Written byD74Monday, August 29, 2022 19:36

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menkes-budi-sadikin-terawan-2-0/
Menkes Budi Sadikin, Terawan 2.0?
Monkeypox atau cacar monyet sudah mulai masuk ke Indonesia. Menteri Kesehatan 
(Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengisyaratkan bahwa warga tidak perlu khawatir, 
bahkan dengan pernyataan yang terkesan bercanda. Sudah tepatkan respons Budi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Setelah tiga tahun dilanda Covid-19 yang begitu mendisrupsi kehidupan kita, 
dunia kembali diteror oleh ancaman virus yang baru. 

Media memopulerkan virus tersebut dengan nama monkeypox atau cacar monyet. 
Namun belakangan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah mencari masukan dari 
publik untuk mengganti namanya karena dianggap bersifat rasis.

Apapun nama baru yang ditetapkan nanti, yang jelas virus yang dapat menyebabkan 
bintik-bintik ruam pada kulit kita ini, secara disayangkan, sudah mulai masuk 
ke Indonesia. Menurut kabar yang sudah dikonfirmasi Kementerian Kesehatan 
(Kemenkes), tercatat pada akhir Agustus lalu seorang pria berumur 27 tahun yang 
tinggal di Jakarta menjadi korban pertama cacar monyet.

Sontak kekhawatiran muncul dalam masyarakat. Banyak yang khawatir virus ini 
dapat menjadi “covid yang baru” karena masih mengalami trauma pandemi 
sebelumnya.

Menteri Kesehatan (Menkes) otomatis menjadi sorotan pertama saat masyarakat 
mulai khawatir dengan suatu penyebaran virus. Tentu, apa yang dikatakan oleh 
Menkes Budi Gunadi Sadikin akan jadi pegangan masyarakat dalam menanggapi virus 
yang disebut dapat sangat merusak penampilan fisik seseorang tersebut.

Namun, ketika mengisi agenda The 3rd G20 Health Working Group, Budi malah 
melontarkan pernyataan yang kontroversial, katanya: “(monkeypox) only affects 
your skin, basically. Yeah, you look ugly definitely, but at least you will 
survive,”. 

Cacar monyet, kata Budi, jelas akan membuat para penderitanya buruk rupa secara 
fisik, tapi setidaknya mereka akan selamat. Ia pun menekankan bahwa dampak 
cacar monyet tidak akan separah Covid-19.

Sontak, pernyataan Budi menuai sejumlah respons warganet, karena apa yang 
disampaikan Budi terkesan menganggap virus cacar monyet sebagai sebuah lelucon 
dan merendahkan potensi berbahaya dari virus tersebut.

Tidak hanya itu, di acara yang sama Budi juga menghimbau masyarakat untuk tidak 
terlalu khawatir tentang cacar monyet karena rata-rata pasien yang meninggal 
bukan disebabkan karena virus itu secara langsung, melainkan karena infeksi 
sekunder, seperti infeksi akibat digaruk-garuk. 

Berangkat dari situ, bisa kita nalarkan bahwa sikap Budi dalam menyuarakan 
kewaspadaan cacar monyet sangat kurang tepat, mengapa demikian?

 
Meremehkan atau Gagap?
Dulu ketika pertama Covid-19 mulai masuk kawasan Asia Tenggara, mantan Menkes 
Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa virus yang telah menewaskan lebih dari 
enam juta orang tersebut tidak perlu dikhawatirkan orang Indonesia. Bahkan 
katanya, orang Indonesia kebal Covid-19 karena selalu memanjatkan doa.

Kalau melihat dampaknya sekarang, tentu banyak orang yang akan merasa kesal 
oleh pernyataan Terawan.

Karena itu, sepertinya pantas bila kita teringat kembali akan blunder yang 
dilakukan Terawan ketika menyimak pernyataan Menkes Budi Sadikin tentang cacar 
monyet. Ada beberapa hal yang bisa menjelaskan mengapa pernyataan Budi sama 
salahnya dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan Terawan.

Negarawan Romawi kuno, Marcus Tullius Cicero dalam publikasinya The Five Cannon 
of Rethoric, memaparkan lima indikator pengukuran keberhasilan retorika dan 
komunikasi publik.

Di antaranya: invention (rumusan narasi yang ingin disampaikan), arrangement 
(penyusunan materi narasi), style (cara penyampaian narasi), delivery (eksekusi 
penyampaian narasi), dan memory (kemampuan menyimpan gagasan/narasi dalam 
ingatan dan mengungkapkan kembali pada waktunya).
Nah, dari lima poin ini, ada dua indikator yang sangat berdampak pada 
masyarakat, yaitu style dan delivery. Mengambil pemahaman Cicero, style seorang 
pejabat publik ketika berbicara di depan umum sangatlah penting, karena 
pernyataan yang ia sampaikan juga menjadi pesan tentang sikap pemerintah 
terhadap suatu isu.

Sejumlah temuan tentang cacar monyet, seperti yang dibuat Perserikatan 
Bangsa-Bangsa (PBB), memang menyebutkan bahwa tingkat kematian akibat virus 
tersebut mungkin tidak terlalu tinggi, namun antara tiga sampai enam persen 
kasus yang dilaporkan di negara-negara yang terjangkit dilaporkan berakhir pada 
komplikasi medis dan bahkan kematian. 

Kemudian, bayi yang baru lahir, anak-anak di bawah umur, dan orang dengan 
defisiensi sistem kekebalan berisiko mengalami gejala yang lebih parah dan 
kematian akibat penyakit tersebut.

Dengan demikian, bisa kita tekankan bahwa kemungkinan fatal cacar monyet 
sesungguhnya sangat ada. Dan kalaupun pemerintah tidak melihat itu sebagai 
sebuah ancaman nyata, seharusnya pernyataan yang disampaikan Budi tidak 
disampaikan dalam gaya bahasa yang cenderung menyepelekan. 

Karena bagaimanapun penyakit ini dapat merusak kehidupan orang yang terjangkit, 
dan tidak etis bila seorang pejabat publik, apalagi menteri, melihat virus 
sebagai sebuah bahan bercandaan.

Kedua, delivery. Menurut Cicero, apa yang disampaikan pejabat publik harus 
mampu menjawab keresahan publik melalui penyampaian yang mudah ditafsirkan 
orang-orang. 

Melihat bagaimana Terawan dulu merespons Covid-19, apa yang dikatakannya sering 
kali justru malah membuat publik semakin was-was, karena pernyataannya dinilai 
kerap tidak mengena dan tidak menyentuh substansi yang membuat publik 
mendapatkan kejelasan informasi dan menghadirkan rasa tenang.

Berkaca dari apa yang juga disampaikan oleh Budi, sepertinya itu juga tidak 
jauh berbeda. Alih-alih mendapatkan penjelasan yang substansial tentang apa itu 
cacar monyet dan bagaimana cara infeksinya, publik seakan-akan malah ditekankan 
untuk tidak takut. Tentu hal ini sangat menggelitik karena bagaimana seseorang 
tidak merasa takut bila tidak paham tentang apa yang sebenarnya dihadapinya.

Padahal, menurut situational crisis communication theory atau teori komunikasi 
krisis situasional yang dipopulerkan W.T. Coombs dalam publikasinya Impact of 
Past Crises on Current Crisis Communication, para manajer krisis –dalam hal ini 
pemerintah- harus mencocokkan tanggapannya tentang suatu krisis sesuai dengan 
tingkat keresahan, rasa penasaran, dan reputasi ancaman yang ditimbulkan krisis 
tersebut. 

Jika memang publik saat ini belum mendapatkan kejelasan tentang cacar monyet, 
maka Budi berkewajiban menciptakan ketenangan dengan menjelaskan secara 
spesifik bagaimana virus tersebut bekerja, mulai dari metode penyebarannya, 
pencegahannya, dan penanganannya. 

Dengan demikian, pesan pada publik untuk tidak menakuti virus ini akan muncul 
secara sendirinya, bukan berdasarkan lelucon yang justru membuat orang semakin 
bertanya-tanya.

Lantas, kira-kira kenapa lelucon itu bisa dilontarkan oleh Budi?
 
Pemerintah Perlu Belajar Ciptakan Paranoia?
Belakangan ini dunia diterpa sejumlah isu yang membuat banyak orang 
berandai-andai akan datangnya suatu krisis. Mulai dari pembicaraan tentang 
konflik Rusia-Ukraina yang sering dianggap sebagai pemantik Perang Dunia III, 
naiknya harga minyak dunia yang diprediksi akan memicu krisis ekonomi, dan juga 
krisis pangan.

Menariknya, respons pemerintah dalam menanggapi keresahan-keresahan publik 
kerap kali tampak kurang konsisten. Sebagai contoh, Menteri Pertanian (Mentan), 
Syahrul Yasin Limpo (SYL) beberapa saat lalu sempat bilang bahwa harga gandum 
global yang tinggi akan membuat harga mi instan di Indonesia naik tiga kali 
lipat, padahal Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan justru mengatakan 
naiknya harga gandum tidak akan berdampak banyak pada Indonesia.

Nah, kembali ke konteks kewaspadaan penyebaran virus di Indonesia, bukan tidak 
mungkin bahwa pernyataan mantan Menkes Terawan dulu dan Menkes Budi saat ini 
sesungguhnya berkaitan dengan hal yang sama.

Artikel PinterPolitik.com berjudul Luhut “Sembunyikan” Utang Indonesia?, pernah 
menjawab keanehan ini dengan dugaan bahwa pemerintah sepertinya sering berupaya 
meredam munculnya keresahan yang berlebihan dalam masyarakat dengan menutupi 
potensi-potensi bahaya yang kemungkinan akan terjadi.

Namun masalahnya, kerap kali upaya tersebut justru menggiring publik pada 
pemahaman yang salah. Dengan tidak memahami suatu krisis, masyarakat cenderung 
akan bersikap abai dalam mendeteksi gejala-gejala yang dapat berkembang jadi 
suatu masalah besar.

Padahal, selain harus pandai dalam manajemen isu, pemerintah sesungguhnya juga 
harus mampu membangun paranoia atau ketakutan. 

Sejarawan dan ahli ilmu bumi ternama, Jared Diamond, melalui teori constructive 
paranoia atau paranoia yang dikonstruksi, menjelaskan bahwa suatu negara 
seharusnya memiliki insting menyelamatkan diri layaknya seorang individu dalam 
menghadapi suatu potensi krisis. Yang dimaksud Diamond adalah, rasa takut yang 
diciptakan dalam masyarakat justru malah bisa membuat mereka lebih siaga dan 
responsif jika ada potensi krisis selanjutnya.

Pendapat demikian didapatkan Diamond ketika dirinya berkunjung ke Papua. Kala 
itu, Diamond melihat bahwa ada ketakutan yang beredar di masyarakat sana 
terhadap pohon tinggi, sehingga banyak orang yang takut tidur atau duduk di 
bawah pohon. 

Awalnya, Diamond merasa aneh, namun setelah mengetahui bahwa ternyata pohon 
runtuh adalah salah satu penyebab terbesar kematian warga Papua, Diamond merasa 
bahwa ternyata ketakutan yang dikonstruksi juga dapat berdampak baik pada 
masyarakat. Tanpa instruksi tertulis, warga-warga Papua bisa menghindari 
hal-hal yang dapat membahayakan nyawa mereka.

Ini kemudian dapat jadi pembelajaran pemerintah. Secara singkat, pengalihan 
bahaya suatu virus mungkin memang dapat meredamkan kepanikan masyarakat, tapi 
dalam jangka panjangnya, jika pemerintah tidak ingin manajemen penanggulangan 
buruk Covid-19 terulang lagi, maka mungkin paranoia perlu dibangun dalam 
masyarakat.

Akhir kata, tentu kita harap penyakit cacar monyet tidak berkembang lebih 
parah. Semoga saja kali ini pemerintah bisa bersikap lebih presisi dalam 
mencegah penyebarannya. (D74)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/32C2E6DECD704D22AC485C2BA223F8F4%40A10Live.

Reply via email to