https://siwalimanews.com/polarisasi-dan-merosotnya-demokrasi/



https://suaraislam.id/anak-perempuan/
Anak Perempuan

30 Juli 2022

aya waktu kuliah di IPB, banyak teman-teman perempuan berjilbab. Sering
ngobrol dan diskusi ttg berbagai hal. Terutama tentang berbagai aktivitas
keislaman di Masjid Al Ghifari.

Alhamdulillah waktu itu kita biasa berkumpul di masjid. Dan tidak ada
pelecehan seksual di sana, mngkn sampai sekarang. Kita berprinsip asal
ngobrolnya tidak di tempat sepi dan berduaan (ber-*khalwat*), Islam tidak
melarangnya.

Karena sering ngobrol dengan perempuan, saya jadi sedikit tahu jiwa
perempuan. Apalagi setelah beristri dan punya anak perempuan, jadi
menyelami jiwa perempuan.

Perempuan, sebagaimana laki-laki, ingin berperan dalam hidupnya, ingin
bekerja, beribadah dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Ini yang
kadang tidak disadari laki-laki Muslim. Menganggap bahwa perempuan adalah
manusia kelas dua, harus di bawah laki-laki dan tidak layak menjadi
‘pemimpin’.

Alhamdulillah saya dikaruniai istri yang pintar. Pintar mengajar dan pintar
memasak. Karena pintarnya, saya sering berdiskusi dan berdebat degan dia.
Karena sudah lama nikah, tahu kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Anak saya pertama dan kedua perempuan. Anak yang pertama alhamdulillah
lulus dari ITB dan yang kedua masih kuliah di UI. Kini anak yg pertama,
sudah kerja di perusahaan konsultan asing. Anak saya lulusan Teknik
Geodesi. Pekerjaannya lebih banyak di rumah.

Perempuan, sebagaimana laki-laki, ingin berperan dalam hidupnya, ingin
bekerja, beribadah dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Ini yang
kadang tidak disadari laki-laki Muslim. Menganggap bahwa perempuan adalah
manusia kelas dua, harus di bawah laki-laki dan tidak layak menjadi
‘pemimpin’.

Alhamdulillah saya dikaruniai istri yang pintar. Pintar mengajar dan pintar
memasak. Karena pintarnya, saya sering berdiskusi dan berdebat degan dia.
Karena sudah lama nikah, tahu kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Anak saya pertama dan kedua perempuan. Anak yang pertama alhamdulillah
lulus dari ITB dan yang kedua masih kuliah di UI. Kini anak yg pertama,
sudah kerja di perusahaan konsultan asing. Anak saya lulusan Teknik
Geodesi. Pekerjaannya lebih banyak di rumah.

Tadi pagi saya mengantarnya ke Bandara, karena ada acara di Bali. Di mobil
taksi, saya berpesan kepada dia: Bali itu kota internasional. Seperti
Jakarta. Abi sudah dua kali ke sana. Masyarakatnya banyak yang rusak
disana: banyak perzinahan, LGBT, narkoba dan lain-lain. Bos kamu non Islam.
Doakan dia masuk Islam.

Anak saya ini, kebetulan sejak SMP, SMA dan kuliah senang ngaji. Jadi saya
yakin dan berdoa kuat terus menjaga akidahnya.

Kalau anda punya anak perempuan sudah lulus kuliah, apa yg diharapkan? Dia
cepat nikah. Orang tua khawatir kalau dia tidak mendapat jodoh. Orang tua
dimanapun ingin agar anaknya segera mendapat jodohnya.

Tapi jodoh memang di tangan Allah. Tidak tahu, kapan dan dengan siapa. Bisa
jadi perempuan mau, laki-lakinya tidak mau. Bisa jadi laki-lakinya mau,
perempuannya tidak mau. Apalagi anak perempuan sekarang, tidak mudah untuk
dipaksa.

Saya jadi teringat film Cinta Suci Zahrana. Dimana perempuan yg cantik,
pintar tapi sulit mendapat jodoh dan bapaknya terus mengatakan bahwa gak
ada guna gelar dan penghargaan hebat mentereng, kalau *gak *dapat jodoh. Di
film itu akhirnya ditutup dengan jodoh yang tidak disangka-sangka Zahrana.
Yaitu dapat jodoh dengan mahasiswanya yang lebih muda.

Anak saya ini memang punya cita-cita yang tinggi, ingin melanjutkan kuliah
di luar negeri dan lain-lain. Saya sering mengingatkan di grup keluarga,
yang penting itu tugas kita sebagai manusia di bumi ini melanjutkan risalah
para Nabi. Bukan sekadar cari makan dan minum dan seterusnya.

Maka melihat anak perempuan saya ini, dan juga banyak anak perempuan lain
yg pintar-pintar, saya menyadari bahwa perempuan bisa juga jadi pemimpin.
Gubernur, wali kota, direktur dan lain-lain. Asal dia tidak jadi Khalifah
atau presiden. Karena seorang Khalifah atau presiden, harus mandiri,
sedangkan perempuan -mungkin sesuai fitrahnya- kadang harus berdiskusi dgn
suaminya. Tapi dalam sejarah, pernah terjadi sultan perempuan yg memimpin
di Aceh (kerajaan Samudra Pasai).

Tentu saja kalau didiskusikan panjang, memang lebih baik yang kerja di
sektor politik itu laki-laki. Di sektor pendidikan perempuan. Tapi fakta
kehidupan, kadang berbeda. Prinsip nafkah kewajiban laki-laki itu tetap
harus dipegang. Perempuan boleh kerja, asal disetujui laki laki dan
sifatnya membantu. Tidak wajib.

Budaya Islam Nusantara lain dengan budaya Islam Afghanistan. Karena
Nusantara sudah lama merdeka, perempuannya banyak berperan di
lingkungannya. Sedangkan Afghan yang baru merdeka, masih kaku dalam
penerapan Islam. Mewajibkan cadar, membatasi hak perempuan dll. Kita
berharap semakin lama Afghan mengelola pemerintahan, semakin memahami
hak-hak wanita Islam. Baik dalam ekonomi, budaya, politik dll.

Anak perempuan beda dengan anak laki-laki. Anak laki usia 30, orangtuanya
tidak khawatir ia belum menikah. Anak perempuan umur 30 belum menikah,
mungkin orangtuanya berdoa kepada Allah sambil menangis agar ia mendapat
jodohnya.

Saya punya beberapa kerabat yang anak perempuannya umur 30 belum menikah.
Salah satu kerabat saya, aktif mencarikan jodoh untuk anaknya. Saya hanya
berdoa, agar kerabat-kerabat saya yg belum menikah ini, Allah berikan jodoh
suatu saat.

Sekali lagi jodoh adalah di tangan Allah. Saya punya teman perempuan SD
yang sampai sekarang belum menemukan jodohnya. Saya hanya berdoa, bila ia
tidak mendapat jodoh di dunia, Allah berikan jodohnya di akhirat. *Wallahu
alimun hakim*. Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Mengetahui. []



* Nuim Hidayat*, *Dosen Akademi Dakwah Indonesia, Depok*.

[image: width=]
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
Virusfri.www.avast.com
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DQTfkWH4%2BS-4d_ce8BHW%2BfxouaTMM0y1coA1wJpKya_g%40mail.gmail.com.

Reply via email to