Ge eR On Sat, Sep 3, 2022, 19:16 Lusi D. <[email protected]> wrote:
> > Tiga Langkah Jegal Anies Baswedan > OLEH: TONY ROSYID - pemerhati sosial dan politik > > Sabtu, 03 September 2022, 03:58 WIB > > ANIES BASWEDAN nggak boleh nyapres. Ini harga mati. Ada pihak yang > merasa tidak aman kalau Anies nyapres. Apa yang tidak aman? Bisnisnya > tidak aman, kepentingan politiknya tidak aman, bahkan diri mereka juga > bisa tidak aman. > Anies satu-satunya kandidat yang oleh mereka dianggap tidak bisa mereka > kendalikan. Karena itu, Anies harus dihentikan. Sekali lagi, harus > dihentikan. > Ada upaya sangat serius untuk jegal Anies, kata Andi Arief. Politisi > Demokrat yang terkenal tegas ini blak-blakan soal penjegalan terhadap > Anies. Publik pun sebenanrnya sudah sangat paham. > Bagaimana cara menghentikan Anies? Ada tiga langkah. Langkah pertama, > jadikan Anies tersangka. Pra Pilgub DKI 2017 hingga hampir selesai masa > kerja lima tahun sebagai gubernur, kasus demi kasus terus dicari. Kasus > DP 0 persen, nggak ketemu. > > Formula E? Commitment fee, ternyata bukan pelanggaran. Tanggal > pembayaran? Di sini dicari celahnya. Meski sudah disetujui Banggar, > pembayaran Formula E mau diutak atik. Pembayaran sebelum Sidang > Paripurna DPRD mau dipermasalahkan. Padahal, tak ada pelanggaran hukum. > Itu hanya soal administrasi belaka. Apalagi, ini dilakukan untuk > menghindari denda. Kalau kena denda, harus keluar uang lagi. > > Anies selamatkan event Formula E dari denda. Kok mau ditersangkakan? > Ini bisa memicu gejolak sosial, kata salah seorang ketua umum partai > dengan wajah marah. > > ADVERTISEMENT > Hal yang sama dikhawatirkan sejumlah orang. Kalau Anies "dipaksa jadi > tersangka" apakah akan terjadi gejolak sosial, tanya sejumlah anggota > Dewan dan aktifis ke saya. Boleh jadi apa yang diungkapkan ketua umum > partai itu benar-benar terjadi, jawabku. Jawaban yang aman. > > Saat ini, Anies boleh dibilang satu-satunya ekspektasi bagi rakyat yang > selama ini merasa tak terakomodir aspirasinya. Jika ekspektasi ini > hilang, mereka bisa putus asa. Frustasi! Dan ini bisa menjadi sumber > lahirnya gejolak sosial-politik itu. Sebab, tak ada lagi harapan. Ngeri! > > Jangan "paksa" Anies jadi tersangka jika tidak benar-benar ada bukti > layaknya tersangka yang lain. Yang ada bukti, jelas dan kasat mata > saja, nggak kunjung dijadikan tersangka. > > Anies yang menurut banyak ahli hukum tidak melanggar mau dijadikan > tersangka. Hal ini bukan saja akan dicatat sebagai sejarah terburuk > bagi demokrasi di Indonesia, tapi juga berpotensi menimbulkan gejolak > sosial-politik. > > Ini juga akan membuat kualitas Pemilu 2024 menjadi Pemilu terburuk di > era reformasi. Emang ada yang mikirin kualitas pemilu? Banyak yang masa > bodoh! > > Langkah kedua, Anies jangan sampai dapat tiket nyapres. Koalisi > Indonesia Bersatu (KIB) yang dibentuk oleh PPP, PAN dan Golkar dibaca > publik sebagai upaya untuk jegal Anies. > > Publik tahu bahwa kader dan pemilih PPP-PAN mayoritas mendukung Anies. > Terlalu berisiko jika dua partai ini dukung capres lain. Elektoral bisa > jeblok. Suka tidak suka, fakta politiknya menunjukkan bahwa kader dan > konstituen dua partai ini mayoritas dukung Anies. Partai yang tidak > aspiratif terhadap konstituennya, bisa collaps! Kita lihat di pemilu > 2024 nanti. > > Golkar sendiri? Ada Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung. Dua tokoh KAHMI ini > masih punya pengaruh besar terhadap Golkar. Keduanya lebih dekat dengan > Anies dari pada kandidat-kandidat yang lain. Ada kemungkinan merapat le > Anies setelah KIB gak berujung. > > Kehadiran Partai Komunis China (PKC) ke kantor Golkar baru-baru ini > juga dicurigai oleh sejumlah pihak sebagai upaya untuk menjegal Anies. > Nah, kecurigaan ini perlu ditelusuri. Benarkah? > > Setelah KIB terbentuk, munculah Nasdem, PKS dan Demokrat yang semakin > intens berkomunikasi. Arahnya akan mengusung Anies. Tiga partai ini > hampir solid. Gabungan dari tiga partai ini cukup memenuhi syarat untuk > mengusung Anies. > > Tapi, masih ada satu persoalan. Demokrat bisa pindah tangan jika > Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan Moeldoko. Mungkinkah > Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan melemah dan membuka ruang negosiasi > untuk menghentikan langkahnya mendukung Anies? Hanya SBY dan Tuhan yang > tahu. Teriakan Andi Arief sebagai kader militan Demokrat mungkin bisa > dibaca dari sini. > > Langkah ketiga, jika langkah pertama dan kedua gagal dan Anies tetap > bisa maju di pilpres 2024, maka cara terakhir adalah menggunakan > infrastruktur kecurangan. Ini akan bisa masif jika kubu Anies tidak > mengantisipasinya. Kemungkinan akan ada sejumlah institusi dan lembaga > yang dilibatkan untuk mengalahkan Anies di Pilpres 2024. > > Anda ingat Pilgub DKI 2017? Ada instruksi kepada sejumlah kepala daerah > datang ke Jakarta untuk memenangkan Ahok. Ada sejumlah TPS dimana di > putaran pertama Anies-Sandi tidak dapat suara satupun. Baru di putaran > kedua, Anies-Sandi bisa menang di beberapa TPS itu. Dahsyat bukan? > > Jadi, ini semua nggak ada urusannya dengan isu kadrun, radikal, > intoleransi atau sejenisnya. Itu semua sampah. Anda bodoh kalau percaya > isu ini. Orang Arab bilang: "bahlul murakab". Yang terjadi adalah > pertarungan politik tingkat tinggi, dimana munculnya Anies sebagai > kandidat capres 2024 menjadi ancaman bagi kepentingan segelintir orang. > > Mereka merasa tidak aman. Munculah kemudian isu-isu sampah itu. Dan > mereka yang goreng isu itu saat ini sedang bekerja keras untuk jegal > dan hentikan Anies, sebagaimana yang Andi Arief bongkar itu. Paham? > > Akhirnya, apakah Anies akan terjegal dan bisa dihentikan? Atau Anies > melenggang dan menjadi Presiden RI ke-8? Mari kita tunggu takdir masa > depan bangsa ini. > > > -- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220903141536.599ededd%40lilik-ThinkPad-T420s > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAEaUOgt3tHOp8n%2BEoGd%3D-fwbA_x1wzw7cHLYHSsB%3DnVZBuPwzw%40mail.gmail.com.
