Written byR53Saturday, July 16, 2022 22:53

https://www.pinterpolitik.com/habib-luthfi-jadi-cawapres-prabowo/
Habib Luthfi Jadi Cawapres Prabowo?
Kuat dugaan bahwa Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan kembali maju 
di Pilpres 2024. Apakah Prabowo harus menggandeng Habib Luthfi bin Yahya 
sebagai wakil agar bisa menang?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Siapa yang tidak mengenal Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid? Menariknya, 
sosok karismatik yang akrab dipanggil Gus Dur ini dikenal dalam dua dimensi. 
Pertama adalah dimensi ilmiah. Gus Dur dinilai sebagai pemimpin sekaligus 
pemikir politik yang melampaui zamannya. Kedua adalah dimensi spiritual. Gus 
Dur dikenal memiliki prediksi politik yang telah teruji.

Pada Oktober 2015, misalnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan Gus Dur 
pernah memimpikannya menjadi gubernur. Dan terbukti, pada 2014 sampai 2017, 
Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo (Jokowi) yang 
terpilih sebagai Presiden ke-7 RI.

Ramalan Gus Dur lainnya yang menjadi kenyataan adalah menyebut Soeharto jatuh 
11 bulan sebelumnya, menyebut dirinya akan menjadi presiden, KH Said Aqil 
menjadi Ketua Umum PBNU, pengangkatan Jenderal Sutarman menjadi Kapolri, hingga 
menyebut Jokowi menjadi presiden pada tahun 2006.

Bukti-bukti itu kemudian membuat berbagai pihak menaruh perhatian besar 
terhadap pernyataan Gus Dur soal apa yang akan terjadi di masa depan. Atas 
konteks itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mungkin menjadi salah 
satu di antaranya. 

Pasalnya, ketika Prabowo mengunjungi Pondok Pesantren Tebuireng dan berziarah 
ke makam Gus Dur, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, yakni KH 
Irfan Yusuf Hakim (Gus Irfan) menyebut Gus Dur pernah mengatakan Prabowo akan 
menjadi presiden di usia tua.

“Saya mengutip ucapannya Gus Dur, beliau pernah mengatakan Pak Prabowo jadi 
presiden di usia tua. InsyaAllah 2024,” ungkap Gus Irfan pada 4 Mei 2022.

- Advertisement -Jika berbicara usia, pada 2024 nanti Prabowo akan berusia 72 
tahun. Jika benar-benar terpilih nantinya, Prabowo akan menjadi presiden tertua 
Indonesia.

Lantas, apakah 2024 akan menjadi momen Prabowo menjadi Presiden ke-8 RI?

 
Modal Politik Prabowo
Jika melihat tebaran kandidat yang ada, dapat dikatakan Prabowo Subianto 
merupakan sosok yang memiliki modal politik atau political capital paling 
lengkap. 

Mengutip tulisan Kimberly L. Casey yang berjudul Defining Political Capital, 
modal politik setidaknya terdiri dari tujuh jenis, yakni modal institusional, 
modal sumber daya manusia (SDM/human capital), modal sosial, modal ekonomi, 
modal kultural, modal simbolik, dan modal moral.

Meskipun dapat dipetakan menjadi tujuh jenis, Casey menegaskan bahwa pada 
dasarnya tidak ada modal politik yang murni. Artinya, besar tidaknya daya tawar 
suatu modal tergantung atas pasar politik atau modal apa yang tengah dibutuhkan.

Terkait pilpres, setidaknya terdapat lima modal utama yang menentukan, yakni 
modal ekonomi, modal partai politik, modal koneksi internasional, modal 
elektabilitas, dan modal popularitas. Dari kelima modal tersebut Prabowo jelas 
memiliki semuanya. 

Baca juga :  Prabowo Tidak Yakin dengan Megawati?Pertama, Prabowo memiliki 
kekayaan mencapai dua triliun lebih. Ini belum termasuk dukungan finansial dari 
sang adik, Hashim Djojohadikusumo. 

Kedua, Prabowo memiliki partai politik yang memperoleh suara besar. Di Pemilu 
2019, perolehan suara Gerindra menduduki peringkat dua dengan 17.594.839 suara 
(12,57 persen). Posisi Prabowo sebagai ketua umum partai juga membuatnya 
menjadi pilihan nomor satu capres Gerindra.

- Advertisement -Ketiga, koneksi internasional Prabowo tidak perlu diragukan 
lagi. Secara spesifik, Prabowo banyak disebut sebagai American Boy. Ini pernah 
diungkapkan oleh jurnalis asal Amerika Serikat (AS), Allan Nairn. “Prabowo 
pernah bilang sama saya, kami hari-hari itu bicara bahasa Inggris, dia katakan 
‘I was the American fair-haired boy‘, anak kesayangan Amerika, yang terfavorit 
dan itu memang benar,” tulisnya pada 1 Juli 2014.

Keempat, secara elektabilitas, Prabowo selalu berada di tiga besar. Kelima, 
secara popularitas, dengan sudah maju tiga kali di gelaran pilpres, siapa yang 
tidak mengenal Prabowo? 

Selain kelima modal itu, ada pula sokongan dukungan dari elite politik. Dalam 
artikel PinterPolitik sebelumnya, Prabowo, “Senjata” Luhut Bendung Megawati?, 
ada kemungkinan Luhut Binsar Pandjaitan akan mendukung Prabowo di Pilpres 2024. 
Itu dilakukan sebagai jaminan agar posisinya tetap aman di pemerintahan. 

Kemudian, ada pula dugaan bahwa Presiden Jokowi akan memberikan dukungan 
politiknya kepada Prabowo. Jika Menteri Pertahanan (Menhan) itu bersedia 
melanjutkan program-program Presiden Jokowi, dukungan semacam itu sangat 
terbuka untuk diberikan.

Mengutip tulisan Why Presidents Wait to Endorse Their Successors yang dimuat 
Time, presiden akan mencari suksesor untuk meneruskan citra, visi, dan program 
kerjanya.

 
Gandeng Habib Lutfi?
Di titik ini, ada satu pertanyaan menarik. Dengan modal politik sebesar dan 
selengkap itu, apakah dapat dipastikan Prabowo akan menjadi pemenang?

Sayangnya tidak.

Ada satu lagi rangkaian puzzle kekuatan yang harus dikumpulkan Prabowo, yakni 
siapa wakil yang akan dipilihnya. Untuk konteks ini kita dapat berkaca pada 
kekalahan Prabowo di Pilpres 2019. Saat itu, meskipun Prabowo mendapat dukungan 
luas dari massa Islam, wakil Prabowo tidak merepresentasikan massa Islam.

Di kubu seberang, secara piawai Jokowi menunjuk Ma’ruf Amin di akhir waktu 
untuk membendung narasi anti-Islam dan mengunci dukungan Nahdlatul Ulama (NU). 
Belajar dari itu, jika nantinya maju di Pilpres 2024, cawapres Prabowo mungkin 
harus merupakan sosok ulama karismatik. 

Lantas, siapa sekiranya sosok itu?

Jika boleh memberi usulan, sosok itu mungkin adalah Habib Luthfi bin Yahya. 
Setidaknya ada empat alasan di balik usulan itu. Pertama, duet Prabowo-Habib 
Luthfi adalah representasi dua kekuatan besar politik, yakni militer dan Islam. 
 

Baca juga :  Ekonomi, Alasan Prabowo Gabung Jokowi?Menurut Research Director 
IndoNarator Haris Samsuddin (Harsam), jika melihat sejarah, ada dua kekuatan 
utama yang mempengaruhi dinamika dan pergantian kursi kekuasaan di Indonesia, 
yakni militer dan Islam. Menurut Harsam, dua kekuatan ini akan memainkan 
peranan kunci di Pilpres 2024 mendatang.

Tidak hanya secara historis, pernyataan Harsam juga dapat dijustifikasi secara 
teoretis. Pada konteks militer, postulat itu telah lama diletakkan oleh pendiri 
Republik Rakyat Tiongkok, Mao Zedong ketika mengatakan, “Political power grows 
out of the barrel of a gun”. Kekuatan politik tumbuh dari laras senapan 
(tentara).

Menurut Mao, tentara adalah komponen utama dari kekuasaan negara. Siapa pun 
yang ingin merebut dan mempertahankan kekuasaan negara harus memiliki tentara 
yang kuat. Secara tautologis, dapat dikatakan tentara adalah kekuatan politik 
itu sendiri.

Sementara pada konteks Islam, mengacu pada sistem pemilu yang menjalankan one 
person, one vote, titik tolakan demokrasi telah berpindah menjadi soal ukuran 
dan jumlah. Pada praktiknya, politik tidak lagi membahas kualitas narasi, 
melainkan kemampuan dalam menghimpun suara sebanyak-banyaknya.

Atas dasar ini, kekuatan utama politik terletak pada mayoritas. Di Indonesia, 
dengan jumlah penduduk Muslim sebesar 237,53 juta jiwa atau setara 86,9 persen 
dari populasi yang mencapai 273,32 juta jiwa, ini praktis membuat Islam menjadi 
kekuatan utama.

Kemudian, ini yang terpenting, Habib Luthfi merupakan ulama karismatik NU yang 
berpengaruh. Seperti yang diketahui, NU merupakan organisasi Islam terbesar di 
Indonesia.

Kedua, Habib Luthfi merupakan ulama yang dikenal berposisi Islam tengah. 
Bertolak pada Pilpres 2019, suka atau tidak, tampaknya terdapat trauma politik 
terhadap ulama yang berposisi ekstrem kanan.

Ketiga, Habib Luthfi merupakan seorang intelektual. Selain karismatik, Habib 
Luthfi dikenal sebagai ulama cerdas. Pada 2020, Habib Luthfi mendapatkan gelar 
Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dalam bidang Komunikasi Dakwah dan 
Sejarah Kebangsaan dari Universitas Negeri Semarang (UNNES). 

Keempat, sebagai sosok yang ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan 
Presiden, Habib Lutfi memiliki pengetahuan dan pengalaman soal menjalankan 
pemerintahan. 

Well, sebagai penutup, jika nantinya Prabowo Subianto maju di Pilpres 2024, 
menggandeng Habib Luthfi bin Yahya sebagai cawapres dapat menjadi opsi yang 
menjanjikan. Pada 5 Mei 2022, Prabowo juga terlihat menemui Habib Luthfi di 
kediaman pribadinya di Pekalongan, Jawa Tengah.

“Mas Bowo jaga kesehatan, kita harus terus berjuang untuk NKRI yang kita 
cintai,” pesan Habib Luthfi pada pertemuan itu. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A0F7A5ED0C51496DB2114D9D679013C3%40A10Live.

Reply via email to