Written byI76Wednesday, August 24, 2022 18:50

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/hamid-algadri-berani-pilih-nasionalis/
Hamid Algadri Berani Pilih Nasionalis
Hamid Algadri adalah tokoh keturunan Arab Indonesia yang berani memilih untuk 
mengambil sikap berbeda dengan pandangan umum komunitasnya. Ia akhirnya memilih 
untuk aliran politik nasionalis yang masih dianggap tabu bagi etnis Arab yang 
mayoritas Islam. Lantas, seperti apa perjuangan Hamid Algadri dalam lintas 
sejarah Indonesia, dan dampaknya hingga kini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Budi Utomo adalah organisasi modern pertama yang lahir di Indonesia, bahkan 
kelahirannya juga dianggap sebagai simbol pergerakan kebangsaan Indonesia 
karena di saat itu organisasi-organisasi rakyat yang bergerak dalam bidang 
sosial dan pendidikan mulai didirikan.

Peristiwa ini juga yang menjelaskan kenapa tanggal lahir Budi Utomo, yaitu 20 
Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tidak berhenti di situ, 
pergerakan nasional rupanya berimbas kepada kalangan etnis-etnis non-pribumi, 
seperti Arab dan Tionghoa.

Tercatat bahwa organisasi non-pribumi yang menjadi benih nasionalisme dari 
golongan Tionghoa adalah munculnya Partai Tionghoa Indonesia pada tahun 1932. 
Organisasi ini lahir dari rahim tokoh-tokoh pers koran Sin Tit Po, yang 
beraliran nasionalis dan anti-kolonialisme.

Kemudian dari golongan Indo-Arab mendirikan organisasi yang diberi nama Partai 
Arab Indonesia (PAI) pada tahun 1934. PAI lahir dari deklarasi para tokoh 
keturunan Arab yang terkenal dengan Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang 
menyatakan Indonesia adalah tanah air mereka.

Dalam usaha-usaha menuju kemerdekaan Indonesia, PAI memiliki kontribusi penting 
dengan ikut berjuang dalam Petisi Soetardjo, Gabungan Politik Indonesia (GAPI), 
Majelis Islam a’la Indonesia (MIAI), serta aktif dalam berbagai usaha 
perjuangan lainnya bersama tokoh-tokoh pejuang bangsa pribumi.

Di tengah perjuangan tersebut, muncul persoalan pengasingan kelas yang dibuat 
oleh pemerintah kolonial belanda melalui Pasal 163 Indische Staatsregeling, 
yang memasukkan selain pribumi, yaitu peranakan asing ke dalam golongan Timur 
Asing (Vreemde Oosterlingen).

Hukum pemerintah Belanda menyebut golongan Arab dan Tionghoa sebagai orang 
asing, meskipun sebenarnya ibu-ibu mereka adalah orang Indonesia asli. Mereka 
lahir di Indonesia, serta mengadopsi budaya Indonesia sepenuhnya.

Di sinilah muncul Hamid Algadri, salah satu tokoh PAI yang mencoba menolak 
“politik segregasi” pemerintahan kolonial Belanda. Nama tokoh ini melambung 
karena kemampuannay dalam menarasikan protes melalui tulisan yang saat itu 
menjadi sorotan banyak elite politik.

Hamid Algadri dalam bukunya Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab 
di Indonesia, mengatakan politik segregasi yang menempatkan semua golongan Arab 
ke dalam strata Vreemde Oosterlingen adalah bentuk pengasingan.

Hamid Algadri mencurigai politik segregasi ini adalah upaya untuk mempermudah 
kontrol pemerintah kolonial Belanda. Dengan memisahkan antara penduduk pribumi 
dengan keturunan Arab akan muncul jarak sosial, sehingga perjuangan untuk 
melawan Belanda mudah untuk diredam. 

Sedikit memberikan konteks, meskipun saat itu terdapat tokoh peranakan Arab 
seperti AR Baswedan yang merupakan pencetus PAI, tapi hanya sedikit orang yang 
mengetahui bahwa ada juga sosok seperti Hamid Algadri yang merupakan tokoh 
golongan Arab yang ikut berjuang untuk Indonesia.

Lantas, seperti apa profil dan bentuk perjuangan sosok Hamid Algadri?


Nadiem terbitkan Permendikbud Ristek 
Tampil Beda, Pilih Partai Nasionalis
Hamid Algadri terlahir dengan nama lengkap Sayid Hamid Muhammad Algadri di 
Surabaya, Jawa Timur, pada 12 Juli 1910. Kata “sayid” merupakan bentuk jamak 
saadah, yang bermakna tuan, dan menjadi penanda keturunan Nabi Muhammad SAW 
dari garis keturunan Husain, putra Ali bin Abi Talib. 

Keluarga Algadri merupakan keluarga yang cukup terpandang dalam masyarakat di 
Jawa Timur. Kakek dan ayahnya adalah seorang Kapiten der Arabieren (Kapten 
Arab), sebuah jabatan pada masa kolonial Hindia Belanda dengan tugas mengepalai 
orang-orang etnis Arab di Pasuruan.

Sebagai salah seorang politisi PAI, Hamid Algadri dikenal karena kemampuan 
menulisnya yang tajam. Ia sering menulis berbagai macam tema, misalnya 
permasalahan sosial dan politik yang terjadi terhadap golongan Arab.

Sebagian orang menyandingkan Hamid Algadri dengan AR Baswedan, sebagai dua 
tokoh golongan Arab yang punya peranan penting pada visi persatuan tentang Arab 
dan Indonesia yang tidak dapat dipisahkan. 

Tapi visi keduanya mulai terlihat berpisah jalan setelah PAI dibubarkan. Saat 
itu, AR Baswedan berlabuh ke Masyumi setelah memutuskan untuk tidak 
menghidupkan PAI dengan alasan tujuan PAI telah tercapai, yakni Indonesia 
merdeka. 

Alih-alih mengikuti AR Baswedan masuk ke partai yang berideologi Islam, Hamid 
Algadri justru memilih untuk bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI), 
pimpinan Sutan Sjahrir. Hal ini juga yang membuatnya dituduh anti-Islam. 

Perbedaan politik ini sebenarnya baik karena mencerminkan tidak ada ideologi 
politik tunggal di komunitas Arab peranakan di Indonesia. Walau sebagian besar 
memilih partai Islam, ada pula yang berlabuh ke partai nasionalis, bahkan 
sosialis – di sinilah letak keberagamannya. 

Tapi perlu diingat, konteks sejarah saat itu berbeda. Hal ini dijelaskan oleh 
Husain Haikal dalam tulisannya Indonesia-Arab dalam Pergerakan Nasional 
Indonesia (1900—1942), yang menyebut orang Arab pada masa itu termasuk golongan 
yang anti terhadap sesuatu yang beraroma Barat, termasuk pendidikan Barat. 

Di sinilah uniknya keluarga Hamid Algadri yang tampil berbeda dengan keturunan 
Arab kebanyakan. Keluarga Hamid Algadri bisa dikatakan moderat. Hal itu 
terlihat dari anak-anak mereka yang mengenyam pendidikan modern Barat. 

Meskipun ditentang oleh golongannya sendiri, keluarga Algadri tetap memilih 
pendidikan Barat dengan harapan kelak anak dan cucu mereka berpikiran modern. 
Bagi mereka, modernisasi adalah jembatan menuju masa depan.

Hamid Algadri menempuh pendidikan formal sekolah dasar di Europeesche Lagere 
School (ELS). Kemudian, ia masuk ke sekolah menengah Meer Uitgebreid Lager 
Onderwijs (MULO), dilanjutkan di Algemene Middelbare School (AMS). 

Pada tahun 1936, ia menjadi mahasiswa Rechts Hoge School (RHS/Pendidikan Tinggi 
Hukum) di Batavia. Ia merupakan salah satu pemuda Arab pertama yang menuntut 
ilmu di perguruan tinggi. Lulus dari RHS, Hamid Algadri memperoleh gelar 
Meester in de Rechten atau MR. 

Seperti yang telah disinggung di atas, Hamid Algadri memperjuangkan kemerdekaan 
Indonesia melalui ujung penanya. Ia kerap menulis di majalah Aliran Baroe dan 
Insjaf dengan topik yang tak jauh-jauh dari hukum dan situasi Indonesia. 

Bahkan juga sempat menerbitkan empat buku, diantaranya “C. Snouck Hurgronje, 
Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab”, “Islam dan Keturunan Arab 
dalam Pemberontakan Melawan Belanda”, “Suka Duka Masa Revolusi”, dan 
“Mengarungi Indonesia Memoar Perintis Kemerdekaan”. 
Setelah kemerdekaan, ia lebih aktif menjadi birokrat dan perjuangan misi 
diplomatik. Hamid Algadri masuk dalam BP-KNIP, Pegawai Tinggi Kementerian Luar 
Negeri, Pegawai Tinggi Sekretariat Perdana Menteri, Sekretaris Menteri 
Penerangan, dan juga Anggota DPR-RIS. 

Tak hanya itu, Hamid Algadri juga turut dalam perjanjian Linggarjati, Renville, 
dan Konferensi Meja Bundar (KMB). Ia juga merupakan Sekjen Panitia Pembantu 
Perjuangan Kemerdekaan Tunisia dan Aljazair. 

Begitu banyak peran dan jasa Hamid Algadri pada bangsa ini, sehingga pantas 
ketika akhirnya dianugerahi Satya Lencana 1978 dan diakui sebagai Perintis 
Kemerdekaan.

Di sini muncul pertanyaan, apakah ada keturunan beliau yang meneruskan 
perjuangan membangun Indonesia hingga kini? 


Driver Online, Kelas Revolusi Baru? 
Algadri Hadir Tiap Generasi
Sedikit orang yang mengetahui jika Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan 
Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim merupakan anak dari pasangan Nono 
Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ibunya, yaitu Atika Algadri adalah anak dari 
Hamid Algadri. 

Sedikit informasi, Hamid Algadri memiliki empat orang anak, yakni Atika 
Algadri, Maher Algadri, Adila Suwarno Soepeno, dan Sadik Algadri. 

Generasi kedua keluarga Algadri tidak secara langsung diperjuangkan oleh Atika 
Algadri. Melainkan oleh sang suami Nono Anwar Makarim. Ia dikenal sebagai 
praktisi hukum asal Indonesia yang juga merupakan penulis buku di berbagai 
media massa nasional. 

Tidak hanya berkarier di bidang hukum, Nono Anwar Makarim juga aktif di 
berbagai organisasi sosial. Pada tahun 1972, ia diangkat sebagai Direktur LP3ES 
pertama. Tak sampai di situ, Nono Anwar Makarim juga menjabat sebagai salah 
satu anggota komite etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Seolah mengabdi pada negara adalah bagian tak terpisahkan dari visi besar 
keluarga Algadri. Hal ini terlihat ketika muncul tokoh dari generasi ketiga, 
yaitu Nadiem yang sempat disinggung di atas. Sebagian besar orang pasti telah 
mengenal pendiri sekaligus eks CEO GoJek yang saat ini telah menjadi menteri. 

Bahkan pada Mei 2019, Nadiem menjadi tokoh termuda se-Asia yang menerima 
penghargaan Nikkei Asia Prize ke-24 untuk Inovasi Ekonomi dan Bisnis. Ia 
dianggap berkontribusi bagi pengembangan kawasan Asia dan menciptakan masa 
depan yang lebih baik bagi masyarakat Asia. 

Dari lintas generasi ke generasi, Algadri membuktikan bahwa keluarga besar dari 
kelompok Arab Indonesia mampu memberikan sumbangsih yang begitu banyak bagi 
bangsa ini. Dimulai dari Hamid Algadri, hingga cucunya Nadiem Makarim. 

Sebagai penutup, pesan moral yang dapat diambil dari kisah ini adalah, menjadi 
bagian dari minoritas tidak menghalangi untuk berbuat besar untuk Indonesia. 
Maka tidak relevan jika ada yang menyudutkan keturunan Arab, karena mereka 
sama-sama berpeluh dan berjuang demi tercapainya Indonesia merdeka. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2497C8B4D3A543D5BBE58577FF54E954%40A10Live.

Reply via email to