uni Soviet di level 
internasional yang saling menggunakan deterrence dengan nuklir, PDIP dan Projo 
dkk tidak berada pada tingkatan yang sama untuk saling mengimbangi kekuatan 
mereka.

Pada akhirnya, semua upaya show of force melalui Musra akan berujung menjadi 
futile. Bila begini, apakah manuver Musra ini menjadi pertanda akan futilism 
dari Projo dkk? Mungkinkah PDIP memang inevitable (tidak bisa dihindari) bagi 
Projo dkk layaknya Thanos? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CC16FF85EB03401695CC4D41BA5E6228%40A10Live.

Reply via email to