Written byJ61Monday, August 22, 2022 16:05

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/khianati-anies-pks-dihantui-dilema/
Khianati Anies, PKS Dihantui Dilema?
Kesan mengulur dukungan bagi Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) 
seolah menyiratkan bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang dilanda dilema 
besar saat ini. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Gelagat menarik ditunjukkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat terkesan masih 
enggan menyokong Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) di kontestasi 
elektoral 2024.

Yang terbaru, impresi itu ditunjukkan pasca Anies diteriaki “presiden” oleh 
sejumlah kader PKS saat Gubernur DKI Jakarta itu hadir pada agenda jalan sehat 
dalam rangka HUT ke-77 RI yang digelar DPW PKS DKI Jakarta, Minggu, 21 Agustus 
kemarin.

Saat ditanya awak media perihal reaksi para kadernya itu, Ketua Fraksi PKS DPR 
RI Jazuli Juwaini mengafirmasi suara dukungan kepada Anies. Akan tetapi, dia 
mengatakan keputusan penunjukan capres masih menunggu waktu.

Menariknya, keengganan ini tampak bukan yang pertama. Pada 13 Juni lalu, 
misalnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS Aboe Bakar Al-Habsyi membantah bahwa 
PKS condong kepada Anies dalam sokongan kandidat RI-1 2024.

Bahkan, Aboe mengutip frasa ojo kesusu Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta 
mengatakan PKS masih akan menanti dinamika ke depan.

Jika dirunut ke belakang, sikap PKS itu kiranya memiliki landasan tertentu. 
Pada akhir April lalu, Juru Bicara (Jubir) Ahmad Fathul Bari telah menegaskan 
bahwa partainya masih fokus untuk memperkenalkan kader internal sebagai capres 
hasil keputusan Majelis Syuro PKS, yakni Salim Segaf Al Jufri.

  
Namun, kegamangan PKS agaknya tak bisa terus terjadi mengingat nama capres dari 
partai maupun poros lain telah mengemuka. Sebut saja Prabowo Subianto dari 
poros Partai Gerindra dan PKB, hingga Airlangga Hartarto dari poros Koalisi 
Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, PAN, dan PPP.

Kesan menahan sokongan bagi Anies juga sekilas kontras dengan keharmonisan PKS 
dengan eks-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu selama, terutama 
di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 silam.

Lantas, mengapa PKS seolah enggan menyokong Anies?

PKS Galau?
Secara garis besar, interpretasi mengenai kesan “jual mahal” PKS agaknya 
terkait dengan konteks menaikkan daya tawar. Dalam hal ini, tentu tidak hanya 
terpaku di hadapan Anies Baswedan, tetapi termasuk juga di depan sesama aktor 
politik lain yang akan bertarung di 2024.

Perlu dipahami bahwa logika organisasi – dalam hal ini parpol – memiliki 
perbedaan dengan logika individu. Francis Fukuyama dalam  bukunya 
State-Building: Governance and World Order in the 21st Century menjabarkan 
secara gamblang mengenai hal ini.

Mengutip ilmuwan politik asal Amerika Serikat (AS) Herbert Simon tentang teori 
satisficing atau keterpuasan, Fukuyama menerangkan bahwa tujuan organisasi 
sebenarnya tidak pernah hadir secara jelas, tetapi muncul sebagai hasil dari 
berbagai interaksi para pelaku organisasi.

Menurut Fukuyama, itu terjadi karena individu-individu dalam organisasi punya 
rasionalitas yang terbatas. Kecenderungan itu tidak lain disebabkan oleh 
individu yang cenderung memiliki penafsiran yang berbeda atas suatu peristiwa.

Teriakan “presiden” oleh kader PKS sendiri masih dikategorikan sebagai logika 
individu, bukan para pengambil keputusan atau elite partai.

 
Dan meskipun bisa saja menjadi parpol pertama yang secara resmi menyokong 
Anies, perspektif logis PKS secara organisasi tampaknya masih belum cukup, 
apalagi ketika berbicara syarat presidential threshold.

Dengan torehan 8,21 persen suara di Pemilu 2019, PKS pasti akan bergabung dan 
membentuk koalisi dengan parpol lain sebelum berbicara kandidat capres. 
Muaranya, tentu PKS akan menimbang dengan matang mengenai hasil maksimal apa 
yang akan direngkuhnya dalam sebuah poros politik.

Selain itu, kegamangan dan jual mahal PKS dalam menentukan sosok capres – meski 
opsi Anies cukup terbuka – kiranya dapat dimaknai sebagai proses perubahan 
dalam tataran dialektika partai politik (parpol).

Ralf Dahrendorf dalam buku Class and Class Conflict in Industrial Society 
mengatakan bahwa dalam tataran interaksi internal sebuah organisasi, setiap 
saat akan mengalami proses pertikaian, konflik, dan perubahan.

Filsuf dan cendekiawan politik asal Jerman itu menilai masyarakat memiliki dua 
wajah, yakni konflik dan konsensus. Baginya, sebuah entitas, baik masyarakat 
ataupun organisasi, tidak akan eksis tanpa kehadiran konsesus dan konflik.

Singkatnya, proses berupa kegalauan dalam menentukan sosok capres oleh PKS 
kemungkinan akan memantik semacam “konflik” internal yang diharapkan dapat 
menghadirkan berbagai kesepakatan baru yang lebih solid.

Kendati cukup riskan dari efek bumerang dan gejolak internal, probabilitas 
memicu konflik jika dilihat lebih jauh kiranya justru akan bermuara pada arah 
politik baru PKS kelak yang bisa lebih menguntungkan.

Hal itu berkorelasi dengan kemungkinan berikutnya yakni keengganan PKS untuk 
kembali ada di poros politik yang kalah.

Perilaku itu mengacu pada dua konsep perilaku aktor politik yakni, oportunisme 
dan egoisme. Alexander Moseley dalam Political Realism and Utopianism 
mendefinisikan realisme politik sebagai praktik yang sarat dengan egoisme dan 
banalitas (kedangkalan) untuk mencapai kekuasaan. Pada akhirnya, praktik 
tersebut melahirkan tindakan yang disebut perilaku oportunis.

Menurut Moseley, aktor di gelanggang politik akan menggunakan berbagai opsi dan 
kesempatan paling menguntungkan yang ada dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, James Rachels dalam Egoism and Moral Skepticism menjelaskan apa 
yang disebut sebagai egoisme etis yang memiliki makna bahwa semua tindakan 
manusia dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest).

Ketika egoisme etis muncul, etika seketika tidak berguna. Begitupun dengan 
altruisme yang tak menemui relevansinya di mana kecenderungan semacam ini 
acapkali lumrah dalam politik.

Lebih lanjut, Rachels merinci bagaimana etika etis bekerja yaitu terlepas dari 
bagaimana manusia sebenarnya berperilaku, mereka menganggap tidak memiliki 
kewajiban untuk melakukan apapun kecuali apa yang menjadi kepentingan mereka 
sendiri.

Berkaca pada oportunisme dan egoisme yang menjadi karakteristik utama aktor 
politik, dapat dimaknai bahwa kegamangan PKS bisa saja menggambarkan bahwa 
mereka tidak ingin kembali berada di barisan “pecundang” di Pemilu 2024.

Di mata PKS secara organisasi, Anies bisa saja tidak memiliki peluang yang 
lebih baik dibandingkan kandidat capres lain, terutama Prabowo Subianto yang 
hampir selalu bertengger di puncak survei elektabilitas.

Di titik ini, probabilitas lain kemudian mengemuka, yakni PKS boleh jadi telah 
mengincar jabatan strategis, terutama menteri di 2024. Mengapa demikian?

Gwyneth H. McClendon dalam buku berjudul Envy in Politics menjelaskan bahwa 
kekhawatiran akan status dari aktor politik akan mendefinisikan perilakunya.
Menurut riset McClendon, motivasi status dapat memberikan pengaruh pada 
munculnya kecemburuan, dendam, maupun hasrat setiap aktor dalam dunia politik.

Dalam hal ini, PKS kemungkinan memiliki motivasi status serupa yakni 
kecemburuan politik bahwa partainya tidak pernah mengampu jabatan menteri atau 
lingkar satu pemerintahan sejak 2014 silam.

Oleh karena itu, kondisi galau PKS dalam menentukan sosok capres andalan di 
2024 dapat dilihat sebagai upaya kalkulasi matematika politik yang begitu rumit 
dan belum menemui pemecahannya hingga detik ini.

Belum cukup sampai disitu, PKS juga sepertinya akan dihadapkan pada variabel 
lain yang akan semakin membuat rumit kalkulasi dan memantik dilema. Apakah itu?

  
Pilih Menteri atau Kursi DPR?
Koalisi politik yang telah terbentuk sementara ini, kiranya juga memaksa PKS 
berpikir keras di persimpangan. Tengok saja KIB yang telah memiliki basis massa 
Islam dari PPP. Sementara, Partai Gerindra telah memastikan berduet dengan PKB 
yang memiliki ceruk suara Nahdlatul Ulama (NU).

Apalagi, jika memaksakan bergabung dengan Partai Gerindra dan PKB, resistensi 
internal bisa saja dialami partai yang dikomandoi Ahmad Syaikhu mengingat akar 
rumputnya telah menganggap Prabowo sebagai pengkhianat.

Resty Woro Yuniar dalam artikelnya Indonesian hardliners label Prabowo Subianto 
‘traitor’ for meeting with Jokowi menjelaskan bahwa kampanye berdarah-darah 
dari kelompok Islam konservatif – termasuk perwakilan PKS – untuk memenangkan 
Prabowo dan Sandiaga Uno di 2019 dinilai dikhianati begitu saja kala mantan 
Panglima Kostrad itu masuk kabinet Jokowi.

Sementara itu, sebagai parpol yang menawarkan suara Islam konservatif, PKS pun 
justru bisa saja dihindari oleh embrio poros NasDem-Partai Demokrat yang tidak 
ingin terseret sentimen minor politik identitas.

Tinggal tersisa kemungkinan poros PDIP yang tampak akan membawa keuntungan 
mengingat reputasinya sebagai parpol papan atas dalam tiap edisi Pemilu sejak 
era Reformasi.

Akan tetapi, PDIP sendiri telah menolak mentah-mentah peluang berkoalisi dengan 
PKS saat Sekjen Hasto Kristianto menegaskan prinsip partai banteng.

“Kurang elok bila dengan berbagai perbedaan ideologi (antara PKS dan PDIP), 
kami tidak mengambil sikap politik atas kerja sama dengan PKS,” begitu ucap 
Hasto pada 25 Juni lalu.

Pada akhirnya, PKS ke depan bisa saja dihadapkan pada dilema pelik, yaitu 
apakah akan tetap berambisi berada di koalisi dengan peluang kemenangan 
terbesar dan mendapat kursi menteri, atau bersikap ikut arus dengan 
mempertahankan karakteristik Islam konservatif.

Opsi kedua agaknya lebih ideal bagi PKS jika berkaca pada prestasi di Pemilu 
2019. Torehan 8,21 persen suara menjadi yang terbaik sepanjang sejarah partai 
sekaligus membuat 50 kader PKS duduk di Senayan. Itu agaknya akan lebih pantas 
untuk diperjuangkan, terlepas siapa capres yang akan diusung nantinya.

Lalu, kemana arah politik PKS kelak? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DCF8E80E81DE485BACDC63454D51C991%40A10Live.

Reply via email to