Tiga Langkah Jegal Anies Baswedan
OLEH: TONY ROSYID - pemerhati sosial dan politik

Sabtu, 03 September 2022, 03:58 WIB 

ANIES BASWEDAN nggak boleh nyapres. Ini harga mati. Ada pihak yang
merasa tidak aman kalau Anies nyapres. Apa yang tidak aman? Bisnisnya
tidak aman, kepentingan politiknya tidak aman, bahkan diri mereka juga
bisa tidak aman. 
Anies satu-satunya kandidat yang oleh mereka dianggap tidak bisa mereka
kendalikan. Karena itu, Anies harus dihentikan. Sekali lagi, harus
dihentikan. 
Ada upaya sangat serius untuk jegal Anies, kata Andi Arief. Politisi
Demokrat yang terkenal tegas ini blak-blakan soal penjegalan terhadap
Anies. Publik pun sebenanrnya sudah sangat paham.
Bagaimana cara menghentikan Anies? Ada tiga langkah. Langkah pertama,
jadikan Anies tersangka. Pra Pilgub DKI 2017 hingga hampir selesai masa
kerja lima tahun sebagai gubernur, kasus demi kasus terus dicari. Kasus
DP 0 persen, nggak ketemu.

Formula E? Commitment fee, ternyata bukan pelanggaran. Tanggal
pembayaran? Di sini dicari celahnya. Meski sudah disetujui Banggar,
pembayaran Formula E mau diutak atik. Pembayaran sebelum Sidang
Paripurna DPRD mau dipermasalahkan. Padahal, tak ada pelanggaran hukum.
Itu hanya soal administrasi belaka. Apalagi, ini dilakukan untuk
menghindari denda. Kalau kena denda, harus keluar uang lagi.

Anies selamatkan event Formula E dari denda. Kok mau ditersangkakan?
Ini bisa memicu gejolak sosial, kata salah seorang ketua umum partai
dengan wajah marah.

ADVERTISEMENT
Hal yang sama dikhawatirkan sejumlah orang. Kalau Anies "dipaksa jadi
tersangka" apakah akan terjadi gejolak sosial, tanya sejumlah anggota
Dewan dan aktifis ke saya. Boleh jadi apa yang diungkapkan ketua umum
partai itu benar-benar terjadi, jawabku. Jawaban yang aman.

Saat ini, Anies boleh dibilang satu-satunya ekspektasi bagi rakyat yang
selama ini merasa tak terakomodir aspirasinya. Jika ekspektasi ini
hilang, mereka bisa putus asa. Frustasi! Dan ini bisa menjadi sumber
lahirnya gejolak sosial-politik itu. Sebab, tak ada lagi harapan. Ngeri!

Jangan "paksa" Anies jadi tersangka jika tidak benar-benar ada bukti
layaknya tersangka yang lain. Yang ada bukti, jelas dan kasat mata
saja, nggak kunjung dijadikan tersangka.

Anies yang menurut banyak ahli hukum tidak melanggar mau dijadikan
tersangka. Hal ini bukan saja akan dicatat sebagai sejarah terburuk
bagi demokrasi di Indonesia, tapi juga berpotensi menimbulkan gejolak
sosial-politik.

Ini juga akan membuat kualitas Pemilu 2024 menjadi Pemilu terburuk di
era reformasi. Emang ada yang mikirin kualitas pemilu? Banyak yang masa
bodoh!

Langkah kedua, Anies jangan sampai dapat tiket nyapres. Koalisi
Indonesia Bersatu (KIB) yang dibentuk oleh PPP, PAN dan Golkar dibaca
publik sebagai upaya untuk jegal Anies.

Publik tahu bahwa kader dan pemilih PPP-PAN mayoritas mendukung Anies.
Terlalu berisiko jika dua partai ini dukung capres lain. Elektoral bisa
jeblok. Suka tidak suka, fakta politiknya menunjukkan bahwa kader dan
konstituen dua partai ini mayoritas dukung Anies. Partai yang tidak
aspiratif terhadap konstituennya, bisa collaps! Kita lihat di pemilu
2024 nanti.

Golkar sendiri? Ada Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung. Dua tokoh KAHMI ini
masih punya pengaruh besar terhadap Golkar. Keduanya lebih dekat dengan
Anies dari pada kandidat-kandidat yang lain. Ada kemungkinan merapat le
Anies setelah KIB gak berujung.

Kehadiran Partai Komunis China (PKC) ke kantor Golkar baru-baru ini
juga dicurigai oleh sejumlah pihak sebagai upaya untuk menjegal Anies.
Nah, kecurigaan ini perlu ditelusuri. Benarkah?

Setelah KIB terbentuk, munculah Nasdem, PKS dan Demokrat yang semakin
intens berkomunikasi. Arahnya akan mengusung Anies. Tiga partai ini
hampir solid. Gabungan dari tiga partai ini cukup memenuhi syarat untuk
mengusung Anies.

Tapi, masih ada satu persoalan. Demokrat bisa pindah tangan jika
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan Moeldoko. Mungkinkah
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan melemah dan membuka ruang negosiasi
untuk menghentikan langkahnya mendukung Anies? Hanya SBY dan Tuhan yang
tahu. Teriakan Andi Arief sebagai kader militan Demokrat mungkin bisa
dibaca dari sini.

Langkah ketiga, jika langkah pertama dan kedua gagal dan Anies tetap
bisa maju di pilpres 2024, maka cara terakhir adalah menggunakan
infrastruktur kecurangan. Ini akan bisa masif jika kubu Anies tidak
mengantisipasinya. Kemungkinan akan ada sejumlah institusi dan lembaga
yang dilibatkan untuk mengalahkan Anies di Pilpres 2024.

Anda ingat Pilgub DKI 2017? Ada instruksi kepada sejumlah kepala daerah
datang ke Jakarta untuk memenangkan Ahok. Ada sejumlah TPS dimana di
putaran pertama Anies-Sandi tidak dapat suara satupun. Baru di putaran
kedua, Anies-Sandi bisa menang di beberapa TPS itu. Dahsyat bukan?

Jadi, ini semua nggak ada urusannya dengan isu kadrun, radikal,
intoleransi atau sejenisnya. Itu semua sampah. Anda bodoh kalau percaya
isu ini. Orang Arab bilang: "bahlul murakab".  Yang terjadi adalah
pertarungan politik tingkat tinggi, dimana munculnya Anies sebagai
kandidat capres 2024 menjadi ancaman bagi kepentingan segelintir orang.

Mereka merasa tidak aman. Munculah kemudian isu-isu sampah itu. Dan
mereka yang goreng isu itu saat ini sedang bekerja keras untuk jegal
dan hentikan Anies, sebagaimana yang Andi Arief bongkar itu. Paham?

Akhirnya, apakah Anies akan terjegal dan bisa dihentikan? Atau Anies
melenggang dan menjadi Presiden RI ke-8? Mari kita tunggu takdir masa
depan bangsa ini.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220903141536.599ededd%40lilik-ThinkPad-T420s.

Reply via email to