Kalau pagi masih kedelai, sorenya sudah jadi tempe, wah, ya hebat, kemajuan
dalam proses pembuatan tempe.....
Op do 14 jul. 2022 om 22:10 schreef 'j.gedearka' via GELORA45 <
[email protected]>:

>
>
>
> https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2502-mencla-mencle
>
>
>
> Kamis 14 Juli 2022, 05:00 WIB
>
> Mencla-mencle
>
> Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group | Editorial
>
>    Mencla-mencle MI/Ebet Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group.
> SEORANG teman uring-uringan di kedai kopi. Dia mengaku kecewa atas
> kebijakan pejabat di negeri ini yang ia sebut ibarat pagi kedelai, sore
> tempe. Ungkapan itu dimaksudkan sebagai sindiran terhadap sikap
> inkonsistensi, plin-plan, mencla-mencle. Ia terus saja nyerocos. Kata dia,
> lidah para pemimpin di negeri ini memang tidak bertulang. Kemudian ia
> melantunkan sepenggal lirik lagu Tinggi Gunung Seribu Janji dari Bob
> Tutupoly: ‘memang lidah tak bertulang tak berbekas kata-kata’. Saya mencoba
> menyimak jalan pikiran teman itu. Dalam hati, saya membenarkannya sebab
> para pemimpin itu amat kampiun dalam hal bersilat lidah. Dan, ciri paling
> menonjol dari para jago bicara ialah inkonsistensi. Kemudian saya
> menasihati temanku. “Apa yang engkau katakan 100% benar, tapi belum 100%
> yang benar engkau katakan.” Bukankah Presiden Joko Widodo, saat pidato
> dalam sidang tahunan MPR pada 16 Agustus 2021, sudah mengakui
> kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan mencla-mencle? Presiden
> mengatakan tujuan dan arah kebijakan tetap dipegang secara konsisten,
> tetapi strategi dan manajemen lapangan harus dinamis menyesuaikan
> permasalahan dan tantangan. “Pengetatan dan pelonggaran mobilitas
> masyarakat, misalnya, harus dilakukan paling lama setiap minggu dengan
> merujuk kepada data-data terkini. Mungkin hal ini sering dibaca sebagai
> kebijakan yang berubah-ubah atau sering dibaca sebagai kebijakan yang tidak
> konsisten,” kata Jokowi menjelaskan kebijakan di masa pandemi covid-19.
> Elok nian bila para pejabat menjelaskan secara terbuka latar belakang
> perubahan sebuah keputusan sehingga tidak disebut plin-plan. Itu karena
> ucapan merupakan cermin pikiran dan pribadi seseorang. Ambil contoh
> kebijakan pemerintah pusat yang merevisi kenaikan level pemberlakuan
> pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM di Jakarta dari 2 ke 1 hanya dalam
> satu hari. Alasan revisi yang disampaikan Direktur Jenderal Bina
> Administrasi Wilayah Kementerian Dalam Negeri Syafrizal ialah terkait angka
> penularan dan kematian covid-19 yang melandai setelah sempat ada kenaikan.
> Tetap saja penjelasan tersebut belum mampu menjawab persoalan perubahan
> kebijakan hanya dalam waktu satu hari. Begitu juga menyangkut kebijakan
> pencabutan izin Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang,
> yang hanya berumur empat hari. Saat membekukan izin pada 7 Juli 2022,
> Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag, Waryono,
> memastikan pihaknya sebagai regulator memiliki kuasa administratif untuk
> membatasi ruang gerak lembaga yang di dalamnya diduga melakukan pelanggaran
> hukum berat. Ketika mengumumkan pembatalan pencabutan izin operasian pondok
> pesantren pada 12 Juli 2022, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia
> dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan pembatalan itu atas arahan dari
> Presiden Joko Widodo. Masih ada kebijakan lain yang berumur pendek.
> Misalnya, kebijakan larangan ekspor batu bara hanya berlaku selama 12 hari.
> Begitu juga terkait kebijakan pelarangan ekspor minyak goreng dan CPO yang
> mampu bertahan selama tiga pekan. Kebijakan berumur pendek bisa dilihat
> dari dua sisi. Pertama, pemerintah terkesan tergesa-gesa mengambil
> kebijakan untuk mengatasi persoalan yang amat mendesak. Kedua, setelah
> menyadari ada kekeliruan dalam mengambil keputusan, pemerintah tidak
> malu-malu mencabut kebijakan tersebut. Kebijakan yang baik tentu saja
> kebijakan yang terbuka untuk dikoreksi jika terbukti ada jalan keluar yang
> lebih baik lagi. Bukan soal panjang pendek umur kebijakan, jauh lebih
> penting ialah kebijakan itu bermanfaat untuk masyarakat. Meski demikian,
> elok nian bila dalam mengambil keputusan akal mendahului tindakan sehingga
> tidak malu kemudian. Kiranya wejangan Felix A Nigro dan Lloyd Nigro,
> keduanya ahli kebijakan publik, selalu menjadi rujukan. Setidaknya ada dua
> dari tujuh kesalahan yang perlu dihindari dalam proses pembuatan kebijakan.
> Pertama, cara berpikir yang sempit. Membuat keputusan hanya untuk memenuhi
> kebutuhan seketika sehingga melupakan antisipasi ke masa depan seperti
> dalam kasus pembatalan pencabutan izin pondok pesantren. Kedua, terlalu
> menyederhanakan sesuatu seperti dalam kasus larangan ekspor batu bara dan
> minyak goreng. Keputusan diambil hanya mempertimbangkan gejala-gejala di
> depan mata tanpa mencoba mempelajari secara mendalam sebab-sebab timbulnya
> masalah tersebut. Teman saya masih saja uring-uringan. Saya meyakinkan dia
> bahwa semua kebijakan yang diambil pemerintah pasti dilandasi niat baik.
> Akan tetapi, jika terlalu sering gonta-ganti kebijakan dalam waktu singkat,
> yang salah pasti pejabatnya, mencla-mencle.  
>
> Sumber:
> https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2502-mencla-mencle
>
>
>
>
>
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari
> Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220714221033.68c3048c1b99878cd623ebbc%40upcmail.nl
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavhk15Ly7Hy%2Bd2ObJNRr0QFcmL2kNmQC7Cww591f0y-%3DCQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to